
"Akhirnya kelas musik di buka lagi," ucap salah satu siswa dengan beberapa buku dalam pelukannya.
"Ah, sungguh melegakan. Aku pikir tak akan bisa belajar piano lagi."
"Apa kelas sudah di buka?"
"Aku rasa belum, mungkin dalam waktu minggu ini setelah ujian berakhir."
"Aku harap secepatnya," sambung siswi lainnya terlihat bersemangat. Dan hal itu cukup membuat Ruel terkejut ketika tak sengaja mendengar obrolan kedua siswa yang berjalan di balik punggungnya.
Sea.
Ruel berlari sekencang mungkin, abaikan beberapa siswa lainnya yang tak sengaja ia tabrak. Ia terus berlari menuju ruang musik, bersamaan dengan jantung yang berdebar kencang saat mendengar suara melody yang terdengar indah dari piano yang berasal dari ruang musik di ujung sana.
"Sea," panggil Ruel di ambang pintu dengan nafas yang terengah. Terlihat bersemangat dengan kebahagiaan menghiasi wajahnya, hingga beberapa detik kemudian ketika ia terlihat terpaku di sana, mencengkram tali tasnya kuat.
"Kau ... bukan Sea?"
Ruel tediam dengan perasaan hancur ketika seorang gadis yang duduk di kursi sambil memainkan piano berbalik ke arahnya.
"Ruel?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Anna. Beranjak dari duduknya, menatap Ruel yang masih diam di tempatnya.
"Kau terlihat kecewa," sambung Anna berdiri bersidekap di hadapan Ruel hingga beberapa detik kemudian saat Ruel memilih untuk melangkah pergi.
"Tunggu!" serga Anna menghentikan langkah kaki Ruel, tak membalikkan badan meski tahu jika Anna sudah berdiri di balik punggungnya. "Ada yang ingin aku katakan padamu."
"Aku tak punya waktu," balas Ruel melangkah pergi.
"Meski itu menyangkut soal Sea?"
Langkah kaki Ruel kembali terhenti, bahkan langsung membalikkan badan, dan berjalan menghampiri Anna. Berdiri tepat di hadapan gadis itu.
"Di mana Sea? Apa yang sudah terjadi dengannya, apa dia baik-baik saja?"
"Kau memiliki pertanyaan yang cukup banyak. Bisakah kau tenang dulu?"
"Lekas katakan padaku bagaimana kabarnya, karena aku tak bisa tenang sekarang!" balas Ruel terlihat prustrasi.
Anna terdiam sesaat, amati Ruel yang benar-benar terlihat kacau dengan luka lebam hiasi wajahnya. Dan apa yang di katakan Sea memang benar, Ruel selalu melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri. Namun, Ruel terlihat begitu mencintai Sea, bahkan ia bisa melihat cinta dan kesedihan di mata pria itu saat ia menyebutkan nama 'Sea', begitu juga dengan reaksinya.
"Duduklah," perintah Anna yang bahkan langsung di turuti oleh Ruel yang lekas duduk di sebuah kursi di sana, menyusul Anna.
"Bagaimana kabarnya sekarang?"
__ADS_1
"Tak begitu baik."
Ruel menarik nafas kuat dan dalam sambil memejam erat. Mengingat terakhir kali Sea mengatakan padanya jika ia dalam keadaan baik. Apa Sea sedang membohonginya sekarang?
"Aku rasa kau sudah mendengarnya, jika Sea akan menikah sebentar lagi."
"Aku tahu."
"Dan seharusnya ia bahagia karena akan di nikahi oleh seorang pria yang sangat sempurna."
Nafas Ruel mendadak sesak. Mengapa ia harus duduk manis di kursi itu sekarang jika hanya untuk mendengar segala pujian yang di tujukan oleh pria yang akan menikahi gadis yang di cintainya. Ia bisa saja pergi dan tak mendengar semua yang akan semakin membuat hatinya terluka. Namun, entah mengapa ia sulit untuk melakukan itu. Sebab hanya dengan mendengar nama 'Sea' saja hatinya bisa merasa jauh lebih baik, abaikan perasaan sakit lainnya.
"Ia bahkan terus menangis semalaman."
Ruel masih terdiam. Memikirkan Sea yang terus menangis, kenapa gadis itu sampai menangis, apa karena pernikahannya? Atau ada hal lain yang membuatnya bersedih. Ada banyak pertanyaan di dalam kepala Ruel saat ini.
"Sea menangis karena merasa sudah jatuh cinta padamu."
Ruel menatap Anna dengan kening mengernyit. Sulit di percaya.
"Hatinya sakit, karena mencintaimu. Memikirkan hubungan kalian yang tak akan pernah bersatu."
Ruel mengepalkan telapak tangan kuat, berusaha menahan rasa sesak di hatinya. Rasa sesak yang membuat nafasnya akan berhenti karena rasa sakit. Mengingat Sea yang terus menangis karenanya sungguh menyakitkan. Ia bahkan tak bisa memeluk gadis itu untuk menenangkan dan mengusap air matanya.
