ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Karena itu, Sea.


__ADS_3

Kreek ....


Suara pintu terbuka dengan perlahan, hingga bangunkan Eden dari lamunan. Lekas beranjak setelah melihat sosok yang kini berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat lelah, semrawut, dengan beberapa bekas lebam di wajah.


"Dari mana saja kamu?"


Ruel terdiam tak menjawab, dan hanya terus berdiri, menatap sang Kakak sekilas sebelum melangkah masuk hendak menuju kamar tidurnya.


"Kau tak mendengarku?"


Langkah kaki Ruel terhenti di depan pintu kamarnya.


"Kau tak pulang selama tiga hari. Kemana saja kamu?" tanya Eden sekali lagi.


"Avolire."


"Mencoba untuk membohongiku?"


Ruel memegang erat tali tas yang tersampir di pundaknya.


"Aku mencarimu di sana, dan tak menemukanmu. Bahkan Gray dan Jeane tak mengetahui keberadaanmu."


Ruel masih terdiam tak menjawab. Sepulang dari Avolire malam itu, tepatnya saat terakhir ia bertemu Sea. Ken kembali menghubunginya untuk pekerjaan lainnya, dan memilih tak pulang ke rumah dan kembali ke Avolire, tapi ke satu tempat untuk mengobati luka-lukanya. Ia banyak terlibat perkelahian selama tiga hari ini, hingga tak memikirkan kondisi tubuhnya lagi. Dan itu jelas ada hubungannya dengan fakta mengenai Sea yang membuatnya benar-benar prustrasi dan patah hati.


"Kakak tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja," balas Ruel sebelum melangkah masuk kedalam kamarnya.


"Tunggu!" serga Eden menarik lengan Ruel dengan keras hingga membuatnya nyaris terjatuh. "Apa ini yang kau bilang baik-baik saja? Luka lebam di mana-mana. Apa yang sudah kau lakukan?"


"Berhenti memperdulikanku, Kak. Aku bukan anak kecil lagi!"


"Sudah merasa dewasa sekarang? Jika memang demikian, bisakah kau bertindak layaknya seorang pria dewasa dan berhenti berbuat onar?"


Ruel terdiam tak menjawab.


"Kau menghilang hingga beberapa hari dan kembali dengan bekas luka di mana-mana, dan kau masih memintaku untuk tidak memperdulikanmu. Apa itu yang kau inginkan sekarang? Karena sudah merasa dewasa, jadi kau tak membutuhkanku lagi?"


"Kak, aku tak bermaksud demikian."


"Lalu?"


Ruel kembali terdiam. Perasaannya benar-benar kacau balau. Bahkan ia sendiri tak tahu apa yang sudah ia lakukan selama bebeapa hari ini. Yang ia inginkan hanyalah melupakan Sea dan perasaannya sendiri, tanpa memikirkan apa cara yang dia lakukan sudah benar atau tidak.


"Maafkan aku," ucap Ruel menunduk dengan kedua mata berkaca, hingga beberapa detik saat Eden melihat butiran bening jatuh dari sudut mata Ruel.


Cukup mengejutkan baginya, sebab selama ini ia tak pernah melihat sang adik mengeluarkan air mata, dan saat kedua orang tua mereka meninggal di usia Ruel yang masih menginjak tujuh tahun, di situlah terkahir kali ia melihat Ruel mengeluarkan air mata. Bahkan saat sedang sakit, atau mendapatkan luka di badan saat sedang bermain, atau berkelahi dengan teman-teman sebayanya pun, Ruel tak pernah mengadu dengan air matanya, hingga di usianya yang sudah menginjak tujuh belas tahun. Namun, ada apa dengan Ruel sekarang.


"Ruel." Eden melangkah mendekati sang adik. "Apa yang sudah terjadi denganmu?"


"Aku tidak apa-apa."


"Kau menangis."


Ruel tertunduk dalam dengan tubuh yang terlihat gemetar jelas menahan tangis. Mengapa patah hati begitu sakit, bahkan sakitnya melebihi luka di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Katakan sesuatu, Ruel. Apa kau akan terus diam seperti ini?"


Ruel melangkah perlahan dan duduk di pinggiran tempat tidurnya, masih tertunduk menatap lantai ubin kamarnya.


"Kak, aku ... menyukai seseorang."


"Apa?"


"Aku menyukai seseorang," ulang Ruel yang akhirnya mengakui.


"Lalu?"


"Seseorang itu ...."


Kalimat Ruel tertahan di tenggorokan. Sedang Eden masih terdiam dan menunggu.


"Adik Vincent."


"A-apa?"


Ruel mengangkat kepala, menatap wajah Eden yang jelas terkejut.


"Aku jatuh cinta kepadanya. Sea Theodoric, adik Vincent Theodoric."


Eden memejam dengan satu tarikan nafas kuat. Masih tak mengatakan apa pun hingga beberapa detik berlalu. Masih mencoba mencerna pengakuan Ruel barusan. Jika itu memang masalah hati dan perasaan, ia akan sangat memahaminya, biar bagaimanapun, Ruel sudah dewasa dan hal yang wajar jika ia menyukai seorang gadis dan mulai berkencan seperti anak pria lain seusianya. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah gadis yang di sukai Ruel.


"Kenapa harus Sea?"


"Karena itu Sea."


"Aku tahu."


"Lalu?"


"Aku sudah terlanjur mencintainya."


"Sadarlah Ruel. Sea bukan gadis yang harus kau cintai."


