
"Kak Vincent sangat membencinya."
"A-apa?"
"Di mata Kak Vincent, Ruel hanyalah seorang brandal, anak pembuat onar yang sangat menyusahkannya, seorang bajingan kecil yang membuat Kak Vincent bahkan sangat ingin menjebloskannya ke dalam penjara atas semua kekacauan yang selalu ia buat."
"Apa memang Ruel anak seperti itu?"
Sea terdiam sebentar. Ia cukup tahu dengan semua kenakalan Ruel, bahkan ia selalu melihat Ruel terluka dan tak mungkin luka itu di dapat begitu saja tanpa perkelahian, lalu apa yang membuat Ruel terus terlibat perkelahian? Pertanyaan itulah yang selalu ada di dalam kepala Sea ketika melihat Ruel dengan bekas lukanya. Namun, meskipun demikian, satu hal yang ia yakini jika Ruel tak seburuk seperti apa yang mereka pikirkan. Ruel adalah pria hangat penuh kasih sayang dan perhatian, meski cukup keras kepala, tapi ia memiliki pemikiran dewasa yang sudah pasti bisa membedakan segala hal yang baik dan buruk.
"Ruel anak yang baik, dia seseorang yang hangat dan penuh kasih sayang, pria yang selalu membuatku tersenyum hingga melupakan semua kesedihan dan rasa sakitku. Ia bahkan mampu melakukan itu semua, Anna."
"Lalu, kenapa Kak Vincent sampai tak menyukainya? Masalah apa yang sudah di lakukan oleh Ruel?"
"Entahlah, Anna. Aku juga tak pernah tahu, apa yang sering di lakukan Ruel di luar sana dan entah itu kejahatan seperti apa hingga membuat Kak Vincent sangat geram hingga membencinya. Aku hanya ingin percaya, jika Ruel adalah pria baik yang bisa melindungiku."
"Tapi kau tahu itu sulit, kan? Hubungan kalian ...."
"Aku tahu, dan hal itulah yang membuatku sangat sakit sekarang. Entah, apa aku bisa bertahan dengan keadaanku yang sekarang atau tidak. Semua cinta dan kasih sayang Dex tak mampu membuatku membaik dan melupakan Ruel. Bahkan keadaan terus memaksaku agar melupakannya, dan yah. Aku memang harus melupakannya agar tak melukainya lebih dalam lagi."
"Sea ...."
"Aku tak ingin bersamanya, membuatnya semakin mencintaiku. Sedang aku tak bisa bertahan lebih lama di sisinya. Aku tak ingin meninggalkannya di saat cintanya semakin besar untukku," potong Sea, menatap Anna. "Aku sakit, dan mungkin ...."
Air mata Sea menetes untuk yang kesekian kalinya hingga kembali berakhir dalam pelukan Anna yang hanya bisa menenangkannya dengan usapan lembut di punggung tanpa mengatakan apa pun.
"Dan hari ini, aku mungkin sudah membuatnya jadi membenciku dengan terus memaksanya untuk melupakanku. Aku bahkan terus menyakitinya dari awal hingga akhir. Aku sungguh bersalah padanya."
"Tidak, Sea. Ini bukanlah salahmu. Semua terjadi begitu saja, kau bahkan tak tahu jika sudah menyukai bahkan berakhir jatuh cinta padanya, kalian tak sengaja bertemu, dan kau juga tak pernah memiliki niat untuk membuatnya jatuh cinta padamu, begitu pun dengannya. Jadi, tak ada yang salah."
"Lalu, siapa yang salah, takdir?"
"Keadaan."
"Kenapa ... kenapa ... keadaan begitu menyiksaku. Bahkan tak mengijinkanku untuk bersamanya jauh lebih lama."
"Oh, Dear." Anna mengusap air mata Sea. "Keadaan akan membuatmu bahagia pada akhirnya, meski tak bersamanya."
"Tapi, hanya dia ... yang bisa membuatku bahagia, Anna."
Dex terpaku di depan pintu kamar Sea, tubuhnya membeku seketika saat tak sengaja mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sea yang sepertinya masih tak menyadari kedatangannya. Hingga beberapa menit kemudian setelah ia berhasil menenangkan perasaannya sendiri, meski tak sepenuhnya membaik.
Tuk ....
Tuk ....
Dex mengetuk pintu kamar Sea yang tak tertutup rapat dan langsung di sambut oleh Anna, setelah mengusap air mata di kedua belah pipi Sea yang masih duduk di atas sempat tidurnya. Bahkan Sea masih bisa tersenyum padanya meski ia tahu jika saat ini Sea sedang bersedih karena pria lain.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu obrolan kalian?" tanya Dex yang sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum seperti biasa, terlihat tampan dengan penampilan casual-nya lengkap dengan sebuket mawar merah di tangannya.
"Tentu saja tidak," jawab Anna tersenyum, dengan sedikit anggukan pelan ke arah Sea sebagai isyarat jika semua akan baik-baik saja.
"Aku juga akan pulang sekarang, selamat malam, Sea," sambung Anna melambai ke arah Sea, sebelum melangkah pergi. Tinggalkan Dex yang hanya tersenyum, sebelum melangkah ke arah tempat tidur Sea.
Menaruh beberapa tangkai mawar merah kedalam vas cristal yang terletak di atas nakas. Tak ingin bertanya, mengapa kedua mata Sea begitu sembab, atau mengapa Sea terus menangis sejak tadi, dan siapa pria yang sebenarnya di cintai oleh Sea, calon istrinya. Dex hanya ingin hubungannya baik-baik saja, dan pernikahan mereka yang tinggal di hitung hari saja bisa berjalan dengan lancar sebelum ia membawa Sea ke tempat di mana ia bisa membahagiakan gadis itu seperti apa yang di impikan sebelumnya.
