Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Canggung


__ADS_3

Vano membawa Jeni masuk ke dalam kamarnya. Untuk sekedar berbincang, karena ia tak mau mamanya terus memantau setiap gerak gerik mereka.


Kamar yang nampak hening hanya saling menatap satu sama lain. Vano duduk di ranjang nya sedangkan Jeni duduk si kursi di sampingnya. Mereka nampak canggung satu sama lain untuk memulai pembicaraannya lebih dulu.


Vano bernajak berdiri,


"Kamu duduk aja dulu, aku mau ambilkan kamu minum" Ucap Vano memulai pembicaraan lebih dulu.


" Tunggu !!" Jeni memegang tangan Vano mencegahnya pergi.


" Om... boleh tanya?" Ucap Jeni denagan wajah terlihat lesu.


"Tanya apa??" Vano menoleh ke arah Jeni.


"Kenapa Om bilang seperti itu tadi di ruang tamu??" Jeni terlihat menekuk wajahnya. " padahal Om tahu aku sudah punya calon suami berarti aku akan segera menikah kan" Pungkas Jeni melanjutkan ucapanya..


" Entahlah... sudah gak usah pikirin itu lagi" Ucap Vano beranjak pergi untuk menghindar dari pertanyaan Jeni yang bertubi tubi. Bukannya tanpa alasan ia mengucap kata itu. Tapi ini belum saatnya Jeni tahu semuanya tentang apa yang ia rasakan.


Jeni terdiam beranjak berdiri duduk di ranjang empuk milik Vano. Pandangan tertuju pada foto mantanya Vano yang terpajang di meja kecil samping ranjang miliknya.


" Sepertinya memang cinta pertama itu sulit di lupakan" Gumam Jeni lirih.


"Dan tak ada suatu kehidupan yang sempurna" Gumam Jeni mebaringkan badanya sejenak. Hari ini ia bolos sekolah lagi. Kejadian dan pelajaran hari ini Benar benar melelahkan.


Rencana yang sudah di pikirkan matang untuk kuliah mungkin akan terkubur sia sia. "Lebih baik menggeluti dalam dunia balap" Gumam Jeni lirih menatap atap langit kamar Vano.


Ia tak bisa bayangkan jika dia nanti sudah menikah dan punya anak. Apa jadinya kata teman teman sekolahnya. Pasti mereka menghinanya karena nikah muda.


" Jen!!" Ucap Vano mengejutkan Jeni. Ia sontak berdiri.


" Om!! " Ucap jeni, dengan nada kesalnya.


"Ini minumannya" ucap Vano menaruh minuman jus jeruk di meja kecil samping ranjang.


" Oya jangan panggil aku Om. Lagian aku juga baru berusia 24 tahun. Gak seberapa tua kan" Pungkas Vano mulai melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


" Baiklah" Pungkas Jeni.


Vano menarik tangan Jeni hingga terjatuh berbaring di sampingnya.


" Boleh cerita sedikit" Vano melipat ke dua tangannya di bawah kepala. Dengan pandangan ke kiri menatap Jeni.


" Apa?" Jeno menatap Vano di sampingnya.

__ADS_1


Vano menatap ke atap langit.


"Aku dulu pernah di sakiti dengan seorang wanita yang pernah aku sayang. Bahkan aku selalu menunggu dia kembali untuk segera melamarnya. Namun apa yang aku lihat saat dia kembali ternyata cintanya sudah milik orang lain. Mungkin kisah cinta kita sama" Vano dan jeni saling memandang.


" Sama sama tersakiti karena cinta" Lanjut  Vano menatap dalam mata indah Jeni di sampingnya.


" Om.. eh maksud aku Vano" Ucap Jeni dengan senyum tipis di bibirnya.


" Itu di mata mu ada apa ?" Lanjut Jeni menunjuk mata Vano. Ia mencoba menghilangkan rasa tegang di antara mereka.


" Ada apa emang" Vano bergegas membersihkan matanya.


"Cuma ada belek tu nempel di mata mu" Jeni tersenyum tipis.


" Emmmm.... tapi... bohong" ucap Jeni terpatah patah. Ia tertawa kecil melihat Vano yang sibuk membersihkan matanya.


" Awas ya kamu" Vano mencubit pinggang Jeni tak henti hentinya membuatnya geli hingga sampai air matanya menetes.


" Udah Van ampun" Pungkas Jeni dengan nafas terenga enga.


Vano tepat memegang pundak Jeni menatap matanya dari dekat. Jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya. Perlahan ia mendekatkan pandangannya hampir mencium bibir mungil Jeni. Dengan sigap Jeni mendorong tubuh Vano menajuah darinya.


" Maaf" Ucap Jeni yang merasa sangat gugup di buatnya.


