
"Apa kau sedang menggodaku sekarang?"
"Hmm, aku sangat ingin menggodamu. Tapi, kali ini aku serius. Aku senang bisa berada di sampingmu dengan waktu yang cukup lama. Apa kau tak sadar jika sudah berbicara banyak denganku hari ini? Biasanya kau hanya akan mengangguk dan tersenyum seadanya, tanpa berniat berbicara banyak denganku, dan hal itu cukup membuatku sedih, aku sempat berfikir jika kau memang tak menyukaiku."
Sea kembali tersenyum, ia juga tak menyadari jika sudah berbicara banyak kepada Ruel hari ini, karena ia merasa cukup menyenangkan berbicara dengan pria itu, meski hampir semua perkataan Ruel tak masuk akal dan konyol menurutnya. Namun, itu justru membuatnya bahagia.
"Bagaimana bisa aku tak menyukaimu. Kau cukup menyenangkan," balas Sea meraih tasnya sebelum melangkah pergi.
"Akhirnya kau mengakuinya?"
Tak menjawab, Sea terus melangkah pergi.
"Kau akan pulang sekarang?" tanya Ruel berjalan di samping Sea.
"Ya."
"Apa kau tidak ingin mengobrol denganku sebentar?"
"Kau harus masuk ke dalam kelas, Ruel."
"Tapi ...."
Sea menghentikan langkah kakinya. Menatap Ruel yang juga ikut berhenti.
"Menurutlah."
"Baiklah, aku hanya akan mengantarmu sampai ke depan gerbang dan akan kembali ke kelas."
"Ruel."
"Aku berjanji, hanya sampai di depan gerbang."
Sea hanya bisa menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan perlahan, sebelum mengangguk dan melanjutkan langkah kakinya pelan, seolah sedang menikmati perjalanannya yang singkat dengan Ruel yang kembali menatap wajahnya.
"Berhenti menatapku."
"Abaikan saja aku."
"Apa kau tak bosan?"
"Mau berkaca? Kau sangat cantik."
Sea balas menatap Ruel, meski hanya sekilas. Pria itu cukup pandai membuatnya gugup.
"Kapan kita akan mulai berlajar bersama?" tanya Ruel terlihat antusias.
"Minggu depan."
"Bagaimana jika esok hari?"
"Aku tidak bisa jika di akhir pekan."
"Ayolah, Kak Sea. Aku pikir akhir pekan adalah waktu yang tepat." bujuk Ruel.
Kita bisa berkencan sekaligus.
"Baiklah. Besok," angguk Sea setelah berfikir sebentar, sulit di percaya jika ia tak bisa menolak pria itu.
"Apa aku harus ke rumahmu?"
"Tidak perlu, kita bisa belajar di perpustakaan."
"Agree," angguk Ruel, sebelum langkah kakinya terhenti saat melihat seorang pria di sana.
"Dia siapa?"
"Charlos, yang selalu mengantarku kemana pun," balas Sea menatap Charlos yang terlihat sedang menunggu di samping mobilnya.
"Oh. Aku pikir bisa mengantarmu pulang."
"Kau tak akan membolos, Ruel."
Ruel tersenyum lebar sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Baiklah."
"Aku pergi."
"Ya, sampai jumpa di perpustakaan besok."
Tak menjawab, Sea hanya mengangguk dengan senyumnya sebelum melangkah pergi, tinggalkan Ruel yang masih melambai hingga mobil yang di tumpangi Sea bergerak pergi dan menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Haruskah aku ke kelas sekarang?"
Tanpa berfikir panjang, Ruel langsung berlari menuju kedalam kelasnya, masuk secara diam-diam agar tak ketahuan guru yang sudah terlebih dulu masuk kedalam kelasnya. Sungguh satu hal yang cukup mengejutkan Gray dan Jeane.
"Ada apa? Melupakan sesuatu?" tanya Jeane dengan nada pelan, amati Ruel yang kini sedang duduk manis di kursinya.
"Diam dan fokuslah ke depan."
"Si berengsek ini."
"Apa sesuatu telah terjadi?" tanya Gray tak kalah terkejut saat melihat Ruel yang untuk pertama kalinya mengeluarkan buku dan alat tulisnya sebelum fokus kedepan kelas, meski kepalanya mulai pening dengan berbagai macam rumus.
"Apa Ruel kerasukan sesuatu, Gray?"
"Sshhh," balas Ruel dengan jari telunjuk menempel di bibirnya, menatap Gray dan Jeane secara bergantian sebelum kembali fokus kedepan, meski hanya berlangsung selama beberapa menit saja sebelum ia akhirnya tertidur dengan sangat pulas.
"Ah, sulit di percaya. Aku pikir dia akan bertahan sampai akhir. Lihatlah dia, haruskah aku meminta bantuan Kak Eden untuk membangunkannya?"
"Maka dia akan berakhir," balas Gray.
Ia cukup tahu jika sampai kapan pun Ruel tak akan pernah menyukai pelajaran tersebut. Namun, meskipun demikian ia rasa itu tak akan menjadi masalah besar bagi nilai Ruel yang hanya tak menyukai satu pelajaran matematikan tapi cukup pandai di pelajaran lainnya.
Sedang di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah mobil yang sedang melaju lintasi jalan besar, terlihat Sea yang sedang menatap layar ponselnya yang berdering. Namun, di biarkannya hingga berulang kali.
"Maaf, apa Nona tak akan menjawabnya?" tanya Charlos buyarkan lamunan Sea.
"Haruskah?"
"Sebaiknya di jawab saja, Nona. Mungkin saja panggilan itu sangat penting."
"Emm," angguk Sea yang langsung menjawab panggilan tersebut.
