ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Senang melihatmu lagi


__ADS_3

"Gadis itu?"


Ruel berdiri terpaku di depan pintu ruangan, menatap seorang gadis yang terlihat begitu anggung dan cantik sedang duduk di sana dengan jemari lentik yang terlihat lincah bermain di atas tuts piano. Memainkan beberapa lagu hingga membuatnya seolah terhipnotis, lupa untuk beranjak, dan setidaknya meminta izin untuk mendengarkan lagu tersebut, hingga beberapa menit kemudian ketika tatapan mata mereka saling mengunci satu sama lain. 


"Kau di sini?" tanya Jeane begitu tiba-tiba hingga kejutkan Ruel.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Kau sakit? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di ruang musik?" tanya Jeane, berdiri bersidekap di hadapan Ruel, hingga halangi pandangan pria itu yang hendak menatap sang guru piano yang tak lain adalah Sea.


"Aku ...."


"Berubah pikiran?"


"Ya. Ah, maksudku ...."


"Berhenti membuang waktu dan pergilah. Gray sudah menunggumu," potong Jeane melangkah masuk bersama beberapa siswa lainnya.


"T-tunggu."


Ruel yang masih sangat penasaran dengan kehadiran Sea yang begitu tiba-tiba di sekolahnya memutuskan untuk ikut masuk ke dalam ruangan dan duduk di samping Jeane yang masih kebingungan. Kenapa ia tak pernah tahu jika Sea adalah guru piano di sekolah mereka. Apa karena ia yang tak pernah mengikuti kelas musik, hingga tak tahu jika selama ini Sea yang menjadi guru kelas musik di sekolah mereka? 


"Hei, brandal. Apa yang kau ...."


"Sshh, diamlah."


"Kau serius akan ikut kelas musik?" tanya Jeane sedikit berbisik.


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Lekas tanyakan dan keluar dari sini, kau mengganggu konsentrasiku."


"Apa dia guru piano di kelas ini?" tanya Ruel alihkan pandangan ke arah Sea yang masih duduk di kursi pianonya, terlihat tertunduk pegangi dadanya.


"Tidak."


"Lalu, dia?"


"Guru pengganti Miss Anna yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya di kampus."


"Berapa lama?"


Jeane alihkan pandangan ke arah Ruel yang terlihat sangat penasaran, bahkan sejak tadi pandangan pria itu tak luput dari Sea.


"Kau sangat penasaran, ada apa? Sebelumnya kau tak pernah tertarik dengan siapa pun."


"Jawab saja aku."


"Satu bulan, kau puas? Sekarang keluarlah."

__ADS_1


"Siapa nama guru pengganti itu?"


"Kau serius? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja ...."


"Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya Sea yang sepertinya mendengar keributan di antara Jeane dan Ruel.


"Gray menunggumu, sialan. Jangan sampai anak itu menyusulmu ke sini dan ikut membuat onar sepertimu."


Ruel mengusap tengkuk lehernya, terlihat enggan meninggalkan ruangan tersebut, terlebih saat Sea kembali menatapnya dengan senyum tipis yang menghiasi wajah gadis itu meski hanya berlangsung singkat sebelum kembali fokus dan mulai dengan permainan pianonya. 


Sangat manis.


Dengan berat hati, Ruel terpaksa meninggalkan ruangan tersebut, meski tak langsung pergi, sebab kembali berdiri dan menatap Sea dari kejauhan, hingga beberapa menit berlalu sebelum ia benar-benar pergi.


"Kau cukup terlambat," tegur Gray yang sedang melakukan stretching ringan.


"Hmm," balas Ruel singkat sebelum ikut pemanasan usai mengganti seragam sekolahnya dengan tangtop dan dan celana sepaha hingga tampilkan otot sempurna di tubuhnya yang memiliki tinggi tak kurang dari 192 centi meter.


Mulai merengangkan kepala, bahu, tangan dan kakinya untuk melemaskan otot-otot tubuhnya sambil terus melamun, masih memikirkan kehadiran Sea yang menurutnya sungguh tak teduga, sungguh membahagiakan hingga membuatnya terus tersenyum seperti orang tak waras.


"Ada apa? Kau terus melamun sejak tadi. Dan lihat senyum itu, kau sehat?" tanya Gray sebelum mulai berlari kecil kecil, menyusul Ruel.


"Tidak apa-apa." 


"Sulit di percaya."


Setelah sepuluh menit berlalu, Ruel menghentikan langkahnya untuk beristirahat sebentar sebelum mulai dengan latihan Skipping.


"Aku, akhirnya melihat gadis itu lagi."


"Yang pernah aku ceritakan."


"Gadis yang bersamamu malam itu?"


