
"Aku tak melihatmu semalam, kemana saja kau?" tanya Gray, berdiri tepat di samping Ruel yang sedang menghisap sebatang rokok di atap sekolah mereka seperti biasa.
"Menemui seseorang."
"Seseorang? Ah, kau mulai terlihat misterius sekarang. Lalu siapa? Seseorang yang kau temui hingga tak mengunjungi Avolire?"
"Kak Sea."
"A-apa?"
"Kenapa kau terlihat begitu terkejut?"
"Tunggu. Kau bilang menemuinya? Kau serius tentang gadis itu?"
"Hmm," angguk Ruel tersenyum sebelum kembali menghisap rokoknya dalam.
"Tsk, kau tak pernah jatuh cinta kepada seseorang sebelumnya, sekali jatuh cinta kepada gadis yang usianya jauh lebih tua darimu, kau serius?"
"Aku tak punya waktu untuk bercanda sekarang."
"Aku tahu, tapi ...."
"Aku bersungguh-sungguh, Gray. Dia gadis yang berbeda. Aku benar-benar menyukainya."
"Lalu bagaimana dengan Nona Sea sendiri?"
Ruel terdiam sebentar.
"Entahlah."
"Aku rasa Nona Sea tak begitu menyukaimu."
"Aku tak perduli. Meski hanya aku yang menyukainya."
"Ah, lihatlah caramu memujanya. Sulit di percaya," balas Gray duduk di salah satu bangku yang berjejer di sana. "Semalam Oskan mencarimu."
"Kalian saling bertemu?"
"Tidak, dia berkunjung ke Avolire ...."
"Apa?"
Ruel balikkan badan, menatap Gray yang terlihat cukup terkejut dengan reaksinya.
"Ada apa dengan reaksimu?"
"Aku tak pernah mengijinkan Oskan menginjak Avolire."
Gray terdiam sebentar, menatap Ruel yang eksprsinya seketika berubah, dan hal itu cukup mengejutkannya.
"Ruel, bisa aku bertanya sesuatu padamu?"
Ruel mendesah kuat, berkecak pinggang dan alihkan padangan ke arah lain. Berusaha mengatur perasannya yang seketika kacau, bahkan hanya dengan mendengar Oskan yang sampai nekat mengunjungi Avolire, tempat rahasia yang di jadikan rumah kedua bagi mereka.
"Aku melihat kau tak begitu menyukai Oskan, kau bahkan sangat membencinya sekarang. Apa ada sesuatu?"
"Aku tak perlu memiliki alasan untuk tak menyukai seseorang."
__ADS_1
"Dulu kau tak seperti itu padanya, kita bahkan sangat dekat. Lalu ada apa sekarang? Aku sempat bertanya-tanya, apa sesuatu telah terjadi di antara kalian yang tak aku ketahui?"
Ruel kembali terdiam, menopang kedua tangan di pinggiran tembok pembatas dengan pandangan yang masih tertuju pada bangunan-bangunan yang berjejer rapi di depan matanya.
"Yang aku tahu dulu kita cukup dekat."
"Ya. Sebelum Oskan menjerumuskan dirinya dan memilih masuk dalam bisnis kotor yang di jalankan ayahnya selama ini."
"Bisnis kotor? Maksudnya?"
"Tak hanya menyelundupkan minuman keras dan narkoba, Oskan juga terlibat bisnis gelap lainya yang salah satunya adalah prostitusi."
Gray terdiam nampak berfikir. Ia tak pernah tahu jika Oskan terlibat dalam bisnis semacam itu. Sebab yang ia lihat selama ini perilaku Oskan normal-normal saja, nyaris tak pernah membuat masalah, dan hanya sering menghilang selama beberapa minggu dengan alasan keluar negara atau semacamnya.
"Aku tak pernah tahu jika Oskan terlibat dalam kejahatan seperti itu."
"Aku pun demikian, cukup terkejut saat tahu jika selama ini Oskan adalah salah satu orang yang termasuk dalam perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan dengan melakukan berbagai macam kejahatan atau aktivitas yang bertentangan dengan hukum dan sering merugikan masyarakat. Dan karena sudah mengetahuinya, maka dari itu aku berusaha untuk menghindarinya, mencoba menghindari masalah dan tak terlibat di dalamnya. Karena aku tahu akan fatal akibatnya jika sampai terlibat dengan Oskan. Tak hanya menyelendupkan barang-barang terlarang, kita juga akan terlibat pembunuhan seperti apa yang sudah terjadi pada Oskan sebelumnya."
"Apa maksudmu?"
"Kau mungkin tak pernah tahu, jika Oskan sempat menghilang beberapa minggu waktu itu. Bukan karena ke luar negara seperti apa yang di katakan wali kelas. Namun, ia menghilang untuk menyelesaikan kasus pembunuhan yang sudah ia lakukan kepada seorang saksi mata."
"Lalu bagaimana bisa ia lolos begitu saja?"
"Kau lupa siapa yang berdiri di samping Oskan? Siapa ayahnya dan sebesar apa pengaruh ayahnya? Tuan Svarga adalah seorang yang di segani, seorang yang merupakan organisasi bawah tanah yang bergerak secara tak resmi. Namun, memiliki organisatoris yang luar biasa ketat."
