ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Apa aku benar-benar akan menikah?


__ADS_3

"Apa kau memiliki seroang kekasih?"


Sea terdiam, ia memang tak memiliki seorang kekasih. Namun ia memiliki seseorang yang mampu membuat jantungnya berdebar tiap saat hanya dengan mengingat seseorang itu saja. Bahkan ia bisa saja langsung menjawab 'tidak' saat itu juga. Tapi mengapa begitu berat, lidahnya seketika keluh, hingga tak mampu menjawab meski hanya satu kata saja.


"Sea?"


"Tidak," jawab Sea kembali tertunduk.


"Senang mendengarnya."


"Kenapa?"


"Ya. Aku sempat berfikir jika sudah membuat kesalahan dengan mengajakmu makan siang dan membuat kekasihmu salah paham. Syukurlah, kau tak memiliki kekasih. Sungguh melegakan."


Sea lagi-lagi hanya membalasnya dengan satu senyuman dan enggan berkomentar apa pun. Dan jika saja Dex menanyakan pertanyaan lain tentang dirinya yang menyukai seseorang. Mungkin ia akan menjawab 'Ya' tanpa ragu.


"Sea."


"Iya, Kak."


"Apa kau merasa nyaman bersamaku?"


Sea pegangi sendok dan garpunya cukup erat. Ia bahkan sudah bisa menebak akan berakhir di mana pertanyaan Dex. Tak ada yang bisa membuatnya merasa jauh lebih nyaman selain berada di sisi Ruel. Meski mereka tak pernah menghabiskan waktu selama berjam-jam. Namun, beberapa menit yang mereka lewati cukup membuat Sea merasa nyaman dan bahagia. Entah apa yang salah dengan perasaannya.


"Hmm, cukup nyaman."


"Sungguh?"


"Ya. Kakak pria yang baik. Aku rasa siapa pun yang berada di sisi Kakak sekarang pasti akan merasakan hal yang sama."


Dex kembali bersenyum, menatap Sea.


"Apa kau tak keberatan jika sering makan siang denganku?"


"Tentu, jika aku memiliki waktu luang. Aku rasa tak masalah jika hanya untuk makan siang."


"Bagaimana dengan makan malam?"


"Haruskah?"


"Ya."


"Kenapa?"


"Maaf, jika aku menjadi serakah dan menginginkanmu untuk selalu menemaniku. Meskipun itu hanya sekedar makan siang dan makan malam saja. Apa itu juga terdengar kekanak-kanakan?"


Sea menggeleng pelan sebelum kembali tertunduk, memasukkan satu potongan stiek ke dalam mulutnya.


"Apa Kakak tak punya seseorang untuk menemani?"

__ADS_1


"Tidak. Selama ini aku selalu hidup sendiri, maka dari itu, aku cukup bosan terus menghabiskan waktu sendiri, berada di sebuah meja makan seorang diri, berbicara hanya dengan lewat ponsel untuk membahas masalah pekerjaan saja. Tak ada yang menarik, sangat membosankan. Dan ini kali pertama aku makan dengan di temani seseorang. Dan itu cukup membahagiakan."


Sea kembali terdiam. Ia tak pernah tahu jika seorang Dex Petrucci yang terlihat begitu sempurna tenyata selalu menghabiskan waktu sendiri dalam kesepian.


"Sulit di percaya," balas Sea meletakkan sendok dan garpunya. "Aku fikir, Kakak yang terlihat sangat sempurna tak akan pernah merasakan kesepian, Kakak bisa mendapatkan apa pun yang di inginkan, tak akan sendiri karena banyak yang ingin bersama Kakak."


"Ya. Seandainya aku bisa memaksa mereka untuk terus berada di sisiku. Dan, jika saja aku bisa membeli kebahagiaan sebanyak yang aku inginkan. Aku tak akan keberatan jika harus menghabiskan hartaku untuk sebuah kebahagiaan. Berapa pun itu."


"Apa Kakak baik-baik saja dengan kehidupan seperti itu?"


"Ya. Aku sudah terbiasa. Seharusnya aku bisa terbiasa. Namun, entah mengapa aku mulai menginginkan seseorang untuk terus berada di sampingku. Dan yang anehnya aku mulai tak menyukai kesepian ketika mengenalmu, aku ingin kau terus berada di sisiku, Sea."


Sea terdiam menatap Dex, hingga tatapan mereka saling mengunci. Ia tak pernah ingin membuat pria itu merasa nyaman berada di sisinya. Ia bahkan merasa jika tak pernah melakukan apa pun untuk membuat pria itu terkesan padanya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Apa itu kesalahannya karena secara tak sengaja sudah membuat Dex merasa nyaman berada di sisinya? Lalu akan seperti apa kelanjutan hubungan mereka, sedang hanya ada Ruel yang ada di dalam hati dan ingatannya sekarang. Apa semua orang akan mengerti dan menerima hal itu?


"Ada apa? Kau terlihat gelisah?"


"Aku hanya merasa takut."


"Takut?"


"Bagaimana jika aku tak seperti apa yang Kakak harapkan?"


Oskan terdiam menatap Sea.


"Aku tak sebaik seperti apa yang Kakak pikirkan."


