ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Diam-diam memikirkanmu


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Sebuah motor sport terparkir di parkiran sekolah, dan sang pemilik yang terlihat turun dari sana, lengkap dengan seragam sekolah di balik hoodie. Membuka helm dan menggantinya dengan topi untuk menutupi kepala dan separuh wajahnya. Berjalan dengan santai di antara siswa lain dengan permen tangkai di mulutnya pengganti rokok.


"Selamat pagi, Ruel. Haruskan kita duduk bersama di jam pertama?" sapa salah satu siswi, melangkah menjejeri langkah Ruel.


"Haruskah?"


"Bukan ide yang buruk, kan?"


"Terdengar menyenangkan, tapi sayang." Ruel mendekatkan wajah kepada sang gadis yang masih berdiri menunggu. "Aku tak begitu menyukai guru mata pelajaran matematika," bisiknya.


"Ah, mengapa itu terdengar seperti penolakan. Bahkan tak ada yang pernah menolakku sebelumnya. Apa kau akan membolos lagi?"


"Tidak. Aku hanya akan beristirahat sebentar."


"Kau bisa beristirahat di dalam kelas, kan?"


"Ide bagus," balas Ruel melanjutkan langkahnya. 


Namun, tak terlihat masuk ke dalam kelas seperti beberapa siswa lain yang sepertinya sekelas dengannya, tapi terus berjalan menaiki anak tangga abaikan panggilan sang gadis, melewati lantai dua sekolah menuju lantai atas, tepatnya di atap sekolah yang di sana terdapat deretan bangku yang sudah tersusun rapi.


"Cuaca yang indah."


Ruel merebahkan tubuhnya di atas bangku, dengan kedua lengan yang ia jadikan bantal usai memakai sebuah kaca mata hitam untuk menghalau silaunya sinar matahari pagi. Nikmati angin sejuk dan hangatnya mentari pagi, di temani headpone yang selalu menempel di telinganya, menolak suara-suara lain yang di rasa begitu berisik hingga penuhi pikirannya, dan lebih memilih mendengar musik favorit yang lekas membawanya dalam mimpi indah.


Dan lagi-lagi sang penghuni mimpi Ruel kembali hadir. Wajah cantik bermata indah yang akhir-akhir ini selalu menghiasi mimpinya. Seseorang yang tak lain adalah Sea, gadis yang tak sengaja ia tabrak malam itu, dan meski waktu sudah sebulan berlalu. Namun, sedikit pun Ruel masih belum bisa melupakan moment itu, terlebih Sea. 


Bahkan karena penasaran, Ruel selalu menghabiskan waktu luangnya untuk mencari keberadaan Sea, meski sampai sekarang ia masih belum mendapatkan informasi tentang keberadaan Sea. Dan salah satu hal konyol yang sering ia lakukan adalah dengan berdiri di depan jalan tepat di mana ia menabrak Sea malam itu, hingga menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu, sampai mengurangi aktifitas balap liarnya dan kejar-kejaran dengan polisi karena terus menunggu kehadiran Sea.


Siapa kamu, dan di mana kamu sebenarnya? Kenapa aku tak bisa menemukanmu di mana pun.


"Membolos lagi?" tanya seseorang yang bahkan tanpa melihat siapa, Ruel sudah bisa menebak sang pemilik suara yang kini menghalau sinar matahari pagi yang sejak tadi menyapa wajahnya.


"Aku tak menyukai pelajaran di jam pertama. Kau tahu itu."


"Bocah sialan! Bisakah kau masuk saja meski hanya sekali? Kau tak perlu berfikir banyak dan memaksakan otakmu bekerja, cukup tidur saja di kursimu dengan tenang."


"Berhenti menceramaiku, Jeane. Aku mengantuk dan ingin tidur. Pergilah."


"Lihatlah bocah brengsek ini. Apa kau tak akan bangun?"


"Tidak."


"Kau yakin?"


"Ya."


