
"Baiklah."
Eden memijat tengkuk lehernya kuat sebab lagi-lagi ia hanya mendapatkan jawaban yang sama dari Ruel. Namun, tak melakukan seperti apa yang di katakan. Sungguh sikap bandel Ruel yang cukup membuatnya geram kali ini.
"Aku ingatkan untuk yang terakhir kali, Ruel. Sebaiknya hentikan kegiatan bodohmu itu, dan fokus saja dengan sekolahmu. Jika tidak, aku yang akan benar-benar mencebloskanmu ke dalam penjara," ancam Eden terlihat tak main-main.
"Kak ...."
"Apa?! Kau keberatan, brengsek?"
Ruel kembali diam dengan geraham yang saling beradu di dalam mulut. Baru kali ini ia melihat sang Kakak benar-benar sangat marah padanya, bahkan terus mengumpat sejak tadi. Sang Kakak satu-satunya yang berprofesi sebagai seorang opsir. Petugas sepolisian yang baru saja ikut memburunya beberapa jam lalu karena kasus balap liar.
"Apa kau tak ingat semua masalah yang sudah kau timbulkan hingga melibatkan banyak orang?"
"Aku hanya balap motor dan tak membuat onar."
"Jadi menurutmu yang kau lakukan selama ini bukanlah membuat onar? Haruskah aku menyebutkan semua perbuatan yang sudah kau lakukan? Termasuk terlibat perkelahian hingga sebabkan korban terbaring koma di rumah sakit selama berbulan-bulan, menkonsumsi minuman keras hingga mabuk, dan merusuh di klab malam, merusak fasilitas umum. Kau lupa berapa kerugian yang harus aku bayar untuk menutupi perbuatanmu, juga menyelamatkanmu dari cengkraman Vincent yang sangat ingin membekuk dan mencebloskanmu kedalam penjara? Entah apa yang akan terjadi jika ia mengetahui berandal yang sudah menjadi incarannya selama ini adalah adikku sendiri."
Ruel terdiam kali ini, sudah tak ada kalimat lagi yang ia keluarkan sebagai pembelaan.
"Aku ingatkan sekali lagi, Ruel. Fokuslah dengan sekolahmu, ingat. Mendiang Ayah dan Ibu sangat menginginkanmu untuk bersekolah di perguruan tinggi agar bisa mengambil jurusan kedokteran ...."
"Ah yang benar saja. Kedokteran? Apa akan semudah itu? Otakku tak akan mampu mencernah semua pelajaran itu, Kak. Aku tak sepertimu yang memiliki otak cerdas. Kenapa kau tak keluar saja dari pekerjaanmu sekarang dan mulai berkuliah di jurusan kedokteran?"
Plak!
"Awwh ... oh ayolah, berhenti memukuli kepalaku," protes Ruel saat Eden kembali menepuk belakang kepalanya.
"Jika saja aku bukan seorang opsir, apa kau pikir akan ada yang melindungimu, bodoh."
"Dan apa aku harus menjadi seorang dokter? Siapa yang akan aku sembuhkan? Ayah dan Ibu bahkan meninggal sebelum mendapatkan perawatan dari mereka. Ah, aku sungguh sangat membenci dokter, mengapa aku harus menjadi seperti mereka."
"Lalu apa kau akan menjadi seorang mafia? Gangster? Itu yang kau inginkan?"
Ruel kembali terdiam.
"Ini peringatan terakhir dariku, Ruel. Sebaiknya kau menurut sebelum aku mengirimmu ke luar Negara. Aku tak main-main kali ini. Paman Arden akan dengan senang hati mendidikmu di sana."
"Apa kau tak terlalu kejam padaku, Kak? Paman Arden bisa-bisa membunuhku."
"Maka perbaiki sikapmu, sebelum semua perbuatan yang kau lakukan di sini sampai ke telinga Paman Arden," balas Eden melangkah pergi.
"Kak ... Kak ...!" panggil Ruel yang benar-benar di abaikan oleh Eden, bersamaan dengan suara pintu kamar yang terdengar keras hingga kembali mengejutkannya.
"Ah, sialan! Aku bahkan bisa terkejut hanya dengan suara pintu. Tsk, yang benar saja, kedokteran? Aku tak akan pernah mau berkuliah di .... "
__ADS_1
"Tidurlah sebelum aku menghubungi Paman Arden untuk menjemputmu sekarang juga!"
Suara keras Eden terdengar dari dalam kamar yang langsung membuat Ruel mengatup bibir, sangat kesal. Namun, tak bisa melakukan apa pun untuk meluapkan kekesalan hatinya.
Sedang di tempat yang terpisah, tepatnya di sebuah mansion mewah.
"Nona muda? Oh Tuhan, kemana saja Anda? Tuan besar sudah menunggu sejak tadi," sambut seorang wanita paru baya di depan pintu, saat Sea membuka pintu.
"Ssshh," balas Sea dengan satu isyarat agar wanita baya di hadapannya diam.
"Lekaslah ke kamar, sebelum Tuan besar ...."
