
"Apa kau pernah mendengar tentang jatuh cinta kepada pandangan pertama?"
"Hah?!"
"Cinta pada pandangan pertama adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan ketertarikan romantis yang terjadi secara tiba-tiba dengan orang asing atau seseorang yang baru pertama kali kita temui."
"Aku tak mempercayai itu. Aku rasa cinta pada pandangan pertama itu mustahil."
"Tapi, Sea. Cinta pada pandangan pertama bisa terjadi bahkan hanya dalam hitungan detik saja dari tatapan mata."
"Apa itu benar-benar ada? Bukankah cinta yang sebenarnya akan membutuhkan waktu lama untuk tumbuh? Aku rasa butuh waktu lama untuk menentukan apa itu benar-benar cinta atau hanya sekedar ketertarikan fisik saja."
"Ah, aku lupa jika kau tak pernah jatuh cinta, meski usiamu sudah menginjak 25 tahun. Kau mungkin tak tahu jika tubuhmu akan bereaksi jika sedang merasakan jatuh cinta. Apa kau tahu jika kau akan merasakan banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutmu."
"Kupu-kupu?"
"Hmm."
Sea terlihat berfirkir sambil pegangi perutnya sendiri. Ia tak merasakan hal itu sebelumnya ketika bersama pria asing malam itu, ia hanya merasakan jantungnya yang berdebar cukup kencang, terlebih ketika pria itu memeluknya, cukup kencang hingga membuatnya kesakitan. Namun, yang anehnya ia menyukainya.
Apa itu bisa di sebut dengan cinta pada pandangan pertama? Tapi kenapa begitu menyakitkan?
"Aku juga ingin merasakan hal semacam itu, hanya saja aku terlalu takut."
"Takut? Apa yang kau takutkan?"
"Rasa bahagia yang berlebihan bisa membuat jantungku berdebar dua kali lipat dari biasanya, dan ...."
"Dan?"
"Itu menyakitkan."
Anna meraih tubuh Sea untuk di peluknya. Mengapa ia sampai melupakan hal itu, sungguh membuatnya sedih dan terluka atas apa yang di rasakan Sea.
"Aku sampai melupakan hal itu. Ah, maafkan aku."
"Tak masalah, Anna. Aku menyukaimu yang terlihat bersemangat," balas Sea tersenyum lebar yang langsung di sambut tawa oleh Anna.
"Lalu, bagaimana dengan pria yang kau maksudkan itu? Bukankah dengan terus mengingatnya, kau akan semakin tersiksa karena merasakan sakit?" tanya Anna, menangkup wajah Sea. Jelas terlihat khawatir.
"Tak masalah, hanya mengingatnya dan tak melihatnya. Aku rasa aku akan baik-baik saja."
"Ah, sayang sekali. Emm, kalau boleh tahu dia pria seperti apa?"
"Dia?" Sea kembali terlihat berfikir sebentar. "Entahlah, aku ... hanya menyukai suara dan irama detak jantungnya."
"Hanya itu?"
"Matanya."
"M-mata? Apa kalian saling bertatapan?"
"Hmm."
"Ah, itu sangat mendebarkan. Apa pasti akan gugup jika berada di posisimu."
"Aku juga merasakan itu. Dan ... cukup menyakitkan."
Anna kembali memeluk tubuh Sea erat dan mengusap punggungnya lembut.
"Aku berharap kau selalu bahagia, Sea. Aku mendo'akan kebahagiaanmu, menginginkanmu agar betemu pria yang benar-benar bisa membuatmu jatuh cinta tanpa menyakitimu."
__ADS_1
"Aku juga berharap demikian, Anna. Terima kasih," angguk Sea tersenyum lembut sebelum meraih secangkir teh hangat yang di suguhkan Dana untuk mereka nikmati, tak melupakan camilan manis dan juga buah.
"Apa pria itu tidak berdiri di sana lagi?"
Anna alihkan pandangan keluar studio, amati pinggir jalan yang terlihat cukup sepi di sana.
"Pria?"
"Hmm. Hanya seorang anak remaja yang akhir-akhir ini sering terlihat berdiri di sana. Terlihat sedang menunggu seseorang, entahlah. Lupakan," balas Anna menyeruput teh hangatnya sebelum kembali lanjutkan obrolan mereka.
***
Satu minggu berlalu, di pertengahan musim panas.
"Kau akan ikut denganku di kelas musik, kan?" tanya Jeane merapikan beberapa bukunya sebelum memasukan kedalam tasnya, amati Ruel yang langsung beranjak dari duduknya bersiap pergi.
"Ruel dan aku ada kelas muay thai hari ini," sambung Gray ikut beranjak.
"Hanya itu saja? Tak bisa kah kalian ikut denganku ke kelas musik?"
"Aku tidak tertarik." sambung Ruel melangkah pergi. Tinggalkan ruang kelas menuju ruang latihan.
"Ah, tentu saja. Kau hanya tertarik dengan hal-hal yang berbau kekerasan, apa kau seorang psycopat?"
Jeane mempercepat langkahnya, agar bisa imbangi langkah Ruel dan Gray.
"Kalian pergilah terlebih dulu," ucap Ruel berbelok.
"Hei, mau kemana lagi ...."
"Biarkan dia, aku rasa dia butuh toilet," potong Gray meraih lengan Jeane untuk di gandenganya.