Jeane mengambil headpone yang sejak tadi menempel di telinga Ruel.


"Berhenti menggangguku. Aku peringati kau," ancam Ruel yang masih memejam bahkan semakin menyamankan posisi tidur.


"Masih tak mau bangun?"


"Pergilah."


"Baiklah," balas Jeane mengambil ponsel dari saku seragamnya dan terlihat menghubungi seseorang, hingga beberapa detik kemudian.


"Kak Eden?"


"Hei sialan!" umpat Ruel yang langsung beranjak dari tidurnya dengan senyum lebar Jeane yang menyambut. "Apa yang kau lakukan?"


"Tentu saja menghubungi Kak Eden."


"Kau gila?"

__ADS_1


"Aku hanya mencoba membuatmu waras."


"Oh, sialan. Gadis ini ... kau sudah bosan hidup?"


"Kau berhasil?" tanya Gray yang sudah berdiri di sana dengan kedua tangan di dalam saku celana seragamnya. Terlihat puas melihat Ruel yang akhirnya bangun dari tidurnya setelah mendapatkan ancaman yang konyol dari Jeane.


"Tentu saja, kau tak lihat? Ruel terlihat bersemangat untuk masuk kelas pagi ini."


"Ah, kalian benar-benar membuatku gila. Haruskah aku melenyapkan kalian?" umpat Ruel kesal, melihat tingkah keduanya yang benar-benar mengganggu paginya.


"Tidur saja di kelas dan berhenti mengumpat, sialan!" balas Jeane menepuk belakang kepala Ruel. Bahkan hanya diam saja saat Jeane menarik tangannya paksa dan menggandengnya berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Kau nampak kelelahan, Ruel. Apa kau tak tidur semalam?" tanya Gray menjejeri langkah mereka.


"Tidak sedikit pun, Kak Eden terus mengomeliku sepanjang malam dan membuat kepalaku nyaris meledak. Dan kau, berhenti mengancamku dengan terus menghubungi Kak Eden."


"Sorry, tapi aku tak punya pilihan lain untuk membuatmu jadi penurut. Lagi pula sering-sering menghubungi Kak Eden adalah hal yang penting, selain dia bisa mengontrolmu aku juga bisa semakin dekat dengannya, mungkin Kak Eden bisa mempertimbangkanku untuk menjadi kekasihnya."


"Berhenti membuatku muak, Jeane."


"Hei?! Wajahku tak jelek, hampir semua siswa di sekolah ini menyukai bahkan mengidolaiku, apa masalahmu?"


"Kak Eden tak menyukai gadis ingusan sepertimu."


"I-ingusan? Kau bercanda? Aku sudah dewasa, kau tak melihatnya?"


Jeane berdiri di hadapan Ruel dan Gray, pamerkan tubuh tinggi semampainya, kibaskan rambut hitam panjangnya hingga mengeluarkan aroma manis shampo, juga mengedipkan matanya dengan pupil kecoklatan yang indah, juga senyum yang memang terlihat sangat manis dan menawan. Dan beberapa poin penting, selain memiliki wajah cantik, Jeane juga memiliki otak yang cerdas dan berasal dari keluarga berada, berbeda dengan Ruel dan Gray.


"Kau terlihat sempurnah," puji Gray mengamati.


"Lihat, kan? Bahkan Gray mengakui itu."


"Apa kau tak sadar jika Gray hanya sedang menghiburmu?"


"Ah, kau benar-benar sialan, aku akan membunuhmu ...."


"Bangunkan aku jika pelajaran berakhir," balas Ruel yang kembali memakai headpone-nya, tutupi kepala dengan tudung hoodie-nya.


"Tidurlah dengan tenang."


Jeane menarik kedua tali tudung hoodie Ruel dengan kuat hingga membuat wajahnya tertutup sempurna, tak membalas ataupun protes. Ruel bahkan langsung menyandarkan kepala di atas kedua lengan yang ia lipat di atas meja dan mulai tidur.