Dex menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan perlahan sebelum duduk di pinggiran tempat tidur Sea, menatap gadis itu dengan satu senyum hangat sebelum meraih telapak tangan untuk di genggamnya erat.
"Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Cukup baik."
"Apa kau menungguku?"
"Hmm," angguk Sea perlahan.
"Maaf, aku cukup sibuk di kantor akhir-akhir ini karena harus mengambil libur sampai beberapa hari kedepan. Tapi aku janji, akan benar-benar menghabiskan waktuku untukmu setelah kita menikah nanti. Aku tak akan membuatmu kesepian karena menungguku."
Sea kembali tersenyum meski hanya sebentar, biarkan Dex mengusap lembut pipinya sebelum mengecup punggung tangannya.
"Kak Dex."
"Ya."
"Jika aku bertanya, apa kau akan menjawabnya?"
Kini Sea yang terdiam tak menjawab.
"Sejujurnya, ada banyak pertanyaan di dalam kepalaku saat ini," sambung Dex, masih menatap Sea. "Tapi entah mengapa aku tak memiliki kekuatan untuk menanyakannya. Aku terlalu takut, jika pertanyaan yang aku ajukan akan mendapatkan jawaban yang melukai hatiku pada akhirnya. Meski aku tak masalah dengan luka itu, aku hanya tak ingin kehilanganmu."
Luka di dalam hati Sea semakin berdarah, mengapa bukan Dex pria yang ia cintai, dan mengapa sampai saat ini pria itu masih tak mampu membuat jantungnya berdegup kencang, sedang ia memiliki cinta sempurna yang banyak di dambakan oleh wanita di luar sana. Apa cinta sudah membuatnya menjadi bodoh dan buta karena terus mempertahankan cintanya untuk Ruel?
"Maafkan aku."
"Apa ... kau mengucapkan kata itu karena sudah membuat kesalahan?"
Sea mengangguk pelan.
"Apa pun kesalahanmu. Aku akan tetap memaafkannya."
"Kenapa?"
"Karena kau pemilik hatiku."
"Meskipun ...."
__ADS_1
Kalimat Sea tertahan di tenggorokan. Menatap Dex dengan rasa bersalah yang membuatnya sesak nafas.
"Meskipun, aku tidak pernah bisa memiliki hatimu," sambung Dex dengan perasaan terluka dan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Bahkan ia benar-benar percaya sekarang, jika cinta mampu membuat seseorang menjadi bodoh, bahkan meninggalkan logika. Padahal ia pria cerdas yang selalu mengedepankan logika. Tapi mengapa ia bisa menjadi sangat bodoh jika itu berhubungan dengan Sea. Sedalam itukah perasannya terhadap Sea?
"Dia ... bukanlah pria yang sempurnah sepertimu, tapi dia ... mampu membuat jantungku berdebar kencang hanya dengan memikirkannya saja," ucap Sea, membuat luka Dex semakin berdarah.
Hingga di detik kemudian ketika Dex pegangi tengkuk leher Sea dengan perlahan sebelum dekatkan wajahnya sendiri. Cukup dekat hingga Sea yang seketika gugup bisa merasakan nafasnya yang hangat dan refleks mengatup bibirnya saat merasa jika Dex akan menciumnya.
"Apa selama ini, aku tak bisa membuat jantungmu berdebar?"
Sea menggeleng pelan dengan air matanya yang kembali menitik dan Dex yang langsung menjauhkan wajahnya. Sadar jika apa yang baru saja ia lakukan sudah membuat Sea ketakutan.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mecintaiku, Sea?"
Sea terdiam tak menjawab.
"Katakanlah sesuatu, katakan apa yang harus aku lakukan untukmu. Aku bahkan sudah tak tahu lagi, dengan cara apa agar aku bisa membuatmu memikirkanku meski hanya sekali. Membuatmu tak memikirkan pria itu lagi dan hanya memikirkanku saja? Tidak, bisakah kau berpura-pura mencintaiku saja?"
"Maafkan aku," balas Sea dengan suara bergetar.
"Tidak, Sea. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, karena aku ... tak bisa melepaskanmu untuk berada di sisinya."
Air mata Sea kembali menitik untuk yang kesekian kalinya, dan melihat itu cukup membuat hati Dex terluka.
"Berhenti menangis, Sea. Aku mohon," pinta Dex mengusap air mata Sea dengan jemarinya yang bergetar. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya, jika akan mengusap air mata Sea yang menetes karena pria lain.
"Apa dia?"
Sea masih terdiam tak menjawab.
"Pria yang kau cintai," sambung Dex ketika ingatannya tertuju pada sosok Ruel yang ia lihat bersama Sea di halte ketika hujan sore itu. Ruel yang berlarian sambil menggenggam telapak tangan Sea erat, Ruel yang membuat Sea tertawa lepas, dan kini membuat Sea terus menangis karena memikirkannya.
"Hatiku sungguh terluka."
Sea mengangkat kepala, menatap Dex yang masih mengenggam telapak tangannya sejak tadi.
"Aku, pria yang sempurnah telah di kalahkan oleh seorang anak sepertinya," sambung Dex.
"Dia ...."
"Aku tahu, kau tak perlu mengatakan apa pun tentangnya. Karena itu akan semakin menyakitiku."
"Kakak tak perlu merasa tersakiti, karena kita ... akan tetap menikah."
***
__ADS_1