One-Sided Love (Cinta Sepihak)

One-Sided Love (Cinta Sepihak)
Episode 25


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20;30 WIB,dokter pun masuk ke kamar tempat Wina di rawat.


Dokter tersebut menyatakan kalau kondisi Wina sudah membaik dan sudah bisa pulang.


Wina dan Hans menghela napas lega, Hans pun mengurus administrasi nya.


Wina langsung memberikan ATM milik nya untuk membayar tagihan klinik.


Awalnya Hans menolak tapi setelah bagian administrasi menggunakan ATM milik Hans tetapi saldo nya tidak mencukupi.


Hans sangat malu pada Wina,yang bisa di lakukan Hans hanya tertawa terkekeh untuk menutupi rasa malu nya.


"Tidak apa-apa Hans,biar gue yang bayar,karena kan yang sakit Gue!" Kata Wina menepuk pundak Wina.


Setelah Wina membayar tagihannya lalu mereka pun bersiap-siap untuk pulang.


Wina berusaha untuk tampak sehat dan segar,agar Mama dan Papa nya tidak curiga.


"Hans,Lo bisa untuk tidak nyerocos kan?" Ancam Wina.


"Iya,Gue gak akan bilang sama Nyokap dan Bokap Lo!" Kata Hans dengan mengernyit kan dahi nya.


Saat mereka masuk,Papa dan Mama Wina sudah duduk di ruang tamu.


Sebelum Mama Wina yang menyambut Wina dengan amarah nya.


"Sayang Kamu baru pulang? Kamu pasti lelah kan?"Papa WIna langsung membopong Wina ke kamarnya.


"Papa,ada apa?"anya Wina dengan berbisik.


"Sudah ikuti saja,sebaiknya Kamu jangan banyak bertanya dan segera Kamu masuk ke kamar Mu."Pinta Papa Wina


"Baik Pa." Wina menurut yang di katakan Papa nya.


Wina langsung masuk kamar dan mengunci nya.


Sementara di luar, terjadi perdebatan antara kedua orang tua Wina.


''Papa selalu memanjakan Wina, dan Papa lihat kan bagaimana ngelunjak nya dia. Berbuat semau nya.'' Mama Wina sangat kesal dengan sikap Suami nya yang selalu memanjakan putri pertama nya.


"Udah ah Ma Wina kan juga anak Mama,jadi terlalu keras begitu." Papa Wina tidak mau memperpanjang perdebatan mereka.

__ADS_1


Papa Wina pun masuk ke kamar dan menyalakan televisi.


Sedangkan Mama Wina berjalan menuju kamar wina bermaksud ingin menasehati Wina.


Berkali-kali Mama Wina mengetuk pintu kamar Wina,tetapi tidak ada jawaban apa-pun dari Wina.


Lalu Mama Wina mencoba langsung membuka pintu nya.Ternyata Wina tidak lagi mengunci pintu nya.


Mama melihat Wina sudah tertidur,dan mama heran karena tidak bias nya Wina tidur dengan menyelimuti seluruh badan nya.


"Wina,kenapa kamu tidur seperti itu?" Mama mendekatinya dan duduk di ranjang tepat nya di samping Wina berbaring.


Saat Mama Wina mengusap wajah anak nya,wajah Wina terasa sangat panas sekali.Lalu Mama wina sangat panik dan berteriak memanggil seluruh anggota keluarga nya.


"Ada apa Ma?" Tanya Papa dan Adik wina.


"Pa,badan Wina sangat panas sekali dan lihat napas nya sesak Pa." Kata Mama Wina dengan sangat panik.


"Sebaiknya kita langsung bawa Wina ke Rumah sakit Ma!" Kata apa Wina yang buru-buru mengeluarkan mobil nya dari garasi.


"Nia kamu dan Widi tunggu di rumah ya.Daan jangan buka kan pintu untuk siapa pun!" Pesan Mama kepada kedua putri nya yang sengaja di tinggal di rumah.