"Kau yakin? Bagaiman jika dia melarikan diri."
"Kita akan menunggumu di Caffetaria, sebaiknya kau bergegas agar tak lewatkan waktu makan siang!" teriak Jeane.
"Kau sungguh perhatian padanya."
"Dia calon adik iparku, kau lupa?"
"Ah, aku muak."
"Hei!"
"Baiklah, ayo kita makan. Aku cukup lapar," balas Gray lingkarkan lengan ke leher Jeane sebelum melangkah menuju Caffetaria.
Sedang di ruang kamar mandi, tepatnya di depan sebuah wastafel, terliaht Ruel yang tengan berdiri sambil membasuh wajahnya. Tertidur di ruang kelas cukup membuat wajahnya terlihat lusuh, bahkan kedua matanya sedikit membengkak.
"Apa kau sibuk akhir-akhir ini?" tanya seseorang yang bahkan sudah berdiri di samping Ruel dan ikut membasuh wajahnya.
"Kau terlihat perduli padaku."
Sang pria tersenyum di depan cermin, hingga tampilkan deretan gigi putihnya.
"Kenapa aku sudah tak pernah melihatmu lagi di tempat biasa?"
Ruel merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, enggan menjawab pertanyaan pria di sampingnya yang terlihat masih menunggu. Senderkan tubuh di pinggiran wastafel sambil amati Ruel dengan alis mengernyit.
"Kau memiliki pekerjaan baru sekarang?" sambungnya.
"Tidak."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku hanya tidak ingin melakukannya."
"Ah, cukup mengejutkan. Kau selalu menjadi orang pertama yang melakukannya. Kenapa tiba-tiba tak ingin melakukannya lagi?"
"Apa hal itu sangat membuatmu penasaran, Oskan?" tanya Ruel menatap pria berseragam sama di sampingnya.
"Ya. Sedikit."
"Kenapa? Kau mulai tertarik padaku?"
"Kau tahu jika dari dulu aku sudah tertarik padamu. Namun, kau terus mengabaikanku."
"Tsk."
"Apa kali ini, kau akan memikirkannya?"
"Tidak."
"Kau tak perlu menjawab secepat itu, Ruel. Aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir."
"Oskan!"
"Baiklah. Kau tak perlu melotot padaku."
Ruel menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan perlahan, sebelum melangkah dekati Oskan, berdiri cukup dekat hingga wajah mereka hanya sisahkan jarak beberapa centi meter saja. Namun, tak cukup membuat Oskan ciut dengan tatapan dingin dan tajam Ruel yang bahkan bisa membuat darah membeku.
"Oskan, aku katakan sekali lagi, tidak. Ini untuk yang terakhir kali. Aku tidak akan ikut denganmu."
"Setidaknya katakan satu alasan."
"Aku tidak ingin terlibat dalam pekerjaan kotormu. Aku rasa itu sudah cukup jelas."
"Apa karena kakakmu seorang polisi?"
"Jangan bawah-bawah nama Kak Eden. Karena ini tak ada hubungannya dengannya. Aku sarankan, sebaiknya cari orang lain yang bisa membantumu menjalankan bisnis kotormu."
Senyum tersungging di bibir Oskan, sebelum terlihat merapikan kerah seragam Ruel.
"Sayangnya aku hanya tertarik padamu, Ruel."
"Kenapa harus aku?"
"Kau tak sadar jika memiliki kemampuan yang luar biasa? Kau memiliki otak cerdas, dan tahu cara melindungi diri, memprediksi sesuatu hal dengan tepat, bahkan kau memiliki naluri yang sama seperti hewan buas, kau kejam, dan ... menakutkan."
"Lalu?"
"Apa aku perlu mengulanginya?"
"Enyahlah," balas Ruel, menepis tangan Oskan sebelum meninggalkan tempat tersebut, tinggalkan Oskan yang hanya tersenyum.
Aku akan pastikan, suatu saat kau akan membutuhkan pekerjaan kotor ini, Ruel.
Oskan kembali menatap wajahnya di cermin, merapikan rambutnya yang tak berantakan sebelum ikut keluar. Sedang Ruel masih terus berjalan, lewati koridor sekolah dengan terus melamun. Meski ia tak pernah tertarik dengan tawaran Oskan yang memintanya bekerjasama untuk menyelundupkan barang terlarang berjenis narkoba dan minuman keras, tapi hal itu cukup mengganggu pikirannya.
Tak ingin terlibat dengan Oskan dan kartelnya, siswa yang terlihat normal dan biasa saja dalam lingkungan sekolah. Namun, siapa sangka jika Oskan adalah seorang putera dari anggota mafia yang cukup terkenal. Ia tak ingin terjerumus dalam lembah hitam yang akan membuatnya hidup dan terkurung dalam dunia kejahatan dan kegelapan.
Hingga suara piano Ludwig Van Beethoven - Fur Elise feel yang terdengar dari ruang musik yang masih terlihat sepi buyarkan Ruel dari lamunan. Ia bahkan tak pernah tahu, jika suara alunan piano itu bisa membuatnya tertarik untuk mendengarkan, bahkan cukup penasaran dengan seseorang yang memainkan melodi seindah itu.
"Gadis itu?"
__ADS_1
***