"Hmm."


"Di mana?"


"Sekolah ini, di ruang musik."


"Miss Anna?"


"Tidak, kata Jeane. Dia yang menggantikan Miss Anna untuk beberapa hari ini."


"Wuah, bukankah itu satu kebetulan yang luar biasa. Aku bahkan sempat berfikir jika kau sudah melupakan gadis itu, sudah cukup lama berlalu."


"Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa selalu memikirkan gadis itu," balas Ruel menghentikan gerakannya, sebelum kembali duduk untuk beristirahat sebentar.


"Apa dia gadis yang cantik?"


Ruel terdiam tak menjawab. Ia bahkan tak bisa mengungkapkan keindahan yang ia lihat dari seorang Sea. Gadis itu terlihat sempurna di matanya, meski satu hal cukup mengejutkannya ketika tahu jika gadis itu adalah pengganti guru musik di sekolahnya, itu artinya usia sang gadis jauh lebih tua darinya. Maka tak heran, jika malam itu sang gadis mengatainya 'bocah'.


"Dia seorang gadis yang sempurna?" gumam Ruel dengan senyum kembali menghiasi wajahnya yang di penuhi keringat, sebelum meneguk air mineralnya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau gumamkan?"


"Tidak. Mau berlatih bersamaku?" tanya Ruel beranjak dari duduknya dan bersiap untuk latihan sambil menunggu pelatih mereka.


"Tentu saja."


Tiga jam berlalu, usai latihan berlangsung. Ruel bahkan tak menunggu seperti seperti biasa, pria itu bahkan langsung menghilang begitu saja dari ruang latihan, berlari menuju ruang kelas musik dengan sesekali melirik jam yang melingkar di lengannya. Berharap kelas musik belum berakhir, agar ia bisa bertemu Sea sekali lagi, meski apa yang di harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sebab kelas musik sudah terlihat kosong di sana.


Ruel membungkuk sambil menopang kedua tangan di atas lutus dengan nafas yang ngos-ngosan bersama dengan keringat yang semakin mengucur basahi tubuhnya. 


"Kenapa begitu sulit untuk bertemu denganmu," keluh Ruel, hingga di detik kemudian, ketika ia melihat ujung sepatu milik seseorang yang sudah berdiri di hadapannya. Ia tahu jika sepatu itu bukan milik Jeane, terlebih Gray. 


Apa dia ....


Ruel mengankat kepala, bersamaan dengan wajah cantik Sea yang menyambut, gadis itu berdiri di depan pintu kelas musik sambil menatapnya.


"Hai," sapa Ruel tersenyum, meski tak mendapatkan respon dari Sea yang hanya terdiam sambil pegangi dadanya. Merasakan jantungnya yang berdebar cukup kencang.


"Aku, menunggumu."


"Ada apa?"


"Aku merindukanmu," balas Ruel secara terang-terangan.


"Tiba-tiba?"


"Tidak, aku merindukanmu sejak malam itu."


"Kita bahkan tak saling kenal, bagaimana bisa?"


"Aku juga penasaran, sebab tak memiliki jawabannya. Bagaimana bisa aku merindukanmu selama ini, aku bahkan terus mencari keberadaanmu, begitu sulit menemukanmu. Dan, sepertinya Tuhan sayang padaku, sebab mengirimmu ke sini. Aku bisa menemukanmu tanpa mencarimu lagi. Sungguh luar biasa, bukan?"


Sea kembali terdiam, masih menatap Ruel, hingga beberapa detik lamanya. Saat Sea memutuskan pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Ia benar-benar tak bisa berada di samping pria itu terlalu lama.


"Tunggu."


Langkah kaki Sea kembali terhenti dengan Ruel yang kini berdiri di hadapannya, hingga membuat Sea seketika gugup, pegangi dadanya yang semakin berdetak kencang, terlebih ketika menatap kedua mata Ruel yang begitu menghagatkan.


"Setidaknya beri tahu aku, siapa namamu."


Sea masih terdiam hingga beberapa detik, ia sungguh tak tahan lagi.


"Aku akan menunggu ...."


"Sea."


"Hai, Sea. Aku Ruel, senang bisa bertemu denganmu lagi, Kak Sea," balas Ruel mengedipkan matanya sekali bersamaan dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya yang menawan hingga menampakan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Ya," angguk Sea sebelum melangkah pergi.


"Sampai jumpa besok," balas Ruel penuh semangat meski tak mendapatkan jawaban dari Sea yang terus berlalu dari hadapannya, hingga bayangan gadis itu menghilang dari pandangannya.


"Wuah, drama fantasy apa yang barusan aku lihat."

__ADS_1


***


__ADS_2