
Satu malam di awal musim panas.
Door ...!
Suara letusan peluru tiba-tiba terdengar dari pistol milik salah satu pria berseragam lengkap hingga seketika buyarkan sekumpulan remaja yang langsung berhamburan, berlari meninggalkan lokasi yang mereka jadikan tempat untuk melakukan aktifitas balap liar dengan taruhan sejumlah uang.
"****!"
"Ruel ... Lari!"
"Bagaimana dengan motornya?"
"Lupakan, kita bisa meninggalkannnya di sini."
"Yang benar saja ...."
"Ken yang akan mengurusnya, atau kau tak keberatan jika berakhir di dalam sel lagi? Vincent benar-benar akan mengulitimu hidup-hidup."
"Ah, si brengsek itu."
Ruel berlari sekencang mungkin dengan helm yang masih di tangannya, saat melihat beberapa pria berseragam mulai mendekat ke arah mereka, bahkan mengabaikan motornya yang masih tergeletak di tengah jalanan yang sudah sepi, sisahkan sebuah mobil patroli yang serinenya masih berbunyi, pecahkan keheningan di malam itu.
Terus berlari memasuki gang sempit di perempatan jalan, menuju sebuah distrik yang di penuhi bagunan tua tak berpenghuni. Sebuah kota tua yang hanya di penuhi beberapa gelandangan dan anak jalanan yang sudah meringkuk di bawah selebaran koran untuk menghalau udara dingin yang menusuk kulit, meski demikian. Rasa lelah tak sampai bangunkan mereka, bahkan sedikit pun tak merasa terusik dengan suara derap langkah kaki Ruel dan Gray yang masih berlari sambil mencari tempat persembunyian yang aman agar tak terlihat oleh sekelompok petugas kepolisian yang masih mengejar mereka.
"Di mana yang lainnya?" tanya Ruel yang masih berlari.
"Tentu saja menyelamatkan diri."
"Apa mereka akan baik-baik saja?"
"Seharusnya. Karena mereka menyelamatkan diri terlebih dulu."
"Sialan!" umpat Ruel dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Berdiri di belakang sebuah gedung tua yang di tumbuhi ilalang kering. Setelah yakin jika di sanalah tempat yang aman bagi mereka untuk bersembunyi.
"Bukankah seharusnya mereka tak menemukan lokasi itu? Apa kau benar-benar sudah memastikan jika tempat itu aman?" tanya Ruel setelah memastikan jika para petugas sudah kehilangan jejak mereka.
"Aku juga tidak tahu. Aku pikir di sanalah tempat yang paling aman."
"Ah, kenapa kau bisa sangat ceroboh ...."
Door...!
"Dasar bedebah sialan! Apa mereka sekelompok anjing pelacak?" umpat Ruel yang lagi-lagi di kejutkan oleh suara peluru. Seketika kesal saat petugas kembali menemukan persembunyian mereka.
"Larilah, aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka," balas Gray mendorong tubuh Ruel saat salah satu petugas mulai menghampiri.
"Apa-apaan?!"
"Aku khawatir jika salah satu dari mereka adalah Kak Eden, atau mungkin Vincent."
"Tapi ...."
"Pergilah! Aku rasa tempat ini sudah tak aman untuk di jadikan tempat persembunyian. Sekarang!"
"Lalu, kau?"
__ADS_1
"Lekaslah, jangan perdulikan aku. Aku tahu harus berbuat apa, mengelabui mereka tidaklah sulit."
"Kau yakin?"
"Ya. Kita berpisah di sini, lekaslah pergi."
"Kau akan menemui lokasiku, jangan sampai tertangkap, Gray," balas Ruel kembali berlari, meski nafas sudah di tenggorokan. Mereka bahkan tak pernah merasa kelimpungan seperti sekarang ini. Menyadari jika petugas yang mengejarnya kali ini benar-benar menargetkan dirinya.
"****! Kenapa harus aku?"
"Hei, brandal. Apa kau akan terus berlari?!" teriak salah satu petugas yang masih tetap mengejar, hingga Ruel harus berlari sekuat mungkin, dan beruntung ia kini berada di pinggiran kota tua, mencoba melewati gang untuk mengecoh sang petugas, hingga detik berikutnya.
Brugh!
"Ahk ...."
"M-maaf," ucap Ruel cukup terkejut saat menyadari jika baru saja menabrak seseorang.
Bahkan tubuh gadis itu terpental, hingga akibatkan luka lecet di sikut dan telapak tangan.
"Ruel! Tetap di sana!" teriak salah satu petugas yang masih terus mengikutinya.
"Ah sialan bodoh itu, apa dia tak lelah terus mengejarku?" umpat Ruel kesal.
