ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Aku hanya butuh waktu


__ADS_3

"Apa kau akan terus seperti ini?" tanya Jeane saat dapati Ruel yang masih duduk di ruang musik, sedang hari sudah menjelang malam.


"Ruel, apa yang kau lakukan di sini. Kami semua mencarimu kemana-mana," sambung Gray, sedang Ruel hanya terdiam tak menjawab. Ia bahkan berharap agar tak di temukan oleh siapa pun sekarang, berharap tak ada yang melihat dan mengabaikannya saja.


"Kenapa hanya diam saja? Apa kau benar-benar akan seperti ini?" tanya Jeane mulai hilang kesabaran.


Ruel mengangkat kepala, menatap Jeane yang kini berdiri di hadapannya, sebelum alihkan pandangan ke arah Gray.


"Tak bisakah kalian mengabaikanku saja?"


"Mengabaikanmu?"


"Kenapa kalian tak pergi saja?"


"Dan membiarkanmu terus di sini?"


"Aku rasa itu bukanlah masalah besar."


"Bukan masalah besar katamu? Kau ...."


"Cukup Jeane," potong Gray.


"Apanya?!" sentak Jeane menatap Gray, sebelum kembali alihkan pandangan ke arah Ruel yang masih duduk dengan posisi yang masih sama.


"Jangan berdebat lagi," balas Gray yang benar-benar tak ingin ada perdebatan lagi di antara mereka.


Mereka sudah sering berdebat akhir-akhir ini. Dengan berakhir Ruel yang kembali menghilang, dan ia tak ingin hal itu terjadi lagi sekarang.


"Aku rasa sudah cukup, Ruel. Berhenti bertindak gila dan sadarlah. Kau bukan pria seperti ini sebelumnya, yang akan biarkan dirimu terus terpuruk dan tersakiti, bersedih hingga berlarut-larut. Kau bukan orang yang akan melakukan hal yang sia-sia, kau bahkan selalu mengatakan itu kepadaku dan Gray. Lalu ada apa denganmu sekarang?"


"Jeane, biarkan dia."


"Sampai kapan?"


Gray menghela nafas panjang sebelum mengelurakannya dengan perlahan. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk membujuk Ruel, dan mengembalikannya seperti semula, merasa jika saat ini ia sudah tak mengenal Ruel lagi. Pria itu berubah cukup drastis, menjadi sangat pemurung, tak banyak bicara dan sangat sensitif, bahkan ia nyaris sudah tak pernah melihat senyum di wajah Ruel lagi.


"Ruel, aku mohon. Berhenti membuat kami terus mengkhawatirkanmu," ucap Jeane melipat kedua lutut di hadapan Ruel sebelum memeluk tubuh pria itu erat dengan air mata yang menitik tanpa ia sadari.


Semua telah berubah sejak saat itu, dan ia benar-benar merindukan Ruel yang dulu, yang selalu mengabaikan apa pun, tak pernah terlihat bersedih dan terus diam seperti sekarang ini. Ia bahkan merindukan sikap menyebalkan Ruel, merindukan Ruel yang selalu membuatnya kesal dan berteriak sepajang hari hanya karena tingkah konyolnya.


"Kau memiliki kami, kita selalu bersama, bahkan tak ada hari tanpa tidak kita lewati bersama. Tapi kenapa kau lebih memilih sendiri dengan rasa sakitmu. Apa aku dan Gray sudah tak ada artinya lagi bagimu?" sambung Jeane menangkup wajah Ruel, menatap kedua mata yang hanya di penuhi kesedihan, dan hal itu cukup menyakiti hatinya.


"Maafkan aku, Jeane."

__ADS_1


"Jika kau merasa bersalah, maka berhentilah bersikap seperti ini. Aku mohon, aku bahkan merasa sudah kehilanganmu. Bisakah kau melupakan rasa sakitmu dan kembali seperti dulu? Aku dan Gray akan membantumu, kami akan melakukan apa pun untukmu," balas Jeane kembali memeluk Ruel.


Ruel hanya terdiam tak menjawab, sebelum terlihat melepaskan pelukan Jeane dan beranjak dari duduknya.


"Aku pergi."


"Apa kau akan lari lagi?"


Ruel kembali terdiam tak mengatakan apa pun. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan, terus melarikan diri agar tak seorang pun melihatnya terus bersedih dan menangis seperti seorang pria bodoh.


"Berhenti berlari dan bersembunyi, Ruel. Berhenti menjadi seorang pengecut dan hadapi semua masalahmu, aku dan Gray akan selalu berada di sampingmu."


"Mungkin kau benar. Aku sudah berubah menjadi seorang pengecut sekarang, aku bahkan lebih nyaman jika terus bersembunyi. Bisakah kalian membiarkanku saja?"


"Ruel."


