ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Apa kau sedang memikirkanku?


__ADS_3

KEDIAMAN THEODORIC


"Kau kembali?"


Sea menghentikan langkah kakinya, saat mendengar suara sang Ayah dari arah lain, tepatnya di sebuah sofa tunggal ruang tengah, tempat biasa di mana sang Ayah sering menghabiskan waktu senggangnya. Namun, kali ini pria baya itu tak sendiri sebab ada seorang pria lain lagi yang menemani. Pria berwajah tampan dengan setelan jas lengkap, terlihat maskulin dengan gaya rambut klasiknya yang tengah duduk di hadapan sang Ayah, ikut menoleh dan tersenyum padanya.


"Ayah?"


"Kemarilah, Nak."


Dengan sedikit ragu, Sea melangkah dekati sang Ayah dan duduk di sebuah kursi kosong.


"Ayah ingin memperkenalkan seseorang padamu," sambung Tuan Theodoric, tersenyum ke arah sang pria, begitu juga dengan Sea yang ikut menatap sang pria yang sudah sejak tadi menatapnya.


"Apa dia ...."


"Seorang rekan bisnis yang sering Ayah ceritakan padamu. Kau ingat, kan?" potong Tuan Theodoric dengan Sea yang hanya mengangguk pelan.


"Selamat sore, Nona Sea," sambung sang pria yang bahkan sudah sangat pasih menyebutkan nama 'Sea' seolah mereka sudah kenal cukup lama.


"Ya.Selamat sore, Tuan ..."


"Dex Petrucci."


Sea kembali mengangguk, menyambut uluran tangan Dex tanpa ikut menyebutkan namanya sendiri, toh pria itu sudah pasti tahu siapa namanya, dan ia juga yakin jika Dex sudah mengetahui semua tentang dirinya, baik itu usia, aktifitas apa saja yang di lakukan, hobi dan hal-hal kecil lainnya.  Mengingat Dex terlihat dekat dengan sang Ayah. 


Kenapa begitu tiba-tiba? Memperkenalkanku dengan seorang pria.


"Aku akan istirahat ...."


"Bisakah menemani Dex mengobrol sebentar, Nak?" potong Tuan Theodoric ketika melihat Sea hendak beranjak dari duduknya.


"A-aku?"


"Ya. Dex sangat ingin mengenalmu lebih dekat, dan Ayah rasa itu tak ada salahnya, kan?"


Sea menarik nafas kuat dan dalam, kembali menatap Dex di sampingnya. Pria yang terlihat begitu kalem penuh kharismatik dengan senyum yang menawan, mencerminkan kedewasaan, dan pribadi yang tegas. Sungguh sempurna untuk seukuran seorang pria dewasa.


"Iya, Ayah."


Tuan Theodoric tersenyum sebelum beranjak dari duduknya, seolah sengaja memberikan mereka ruang untuk saling mengenal satu sama lain. Entah apa tujuan sang Ayah menghadirkan Dex di dalam kehidupannya yang bahkan tak bisa menolak. Apa karena Ayahnya berfikir jika ia tak punya teman lain selain Anna hingga ia harus memiliki cukup banyak teman lainnya agar tak selalu merasa kesepian, atau mungkin sang Ayah sedang mencoba mencarikan pasangan untuknya? Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba hadir di dalam kepala Sea saat ini. Meski ia sudah sering kali mendengar dari sang Ayah jika memiliki seorang rekan bisnis yang tertarik dan ingin berteman dengannya. Namun, ia tak pernah menyangka jika sang Ayah akan sampai membawa pria itu ke rumah dan langsung memperkenalkan padanya.


Apa Ayah sudah sangat yakin dengan pria ini?


Sea kembali menatap Dex meski hanya sekilas. Yang ia tahu sang Ayah akan sangat pemilih dan hati-hati jika itu bersangkutan dengannya. Dan hanya Anna dan Eden yang bisa beteman dengannya, dan menginjakkan kaki di rumahnya, selain mereka sang Ayah akan sangat overprotektive pada orang lain.