Ia yang sudah tak tahu harus melakukan apa lagi, langsung menarik lengan sang gadis untuk berlari bersamanya. Tanpa memperdulikan kondisi sang gadis yang mungkin sedang merasakan sakit akibat ulahnya. Sebab yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah ia yang tak ingin meninggalkan gadis itu begitu saja.
"Apa yang kau ...."
"Larilah!"
"Aku lelah, lepaskan tanganmu."
Sang gadis mulai sesak nafas, bahkan terlihat pegangi dadanya dengan keringat yang basahi separuh dari wajahnya yang nampak memucat.
"Aku akan melepaskanmu jika kita sudah menemukan tempat yang aman."
"Kita? Kenapa harus 'kita'? Kenapa tidak kau saja yang berlari? Dan kemana kita akan pergi?"
"Bisakah kau tak bertanya dulu, dan lari saja? Kau akan semakin kehabisan oksigen jika terus berbicara. Diamlah."
Ruel mulai kebingungan, sebab tak tahu harus lari ke mana lagi.
"Sialan, apa tak ada tempat persembunyian di sekitar sini?"
"Aku pikir kau tahu seluk beluk tempat ini. Kita bahkan sudah berlari sampai sejauh ini."
"Aku baru menginjakkan kaki di tempat ini. Ah, brengsek. Tempat macam apa ini?" umpat Ruel mulai kebingungan sendiri. Amati tiap gang yang terlihat sama saja sambil berkecak pinggang dengan nafas yang tersengal sebelum sang gadis mencengkram pergelangan tangannya dengan tiba-tiba dan kembali berlari.
"Apa yang kau ...."
"Ikut saja aku. Mereka semakin mendekat."
Sang gadis berbelok di sebuah gang sempit. Yang sebagian di tutupi tumpukan balok dan drom kosong tak terpakai, meski mereka kesulitan untuk masuk ke dalam.
"Ini, apa?"
"Masuklah tanpa menimbulkan suara."
__ADS_1
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Pikirkan dengan kepalamu, dan lekaslah. Mereka sedang menuju kemari," ucap sang gadis pegangi dadanya yang semakin sesak.
"Kita bisa ke tempat lain ...."
"Ini jalan buntu."
"A-apa?"
"Masuklah."
"Tapi, bagaimana jika mereka ...."
Kalimat Ruel terhenti saat sang gadis mendorong tubuhnya masuk ke dalam gang sempit, menyusul dirinya yang kini berdiri tepat di samping pria itu, tak lupa mendorong tubuh tinggi itu agar merapat di dinding yang di penuhi lumut, dan tentu saja aroma tak sedap.
"Ah, aroma apa ini?"
"Diam dan nikmati saja, Tuan muda."
Ruel berusaha menahan nafas, meski kesulitan. Semakin panik saat kembali mendengar suara derap langkah kedua petugas di sana.
"Apa kau yakin kita aman sekarang?"
"Sshhh.... "
Sang gadis memberikan isyarat agar diam ketika melihat salah seorang petugas melintasi gang tersebut. Berdiri di sana, hendak memeriksa.
"Aku yakin bocah tengil itu di sini."
"Tapi ini jalan buntu, Vincent," balas Eden ikut mengamati.
"Justru itu, menurutmu di mana lagi si brandal itu akan lari?"
BRUAK!
Vincent menendang tumpukan balok yang berdiri di depan gang sempit, tepat di mana Ruel dan sang gadis bersembunyi. Hingga membuat beberapa balok yang ukurannya cukup besar terjatuh, hendak menimpa sang gadis jika saja Ruel tak lekas berdiri di hadapannya untuk melindungi. Menyembunyikan kepala sang gadis di dada bidangnya dengan satu tangan kokoh merangkul leher sang gadis agar tetap aman.
"Bagaimana? Apa mereka masih di sana?" tanya Eden.
"Aku rasa."
Vincent mengamati gang sempit tersebut dengan alis mengeryit.
"Aku benar-benar akan menjebloskan bocah itu ke dalam penjara. Dia sudah sangat merepotkanku," keluh Vincent kembali menendang sisa balok yang masih berdiri di samping Ruel, dan yakin jika semua balok itu terjatuh, mereka pasti akan terlihat oleh Vincent dan Eden, satu rekannya yang ikut mengejar.
"Sepertinya kita sedang membuang waktu di sini. Sebaiknya cari di tempat lain."
"Tunggu," serga Vincent.
"Ada yang mencurigakan?"
Eden ikut mengamati dengan teliti.
"Aku rasa ada sesuatu di sana," balas Vincent menyingkirkan beberapa balok dengan kakinya.
***
__ADS_1