
"Wuah, drama fantasy apa yang barusan aku lihat?" tanya Gray yang sudah berdiri di balik punggung Ruel, dan tak hanya Gray di sana. Namun, juga Jeane dan Oskan yang ikut mengamati.
Hingga di detik kemudian, saat tatapan mata Ruel fokus ke arah Oskan. Bertanya-tanya, entah apa yang pria itu lakukan di sana.
"Kau benar-benar penasaran dengan guru musik baru itu?" tanya Jeane bersidekap di hadapan Ruel yang akhirnya alihkan pandangan dari Oskan yang hanya tersenyum.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Tentu saja mencarimu, sialan. Kau tiba-tiba menghilang."
Ruel kembali menatap Oskan yang bahkan terlihat santai saja. Mengapa ia tak pernah menyukai Oskan berada di antara mereka sejak ia tahu jika Oskan melakukan banyak pekerjaan berbahaya. Ia hanya tak ingin pria itu sampai mempengaruhi Gray, bahkan mungkin Jeane untuk bergabung dengan bisnisnya.
"Lalu kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ruel masih menatap Oskan.
"Dia akan bersama kita," sahut Gray.
"Apa?"
"Oskan mengundang kita ke Caerhayes untuk ...."
"Tidak," potong Ruel dengan cepat.
"Kenapa tidak? Bukankah itu sangat menyenangkan?" sahut Jeane.
"Apa kalian mulai berkencan?" tanya Ruel, yang memang tahu jika Oskan sangat menyukai Jeane sejak dulu, bahkan selalu mengatakan kepadanya jika sangat mencintai Jeane yang sama sekali tak pernah mengetahui apa pun.
"Yang benar saja, aku dan Oskan? Kau waras?"
Oskan tertunduk dengan senyum tipis di wajahnya, sambil menggaruk alisnya yang tak gatal. Ia bisa mendengar seolah berkencan dengan Jeane adalah hal mustahil.
"Aku akan ke Avolire, kalian bisa bersamanya jika mau," ucap Ruel melangkah pergi.
"Hei, tunggu!" serga Jeane menarik lengan Ruel, memaksa pria itu berbalik padanya, menyusul Gray, sedang Oskan masih berdiri di tempatnya, amati Jeane dengan jantung berdebar.
"Apa lagi?"
"Ada apa denganmu? Mengapa begitu tiba-tiba? Kau sedang kesal sekarang?"
"Tidak."
"Lalu?"
Ruel menarik nafas kuat dan dalam, sebelum mengeluarkannya dengan perlahan. Kembali menatap Oskan tajam sebelum menatap Jeane yang masih mencengkram lengannya.
"Aku hanya lelah."
"Kau tak pernah lelah hanya karena latihan muay thai, bahkan kau tak akan lelah meski sudah latihan selama berjam-jam. Kau sedang marah?"
"Aku bilang tidak."
"Aku bisa melihatnya, sialan!"
"Jeane, berhenti buat keributan. Aku benar-benar lelah sekarang. Jika kau ingin ke Caerhayes kau bisa pergi sekarang, tapi jika ingin kau Avolire, kau bisa ikut denganku," balas Ruel menatap Gray, seolah-olah pilihan itu di peruntukan juga untuk Gray yang hanya mengangguk, sebelum menarik lengan Jeane.
"Oskan, aku rasa lain waktu. Maaf," ucap Gray.
"Ya. Tidak masalah," balas Oskan yang hanya tersenyum dengan anggukan kecilnya.
Gray melangkah pergi dengan lengan Jeane yang masih di pegangnya. Tinggalkan Ruel dan Oskan yang kini saling menatap, hingga atmosfir di tempat tersebut seketika berubah dingin ketika tatapan tajam dan datar mereka saling mengunci satu sama lain.
__ADS_1
"Aku rasa sudah memperingatimu, Oskan. Jangan pernah melibatkan Gray, terlebih Jeane."
"Kenapa, kau takut mereka akan mengikutiku?"
Ruel yang sejak tadi menahan amarah refleks mencengkram kerah baju Oskan yang bahkan hanya tersenyum seperti biasa untuk menanggapi tempramen pria itu.
"Aku bisa saja melakukan sesuatu yang buruk padamu jika mengabaikan peringatanku."
"Tsk, aku rasa kau terlalu memikirkan banyak hal buruk tentangku, Ruel," balas Oskan menepis tangan Oskan sebelum merapikan kerah bajunya sendiri.
"Begitukah? Lalu apa yang kau lakukan barusan, mengajak mereka ke Caerhayes?"
"Apa salahnya dengan itu, kenapa kau begitu keberatan?"
"Karena aku cukup tahu tempat seperti apa Caerhayes. Perjudian, prostitusi dan obat-obatan terlarang. Apa kau akan membawa mereka ke tempat seperti itu?"
"Aku tak seceroboh itu, Ruel. Kau pikir aku pemain kemarin sore? Jangan bodoh. Aku tak mungkin menunjukkan sisi burukku kepada Jeane. Caerhayes bukan tempat seperti itu lagi."
"Kau berharap aku bisa mempercayaimu, Oskan?"
"Mempercayaiku atau tidak, itu pilihanmu. Satu hal yang perlu kau tahu, aku tulus kepada Jeane. Terlepas dari siapa diriku dan apa saja yang aku lakukan di luar sana. Aku rasa kau memahami itu, kau juga sedang menyukai seorang gadis, kan?"
"Apa?"
"Kau sedang menyukai seseorang sekarang."
"Berhenti omong kosong."
"Masih mau menyangkal? Aku bisa melihatnya, bagaimana caramu menatap guru piano itu. Ah, kau terlalu buruk dalam hal menyembunyikan sesuatu."
