
Sialan, aku tak bisa berlama-lama di sini.
"Kau yakin tak salah alamat, bocah?" tanya salah satu pria, melangkah hampiri Ruel yang masih berdiri dengan tenang, amati satu pria sebagai targetnya.
"Aku tak punya banyak waktu. Katakan saja pada pria tua di sana jika Ken mencarinya."
"Ken?"
Sang pria yang menjadi target terlihat mengeryitkan alis sambil menghisap rokoknya dalam. Terdengar tertawa dengan keras sebelum kembali bermain dengan wanita di sampingnya, menggoda mereka yang langsung meresponnya dengan rayuan manis hingga membuat Ruel semakin mual. Mata sucinya benar-benar di nodai oleh pemandangan luar biasa di depannya.
"Apa kau salah satu anjing peliharaan Ken? Atau seorang pelanggan yang datang untuk menikmati tubuh para ****** di sini." tanya pria di sana dengan senyum remehnya.
"Dasar pedofilia sialan. Berhenti bersikap seperti seekor anjing yang tak tahu sopan santun," balas Ruel sarkasme.
"Katakan sekali lagi, brengsek sialan!"
"Anda seharusnya memiliki kalimat yang lebih pantas untuk di ucapkan, mengingat umur Anda sudah sekarat. Dan aku rasa Anda juga memiliki sedikit otak untuk berfikir, sudah pasti tahu tujuanku datang kemari."
"Kau memang memiliki mulut yang sangat berbisa seperti ular. Kau juga tak terlihat menyayangi nyawamu."
"Berhenti berbasa-basi."
"Apa Ken yang mengirimmu kemari?"
"Ya. Jadi berikan saja apa yang Ken minta, agar aku lekas pergi dari sini, dan kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian.
Tawa dari sang pria di sana kembali terdengar hingga penuhi ruangan remang tersebut.
"Sayang sekali. Aku tak punya apa pun untuk di berikan padanya. Sebaiknya kau kembali sebelum berakhir mati konyol di sini. Atau, kau mau menukarnya dengan salah satu ****** di sini, kau bisa memilihnya."
Ruel menarik nafas kuat, mengusap tengkuk lehernya yang mulai menegang. Pria tua di sana benar-benar menguji kesabarannya. Padahal ia sedang tak ingin bermain-main dengan mereka, terlebih melakukan aktivitas yang akan membuat bajunya kotor dan berkeringat.
"Anda serius?" tanya Ruel mulai jengah, menatap tajam ke arah sang pria.
"Apa aku terlihat sedang bercanda, bocah? Kenapa kau tak kembali saja, cuci kakimu dan tidur dengan tenang di bawah ketiak ibumu? Kau terlalu banyak ikut campur," ucap sang pria mendorong tubuh Ruel cukup keras hingga menghantam layar tv led di belakangnya.
Salah satu sudut bibir Ruel terangkat dengan sisi alis yang nampak naik keatas dengan tatapan tajam menikam.
"Berhenti memerintahku, kau bukan kak Eden."
"Lalu? Kenapa tak pergi saja, sialan!?"
"Sayangnya aku bukan bocah penurut," balas Ruel hilang kesabaran, lepaskan satu pukulan keras hingga tepat mengenai hidung sang pria hingga mimisan.
Sungguh satu respon yang membuat kedua temannya bereaksi, bahkan salah satu dari pria di sana langsung mengambil papan keyboard dan mengayunkannya tepat ke arah kepala Ruel yang dengan refleks menangkis dengan lengannya sebelum lepaskan satu tendangan ke dada pria di sana hingga terpental dan jatuh tepat di atas meja, menimpah beberapa botol dan makan ringan dengan tubuhnya hingga berserakan di atas lantai, bersamaan dengan suara histeris beberapa wanita yang terlihat ketakutan dan lekas mencari tempat perlindungan.
__ADS_1
"Ternyata kau benar-benar ingin mati."
"Hadapi saja aku dan berhenti bicara, sialan!"
Prank!
Suara botol terdengar pecah, dan kali ini tepat mengenai belakang kepala Ruel yang tertutupi topi, dan dengan cepat membalikkan badan, kembali lepaskan satu tendangan ke arah tubuh pria lainnya yang kembali menyerang secara diam-diam bahkan sempat melukai pelipisnya juga tanpa ia sadari.
"Sialan. Kalian benar-benar membuang waktuku. Sebaiknya lekas berikan uang itu pria tua!" teriak Ruel kesal dan mulai menyerang.
Menjadikan buku yang ia bawah sebagai senjata untuk menghantam wajah dan kepala dua pria yang menyerangnya secara bersamaan dengan menggunakan senjata tajam berjenis belati. Dan mereka memang tak bisa meremehkan Ruel yang cukup lihai dalam hal bela diri, bahkan mereka tak bisa menangkis atau menghindari tendangannya, tak bisa menyentuh dan melukainya, hingga dalam waktu beberapa menit saja, ketiga pria di sana berakhir tumbang dengan beberapa luka di wajah dan tulang yang di rasa remuk. Itulah alasan Ken mengapa hanya menginginkan Ruel untuk melakukan pekerjaan tersebut.
