
"Selamat pagi, Kak," sapa Ruel, duduk di sebuah kursi sambil mengenakan sepatunya, dengan sepotong roti yang masih bertengger di dalam mulutnya.
"Apa-apaan?"
"Apanya?"
"Kau akan kemana dengan buku-buku itu?" tanya Eden cukup terkejut ketika melihat banyak buku di atas meja.
"Ke perpustakaan."
Uhuk ... uhuk ....
Eden seketika tersedak teh saat mendengar jawaban Ruel. Bagaimana tidak, ini kali pertama ia mendengar Ruel mengatakan jika akan ke perpustakaan di hari minggu. Sedang yang ia tahu, Ruel nyaris tak pernah terlihat di rumah jika di akhir pekan. Tapi, pagi ini. Ruel terlihat bersemangat dengan beberapa bukunya, begitu juga dengan penampilannya yang biasa terlihat urakan dengan kaos oblong dan jaket kulit hitam juga skinny jeans yang terdapat sobekan di beberapa bagian lengkap dengan sepatu boots warna senada sebagai ciri khasnya, kini tampil sedikit rapi dengan oversized t-shirt berwarna putih polos dengan celana pendek di atas lutut, dan sneakers.
"Kau ... apa yang akan kau lakukan di perpustakaan?"
"Menurut Kakak?"
"Kau selalu membuat onar."
"Astaga, yang benar saja. Apa yang bisa aku lakukan di perpustakaan?"
Eden kembali menatap adiknya dari kepala sampai ujung kaki dengan alis mengernyit. Masih sulit untuk percaya jika Ruel benar-benar akan belajar di perpustakaan kali ini.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Apanya?"
"Kau biasanya menghabiskan waktu di Avolire, Bar, tempat balap liar, dan sekarang kau memutuskan untuk ke perpustakaan?"
"Seharusnya Kakak senang, kan?"
"Senang kepalamu? Aku bahkan jadi merinding."
"Tsk. Aku pergi," balas Ruel beranjak dari duduknya.
"Ruel."
"Ya."
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?" tanya Eden penuh curiga.
"Ayolah, Kak. Aku hanya ingin belajar. Apa terlalu sulit untuk mempercayaiku?"
"Kau bukan bocah yang akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk belajar. Apa lagi kali ini?"
"Meledakkan perpustakaan menggunakan senjata nuklir."
__ADS_1
"Kau ...."
"Aku pergi, seseorang sudah menungguku untuk belajar bersama, sampai jumpa malam nanti."
Eden terdiam tak menjawab. Dan hanya amati Ruel yang masih berdiri di depan pintu dengan beberapa buku di tangannya sambil membenarkan topinya.
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku harap kau masih mengingat pembicaraan kita malam itu. Berhenti berbuat onar atau ...."
"Ya, ya. Aku tahu. Aku ingat," potong Ruel sebelum melangkah pergi.
Melangkah penuh semangat menghampiri motornya yang sudah terparkir di sana. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang kini berdiri menghalanginya.
"Ruel."
"Astaga, kau mengejutkanku. Ada apa?" tanya Ruel kembali turun dari motornya.
"Aku butuh bantuanmu segera."
"Tidak sekarang, Ken."
"Ayolah, aku benar-benar membutuhkanmu sekarang ...."
"Pelankan suaramu, sialan. Dan pergilah, aku benar-benar tak bisa membantumu sekarang. Bagaimana jika lain waktu saja, okay?" balas Ruel membungkam mulut Ken menggunakan telapak tangannya, takut jika Eden sampai mendengar percakapan mereka.
"Tapi aku tak bisa menunggu lama."
"Ruel. Kau akan mendapatkan imbalan yang setimpal jika berhasil, aku akan pastikan itu."
Ruel mengusap wajahnya kasar. Mengapa pekerjaan harus datang di saat yang tidak tepat. Meski ia masih memiliki waktu satu jam untuk ke perpustakaan. Namun, ia tak ingin membuat Sea menunggunya lama. Tapi ia juga tak bisa menolak Ken, yang benar-benar membutuhkan bantuannya, selain itu ia juga akan mendapatkan imbalan berupa uang jika kali ini ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan benar.
"Baiklah, apa yang harus aku lakukan?"
"Meminta uang kepada seseorang."
"Lagi?"
"Ya."
"Ah, kau tahu sendiri jika aku sangat tak menyukai pekerjaan ini. Kenapa tak meminta orang lain saja yang melakukannya?"
"Aku percaya padamu. Aku rasa hanya kau yang bisa melakukannya tanpa menyebabkan masalah lain, termasuk polisi."