"Diam kau."
"Bocah sialan!" umpat Ruel sebelum melangkah pergi.
"Kau akan pergi?"
Oskan menyusul langkah Ruel yang mengabaikannnya.
"Ruel ...."
"Apa kau akan terus mengikutiku?"
Ruel menghentikan langkah kakinya, menatap Oskan tak suka.
"Ah, baiklah. Silahkan."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ruel kembali lanjutkan langkahnya menuju parkiran yang di sana terlihat Gray dan Jeane yang sudah menunggu di motor mereka.
"Di mana Oskan?" tanya Jeane.
"Entahlah."
"Kau masih kesal?"
Tanpa menjawab apa pun, Ruel langsung mengambil sebuah helm dari motor Gray dan memakaikannya dengan sedikit kasar di kepala Jeane, menekan kuat helm tersebut agar masuk sepenuhnya di kepala Jeane.
"Hei, sialan! Beraninya kau ...."
Plak!
__ADS_1
Ruel bahkan langsung menutup kaca helm sebelum Jeane kembali mengumpat padanya dan naik ke atas motornya sendiri sebab enggan meladeni Jeane, sedang Gray hanya tersenyum di atas motornya amati keduanya.
"Naiklah, sebelum aku meninggalkanmu," perintah Ruel yang sudah menyalakan mesin motornya.
"Pergilah, brengsek," tolak Jeane balas memukul helm Ruel menggunakan tas miliknya dengan cukup keras hingga kepala pria itu terdorong ke depan sebelum melangkah ke arah Gray, dan tanpa aba-aba langsung menaiki motor Gray.
"Tsk, Gray berhati-hatilah," balas Ruel dengan motornya yang langsung bergerak pergi meninggalkan parkiran.
Melaju dengan kecepatan tinggi melintasi jalan besar. Terlihat fokus meski pikirannya kembali tertujuh kepada Sea yang ia temui beberapa menit lalu. Ia bahkan masih sangat penasaran dengan gadis itu. Memikirkan, mengapa gadis itu seolah menghindarinya.
Apa dia masih marah padaku atas kejadian malam itu? Atau ... dia memang tak menyukaiku? Tapi aku sempat melihatnya tersenyum padaku. Aku yakin dia tersenyum padaku, di sana tak ada siswa lain selain aku.
Pikiran Ruel semakin bercabang kemana-mana. Begitu juga dengan laju motornya yang semakin melaju dengan kecepatan tinggi, hingga melewati sebuah mobil mewah. Dan entah mengapa Ruel tiba-tiba saja ingin menoleh ke arah mobil tersebut.
Nona Sea?
Ruel terlihat pelankan laju motornya saat tak sengaja melihat bayangan Sea dari balik kaca yang sedang duduk manis di dalam mobil mewahnya.
"Benar, itu dia."
Dengan cepat, Ruel membuka kaca helm yang sejak tadi menutupi wajahnya. Menjejeri laju mobil milik Sea, sebelum melambai pada gadis itu yang nampak terkejut ketika menyadari keberadaannya. Meski tak merespon apa pun dan hanya diam dengan tatapan yang tak luput dari senyum Ruel di balik kaca mobilnya.
"Hai. Nona Sea," sapa Ruel tanpa suara.
Sea yang sejak tadi menatapnya akhirnya tersenyum, mengangkat tangannya dengan perlahan dan melambai pelan ke arah Ruel yang semakin melebarkan senyumnya di sana.
"Kau akan pulang?" tanya Ruel, lagi-lagi hanya menggunakan bahasa isyarat yang langsung di jawab anggukan pelan oleh Sea.
"Sampai jumpa besok di sekolah," sambung Ruel sebelum membiarkan mobil Sea mendahului laju motornya .
"Apa Anda mengenal pria itu, Nona muda?" tanya Charlos amati Sea yang masih tersenyum lewat kaca spion.
"Hah?!"
"Pengendara motor itu, apa dia ...."
"Salah satu siswa di kelas musikku," potong Sea seketika gugup dengan pandangan yang kembali tertuju ke arah kaca spion untuk melihat motor Ruel yang masih mengikuti mobilnya dari belakang.
"Ah, seorang murid?"
"Hmm."
"Dia terlihat baik."
"Begitukah?"
"Ya. Itu terlihat jelas, Nona muda. Bukankah dia murid Anda? Seharusnya Anda bisa menilainya."
Sea menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan perlahan. Ia tak tahu apa pun tentang Ruel, bahkan mereka baru bertemu dua kali. Sebenarnya ia juga bisa melihat jika Ruel memang pria yang baik, dan terlihat ceria. Namun, ada satu hal yang membuatnya cemas ketika memikirkan Ruel yang menjadi buronan Vincent, kakaknya sendiri.
Siapa kau sebenarnya? Kesalahan apa yang sudah kau lakukan, Kak Vincent bahkan terlihat sangat membencimu.
Entah akan sejauh mana Ruel akan mengikutinya. Bahkan Ruel bisa menyadari saat Sea mengamatinya dari kaca spion, sebab pria itu terus tersenyum dan melambai padanya. Sungguh satu hal semakin membuat Sea berdebar kencang, meski tak merasakan sakit seperti saat pertama kali mereka bertemu malam itu. Sea kembali pegangi dadanya, merasa heran dengan reaksi tubuhnya.
Apa ini akan baik-baik saja?
Sea membalikkan badan, menatap Ruel dari balik kaca mobilnya bersamaan dengan Ruel yang kembali tersenyum sambil melambai padanya. Sungguh aneh, jantungnya kembali berdebar, bahkan cukup kencang kali ini. Namun, ia tak merasakan sakit yang berlebihan lagi.
Apa karena ... dia?
__ADS_1
***