ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Fakta yang menyakitkan


__ADS_3

AVOLIRE


"Ada apa? Kau terluka, apa yang terjadi denganmu?" tanya Jeane hampiri Ruel yang baru saja masuk ke dalam ruangan dengan kondisi kacau balau. Basah kuyup dengan luka lecet di lutut, sikut, telapak tangan, dan pelipis.


"Ruel, apa kau saja berkelahi dengan seseorang? Sekelompok geng, atau ...."


"Berhenti bertanya dan lekas ambil kotak P3K," potong Jeane, dengan Gray yang langsung beranjak pergi, mengambil kotak P3K dan sebuah wadah berisi air dan handuk kecil.


"Aku tak apa-apa, Jeane."


"Kau jelas terluka, apanya yang tidak apa-apa?"


"Biarkan aku mengganti baju dan membersihkan lukaku sendiri."


"Aku akan membantumu."


"Aku bisa sendiri."


"Tapi ...."


"Aku baik-baik saja, aku tak sekarat, Jeane. Kau tak perlu khawatir," balas Ruel berjalan menuju kamar mandi.


Menanggalkan semua pakaiannya sebelum berdiri di bawah guyuran air shower bersamaan dengan bayangan Sea yang kembali hadir hingga semakin memporak-porandakan hatinya. Berusaha menahan sakit dan perih dengan hanya terus terdiam hingga setengah jam berlalu, saat ia terbangun dari lamunan ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar mandi.


"Jangan terus di sana dan biarkan kami khawatir. Lekas keluar jika kau baik-baik saja!" teriak Jeane yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Ruel yang baru tersadar jika sejak tadi ia hanya terus berdiri seperti orang tak waras, segera keluar dari kamar mandi usai membersihkan tubuhnya. Melilitkan handuk di pinggang sebelum membuka pintu dengan Jeane yang kini berdiri di depan pintu.


"Kau baik-baik saja?"


Tak menjawab, Ruel hanya mengangguk pelan. Mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah, dan biarkan ujung rambut menutupi dahinya. Sungguh pemandangan yang membuat Jeane seketika merasa gerah, kesal karena harus mengakui jika Ruel terlihat begitu tampan dengan rambut setengah basah, lengkap dengan tubuh sempurnah, dan lihatlah otot di lengan dan perutnya. Dan entah mengapa ia baru menyadari jika Ruel adalah pria yang memang sangat menarik dengan pesona badboy yang bisa membuat jantungnya berdebar.


Ah, sial! Umpat Jeane dalam hati. Mengutuk diri sendiri karena mulai tergoda dengan sahabatnya sendiri. Padahal sejak awal, Eden lah pria yang ia puja, sangat mengagumi, hingga berakhir jatuh cinta kepadanya yang tak lain adalah Kakak Ruel sendiri. Namun, sekarang mengapa perasaannya goyah? Apa karena penampilan Ruel sekarang?


Mengapa aku terlihat seperti seorang gadis mesum? Ah, yang benar saja. Kenapa aku sampai tergoda dengan pria bodoh ini, sedang Kak Eden jelas jauh lebih sempurna.


"Masih di situ?"


"Ah, maaf. Lekas pakai bajumu dan obati lukamu," balas Jeane melemparkan selembar baju dengan sedikit kasar hingga tepat mengenai wajah Ruel sebelum melangkah pergi dari sana sambil menggigit bibirnya sendiri.


"Hei! Apa harus sekasar itu? Ada apa dengannya?" keluh Ruel sebelum memakai bajunya dan melangkah keluar. Duduk di sebuah kursi dengan Jeane dan Gray yang terus mengamatinya sejak tadi.


"Kami masih menunggu."


"Apa?"


"Kau bertanya kenapa?" sahut Jeane.


Ruel menghela nafas kuat.


"Tak terjadi apa pun denganku. Aku hanya terjatuh karena jalan begitu licin."


"Kau? Jatuh dari motor?" tanya Gray sulit mempercayainya.


"Hmm."

__ADS_1


"Bagaimana bisa?"


"Sudah aku katakan, jalanan cukup licin dan ...."


"Ini bukan kali pertama kau berkendara di jalan licin."


"Aku pernah melihat Valentino rossi terjatuh saat pertandingan," sindir Jeane yang mulai mengobati luka Ruel, dan Gray yang hanya terdiam, amati Ruel yang kembali melamun. Bahkan tak bereaksi sedikit pun saat alkohol dan salep menyentuh permukaan lukanya. Seolah mati rasa hingga tak merasakan perih dan sakit sedikit pun.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gray yang cukup yakin jika Ruel sedang memikirkan sesuatu yang serius kali ini.


"Tidak."


"Apa ini ada hubungannya dengan Ken?"


Ruel balik menatap Gray.


"Ken sempat menghubungiku semalam."


Kali ini Jeane yang ikut menatap Ruel.


"Masih berhubungan dengan Ken?" tanya Jeane.


Sedang Ruel hanya terdiam tak menjawab. Ia masih belum mengatakan apa pun kepada mereka perihal dirinya dengan satu pekerjaan yang kembali di tawarkan Ken untuknya, karena terus memikirkan Sea sejak tadi.


"Apa dia memintamu lagi untuk melakukan satu pekerjaan?" tanya Gray sekali lagi.


"Hmm."


"Apa lagi kali ini?"


"Tak begitu sulit. Hanya menagih uang dari seorang pria tua."


"Semua berjalan dengan lancar."


"Tak meninggalkan jejak?"


"Hmm. Ken tahu apa yang harus ia lakukan," balas Ruel senderkan tubuh lelahnya di sandaran kursi sambil memejam.