"Dex, mengobrolah dengan santai," ucap Tuan Theodoric sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka, usai mendapatkan anggukan dari Dex.


Hanya untuk  berteman, kan? Apa salahnya.


Sea mengulas senyum sebelum menunduk. Terasa canggung, terlebih ketika Dex terus menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.


"Apa kau merasa canggung padaku?" tanya Dex yang bisa menyadari situasi sekarang, terlebih dengan reaksi Sea yang terus diam sejak tadi.


"Ya. Maaf."


Dex kembali terenyum. "Kau tak perlu canggung, tak ada batasan di antara kita, anggap saja aku temanmu seperti yang lain. Bisa, kan?"


"Bagaimana aku bisa melakukan itu, Anda adalah rekan bisnis Ayahku, akan sangat tidak pantas jika berbicara tak formal kepada Anda."


Dex tertawa ringan atas jawaban Sea. Mengapa gadis itu sangat menggemaskan, pikirnya.


"Apa aku terlihat begitu tua?"


"Hah?!" 


Sea mengangkat wajah, menatap Dex yang masih tersenyum padanya. 

__ADS_1


"Tidak, hanya saja ...."


"Hanya saja?"


"Anda adalah kerabat Ayah, yang itu berarti aku harus menghormati Anda."


"Meski demikian. Usiaku dengan Paman Ric cukup jauh berbeda, aku seusia Vincent, kakakmu. Kita bahkan berteman."


"Ah, begitukah?"


Dex kembali mengangguk.


"Maka kau tak perlu berbicara formal padaku, itu sungguh tak nyaman."


"Hmm, tentu," angguk Sea.


Kenapa Kakak tak pernah cerita jika mengenal pria ini sebelumnya.


"Dan ... satu lagi."


"Apa itu?"


"Jangan panggil aku dengan sebutan 'Anda' lagi."


"Lalu?"


"Sebutan yang bisa membuatmu nyaman."


Sea terdiam sebentar sebelum terlihat mengangguk pelan dengan satu senyum tipis yang kembali hiasi wajahnya.


"Iya, Kak."


Hingga obrolan mereka berlanjut. Bahkan Sea sudah terlihat tak canggung lagi di hadapan Dex yang memang adalah pria dengan karakter yang menyenangkan, bisa sangat mudah mencairkan suasana dan begitu gampang membuat Sea terus tersenyum di sepanjang obrolan mereka. Namun, meski demikian, ingatan Sea sepenuhnya terus tertujuh kepada Ruel, entah apa yang salah dengannya.


Terus termenung di kamarnya seorang diri, terdiam di balkon sambil menatap jejeran bintang di atas langit pekat. Sungguh perasaan yang ajaib, sebab ia merindukan pria itu sekarang. Hingga di detik berikutnya saat ponselnya terdengar bergetar dengan nomor asing di sana.


Sea kembali menatap layar ponselnya, terlihat sedikit ragu. Sudah cukup larut, dan Dex tak mungkin menghubunginya lagi setelah menyuruhnya untuk tidur beberapa jam lalu.


"Halo?!"


"Hai, Kak Sea."


Jantung Sea kembali berdebar dengan kencang. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan sebutan demikian hanyalah satu orang saja. Dan ia sangat mengenali suara khas yang terdengar berat itu.


"Kau?"


"Ya. Ini aku."


"Dari mana kau ...."


"Mendapatkan nomor ponselmu? Itu sangat mudah, mengingat kau adalah guru musik di sekolahku. Dan soal mengetahui keberadaanmu, aku terus mengikutimu sejak tadi."


Sea kembali terdiam. Mengapa ia tak memikirkan hal itu sebelumnya. Dan mengapa Ruel sampai melakukan hal demikian, apa pria itu menguntitnya? Kenapa?


"Apa kau benar-benar melakukan itu?"


"Ya. Dan, apa kau sedang merindukanku?"


"Hah?!"


