ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Apa dia, kekasihnya?


__ADS_3

"Kak Dex?"


"Apa yang kau lakukan di sini, dalam keadaan basah kuyup?" tanya Dex, lekas melepaskan mantel yang di kenakan untuk menutupi kedua sisi bahu Sea, melepaskan plastik dan topi yang di kenakan dan merapikan rambut Sea sebelum menarik tangannya untuk berdiri. Abaikan Ruel yang menatap tak suka, ketika Dex terus menggenggam telapak tangan gadis itu erat tanpa melepaskannya.


Sea menatap Ruel dengan perasaan sedih yang membuatnya seketika sesak nafas, bahkan lidahnya mendadak keluh hingga tak bisa mengatakan apa pun, selain itu ia juga tak memiliki kata-kata untuk di katakan kepada pria itu sekarang, baik menjelaskan kepadanya siapa Dex, dan ada hubungan apa di antara dirinya dan Dex.


Bahkan tak bisa mengatakan jika pria yang kini menggenggam telapak tangannya erat adalah pria yang akan menikahinya sebentar lagi, meski sedikit pun ia tak mencintai pria itu, tak ingin menikah dan hidup bersama pria itu. Namun, Sea tak memiliki kekuatan untuk menolak, meski keputusannya akan melukai perasaan Ruel, satu-satunya pria yang bisa membuat jantungnya berdebar kencang.


Maafkan aku, Ruel. Bagaimana jika lupakan saja aku. Aku bukan gadis yang harus kau sukai.


Sea mempererat genggaman tangannya, berusaha menahan sesak di hati hingga membuat tubuhnya bergetar menahan sakit.


"Tubuhmu menggigil kedinginan, kau bisa sakit. Naiklah ke mobil, kita pulang sekarang," ucap Dex hendak pergi.


"Tunggu," serga Ruel berdiri di hadapan mereka.


"Ada apa? Apa kalian bersama?" tanya Dex menatap Ruel.


Meski ia sudah tahu jika mereka memang bersama sejak tadi. Dex bahkan bisa melihat saat mereka berdiri di teras perpustakaan, melihat bagaimana mereka begitu dekat, saling melempar tawa ketika membicarakan banyak hal, berlarian bersama dengan tangan yang saling menggenggam erat sambil tertawa penuh bahagia. Meski semua itu cukup menyakiti hati Dex yang pada dasarnya sudah jatuh cinta kepada Sea, tapi ia tahu jika hanya harus menahan diri untuk tak melakukan apa pun agar semua baik-baik saja. Namun, kali ini ia tak bisa lagi menahan rasa cemburunya.


"Siapa dia?" sambungnya, berharap Sea akan menjawabnya jujur. Meski tak ingin mendengar jawaban yang mungkin akan menyakiti hatinya.


"Dia salah satu siswa yang sedang aku ajari."

__ADS_1


"Seorang siswa?" alis Dex mengeryit, masih menatap Ruel tak percaya.


Bagaimana bisa Sea memperlakukan seorang siswa dengan begitu istimewa. Sea bahkan bisa tersenyum dan tertawa lepas kepada pria itu, dan tak pernah melakukan hal yang sama dengannya. Bahkan sampai mengabaikan kesehatannya demi bersama pria itu.


"Seharusnya kau tak membiarkannya terkena hujan seperti ini, karena itu akan berdampak buruk bagi tubuh ...."


"Kak Dex, cukup," potong Sea, sebelum kembali alihkan pandangan ke arah Ruel yang hanya diam dalam kebingungan. "Kita pulang saja," sambungnya.


"Kak Sea. Tunggu," panggil Ruel. "Jangan pergi," sambungnya yang di abaikan oleh Sea.


Bahkan tanpa mengatakan apa pun, Sea langsung berjalan pergi. Melangkah ke sisi Dex yang langsung merangkul bahunya sedikit menarik agar merapat di tubuhnya untuk menghindari air hujan. Hingga dalam berselang detik saja, mobil Dex terlihat bergerak pergi meninggalkan Ruel yang masih berdiri dengan perasaan campur aduk. Antara sedih, marah dan kecewa, bertanya-tanya dalam hati, siapa pria yang membawa Sea pergi, pria yang bahkan menggenggam tangan dan merangkul Sea. Dan yang semakin membuat Ruel tak karuan adalah Sea yang tak menolak sedikit pun, bahkan sampai mengabaikan dirinya.


