
"Aku selalu melihatnya bersama Ken."
Langkah kaki Jeane terhenti, kembali membalikkan badan dan menatap Oskan, sebelum alihkan pandangan ke arah Gray yang terlihat menarik nafas berat. Ia cukup tahu Ken dan pekerjaan apa saja yang selalu pria itu lakukan. Ia bahkan tak pernah menyukai Ken, begitu juga dengan Ruel yang selalu bersama Ken, sebab khawatir jika satu waktu Ruel akan benar-benar tersandung masalah serius jika semua yang mereka lakukan sampai di ketahui oleh Eden.
"Apa maksudmu?"
Satu kening Oskan terangkat ke atas.
"Kalian tak tahu?"
"Aku tahu, lalu apa masalahnya?" balas Gray dengan satu pertanyaan. Sedang Jeane masih terdiam dengan perasaan gelisah.
"Masalahnya? Aku rasa tak ada, jika itu berhubungan denganku. Hanya saja, akhir-akhir ini Ken terlalu banyak melakukan pekerjaan yang cukup berbahaya, apa kalian masih merasa jika itu tak masalah?"
Gray menatap Jeane yang terlihat cemas. Kenapa Oskan jadi sangat memperdulikan Ruel di hadapan Jeane hingga semakin membuat gadis itu khawatir, sedang ia sendiri tahu jika selama ini Oskan selalu berusaha membujuk Ruel untuk bekerja sama dan membantunya dalam menjalankan bisnisnya yang bahkan jauh lebih berbahaya di bandingkan pekerjaan Ken sendiri, ia tahu itu karena pernah mengikuti Ruel sekali, setelah Ruel akhirnya memintanya untuk berhenti karena Ruel tak ingin ia terluka.
"Kenapa aku merasa jika kalian sudah tak begitu memperdulikan Ruel. Apa masalah besar memang terjadi di antara ...."
"Tutup saja mulutmu dan pergilah, Oskan. Satu hal yang harus kau tahu. Kita baik-baik saja dan tak ada masalah sedikit pun," potong Jeane berusaha menyembuyikan kecemasannya.
"Baiklah, aku percaya padamu, Jean," angguk Oskan dengan senyumnya.
"Berhenti tersenyum padaku."
"Ayolah, aku hanya tersenyum kepada orang yang aku sukai."
"Enyahlah," balas Jeane melangkah pergi. Tinggalkan Gray dan Oskan yang masih di sana.
"Kau masih sangat penasaran?" tanya Gray, menatap Oskan yang masih terdiam.
"Kau bisa menebaknya?"
"Kenapa kau begitu tertarik kepada Ruel?"
"Aku tak perlu menjelaskannya padamu."
"Tentu. Kau tak perlu repot-repot," balas Gray melangkah pergi.
"Hei!?"
Oskan sedikit berlari untuk menyusul langkah Gray sebelum merangkul bahu pria itu dan jalan bersama.
"Kenapa begitu dingin? Seolah kita tak saling kenal."
"Lalu kau ingin aku bersikap seperti apa padamu? Menggendongmu kemana-mana?"
Oskan terbahak atas jawaban Gray yang terdengar konyol.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kita bisa dekat lagi seperti dulu. Aku, kau, Ruel dan Jeane. Kita bahkan selalu bersama. Apakah itu terlalu sulit?"
"Tak ada yang menjauhimu, Oskan. Kau sendiri yang terlalu sibuk dengan segala aktivitasmu hingga tak pernah bersama kami lagi."
"Ya, kau benar. Aku sedikit sibuk akhi-akhir ini."
"Bisa katakan padaku?" tanya Gray menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Oskan yang ikut berhenti dan berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana seragamnya.
"Apa?"
"Aktivitas apa saja yang kau sering lakukan selama ini?"
"Hanya beberapa pekerjaan kecil."
"Seperti apa?"
Oskan tersenyum.
"Kau terlihat sangat penasaran."
"Ya. Tapi, apa pun yang kau lakukan selama ini, bisakah tidak melibatkan Ruel?"
Alis Oskan terlihat mengernyit, menatap Gray dalam.
"Aku tidak mengerti. Apa maksud dari ucapanmu."
Oskan terdiam sebentar, terlihat menggaruk alisnya yang tidak gatal.
"Jadi, kau sudah mengetahuinya?"
"Itu tak penting, kan? Aku tahu ataupun tidak, aku rasa itu tak ada pengaruhnya untukmu. Kau juga tak perlu cemas, karena aku tak cukup banyak waktu untuk mengurusi semua yang kau lakukan. Hanya saja, jangan pernah libatkan Ruel."
"Kau terlihat sangat melindunginya. Itu terlalu pilih kasih, karena hanya Ruel yang kau perdulikan. Aku juga temanmu, kan?"
"Aku memperdulikan kalian semua."
"Aku tak melihat itu."
Gray menghela nafas panjang, kembali menatap Oskan sebelum melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Sedang di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah kediaman Theodoric.