"Kau ...."
Si pria tua lekas menciut saat menyaksikan pemandangan di depan matanya. Tak menyangka jika anak yang ia sebut bocah sudah melakukan semuanya.
"Lekas berikan uang itu. Sebelum kesabaranku habis," ucap Ruel berdiri dengan satu kaki tepat berada di atas tubuh satu pria yang masih meringis kesakitan.
"Aku tak memiliki uangnya."
"Jangan coba membohongiku pria tua. Ayolah, aku bisa mengampuni Anda jika menurutiku."
"Aku benar-benar tak punya. Apa yang harus aku berikan, brengsek."
"Aku akan mulai menghitung. Dan dalam hitungan ke tiga, Anda sudah harus menyerahkan uang itu, satu."
" Aku tak memilikinya."
"Dua."
"Aku sungguh-sungguh."
Ruel mengambil sebuah botol dan memecahkannya.
"Ti ...."
"Baiklah, baiklah. Ambil ini. Ambil saja semua uangnya dan pergi dari sini, bocah gila sialan. K-kau tak waras," potong sang pria tua yang langsung mengambil sebuah koper dari bawah meja yang berisi sejumlah uang untuk di serahkan kepada Ruel.
"Kau ternyata memilikinya? Mengapa tak lekas memberikannya padaku?" tanya Ruel cukup kesal.
"Aku ...."
Bugh!
Ruel layangkan koper berisi uang tepat di kepala sang pria tua di hadapannya.
__ADS_1
"Apa kau tahu jika hari ini aku akan berkencan dengan seorang gadis, dan karena mengurusimu aku jadi terlambat. Ah, sialan. Kalian bahkan membuat bajuku kotor."
"M-maaf, ambil saja uang itu dan lekaslah pergi dari sini."
"Ah, dasar pria tua. Lekaslah sadar dan berhenti membuat masalah, jika tidak aku akan benar-benar menghancurkanmu," balas Ruel hendak pergi. Namun, kakinya tersandung di ujung meja hingga membuatnya nyaris terjatuh.
"K-kau tidak apa-apa ...."
"Diamlah, sialan!" balas Ruel lekas pergi usai memporak-porandakan isi ruangan tersebut.
Melangkah dekati Ken yang sudah berdiri menunggunya dengan senyum puas yang terlihat menghiasi wajahnya.
"Ambil uangmu dan berikan upahku. Aku harus pergi," ucap Ruel melempar kopor yang ia bawah ke arah Ken yang langsung menangkapnya.
"Aku sudah mentranfernya beberapa menit lalu, kau bisa memeriksanya sekarang. Dan terimakasih atas kerja kerasmu."
"Ya. Dan sebaiknya jangan pernah mencariku di rumah jika membutuhkan bantuan," balas Ruel yang langsung melangkah pergi tinggalkan Ken.
Melangkah dengan tergesah keluar dari gedung tua tersebut, hingga dalam berselang detik saja motornya sudah terlihat bergerak dengan cepat meninggalkan tempat tersebut menuju perpustakaan di mana Sea menunggunya.
Semoga aku tak terlambat.
Tanpa membuang waktu, Ruel lekas turun dari motornya, sedikit berlari masuk kedalam perpustakaan dengan buku yang masih di pegangnya erat. Ia sudah cukup terlambat, merasa takut jika Sea lama menunggu dan meninggalkannya. Meski apa yang ia pikirkan tak benar, sebab Sea masih terlihat sedang menunggunya di sebuah kursi tepat samping jendela dengan beberapa buku yang sudah tersusun rapi di atas meja.
Kau masih di sana? Syukurlah.
Langkah kaki Ruel terhenti, bersamaan dengan senyum yang mengiasi wajahnya saat menikmati kecantikan Sea dari kejauhan. Gadis itu terlihat begitu cantik dan anggun saat mengenakan maxi drees dengan potongan simpel dengan panjang sampai di mata kaki.
Apa kau tahu jika aku sudah jatuh cinta padamu hingga membuatku menjadi seperti orang gila.
Ruel melangkah dekati Sea tanpa menimbulkan suara yang bisa membuat keributan dan mengganggu ketenangan orang-orang di sekitar mereka yang hari itu kebetulan tak begitu ramai.
"Nona Sea," sapa Ruel, duduk di samping Sea yang langsung menyambutnya dengan senyum manis dan sorot mata yang hangat.
"Kenapa sangat terlambat?"
"Maaf, aku...."
"Kau terluka?" potong Sea saat menyadari ada luka memar yang sedikit berdarah di pelipis Ruel ketika pria itu membuka topinya.
"Ini ...."
"Apa yang sudah terjadi denganmu?"
***
__ADS_1