"Kenapa ni hatiku seperti nya terasa snagat aneh" Batin Jeni.


Terdengar suara ponsel jeni berbunyi membuat suasana canggung mereka terhenti. Ia segera meraih ponselnya di saku bajunya. Mengangkat telfon yang entah dari mana itu.


"Hallo..." Ucap Jeni gugup.


" Kamu sekarang di mana?? Kenapa kamu tidak sekolah hari ini" bentak Ayah nya dengan anda semakin tinggi.


Jeni spontan menjauhkan ponselnya dari pendengarannya. Ia hanya terdiam seketika menatap Vano bingung. Gimana bisa ayah Nya tahu dia tak ada di sekolahan.


"Jeni kenapa kamu diam" Ucap ayahnya.


Jeni mulai mengumpulkan semua keberaniannya meski takut untuk menjawab.


Ia mengehela nafas sejenak.


" Iya ayah.. aku di rumah teman" pungkas Jeni nampak ketakutan.


"Cepat pulang sekarang" bentak ayahnya membuat jeni bergidik ketakutan.

__ADS_1


"Iya" Ia segera mematikan ponselnya. Dan beranjak dari ranjang Vano.


Namun langkahnya terhenti Vano memegang tangannya.


" kamu mau kemana?" Tanya Vano yang masih berbaring di ranjangnya.


" Mau pulang. Kamu dengar sendiri kan ayah aku marah marah tadi" Ucap Jeni.


" Baiklah aku antar kamu. Dan awas jangan nolak" Ucap Vano beranjak berdiri dari ranjangnya. Ia menarik tangan jeni segera keluar dari kamarnya.


Ia tahu Jeni sepertinya ketakutan dengan orang tuanya. Hari ini adalah salahnya yang membuat nya harus di marahi oleh ayahnya.


" Vano kamu mau kemana?" ucap Mamanya membuat langkah mereka terhenti. Vano menoleh ke belakang melihat mamanya sudah berdiri di belakangnya.


"Aku mau antar Jeni pulang dulu ma" pungkas Vano dengan nada gugupnya.


" Ya, sudah cepat antar" ucap Mama Vano beranjak pergi meninggalkan mereka yang masih bingung dengan mamanya itu.


Mereka bergegas naik dalam mobil. Tak butuh waktu lama perjalanan. Hanya sekitar 30 menit ia sampai di rumah megah Jeni. " Aku turun di sini saja" Ucap Jeni


Vano menarik tangan Manda ia mencium bibir mungil Jeni lembut. Jeni segera mendorong tubuh Vano menjauh darinya


"Maaf. beneran apa aku yang bicara dengan ayah kamu biar dia tak memarahi kamu nantinya" ucap Vano mencoba melupakan kejadian tadi.


" Gak usah" Jeni beranjak keluar dari mobil tanpa menatap ke belakang mrlihat Vano. Ia berjalan pergi menuju rumahnya yang hanya beberapa langkah. Wajahnya terlihat sangat muram seperti tertekan. Namun apa boleh buwat Vano tak bisa berbuwat apa apa.


Ia bergegas pergi keluar dari halaman rumah Jeni. Tak lama mobil Edo masuk ke dalam halaman rumah Jeni. Namun saat bersisipan sepertinya Edo tak menyadari jika itu Vano.


"Kemana tu Edo" Pungkas Vano menghentikan laju mobilnya sekilas menatap ke belakang. Ia melihat Edo turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Rumah Jeni.


" Sialan " Vano memukul setir mobilnya.


" Kenapa di saat sepryi ini Edo datang" pungkas Vano. Dengan perasaan kesal ia segera pergi dari depan gerbang masuk rumah Jeni.


" Hari ini kalah lagi. Tapi besok besok aku tidak akan kalah darimu Edo" Batin Vano dengan senyum semringai.


#Jeni POV


"Ayah!!" sapa Jeni pada ayahnya yang duduk bersandar di sofa dengan pandangan mata tertuju pada ponsel di tangannya.


"Sini kamu?" Ucap ayah Jeni dengan nada marah.


Jeni menghela nafas berjalan penuh keraguan mendekati ayahnya. Ia hanya berdiam diri menundukan kepalanya. " Hari ini kamu harus pergi bersama Edo untuk jalan jalan. Sebagai hukuman kamu bolos sekolah kamu seharian harus bersama Edo" pungkas Ayahnya membuat Jeni sontak terkejut di buatnya.

__ADS_1


Mana bisa ia berduaan dengan orang yang sama sekali tidak ia suka. Tapi mendengar perintah itu dari mulut ayahnya ia tak bisa menolaknya.


" Baiklah" Ia menekuk wajahnya beranjak pergi. Dengan terpaksa ia menerimanya ia tak mungkin menolaknya jika itu kata dari ayahnya.


__ADS_2