Kalimat Anna tertahan di tenggorokan. Tak bisa melanjutkan kalimatnya yang akan semakin menyakiti hati Ruel lebih dalam lagi.
"Aku tahu."
"Jika memang demikian, apa kau masih akan mencintai Sea?"
"Ya."
"Sea akan menikah dan memiliki kehidupan baru, apa kau akan baik-baik saja dengan itu?"
"Aku tahu."
"Lalu? Apa kau akan terus menyiksa dirimu seperti ini?"
"Aku tak punya lain, selain terus mencintainya."
"Kenapa?"
"Karena itu, Sea."
__ADS_1
Anna menatap Ruel dalam. Sea benar-benar mencintai pria yang juga tulus mencintainya. Sulit di percaya karena cinta itu berasal dari seorang pria berusia delapan belas tahun yang masih bersekolah di bangku sekolah menengah atas.
"Aku tahu sekarang, kenapa Sea begitu mencintaimu. Bahkan ia sampai mengabaikan pria seperti Dex hanya karenamu," balas Anna. "Kau memiliki sesuatu yang membuatnya percaya, jika kau tak akan menyakitinya. Tapi ...."
Ruel balas menatap Anna.
"Hubungan kalian tak akan bersatu jika kau hanya terus menghabiskan waktu sia-sia tanpa melakukan apa pun untuk hubungan kalian."
"A-apa?"
"Apa kau tak pernah berfikir untuk menemuinya sekali?"
"Aku ...."
"Kau tak perlu terang-terangan datang kerumahnya dan biarkan dirimu di lihat oleh mereka, karena sudah pasti mereka tak akan menyukai dan menerimamu, bahkan jelas akan menolakmu. Mereka cukup membencimu, entah apa yang sudah kau lakukan."
"Aku seorang brandalan yang tak memiliki apa pun, dan hanya menghabiskan waktu untuk berkelahi di jalanan, aku pria yang cukup buruk dan pantas untuk di benci, terutama oleh Vincent dan semua keluarga Sea."
"Tapi Sea mencintai seorang brandalan sepertimu."
Ruel kembali tertunduk, mencoba memikirkan apa yang di katakan Anna. Ia tahu jika Anna sedang menyuruhnya untuk melakukan sesuatu meski ia masih belum tahu apa tujuan gadis itu melakukannya. Jika dia cukup dekat dengan Sea, bukankah seharusnya ia juga ikut membencinya? Tak ada yang menyukai brandal sepertinya selain Sea. Seseorang yang tak pernah ragu untuk duduk di sampingnya, berbicara dengannya, mengusap kepala bahkan menggenggam tangannya. Seseorang yang tak ingin ia terluka, dan selalu ingin ia baik-baik saja. Bahkan hanya Sea yang mungkin sangat mencintainya tulus dan menerimanya apa adanya.
"Kenapa kau ingin melakukannya?"
"Karena aku tak ingin melihat Sea terus menangis karenamu. Dan ... aku tak ingin Sea sampai menghabiskan sisa hidupnya di sisi pria yang tak ia cintai."
"A-apa? Apa maksudmu dengan di sisa hidupnya?"
Anna menghela nafas kuat. Ia tak yakin jika harus mengatakan semuanya kepada Ruel. Namun, ia juga tak punya pilihan lain, selain ingin melihat Sea bahagia di sisi pria yang di cintai untuk menghabiskan sisa waktunya yang mungkin tak lama lagi.
"Ternyata kau tak mengetahui apa pun tentang Sea, sedang ia mengetahui segalanya tentangmu."
"Katakan padaku, apa yang tak aku ketahui tentangnya?"
"Sea sedang sakit selama ini."
"Sakit?"
"Sea menderita kelainan jantung sejak ia berusia dua tahun, dan selama ini hanya obat-obatan yang membuatnya terus bertahan untuk hidup, dan mungkin juga keajaiban dari Tuhan yang bisa menyembuhkannya, kita semua tak tahu itu, kapan jantungnya akan berhenti berdetak."
Ruel pegangi dadanya saat merasa ribuan pedang menusuk jantungnya secara bersamaan, nafasnya semakin sesak dan membuatnya semakin kesakitan, hingga butiran bening menetes di sudut mata tanpa di sadarinya. Ia benar-benar merasakan sakit sekarang, rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tuhan kini menghukumnya atas semua yang sudah ia lakukan, entah sebesar apa kesalahannya hingga di berikan rasa sakit yang begitu berlebihan.
"Sea semakin tersiksa karena tak ingin meninggalkanmu selamanya. Maka dari itu, aku minta padamu. Lakukan sesuatu sebelum terlambat, dan aku percaya kau pasti bisa melakukannya. Aku rasa Sea juga menunggumu. Semoga beruntung," sambung Anna sebelum beranjak dari sana, tinggalkan Ruel yang masih menahan rasa sakitnya. Tertunduk dan kembali menangis.
__ADS_1
***