Sedang di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah studio musik.


"Hai, Sea? Oh Tuhan, dari mana saja kamu?" sapa seseorang menyambut kedatangan Sea di studionya, bahkan langsung memeluk tubuh gadis itu erat, terlihat jelas sangat merindukannya.


"I am so sorry, akhir-akhir ini aku merasa kurang baik, aku butuh istirahat di rumah."


"Kau sakit?"


"Tidak, Anna. Aku hanya sedikit kelelahan."


"Aku mengkhawatirkanmu, aku pikir kau kembali di rawat di rumah sakit."


"Tidak, aku baik-baik saja, Anna. Maaf, sudah membuatmu khawatir."


"Oh, syukurlah. Aku lega, kau sudah kembali. Apa kau tahu, jika anak-anak sudah menunggumu, mereka terlihat sedih selama beberapa minggu ini."


"Aku sungguh minta maaf, aku berjanji akan mengisi semua jadwal untuk mengajari mereka."


"Anak-anak pasti sangat bahagia mendengarnya. Tapi, Sea."


"Ya. Ada apa?"


"Emm, berhubung anak-anak sedang libur dalam waktu satu minggu ini, dan aku yang harus menyelesaikan persentasiku di kampus, bisakah aku meminta bantuanmu?"

__ADS_1


"Bantuan?"


"Hmm."


"Tentu saja, Anna. Katakan padaku, apa yang bisa aku bantu untukmu?"


Anna meraih tangan Sea untuk duduk di kursi bersamanya.


"Apa kau tak keberatan untuk menggantikanku mengajar piano di satu tempat?"


"Mengajar?"


"Ya. Hanya sebulan, kau juga tak perlu masuk setiap hari. Sebab jadwal hanya tiga kali seminggu, bagaimana?"


Sea terdiam nampak berfikir, ia rasa itu adalah tawaran yang cukup bagus untuknya, selain ia bisa melihat suasana baru, ia juga tak akan suntuk selama musim panas di rumah. Dan tak hanya rumah, rumah sakit, dan studio saja yang akan ia lihat selama satu bulan ini.


"Setuju."


"Kau serius?"


"Hmm, itu tawaran yang menarik. Aku menyukainya."


"Tapi, bagaimana dengan kondisimu? Apa kau akan baik-baik saja?"


"Hmm, kau tak perlu khawatir. Hanya ada tiga jam dalam waktu tiga hari, kan?"


"Ya. Tiga jam," angguk Anna menggenggam telapak tangan Sea yang bahkan terlihat bersemangat.


"Ngomong-ngomong, ada yang ingin aku tanyakan padamu," balas Sea terlihat serius.


"Terdengar serius."


"Tidak juga, aku hanya sedikit penasaran. Akhir-akhir ini jantungku sering berdebar meski tak melakukan apa pun, sungguh aneh."


"Maksudnya?"


"Apa, jantung bisa bedebar kencang meski hanya mengingat seseorang?"


"Seseorang?"


"Hmm."


"Pria?"


"Ya."


"Siapa?"


"Entahlah, aku tak mengenalnya. Bakan hanya sekali bertemu dengannya, tapi ... saat aku kembali mengingat moment itu, jantungku tiba-tiba berdebar cukup kencang. Entah apa yang salah denganku."


Anna tersenyum, pandangi Sea dengan wajah polosnya.


"Ada apa? Apa itu terdengar lucu?"


"Tidak, Sea. Aku rasa kau tertarik dengan seseorang itu."


"Mustahil, aku bahkan masih kesal padanya karena ...."


Kalimat Sea tertahan di tenggorokan, enggan menceritakan kepada Anna kejadian malam itu. Selain tak ingin orang lain mengetahuinya, ia juga tak ingin Anna khawatir padanya.


"Aku rasa itu hal yang wajar, Sea."


"Apanya?"


"Apa kau pernah mendengar tentang jatuh cinta kepada pandangan pertama?"

__ADS_1


***


__ADS_2