"Kau terdengar tak percaya diri, Sea."


"Sebaik dan seburuk apa pun dirimu, biarkan aku yang menilainya. Kau tak perlu mengatakan apa pun tentang dirimu, karena hanya aku yang bisa melihatnya. Dan di mataku, kau adalah seorang gadis yang sempurna."


"Bukankah Kakak terlalu berlebihan dalam menilaiku?"


"Sudah aku katakan, aku memiliki hak untuk menilai seperti apa dirimu. Dan itulah penilaianku tentangmu."


Sea kembali terdiam.


"Dan sepertinya aku harus mengakui sesuatu padamu."


"Apa itu?"


"Aku menyukaimu, Sea."


Hening.


Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Sea, begitu juga dengan Dex. Hingga beberapa menit berlalu.


"Kau tak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin kau mengetahui perasaanku padamu."


"Apa Kakak tahu jika pengakuan itu membebaniku?" jujur Sea.

__ADS_1


"Aku minta maaf, tapi aku tak punya pilihan lain selain mengakui perasaanku. Aku merasa tak bisa menahannya lagi. Sekali lagi maafkan aku jika pengakuan ini sudah membebanimu, Sea."


"Kakak tak perlu meminta maaf," ucap Sea sebelum meneguk air mineralnya.


Tak memiliki nafsu makan lagi sekarang, dan hanya diam dengan kegelisahaan yang kini penuhi hatinya. Bahkan setelah makan siang mereka berakhir. Sea hanya akan menjawab seadanya jika mendapatkan pertanyaan dari Dex, dan tersenyum jika mendengar lelucon dari pria itu, selebihnya hanya keheningan yang menemani mereka di sepanjang perjalanan pulang. Bahkan Sea terus diam ketika mereka sampai di rumah, dan memilih untuk masuk kedalam kamarnya dan tidur. Biarkan Oskan berbicara kepada sang Ayah.


"Bagaimana dengan hubungan kalian? Apa semua berjalan lancar?" tanya Tuan Theodoric, duduk di sebuah sofa tunggal seperti biasa, sambil menikmati secangkir kopi.


"Ya. Semua baik-baik saja. Sea gadis yang manis."


"Dia seperti ibunya," balas Tuan Theodoric, tersenyum ketika mendengar pujian dari Dex mengenai Puterinya, dan itu bukan kali pertama Dex terus memuji Sea di hadapannya.


"Paman Ric."


"Ya."


"Ada yang ingin aku tanyakan kepada Paman."


"Katakan."


"Apa Paman tak keberatan jika aku melamar Sea segera?"


Tuan Theodoric terdiam, menatap Dex yang terlihat sangat serius. Cukup terkejut sebab tak menyangka jika Dex akan meresmikan hubungan mereka begitu cepat dari perkiraannya.


"Kenapa begitu tiba-tiba? Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak. Haya saja, aku ingin lekas menjadikan Sea istriku, agar bisa menjaga dan melindunginya."


Tuan Theodoric kembali terdiam hingga beberapa detik kemudian.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Dex?"


"Aku sangat yakin, Paman. Aku bahkan sudah memikirkan ini jauh sebelum aku bertemu Sea. Dan setelah bertemu dengannya, aku jadi semakin yakin dengan keputusan dan keinginanku. Aku ingin lekas melamar Sea dan menikah dengannya, jika Paman memberiku restu."


Charllote meletakan secangkir teh di atas meja dengan sangat hati-hati, meski tak bermaksud untuk mendengar perbincangan di antara Dex dan Tuan Theodoric perihal niat Dex yang ingin lekas melamar Sea. Namun, ia tak punya pilihan lain. Tak mungkin menutup telinga dan berpura-pura tak mendengar, meski hal itu cukup mengejutkan baginya, sekaligus merasakan bahagia sebab akhirnya Sea akan di nikahi oleh pria sempurnah seperti dex Petrucci.


Apa Nona muda akan baik-baik saja dan menerima pernihakan ini?


Charllote kembali melangkah dengan hati-hati menuju pantry, dan duduk termenung di sana. Biar bagaimana pun, Sea sudah di anggap seperti seorang anak baginya, bahkan sebelum meninggal dunia, mendiang Elmire sempat menitip pesan padanya agar menjaga Sea dengan baik. Dan hal yang wajar jika Charllote sangat memikirkan perasaan Sea sekarang.


Hingga di menit berikutnya, saat Charllote memutuskan untuk melihat kondisi Sea di dalam kamarnya. Beranjak pergi, sebelum langkah kakinya tertahan saat dapati Sea yang tengah berdiri di balik tembok. Terdiam dengan wajah yang di penuhi kesedihan, bahkan terlihat bingung dan gelisah ketika tak sengaja mendengar perbincangan serius antara Tuan Theodoric dan Dex di sana.


"Nona muda, Anda ...."


"Apa itu semua benar?" tanya Sea yang masih berdiri, mengepalkan kedua telapak tangannya kuat, jelas sedang menahan sesuatu yang membuatnya semakin sesak nafas.


"Nona muda."


"Apa aku benar-benar akan menikah?"

__ADS_1


***


__ADS_2