"Kali ini aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa, aku merasa sangat sakit hingga hampir gila. Dadaku seolah akan meledak jika mengigat semuanya. Bahkan semakin aku berusaha untuk melupakan semuanya, perasaanku semakin terluka, aku kehabisan akal."


Air mata Jeane kembali menitik. Ia tak pernah menyangka jika Ruel akan sehancur ini, tak pernah menyangka jika perasaan Ruel akan sedalam ini kepada Sea.


"Apa kau benar-benar sangat mencintainya?"


Ruel terdiam tak menjawab.


"Apa kau berubah menjadi gila sekarang karena mencintainya?"


Ruel menarik nafas kuat dan dalam. Apa pengakuannya masih berarti jika ia meneriakkan kepada dunia jika sangat mencintai Sea. Mungkin semua orang akan menganggapnya bodoh, menganggapnya tak masuk akal, dan mungkin gila karena perasaannya. Namun, ia merasa sangat kehilangan saat ini. Sea tak hanya sosok wanita yang yang di cintai, tapi ia juga merasa jika Sea adalah seorang sosok penuh kehangatan yang sama seperti ibunya, bisa menjadi seorang teman, Kakak, dan Ibu baginya.


"Terimakasih Jeane, karena sudah mengkhawatirkanku."


"Lalu?"


"Aku hanya butuh waktu."


"Apa tiga bulan tak cukup untukmu?"


Ruel kembali terdiam hingga beberapa detik. Mungkin akan butuh waktu lama, atau mungkin seumur hidupnya untuk bisa melupakan sosok Sea.


"Entahlah, aku juga tidak tahu akan sampai kapan agar bisa melupakan semuanya," balas Ruel, terlihat menepuk pundak Gray sebelum melangkah pergi.


"Ruel ... Ruel!"


"Cukup, Jeane. Biarkan dia pergi," serga Gray meraih lengan Jeane saat hendak menyusul Ruel.

__ADS_1


"Mengapa kau selalu mencegahku untuk menahannya, dan terus membiarkan dia pergi?"


"Karena aku rasa tak ada gunanya berbicara dengannya sekarang. Perasaanya masih sangat terluka. Dan dengan menyuruhnya untuk melupakan semua akan semakin membuat hatinya sakit karena hal itu tidaklah mudah. Tidakkah kau memahaminya? Ini cinta pertamanya, dan Nona Sea tak hanya sekedar gadis yang di cintainya, tapi juga sebagai sosok Kakak, teman, dan Ibu baginya."


"Aku tahu, tapi kita tak mungkin membiarkannya terus seperti itu, kan? Mau sampai kapan? Sebentar lagi kita akan menghadapi ujian akhir, dan Ruel tak pernah melakukan apa pun. Apa kita akan terus membiarkannya seperti itu? Aku tak tega melihat Kak Eden yang terus mencari keberadaannya, terus khawatir dan ikut bersedih, bahkan sampai mengabaikan pekerjaaannya sendiri hanya untuk itu."


"Apa sekarang kau menghkawatirkan Kak Eden?"


"Gray!"


"Ya. Aku hanya bertanya, kenapa reaksimu sampai seperti itu."


"Aku hanya kesal ...."


"Hai, Jeane," sapa seseorang yang seketika menghentikan kalimat Jeane.


Bahkan langsung membalikan badan ketika merasa seseorang kini berdiri di balik punggungnya. Sedang Gray hanya terdiam, menatap sosok Oskan yang sedang tersenyum seperti biasa.


"Apa kau sedang kesal sekarang?"


"Aku rasa bukan urusanmu, Oskan. Dan apa yang kau lakukan di sini, di kelas musik?"


"Aku hanya tak sengaja melihatmu, dan tak tahan jika tak menyapamu. Apa itu masalah?"


Jeane memutar bola matanya malas. Kenapa Oskan harus datang dan semakin merusak mood-nya yang sudah buruk sebelumnya.


"Hai Oskan, apa harimu menyenangkan? Kita sudah saling sapa, kan? Bagaimana jika kau pergi sekarang?"


"Ah, sungguh mengecewakan. Padahal aku sangat ingin berbincang denganmu."


"Katakan saja apa maumu dan berhenti berbelit-belit," sambung Gray akhirnya bersuara setelah terdiam sejak tadi.


"Oh ayolah, kenapa reaksi kalian begitu datar dan dingin. Apa telah terjadi sesuatu?"


"Bukan apa-apa."


"Benarkah? Aku bahkan nyaris tak pernah melihat Ruel bersama kalian lagi, aku pikir ada masalah yang cukup serius."


"Aku rasa itu bukan urusanmu."


"Aku tahu, hanya saja aku merasa ada yang aneh. Kalian selalu bersama selama ini," balas Oskan dengan satu senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Ah, aku cukup lelah," sahut Jeane yang langsung melangkah pergi, enggan ladeni Oskan.

__ADS_1


"Aku selalu melihatnya bersama Ken."


***


__ADS_2