"Aku tahu."


"Maka berhentilah!" sentak Eden.


"Aku tidak bisa. Aku juga sudah berusaha melakukannya, berusaha melupakannya dan membuangnya dari pikiranku, aku bahkan sudah melakukan berbagai macam cara, tapi aku tetap tak bisa."


Eden mengusap wajahnya kasar.


"Bagaimanapun caranya, kau harus melupakannya."


"Kak."


"Dengakan aku kali ini, Ruel."


"Aku tidak bisa."

__ADS_1


"Ruel!" sentak Eden sekali lagi. "Apa kau sadar jika akan benar-benar mendapatkan masalah besar jika kau tetap dengan keinginanmu? Lupakan perasaanmu, sulit atau tidak kau harus bisa melakukannya, kau tak punya pilihan lain."


Ruel terdiam tak menjawab.


"Kau masih sangat mudah. Jatuh cinta dan menyukai seseorang adalah hal yang wajar di usiamu sekarang, dan kau tak hanya akan jatuh cinta sekali sebab ada banyak gadis yang akan kau temui. Jadi aku mohon untuk kali ini, lupakan perasaanmu kepada Sea."


"Bagaimana ... jika aku tak bisa melakukannya?"


"Jangan keras kepala dengan terus mempertahankan perasaan bodohmu."


"Perasaan bodoh?"


"Itu hanya perasaan sesaat, Ruel. Kau akan bisa ...."


"Perasaanku sunguh-sungguh padanya, dan bukan perasaan bodoh atau perasaan sesaat seperti apa yang Kakak katakan. Aku tak akan menyukai orang lain, dan tak ingin bertemu orang lain lagi."


"Sea akan menikah sebentar lagi."


Ruel kembali terdiam.


"Lupakan dia. Itu adalah hal yang harus kau lakukan, bahkan kau tak punya pilihan lain selain melakukannya. Meski itu terdengar kejam dan egois, tapi itulah pilihan satu-satunya yang harus kau terima."


Ruel masih terdiam tak menjawab. Bahkan suasana berubah hening hingga beberapa menit. Eden yang mencoba menenangkan perasaannya, terlihat duduk di samping Ruel yang hanya tertunduk sejak tadi.


"Maafkan aku jika terkesan egois dan tak memahami perasaanmu. Tapi, aku tak ingin kau melupakan satu hal penting. Jika Vincent ...."


Kalimat Eden tertahan di tenggorokan.


"Aku tahu, dia sangat membenciku. Tapi aku tak perduli."


"Bagaimana dengan Sea? Apa kau pernah memikirkannya jika Vincent sampai mengetahui hubungan kalian?"


Ruel lagi-lagi bungkam.


"Sea hanyalah seorang gadis yang penurut, sangat menyayangi Kakak dan Ayahnya. Bahkan ia hanya akan diam saja dan menerima semua keputusan mereka. Dan kau tak bisa melakukan apa pun untuknya, sedalam dan sebesar apa pun cintamu padanya. Meski Sea juga merasakan perasaan yang sama, tapi pada akhirnya ia akan lebih memilih Kakak dan Ayahnya."


Ruel mengepalkan telapak tangannya kuat saat lagi-lagi mengetahui fakta tentang Sea yang memang benar-benar tak bisa ia gapai. Sebesar apa pun perasaannya kepada gadis itu.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri. Jika memang kau tak bisa melupakannya dengan cepat, maka lakukanlah dengan perlahan," sambung Eden, beranjak dari duduknya.


Melangkah menuju nakas dan mengambil sebuah kotak P3K di sana, sebeluk kembali duduk di samping Ruel dan mulai mengobati beberapa luka lebam di wajah adiknya.


"Lihatlah dirimu, kenapa sampai mendapakan banyak luka seperti ini," ucap Eden tak mampu menahan kesedihannya.


Mungkin Ruel tak pernah menyadari betapa besar rasa sayang Eden padanya, meski tak pernah menunjukkannya, Eden bahkan lebih banyak membentak dan berbicara keras kepadanya. Namun, selalu memaafkan dan membereskan segala kekacauan yang sudah di buat Ruel, berusaha menjaga dan melindungi sebisanya. Meski pada kenyataannya, Eden masih tak mengetahui tentang semua hal yang di lakukan Ruel di luar sana.


"Istirahatlah, semua akan lekas membaik. Seiring berjalannya waktu, kau akan bisa melupakan semuanya," ucap Eden usai mengobati semua luka Ruel.


"Ya."


Ruel merebahkan tubuhnya, menatap langit kamar yang remang tanpa cahaya lampu, dan hanya cahaya bulan yang menelusup masuk lewat kisi jendela.


Apa aku bisa melupakanmu?

__ADS_1


Ruel kembali memejam, merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuh, tak jauh berbeda dengan kondisi Sea saat ini yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya dengan air mata yang menetes begitu saja karena mimpi buruk yang kembali hadir, di mana ia bisa melihat Ruel dengan darah di sekujur tubuh, melihat Ruel terus berlari menuju jurang dan mengabaikannya. Sea bahkan sesegukan sedang ia sedang tak sadarkan diri karena pengaruh obat yang disuntikkan kedalam infusnya. Sea terbaring sakit sejak malam itu dengan suhu tubuh yang tiba-tiba panas, pernapasannya pun tak normal, bahkan sempat tak sadarkan diri selama dua puluh empat jam.


***


__ADS_2