"Selamat siang, Sea."
Sapa seseorang dari sebrang sana. Bersamaan dengan satu tarikan nafas panjang dari Sea yang cukup mengenal suara itu.
"Ya, Kak Dex."
"Apa kelasmu sudah berakhir?"
"Kelas? Kakak tahu soal itu?"
"Tentu, apa itu mengejutkanmu?"
"Maaf, aku hanya tak sengaja mendengarnya dari Vincent jika kau menjadi guru pengganti sementara di sebuah sekolah."
"Ah, yah. Hanya sebulan saja."
"Emm, apa kau sudah makan?"
"Belum."
"Bagaimana jika makan siang denganku?"
"Sekarang?"
"Ya. Aku baru memiliki waktu luang usai rapat berjam-jama, dan cukup lapar sekarang. Aku sangat ingin makan sesuatu denganmu."
Sea terdiam tak menjawab, dan hanya menggigit bibirnya kuat. Sangat sulit untuk mengatakan 'tidak', meski ia sangat lelah dan tak ingin melakukannya. Namun, seolah tak memiliki pilihan untuk menolak terlebih sang Ayah pernah mengatakan agar ia harus selalu bersikap baik kepada Dex, bahkan Vincent pun selalu memperingatinya.
"Bagaimana?"
"Ya, tentu."
"Baiklah, aku akan menjemputmu ...."
"Tak perlu, Kakak hanya perlu mengirimiku lokasi restaurannya saja, aku akan kesana bersama Charlos."
"Kau yakin?"
"Iya, Kak."
"Baiklah, aku menunggumu."
Panggilan telfon terputus. Bahkan hanya dalam selang detik, Sea sudah menerima satu pesan notifikasi dari Dex.
"Charlos."
"Ya. Nona muda."
"Kita akan ke Euthoria."
__ADS_1
"Anda memiliki janji?"
"Hmm, Kak Dex menunggu di sana untuk makan siang. Kau hanya perlu mengantarku sebelum kembali ke mansion."
"Baik, Nona muda."
Mobil berbelok di persimpangan jalan, sebelum kembali melaju menuju lokasi yang di sebutkan Sea, tepatnya di sebuah restaurant mewah. Bahkan Sea bisa melihat mobil milik Dex yang sudah terparkir di sana. Pria itu selalu antusias dan tepat waktu, dan tak pernah membuatnya menunggu.
Senyum menawan yang menghiasi wajah Dex terlihat menyambut kedatangan Sea yang kini duduk di hadapannya. Dan satu kejutan lainnya, semua hidangan bahkan sudah tertata rapi di sana.
"Kakak yang memesan semuanya?"
"Ya. Makanlah."
"Dari mana Kakak tahu jika aku menyukai semua makanan ini?"
"Emm, anggap saja itu hasil usahaku agar lebih tahu semua tentangmu."
Sea tersenyum tipis. Dex memang sesuatu, pria itu terlihat sangat serius dan hal itu cukup membuatnya takut sekaligus cemas.
"Ada apa?" tanya Dex ketika dapati Sea yang hanya diam.
"Seharusnya aku tak menanyakan hal sesederhana ini, Kakak bahkan tahu segalanya tentangku," balas Sea sebelum mengambil sebuah gelas berisi air mineral untuk di minumnya.
"Tapi, aku menginginkan kentang goreng dan soda ...."
"Kau tak bisa terus mengkonsumsi itu, Sea."
"Kenapa tidak? Aku menginginkannya."
"Tapi, kondisimu ...."
Kalimat Dex tertahan di tenggorokan. Menatap Sea yang cukup terkejut atas jawabannya.
"Kakak ... mengetahuinya?" tanya Sea sulit menyembuyikan keterkejutannya.
Dex benar-benar tahu semua tentangnya, baik makanan apa yang harus ia konsumsi dan tak bisa ia konsumsi, bahkan dengan kondisinya sekarang. Berbanding terbalik dengan Ruel yang bahkan tak mengetahui apa pun tentangnya.
"Maaf, Sea. Apa aku membuatmu tak nyaman?"
Sea terdiam tak menjawab dan hanya menggeleng pelan.
"Aku memang sakit."
"Sea, kau akan baik-baik saja."
"Terima kasih, Kak Dex. Entah mengapa, aku selalu merasa bahagia jika mendengar kalimat itu."
Dex pegangi telapak tangan Sea untuk di genggamnya erat dengan sebuah senyum seolah sedang menguatkan gadis itu.
"Makanlah."
"Hmm," angguk Sea sebelum mulai makan, sambil terus memikirkan perkataan Vincent tentang perjodohan antara dirinya dan pria yang kini tengah menatapnya dengan senyum yang tak pernah luntur di wajahnya.
"Bukankah Kakak mengatakan jika sangat lapar? Kenapa tak makan?"
"Entahlah, aku merasa kenyang sekarang karena terus melihatmu."
"Sejak kapan Kakak berubah menjadi sangat kekanak-kanakan? Dengan gombalan seperti itu."
Dex terbahak mendengar jawaban Sea.
"Apa sangat terdengar kekanak-kanakan?"
"Hmm."
"Tapi apa kau tahu jika bersikap kekanak-kanakan kadang menyenangkan."
"Berapa usia Kakak?"
Dex kembali tertawa, mengusap pucuk kepala Sea, sebelum mulai makan dengan pandangan yang tak luput dari wajah Sea yang fokus dengan makananya.
"Sea."
"Ya."
"Apa kau tak keberatan jika aku menanyakan satu hal padamu?"
Sea mengangkat wajah. Menatap Dex.
"Hmm, ada apa?"
__ADS_1
"Apa kau memiliki seorang kekasih?"
***