ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Dia pria yang baik


__ADS_3

Tok!


Tok!


"Ya. Kak," sahut Sea dari dalam kamarnya, bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Vincent yang masih berdiri di ambang pintu lengkap dengan seragam yang masih di kenakannya.


"Tidak, aku baru akan tidur."


"Di jam sekian?"


"Aku baru saja menyelesaikan beberapa tugas."


"Ah, yah. Bisakah kita mengobrol sebentar?"


"Tentu."


Vincent melangkah dekati tempat tidur Sea dan duduk di sana. Amati sang adik yang terlihat berbeda kali ini. Wajah Sea terlihat sumrigah, penuh senyuman seolah kebahagiaan sudah memenuhi hatinya hari ini.


"Kau terlihat berebeda."


"Begitukah?"


"Ya. Kau banyak tersenyum sejak tadi. Aku senang melihatnya."


"Ah, itu. Aku hanya ...."


Sea tak melanjutkan kalimat, dan hanya tersenyum. Ia juga tak mengerti mengapa bisa sebahagia itu hanya karena Ruel mengunjunginya secara diam-diam, mendengar suara dan melihat senyum pria itu. Sungguh satu kejutan kecil yang bisa membuatnya sangat bahagia.


"Apa Dex baru saja berkunjung kemari?" tanya Vincent buyarkan Sea dari lamunan.


"Ya."


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Bagaimana menurutmu soal Dex?"


"Dia  pria yang baik, aku rasa."


"Hanya itu?"


"Emm, dia dewasa, tegas, dan cukup menyenangkan."


"Syukurlah," balas Vincent tersenyum.


"Ada apa, Kak?"


"Aku lega mendengarnya. Kau terlihat menyukainya. Tak ada pendapat buruk tentangnya. Itu melegakan."


"Ah, ya. Meski awalnya aku cukup terkejut saat tahu ternyata dia juga teman Kakak. Aku pikir kalian tak saling mengenal satu sama lain, mengingat Kakak tak pernah menyebut ataupun membahasnya."


"Kita nyaris tak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing, dan aku rasa Dex bisa menjadi temanmu juga."

__ADS_1


"Ya."


"Dan, apa kau tak keberatan jika dia menyukaimu?"


"A-apa?"


"Kau tak bisa melihatnya? Dex sangat menyukaimu. Aku rasa kau tahu, atau mungkin pura-pura tak tahu."


Sea terdiam sebentar.


"Baiklah, tak perlu di pikirkan sekarang. Sebaiknya kau tidur, malam sudah sangat larut. Apa kau sudah minum obat?"


"Hmm," angguk Sea mulai merasakan gelisah. Entah mengapa perkataan Vincent benar-benar sangat mengganggunya. Apa benar Dex menaruh hati padanya?


"Kak," panggil Sea ketika Vincent hendak beranjak dari duduknya.


"Ya, Sea. Ada apa?"


"Apa maksud Ayah memperkenalkanku dengan Kak Dex?"


Vincent menarik nafas panjang sebelum mengeluarkannya dengan perlahan. Ia tak yakin akan mengatakan tujuan Tuan Theodoric memperkenalkan Dex Petrucci kepada adiknya Sea. Namun, ia juga tak mungkin merahasiakan perjodohan yang sudah di atur sang Ayah sejak lama untuk Sea.


"Kak? Bisakah Kakak menjawab pertanyaanku? Apa tujuan Ayah memperkenalkan Kak Dex? Tak mungkin hanya untuk menjadi temanku, kan? Aku sudah memiliki Anna dan Kak Eden, aku juga punya Kakak. Aku rasa itu cukup, aku tak butuh banyak teman."


"Sea." Vincent mengusap rambut Sea lembut. "Tidurlah."


Sea menatap Vincent cukup lama, sebelum rebahkan tubuh dan menutupnya dengan selimut. Vincent bisa menebak jika Sea sedang merajuk sekarang, ia bahkan tak mengatakan apa pun.


"Sea, kau sedang merajuk sekarang? Tanya Vincent yang bahkan tak mendapat jawaban dari Sea.


"Apa Ayah akan menjodohkanku dengannya?" tanya Sea dari balik selimutnya.


Vincent terdiam tak menjawab.


"Aku benar, kan?" tanya Sea yang kembali beranjak dari pembaringannya, menatap Vincent yang masih terdiam.


"Kak, aku benar, kan? Ayah akan menjodohkanku dengan Kak Dex?"


"Ya."


"Tapi aku ...."


Kalimat Sea tertahan di tenggorokan, bahkan ia tak bisa mengatakan apa pun lagi. Selama ini ia tak pernah sekalipun membanta ataupun menolak perkataan dan permintaan sang Ayah. Ia selalu menurut, sebab tahu jika sang Ayah selalu memberikan semua yang terbaik untuknya. Lalu apa Dex Petrucci adalah seseorang yang terbaik untuknya?


"Sea ...."


"Aku ingin tidur, Kak," potong Sea kembali merebahkan tubuhnya, meringkuk punggungi Vincent yang masih duduk mengamatinya.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya. Aku baik-baik saja."


Vincent kembali terdiam ketika kembali mendengar kata yang sama. Selama ini ia selalu mendengar jawaban yang sama dari adiknya, bagaimana dan seperti apa pun kondisinya. Kata 'baik-baik saja' pasti akan selalu keluar dari mulut Sea.