Ruel kembali alihkan pandangan ke arah pintu rumahnya. Ia selalu was-was jika mendengar kata 'polisi' sebab biar bagaimana pun, kakaknya berprofesi sebagai seorang polisi, meski ia selalu melakukan sesuatu yang selalu melibatkan polisi. Tapi selama ia bisa melakukannya dengan baik, ia mungkin tak akan terlibat, atau sampai tertangkap oleh kakaknya sendiri, terlebih oleh Vincent yang sudah lama menargetkan dirinya atas banyak kasus seperti perkelahian, dan balap liar dengan sejumlah uang sebagai taruhan.
"Bagaimana?"
"Aku harus menemui seseorang, Ken."
__ADS_1
"Pekerjaan ini tak akan membutuhkan waktu lama. Kita akan pergi bersama, kau hanya perlu memintanya dengan caramu sendiri, seperti biasa. Bagaimana?"
Ruel kembali melihat jam yang melingkar di lengannya. Ia masih memiliki waktu sekitar satu jam.
"Baiklah, di mana?"
"Kau bisa mengikutiku dengan motormu," balas Ken melangkah menuju mobilnya yang langsung bergerak pergi, menyusul motor Ruel yang mengikuti, bersamaan dengan Eden yang terlihat keluar dari rumah mereka, menuju mobilnya dan meninggalkan halaman rumahnya menuju arah yang berbeda.
Hingga tiga puluh menit berlalu, ketika mobil Ken berhenti di sebuah bangunan tua yang terletak di pinggiran kota. Nampak kumuh, hingga seseorang yang melihatnya tak akan mengira jika bangunan tertsebut masih memiliki penghuni.
"Di sini?" tanya Ruel turun dari motornya dengan buku yang masih di bawahnya.
"Ya."
"Kau yakin?"
"Sangat yakin, aku tak mungkin salah. Kita masuk saja sekarang."
"Baiklah, aku juga tak bisa lama," balas Ruel mengikuti langkah Ken masuk kedalam bangunan tua tersebut.
Dan siapa sangka jika bangunan yang terlihat kumuh dari luar adalah sebuah bangunan yang sangat bagus di dalamnya. Sebuah ruangan yang terlihat seperti Bar lengkap dengan berbagai macam minuman beralkohol di dalamnya, juga beberapa orang pengunjung juga para pelayan wanita dengan pakaian minim yang langsung menghampiri mereka.
Ruel yang memilih menunggu untuk melakukan pekerjaannya, hanya diam dan tak ingin banyak berbasa-basi dengan seorang pelayan yang kini berbiacara dengan Ken. Hingga di menit kemudian ketika ia mendapatkan kode dari Ken yang meminta untuk mengikutinya masuk kedalam satu ruangan yang terpisah.
"Orang seperti apa kali ini?" tanya Ruel masih berjalan mengikuti langkah Ken.
"Hanya orang biasa yang memiliki mulut besar dengan segala keangkuhan juga kebohongan. Ia bahkan mengatakan jika tak memiliki uang untuk membayar semua utang kepada Ayah. Namun, ia bisa terus menghabiskan uang di meja judi dan masuk di tempat ini yang bahkan membutuhkan uang banyak agar bisa bersenang-senang dengan banyak wanita ****** di dalamnya," jawab Ken, berhenti di depan pintu.
"Di sini?"
"Ya. Kau bisa masuk, dan hanya perlu menyebut namaku saja, aku akan menunggu di sini untuk berjaga-jaga," angguk Ken.
"Kau tak menyuruhku untuk menghabisi mereka, kan?"
"Yang benar saja. Kau pikir aku tak waras? Kau bahkan masih bersekolah."
"Baiklah, tetap di sini. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat. Dan satu hal penting."
"Aku akan melenyapkan CCTV, aku sudah tahu itu."
Ruel yang tak memiliki banyak waktu, langsung masuk kedalam ruangan tersebut, berharap bisa menyelesaikan semuanya dengan cara baik-baik tanpa ada perkelahian.
"Ah, kenapa tempat ini sangat brisik," keluh Ruel mengusap telinganya.
Berdiri di tengah rungan yang memiliki pencahayaan remang, dengan sebuah layar tv led berukuran besar, dan seorang wanita yang sedang bernyanyi untuk menghibur semua penghuni ruangan di sana. Meski demikian, fokus Ruel hanya tertujuh kepada seorang pria yang tengah duduk di sebuah sofa panjang dengan di apit beberapa wanita cantik sambil menikmati minuman beralkohol dan rokok dengan campuran ganja yang asapnya membuat kepala Ruel seketika pening saat tak sengaja menghirupnya.
Sialan. Aku tak bisa berlama-lama di sini.
__ADS_1
***