"Lalu apa yang membuatmu terus melamun sejak tadi? Kau terlihat tak baik-baik saja sekarang."


Ruel masih terdiam tak menjawab.


"Apa kali ini ada hubungannya dengan Nona Sea?"


Jeane kembali menatap Ruel yang masih memejam. Mengapa Gray sampai menyebut guru pianonya.


"Miss Sea?" sahut Jeane balik bertanya dengan alis mengernyit.


"Ya. Dia. Gadis yang membuat Ruel tergila-gila."


"What?"


Jeane bahkan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dan masih menatap Ruel yang tak merespon apa pun, selain terus diam.


"Selama beberapa hari ini kau selalu terlihat di kelas musik, apa karena Miss Sea?" tanya Jeane duduk di samping Ruel yang masih dengan posisinya, memejamkan mata meski tak tidur.

__ADS_1


"Seharusnya kau tak perlu bertanya. Aku bahkan sudah bisa melihat jika Ruel memang sudah tergila-gila dengan gadis itu," balas Gray.


"Kau, tak waras? Usia Miss Sea bahkan jauh lebih tua darimu, selain itu ...."


"Tapi dia terlihat cantik dan menarik, aku rasa usia tidaklah masalah selama Ruel merasa nyaman, kan?"


"Ah, ini gila."


"Apa masalahnya?"


"Pria seperti Ruel, jatuh cinta kepada gadis seperti Miss Sea?"


"Hei, berhenti meremehkan sahabatmu sendiri, seolah Ruel sangat buruk dan tak berhak jatuh cinta kepada gadis itu."


"Aku tidak meremehkannya sedikit pun. Hanya saja, apa kalian benar-benar tak tahu siapa Miss Sea?"


"Memangnya siapa dia?"


"Puteri bungsu dari Theodoric. Seorang pengusaha yang cukup terkenal di negara ini. Aku rasa kalian pasti sudah sering mendengar nama pria itu, kan? Dan yang terpenting, Miss Sea memiliki Kakak laki-laki yang berpropesi sebagai seorang opsir, dan kalian juga pasti tak merasa asing dengannya, mengingat kalian sering membuat onar dan berakhir berurusan dengannya. Vincent Theodoric."


Kedua mata Ruel terbuka dengan perlahan. Akhirnya pertanyaannya terjawab dengan sendirinya, tentang siapa Vincent dan apa hubungannya dengan Sea.


"Dan yang aku tahu, Tuan Theodoric sudah menemukan jodoh untuk Puterinya, salah satu pengusaha dari perusahaan terbaik dalam industri eletronik. Apa kau merasa jika Miss Sea akan mudah untuk di gapai? Mengingat siapa dan berada di level mana dia. Ayolah, kalian jangan berfikiran naif yang merasa jika semua akan berjalan dengan mudah, setidaknya berfikirlah realistis ...."


"Kau sangat banyak bicara, Jeane."


"Aku tak sekedar omong kosong. Bahkan semua pihak-pihak tertentu juga sudah mengetahui tentang perjodohan dua keluarga besar itu, termasuk Ayah. Itu kenyataan ...."


"Sshh, diamlah," potong Gray.


Dada Ruel bergemuruh, bersamaan dengan jantungnya yang berdenyut nyeri ketika mendengar ucapan Jeane. Memang siapa dirinya yang berani mencintai gadis seperti Sea. Ia bahkan hanya bisa mendapatkan uang dari hasil taruhan balap liar, dan melakukan pekerjaan lain yang terkadang membuatnya harus terlibat dalam perkelahian dengan anggota gangster dan preman. Ia juga tak memiliki apa pun untuk di banggakan, baik kedua orang tua yang sudah tiada, harta atau jabatan, selain sang Kakak yang diam-diam selalu ia banggakan karena profesinya. Selain itu, ia benar-benar seorang yang tak memiliki apa pun.


"Jeane, aku rasa kau tak perlu mengeluarkan semua kata-kata itu. Kau terlalu kejam," ucap Gray ketika menatap Ruel yang masih tak mengatakan apa pun, kendati jantungnya sudah akan meledak sebentar lagi karena rasa sakit yang luar biasa, merasa sangat patah hati hingga membuat nafasnya semakin sesak.


"Kenapa aku harus diam saja dan membiarkan Ruel menyakiti dirinya sendiri? Apa kau juga akan membiarkannya terluka? Aku rasa Ruel harus mengetahui semuanya, tak ada yang perlu di sembuyikan."


"Aku tahu, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, kan?"


"Lalu menurutmu kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya? Menunggu sampai ia benar-benar jatuh cinta kepada Miss Sea yang bahkan sebentar lagi akan menikah?"


"Jeane!"


"Apa?!"


"Kenapa kalian sangat berisik," potong Ruel yang langsung beranjak dari duduknya. "Berhenti berdebat," sambungnya.


"Kau akan kemana?"


"Pulang?"


"Tapi kau masih terluka."


"Aku baik-baik saja."


"Ruel, Kak Eden pasti akan khawatir jika melihat kondisimu sekarang."

__ADS_1


Ruel terdiam di balik pintu hingga beberapa detik kemudian sebelum ia memutuskan untuk pergi, abaikan Jeane dan Gray. Melangkah menyusuri jalan sepi hingga beberapa menit berselang sebelum ia terlihat berlari sambil terus memikirkan kehidupan dan nasib buruknya. Berharap semua bisa berubah, atau mungkin ia yang bisa melupakan semuanya. Baik Sea dan juga perasaannya. Mengingat ada pria sempurnah yang lebih layak berada di sisi Sea. Meski ia tahu jika hal itu tak akan mudah.


***


__ADS_2