"Kau tahu, kan? Jika Ayah selalu memberikan yang terbaik untukmu? Ayah selalu ingin kau hidup bahagia, bersama orang tepat yang bisa membahagiakanmu."

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika aku yang tak bisa membahagiakan mereka, Kak?"


"Apa maksudmu?"


"Aku sakit, umurku bahkan tak panjang seperti keinginanku. Bertahan sampai di usia 30 tahun, apa mereka akan baik-baik saja dengan itu. Aku hanya akan bersama mereka selama lima tahun saja?"


"Apa yang sedang kau katakan sekarang? Kau akan berumur panjang dan hidup bahagia seperti keinginan ...."


"Kak," potong Sea dengan suara bergetar. "Berhenti menghiburku dengan mengatakan aku akan berumur panjang," sambungnya dengan mata yang mulai berkaca. 


Vincent meraih tubuh adiknya untuk di peluknya erat.


"Aku tidak sedang menghiburmu, ini kenyataan. Kau akan berumur panjang ...."


"Kak, cukup. Aku sakit, hidupku hanya bergantung pada obat-obattan. Bahkan mungkin aku sudah meninggal sejak di usia tujuh tahun, dan Tuhan sudah cukup memberiku waktu 18 tahun untuk hidup."


"Sea!" bentak Vincent yang cukup mengejutkan Sea.


Bersamaan dengan air mata Sea yang akhirnya menitik dan berakhir menangis terseduh sambil pegangi dadanya yang terasa nyeri, ia bahkan merasakan sakit sekarang hingga mulai sesak nafas.


"Sea, aku mohon berhenti menangis, itu akan menyakitimu," bujuk Vincent tenangkan adiknya, sebelum beranjak menuju nakas dan mengambil beberapa pil di dalam sebuah botol kaca berukuran kecil juga segelas air mineral untuk di berikan kepada Sea.


"Minumlah," sambungnya.


Dengan tangan yang gemetar, Sea meraih gelas berisi air mineral untuk di minumnya saat Vincent usai memasukkan beberapa pil kedalam mulutnya. Hingga beberapa menit berlalu.


"Bagaimana, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Vincent penuh kekhawatiran.


Sea hanya mengangguk tak menjawab.


"Maafkan aku," sambung Vincent kembali memeluk tubuh adiknya erat. Tak bisa menyembuyikan ketakutan dan kesedihannya.


Melihat Sea merasa kesakitan bukanlah hal yang pertama kali bagi Vincent. Namun, ia akan selalu merasakan takut dan sedih saat melihat hal itu, bahkan ia akan ikut menangis jika melihat sang adik sedang mengerang menahan sakit, sangat ingin ikut merasakan apa yang di rasakan oleh sang adik.


"Maafkan aku jika sudah membuatmu sedih dan menangis," ucap Vincent sekali lagi dengan nada yang penuh dengan penyesalan, bahkan semakin mempererat pelukannya seolah tak ingin melepaskan adiknya.


"Tidak perlu meminta maaf, Kak. Aku ... aku hanya merasa sangat sensitif akhir-akhir ini. Tak seharusnya aku mengatakan hal demikian, sedang aku tahu. Kakak dan Ayah sedang bekerja keras untuk kesembuhanku. Mungkin aku yang tak sabaran, atau mungkin tak yakin jika akan sembuh. Aku menyesal telah mengatakan hal itu dan membuat hati Kakak terluka."


Vincent menangkup wajah Sea, menyeka sisa air mata di separuh wajah itu lembut.


"Kau pasti akan sembuh, percayalah kepadaku dan Ayah."


"Ya," angguk Sea dengan senyum tipis di bibirnya yang bergetar, begitu juga dengan air mata yang kembali menitik.


Entah mengapa ia menjadi sangat ketakutan sekarang. Mengingat penyakit dan usianya yang tak akan berlangsung lama membuatnya sangat ingin menangis dengan sangat keras sekarang, sedang selama ini ia tak pernah perduli dengan penyakit dan usianya. Apa karena kehadiran Ruel yang dengan ajaib bisa membuat hari-harinya jadi penuh kebahagiaan oleh hal-hal kecil yang ia terima, oleh rasa rindu yang hadir menggoda yang kadang membuatnya tersenyum tanpa sebab. Apa benar ia mulai takut jika akan meninggalkan pria itu? Takut jika ia pergi dan akan dilupakan begitu saja.


"Berhenti menangis. Aku mohon," pinta Vincent kembali mengusap air mata di pipi Sea yang hanya mengangguk. "Tidurlah, atau ... apa kau ingin aku menemanimu di sini?"


Sea bahkan langsung mengangguk mengiyakan. Sebab jika ia sedang merasakan takut, genggaman tangan sang Kakak akan sangat bisa menenangkannya, dan membuatnya tidur nyenyak tanpa mengalami mimpi buruk.


"Tidurlah, aku akan di sini menemanimu," sambung Vincent merapikan selimut sebelum menggenggam tangan sang Adik yang sudah memejam.


Terus duduk tanpa melepaskan genggaman tangannya, hingga beberapa jam sampai rasa ngantuk ikut mengampiri dan berakhir tertidur dengan posisi yang masih sama.


***

__ADS_1


__ADS_2