Setelah adik nya tidur,Nia mencoba mencari ponsel Wina.Nia bermaksud untuk memberitahukan pada Hans.Tetapi Nia malah menemukan pesan chat dari Rendy.


"Jadi ini yang membuat kak Wina stres,dan sering kambuh penyakitnya." Pikir Nia setelah membaca pesan antara Wina dan Rendy.


Nia mengirim pesan pada Rendy.Dan meminta pertanggung jawaban.Karenanya Wina jadi sakit karena stres memikirkan hubungan nya kandas di saat ia mulai mencintai Rendy.


Tapi Rendy tidak membalas pesan dari Nia.Rendy hanya membaca pesan tersebut.


"Maafin Gue Wina,mungkin ini akan pahit untuk saat ini. Seiring berjalan nya waktu semua akan baik-baik saja." Gumam Rendy dengan menghapus semua pesan chat dari WIna.Sehingga Rendy menghapus seluruh nomor ponsel yang berhubungan dengan Wina.


Baik itu nomor ponsel Hans dan Erika. Rendy kini hanya fokus pada pekerjaan nya saja.


Apapun mengenai cewek sudah tidak di pedulikan oleh Rendy. Sehingga Bunda Rendy


tidak habis pikir apa yang ada di pikiran putra bungsu nya itu.


"Rendy,ada apa sebenarnya antara Kamu dengan Wina? Bukankah Wina anak yang baik.Dan sepertinya ia sangat mencintai Kamu?" Kata Bunda Rendy yang duduk di samping Rendy yang mulai menyulutkan rokok nya.


Rendy hanya diam dan tersenyum getir saja.

__ADS_1


"Dan apa ini Rendy,bukan kah beberapa bulan yang lalu Kamu sudah tidak merokok lagi?"


Bunda Rendy mengambil rokok yang telah di hisap oleh Rendy beberapa hisapan dan membuang nya ke luar rumah.


"Bunda jangan...." Rendy tidak melanjutkan kata-kata nya.


Rendy hanya duduk tertunduk dan tidak mampu menjelaskan luka yang iya rasakan saat ini pada bunda nya .


"Maaf Bunda Aku butuh waktu sendiri dulu."Rendy pergi masuk ke kamar dan mengunci diri.


"Bunda tau Rendy,Kamu sangat mencintai Wina."Gumam Bunda Rendy.


Sementara itu di rumah sakit Wina kembali dirawat.Dokter sudah paham yang harus d lakukan pada penanganan penyakit Wina.


"Wina Hanya butuh istirahat dan tidak tertekan atau pun stres." Ujar dokter yang biasa menangani Wina.


"Semua ini karena Mama.Yang tidak bisa mencari cara jika tidak suka dengan hal yang Wina lakukan.


"Papa selalu membela Wina.Mama hanya tidak mau Wina salah memilih laki-laki yang dekat dengan nya." Bantah Mama Wina.


"Iya Ma, Papa tau maksud mama.Tapi kemaren itu Mama sudah membuat Wina malu di hadapan cowok itu." Kata Papa Wina menyudutkan istri nya.


"Iya Pa,maaf!" Kata Mama Wina menyesal.


"Kenapa mama meminta maaf pada papa,seharusnya mama meminta maaf pada Wina." Ucap Papa Wina dengan tegas.


Saat Wina sadar,Mama Wina langsung saja meminta maaf pada putri sulung nya itu.


"Mama,tidak perlu meminta maaf pada ku ma,Ini semua salah Ku!"Kata Wina.


"Tidak sayang,seharusnya mama tidak begitu di depan laki-laki itu."Kata mama Wina.


"Tidak apa-apa Ma.Toh semua sudah berlalu dan semua sudah berakhir."Kata Wina dengan raut wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.


Mama Wina hanya membelai rambut putri nya.Iaa merasa menyesal telah bersikap seperti saat itu.Sehingga putri nya menjadi stres dan sering kambuh penyakit nya.


Selama Wina di rawat di rumah sakit tidak ada seorangpun yang menjenguk nya.


Wina merasa bagaikan terbaring di padang gurun yang luas. Tanpa siapa pun yang menemani nya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2