"Apa karena hal itu kau jadi tak menyukainya?"
"Jika dia tak terus menggangguku. Aku mungkin tak akan membencinya."
"Menurutmu? Ia bahkan sampai mengunjungi Avolire untuk mencariku, menurutmu ada hal penting apa yang membuatnya sampai berkunjung ke sana?"
Gray kembali terdiam. Mengapa ia tak pernah menyadari hal itu.
"Aku hanya khawatir, tak berhasil membujukku, ia menjadi berubah pikiran dan menghasutmu. Ia memiliki banyak cara untuk itu, ia bahkan bisa menjebak kita agar masuk dalam satu perangkap dan terpaksa mengikutinya. Cukup mengikuti Ken dan menjadi anak buah Tuan Ellgar saja. setidaknya aku tak akan terlibat dengan pihak kepolisian, karena pekerjaanku tak se berbahaya itu."
"Ah, brengsek. Kenapa aku tak pernah tahu."
"Tapi, kau tak perlu merubah sikapmu padanya. Cukup tahu saja, apa tujuannya mendekati kita. Aku khawatir, jika kau berubah padanya, hal itu akan membuatnya memikirkan satu cara untuk menjebak kita. Tapi, selama ada Jeane, aku rasa Oskan tak akan berbuat apa pun."
"Jeane?"
"Oskan sangat mencintai Jeane. Dan aku rasa, kelemahan Oskan adalah Jeane."
"Ada apa denganku?" tanya Jeane yang tiba-tiba muncul di sana.
"Sejak kapan kau di sana?"
"Baru saja, dan sangat terdengar jelas jika kalian sedang menyebut namaku. Ada apa?"
"Apa kelas musikmu sudah berakhir?" tanya Ruel, alih-alih menjawab pertanyaan Jeane yang sepertinya tak sampai mendengar pembicaraan mereka.
"Ya. Baru saja ...."
Ruel meraih tasnya dan langsung berlari, bahkan tanpa menunggu Jeane menyelesaikan kalimatnya. Sungguh reaksi yang cukup mengejutkan bagi Jeane dan Gray yang hanya saling pandang satu sama lain.
Hingga beberapa menit kemudian, ketika Ruel sudah berdiri di depan ruang kelas musik yang sudah kosong, dan hanya ada Sea di sana. Terlihat sedang merapikan beberapa kertas untuk di masukkan ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Butuh bantuan?"
Sea balikkan badan, untuk melihat ke arah sumber suara. Bersamaan dengan senyum yang menghiasi wajahnya saat melihat sosok Ruel yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kau tak masuk kelas?" tanya Sea kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Tidak."
"Why?"
"Aku tak begitu menyukai pelajaran matematika," balas Ruel sambil menekan beberapa tust piano sebelum duduk di kursinya sambil terus menatap wajah Sea tak bekedip.
Pergerakan tangan Sea terhenti sebentar, terlihat tersenyum sekilas sebelum kembali merapikan kertas lainnya.
"Jadi, apa kau akan terus membolos ketika pelajaran itu berlangsung?"
"Hmm. Itu cukup menyenangkan, aku bisa memiliki banyak waktu luang untuk tidur."
Sea kembali menyusun kertas di atas meja hingga terlihat rapi. Seharusnya ia bisa pergi sekarang, jika ia mau. Namun, entah mengapa ia menjadi sangat tertarik dengan masalah yang di hadapi Ruel saat ini, dan yang anehnya ia tak menyukai Ruel yang tak acuh dengan pelajarannya seolah sekolahnya sangatlah tidak penting.
"Meski tak menyukai pelajaran itu, bukan berarti kau harus terus bolos, Ruel."
"Akhirnya kau menyebut namaku. Terdengar sangat indah. Aku menyukainya," balas Ruel tersenyum dengan pandangan yang tak luput dari wajah Sea.
"Aku serius."
"Apanya?"
"Ketidak sukaanmu dengan pelajaran itu."
"Ah, sunggu berat. Aku harus terus mendengar semua rumus yang tak aku mengerti. Itu cukup membuat kepalaku pening bahkan bisa meledak. Mendengar guru menjelaskan semuanya tak lekas membuatku mengerti bahkan membuatku jadi sangat mengantuk. Seolah dia sedang membaca sebuah dongeng untukku," balas Ruel tersenyum lebar.
"Apa hanya karena tak mengerti, kau jadi tak menyukai pelajaran itu?"
"Hmm. Terlalu rumit."
"Aku bisa mengajarimu."
"A-apa?"
"Pelajaran matematika tak begitu rumit jika kau memahami rumusnya, aku bisa mengajarimu jika kau tak keberatan, kau bisa pikirkan lagi dan ...."
"Aku setuju," potong Ruel dengan cepat.
"Apa kau tidak akan memikirkannya dulu?"
"Kenapa aku harus memikirkannya lagi?"
"Mungkin saja kegiatanmu yang lain bisa terganggu ...."
"Tak masalah, meski harus menghabiskan waktuku, selama itu denganmu."
Sea terperangah mendegar gombalan Ruel, sangat ingin tertawa tapi di tahannya. Pria itu benar-benar pandai membuat perasannya campur aduk menjadi tak karuan.
"Apa kau sedang menggodaku sekarang?"
***
__ADS_1