"Kau terus melamun sejak tadi, apa karena sedang memikirkanku?"


"M-melamun? Aku tidak ...."


Sea yang baru tersadar dengan ucapan Ruel lekas amati sekeliling, bagaimana bisa pria itu bisa tahu jika ia terus melamun sejak tadi. Apa mungkin ....


"Kau bisa melihatku?"

__ADS_1


Dan benar saja, nampak Ruel yang tengah berdiri di balik pintu pagarnya yang menjulang tinggi sambil melambai padanya.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sana?"


"Melihatmu."


"Aku tahu, hanya saja apa yang kau lakukan di depan pagar rumahku?"


"Hanya ingin melihatmu."


"Kau bisa melihatku di sekolah."


"Aku merindukanmu."


Sea terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Tak pernah mengira jika Ruel akan senekat itu sampai menghampirinya ke rumah, bahkan tak canggung untuk mengungkapkan rasa rindu padanya. Bahkan ia sudah mendengar itu sebanyak dua kali sejak mereka bertemu.


"Pulanglah."


"Kenapa? Apa kau tidak merindukanku?"


"Kenapa aku harus merindukanmu?"


"Ah iya. Benar juga. Kau tak harus merindukanku, cukup aku saja yang merasakannya, ini sangat menyenangkan. Tapi bisakah aku di sini sebentar saja?"


"Kenapa?"


"Aku masih ingin melihatmu."


Kau bisa mendapatkan masalah jika terus di sana. Kak Vincent bisa melihatmu.


Sea menarik nafas panjang. Ia bahkan tak ingin jika Ruel mengetahui satu fakta jika Vincent adalah kakaknya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Ia hanya tak ingin Ruel menjauhinya karena itu, dan Vincent yang akan semakin membenci Ruel jika tahu ternyata mereka saling kenal, terlebih jika tahu soal perasaannya yang diam-diam menyimpan rasa untuk Ruel. Apa mereka akan menerimanya? Sedang ada Dex, pria yang terlihat begitu sempurna di mata Ayah dan mungkin juga kakaknya.


"Kau kembali melamun?"


"T-tidak."


"Sangat terlihat jelas, aku bahkan bisa melihatnya. Aku mengamatimu sejak tadi."


Sea kembali terdiam, menatap Ruel yang masih tersenyum di sana.


"Apa kau mengkhawatirkanku?"


Sea masih tak menjawab, meski pertanyaan Ruel benar adanya. Ia mengkhawatirkan pria itu sekarang, sungguh aneh.


"Apa itu benar?"


"Ya."


"Senang mendengarnya. Bisa di khawatirkan olehmu."


"Maka pulanglah."


"Tentu, aku juga tak ingin membuatmu khawatir karenaku."


Senyum akhirnya menghiasi wajah Sea, meski hanya sekilas.


"Aku selalu menyukai senyummu. Bisakah kau selalu tersenyum saat melihatku?"


Sea terdiam tak menjawab dan hanya mengangguk mengiyakan. Begitu juga dengan Ruel di sana.


"Baiklah, aku pulang sekarang. Dan ... mulai malam ini, aku akan mengijinkanmu untuk memimpikanku."


Sea akhirnya tertawa karena Ruel dengan segala tingkah konyolnya yang terkadang tak masuk akal.


"Selamat malam, Kak Sea. Sampai bertemu lagi."


Panggilan terlfon terputus. Namun, Ruel masih berdiri di sana sambil tersenyum dan melambai padanya, sebelum naik ke atas motornya. Memberikan bahasa isyarat kepada Sea agar lekas tidur, dan hanya di balas anggukan oleh Sea yang masih berdiri amati motor Ruel mulai bergerak pergi meninggalkan rumahnya, bersamaan dengan mobil Vincent yang terlihat di sana. Cukup mengejutkan bagi Sea yang refleks menggigit bibirnya kuat. Hampir saja Vincent menangkap basah Ruel di sana.

__ADS_1


***


__ADS_2