Apa dia ... kekasihnya? Tidak, tidak mungkin.


Bukankah kau sudah tahu jika aku menyukaimu? Kau tahu seperti apa perasaanku padamu, tapi apa yang kau lakukan sekarang? Mengapa mengabaikanku begitu saja. Ada apa denganmu?Mengapa kau hanya diam saja saat pria itu menggenggam dan merangkulmu? Kak Sea ... kau membuatku terluka, kau membuatku cemburu hingga hampir gila.


Ruel menambah kecepatan motornya. Hingga dalam waktu beberapa menit saja, ia bisa melihat mobil Dex terlihat melambat saat melewati komplek, dan berhenti di depan pagar tinggi menjulang yang terbuka dengan perlahan sebelum masuk ke dalam halaman. Begitu juga dengan Ruel yang ikut turun dari motornya, hendak menyusul untuk menemui Sea sebelum langkah kakinya terhenti di ujung gerbang ketika tak sengaja melihat sosok pria tak asing di sana yang tak lain adalah Vincent.


Pria yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya, pria yang tak ia sukai dan yang jelas pria yang mungkin sangat membencinya. Pria yang saat ini sedang berdiri di depan teras untuk menyambut Sea dan Dex, bahkan tak hanya sosok Vincent yang membuat Ruel sangat terkejut. Namun, juga sosok Eden, kakaknya sendiri yang ikut berdiri di samping Vincent, bahkan menjabat tangan Dex dan tersenyum hangat kepada keduanya. Sungguh pemandangan yang cukup melukai perasaan Ruel, merasa bodoh karena tak mengetahui apa pun tentang Sea.


Pria itu? Apa dia ... kakak Sea?


Ruel memundurkan langkahnya dengan perlahan. Masih berdiri mengamati hingga mereka tak terlihat lagi di sana.

__ADS_1


Tidak mungkin, pria itu tidak mungkin Kakak Sea, tidak ....


Ruel berjalan menuju motornya dan langsung meninggalkan tempat itu dengan banyak pertanyaan yang kini penuhi kepalanya. Memikirkan Vincent dan Dex membuatnya semakin tak karuan.


Apa itu alasanmu membantuku malam itu dan mencari tempat persembunyian, apa karena yang mengejarku adalah kakakmu? Lalu kenapa kau tak mengatakan apa pun padaku.


Ia bahkan tak bisa berfikir jernih lagi karena rasa marah pada diri sendiri. Semakin mempercepat laju motornya dengan fokus yang terpecah, hingga beberapa detik kemudian.


Brak....


Motor Ruel menabrak trotoar jalan hingga terseret jauh, dan ia sendiri yang terpental dan ikut terseret, berakhir terlentang di tengah jalan yang sore itu cukup sepi. Tak ada pengendara lain ataupun pejalan kaki yang melintas karena hujan yang masih turun, bahkan semakin deras.


Siapa kamu sebenarnya, Nona Sea ....


Ruel memejam erat menahan rasa sakit, sebelum kembali membuka mata. Menatap langit sore yang mulai gelap, biarkan butiran demi butiran bening menghujam wajahnya yang mulai memucat.


Sepertinya pelangi tak akan muncul, hujan bahkan tak mau berhenti sejak tadi.


Pria itu kembali memejam, tak berniat beranjak dan hanya berbaring di sana dengan perasaannya yang semakin sakit. Dan beruntung kecelakaan tunggal yang ia alami tak sampai menimbulkan luka parah di tubuhnya, bahkan rasa sakit di tubuh terkalahkan oleh rasa sakit di hatinya saat ini.


Aku terluka, lecet di mana-mana. Apa itu cukup membuatmu khawatir? Kau tak ingin melihatku terluka, kan? Tapi, aku terluka sekarang, Kak Sea ... tak hanya tubuhku tapi juga hatiku. Apa kau masih akan perduli padaku?


***

__ADS_1


__ADS_2