"Sea?!" panggil seseorang dari ujung anak tangga.
Berdiri amati Sea dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celana slim fit. Seorang pria baya dengan pakaian dan tatanan rambut rapi, wajah yang masih terlihat tampan di usia 54 tahun. Terlihat tegas dan dominan.
"Ayah belum tidur?"
"Bagaimana Ayah bisa tidur jika puteri Ayah masih berkeliaran di luar selarut ini."
Sea menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Memberi isyarat kepada sang asisten rumah tangga untuk pergi sebelum berjalan menghampiri sang Ayah.
"Apa Ayah menungguku?" tanya Sea memberikan senyum hangat yang lekas meluluhkan hati sang Ayah.
"Ya, Dengan perasaan khawatir."
"Aricia mengatakan jika kau sudah meninggalkan rumah sakit dua jam lalu."
Sea kembali terdiam, nampak berfikir. Tak mungkin menceritakan kepada sang Ayah atas kejadian yang sudah ia alami satu jam lalu bersama seorang pria asing yang tiba-tiba menyeretnya untuk ikut berlari dan bersembunyi bersama.
"Aku ketinggalan bus malam."
"Kau bisa menghubungi Charlos untuk menjemputmu, kan?"
"Maaf, Ayah. Aku hanya tak ingin merepotkannya."
"Itu sudah tugasnya untuk menjagamu."
"Aku tahu, sekali lagi maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir."
Pria baya yang tak lain adalah Tuan Theodoric. Ayah dari Sea hanya bisa menarik nafas panjang, mengusap rambut Puterinya.
"Mulai dari sekarang, Charlos akan bersamamu kemana pun kau pergi."
"Iya, Ayah."
__ADS_1
"Istirahatlah, kau terlihat sangat kelelahan. Dan jangan lupa, minum obatmu sebelum tidur."
"Ya," angguk Sea sebelum melangkah pergi, tinggalkan sang Ayah yang masih berdiri di sana mengawasinya, dan kembali ke ruang kerja saat bayangan Sea menghilang dari balik pintu kamarnya.
Bahkan belum sempat mendudukan tubuhnya di atas kursi, suara ponsel kembali berdering.
"Ya. Aricia."
"Tuan, apa Nona Sea sudah kembali?"
"Ya."
"Ah, syukurlah. Aku khawatir karena tak bisa menghubunginya."
"Kau tak perlu cemas."
"Iya, Tuan."
Hening hingga beberapa detik.
"Aricia."
"Ya, Tuan?"
"Bagaimana kondisi Sea? Aku tak sempat menanyakan hal itu padanya."
"Sampai saat ini, kondisi jantungnya baik-baik saja, Tuan. Anda tak perlu cemas."
Tuan Theodoric kembali menarik nafas berat sambil memejam. Ia akan merasa tiba-tiba cemas jika itu menyangkut soal Sea dan penyakit jantung yang di deritanya. Meski Aricia, sang Dokter pribadi Sea mengatakan jika kondisi jantung Sea baik-baik saja. Namun, hal itu tak cukup membuat Tuan Theodoric tenang. Sebab ia tahu jika sang puteri masih baik-baik saja hanya karena obat yang di konsumsi. Bahkan mereka tak pernah tahu, kapan kondisi Sea akan memburuk, bisa saja Sea meninggalkan mereka begitu saja jika suatu waktu obat yang dikonsumsi tak bisa menyelamatkannya lagi.
"Tuan, Anda masih di sana?"
"Ya. Aricia. Terima kasih."
"Tuan, jika aku boleh menyarankan sesuatu. Jangan pernah menunjukan kesedihan atau kekhawatiran Anda di hadapan Nona Sea, Anda mengerti, kan? Apa yang aku maksudkan?"
"Ya. Aricia, aku tahu. Terkadang aku kesulitan untuk mengontrol perasaanku sendiri. Sea adalah puteriku, bahkan mendiang ibunya sangat berharap aku bisa menjaganya dengan sangat baik."
"Ya. Aku cukup mengerti dengan perasaan Anda, hanya saja. Sea benar-benar tak ingin membuat Anda khawatir, terlebih bersedih karenanya. Ia sangat menyayangi dan perduli kepada Anda."
"Aku tahu."
"Baiklah, selamat malam Tuan Ric. Maaf jika mengganggu waktu istirahat Anda."
Panggilan telfon terputus. Sisahkan Tuan Theodoric yang masih berdiri melamun di sana dengan perasaan yang masih saja di rasakan cemas, hingga berubah menjadi kesedihan saat kembali mengingat mendiang sang istri yang sudah pergi meninggalkann mereka terlebih dulu saat usia Sea masih berusia lima tahun.
__ADS_1
Elmeire, aku sedang tak baik-baik saja sekarang, begitu juga dengan puteri kita. Apa yang harus aku lakukan? Aku selalu merasa ketakutan setiap saat, kala mengingat Sea yang bisa saja meninggalkanku kapan saja, seperti dirimu.
***