"Sea. Aku mohon berhentilah menangis, kau bahkan sudah menangis selama tiga jam. Kau akan benar-benar sakit jika terus seperti ini," bujuk Anna mulai khawatir saat melihat Sea yang terus menangis tak berhenti, benamkan wajah di permukaan bantal sambil meremat ujung selimutnya kuat.
"Setidaknya katakan sesuatu, jangan membuatku cemas seperti ini," sambungnya meraih tubuh Sea, dan menyenderkan tubuh gadis itu di sandaran tempat tidurnya usai mengusap air mata yang basahi separuh wajahnya, bahkan kedua matanya sudah terlihat sangat bengkak karena terus menangis.
"Anna, aku merasa sangat sakit."
"Sakit? Kau ...."
__ADS_1
"Hatiku sungguh sangat sakit," ulang Sea pegangi dadanya yang berdenyut nyeri.
"Oh Tuhan, Sea. Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Anna memeluk tubuh Sea, mengusap punggung Sea perlahan.
"Anna, aku merindukannya, aku sangat merindukannya. Aku pikir akan baik-baik saja setelah menyuruhnya untuk melupakanku."
Alis Anna mengernyit, masih tak mengerti dengan apa yang di katakan Sea, tak tahu apa yang membuatnya sangat bersedih sampai menangis selama berjam-jam dan siapa yang sedang di rindukannya. Tak mungkin itu Dex, sebab yang ia tahu, Sea tak memiliki perasaan apa pun terhadap pria itu, bahkan sekali pun ia tak pernah mendengar Sea menyebutkan nama Dex padanya meski Sea menyetujui bahkan menerima perjodohan di antara mereka.
"Sea, siapa dia? Siapa pria yang sangat kau rindukan hingga membuatmu sampai seperti ini, tak mungkin itu Dex, kan?"
Sea menggeleng pelan dengan air mata yang terus menetes.
"Lalu siapa dia? Bisakah kau mengatakannya padaku?"
"Dia ... anak itu."
"A-anak?"
"Seseorang yang bisa membuat jantungku berdegup dengan kencang, seseorang yang tak sengaja menemukanku di awal musim panas malam itu, seseorang yang sangat aku rindukan kini."
"Sea, kau ...?"
Sea tertunduk, menangkup wajah dan kembali menangis, sedang Anna hanya bisa terdiam saat berhasil mengingat sesuatu. Ia tahu siapa seseorang yang di maksud oleh Sea, seseorang yang selalu ia lihat terus berdiri di pinggiran jalan tepat depan studionya selama beberapa bulan terakhir ini. Seseorang dengan pakaian seragam yang menemukan Sea, bahkan berhasil membuat Sea jatuh cinta, seorang pria yang usianya jauh lebih muda dari Sea. Namun, memiliki perasaan yang istimewah hingga berhasil membuat Sea menganggapnya sebagai seseorang yang spesial di hatinya.
"Anna, aku mencintainya. Aku rasa ... aku menyukainya. Apa yang harus aku lakukan, aku merasa sakit karena sudah menyakitinya."
Anna kembali memeluk tubuh Sea yang sesegukan. Cukup terkejut dengan pengakuan Sea yang akhirnya untuk pertama kali mengakui jika telah jatuh cinta kepada seseorang meski harus berakhir dengan kesedihan dan air mata. Sebab Sea mencintai seseorang yang tak mungkin bisa ia miliki, sekuat apa pun ia berusaha, hubungan mereka tak akan bersatu, mengingat sebentar lagi ia akan menikah, terlebih pria yang di cintai oleh Sea bukanlah seseorang yang bisa masuk dalam keluarga besar Theodoric.
"Sea, apa yang harus aku lakukan untukmu?"
Air mata Sea kembali menitik, bahkan ia sendiri sudah tak tahu harus melakukan apa sekarang, dan hanya bisa menangis ketika merindukan Ruel dengan rasa bersalah yang terus menyakiti hingga ke dasar hatinya.
"Sea, kau tahu, kan? Sebentar lagi kau akan menikah. Dex akan sangat bersedih jika melihatmu seperti ini. Begitu juga dengan Kak Vincent, terlebih Paman Hellton."
"Aku tahu, tapi ... apa aku harus melakukannya lagi?" tanya Sea, menatap Anna dengan kedua mata berkaca. "Tersenyum di hadapan mereka, seolah aku tak merasakan apa pun? Sedang hatiku ... hatiku ...."
Sea kembali terisak dan kembali benamkan wajah di telapak tangannya.
"Hatiku benar-benar sakit, Anna."
"Aku tahu, aku tahu," balas Anna ikut menitikkan air mata. "Seharusnya kau jujur saja, setidaknya kepada Kak Vincent, jika kau memiliki seseorang yang kau cintai."
"Tidak mungkin, Anna."
"Kenapa tidak?"
"Kak Vincent sangat membencinya."
__ADS_1
***