
"Apa yang sudah terjadi denganmu?" tanya Sea tak mampu menyembuyikan kekhawatiran. Bahkan langsung bergegas mengambil tas dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sana untuk mengobati luka Ruel.
"Aku tidak apa-apa."
"Kau terluka."
"Ini hanya luka kecil."
"Luka tetaplah luka yang harus di obati, separah apa pun itu."
"Tapi ...."
"Diamlah. Biarkan aku mengobati lukamu," potong Sea yang membuat Ruel langsung terdiam dan tak berani mengatakan apa pun lagi.
Berusaha menahan perih saat salep dari telunjuk Sea menempel di permukaan lukanya yang sudah di bersihkan.
"Apa ini menyakitkan?" tanya Sea.
"Hmm."
Sea meniup luka Ruel pelan, bersamaan dengan dada Ruel yang terasa akan meledak saat itu juga, terlebih ketika wajah Sea cukup dekat dengan wajahnya. Ia bahkan bisa merasakan nafas gadis itu, mengirup aroma manis dari tubuhnya.
"A-aku baik-baik saja."
"Sungguh?"
"Ya. Aku sudah biasa mendapatkan luka seperti ini, jadi ...."
"Apa kau senang melihat orang mengkhawatirkanmu?"
Ruel terdiam tak menjawab.
"Meskipun ini hanya luka kecil seperti apa yang kau katakan. Namun, akan ada orang yang sangat khawatir jika melihatmu terluka," sambung Sea menutupi luka Ruel dengan plaster.
"Aku ... minta maaf."
"Untuk apa?"
"Karena sudah membuatmu khawatir."
Sea menarik nafas kuat dan dalam sambil merapikan beberapa obat dan plaster untuk kembali di masukan kedalam kotak. Sangat banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Ruel saat ini. Namun, berusaha di tahannya, meski rasa cemas kembali mengganggu pikirannya dan mulai bertanya-tanya, apa Ruel terlibat dengan Vincent lagi? Masalah apa lagi yang di buat Ruel kali ini hingga ia sampai mendapatkan luka. Sebenarnya apa yang sering di lakukan Ruel di luar sana, sampai tak begitu perduli dengan dirinya sendiri.
"Maka jangan sampai terluka lagi."
"Apa, kau benar-benar mengkhawatirkanku?"
"Menurutmu? Apa aku terlihat senang melihatmu terluka?"
Ruel kembali tersenyum dengan jantung yang berdebar kencang. Ia sangat menyukai ekspresi Sea yang terlihat khawatir karena dirinya.
"Aku sungguh tak keberatan jika harus terluka lagi."
Sea menatap Ruel dengan alis mengernyit.
"Apa itu menyenangkan?"
"Tidak. Aku hanya bahagia jika kau terus mengkhawatirkanku seperti ini."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin terus di perhatikan olehmu, kau terlihat sangat perduli padaku."
"Tapi, kau tak harus terluka jika ingin mendapatkan perhatian dariku, karena aku tak suka melihatmu terluka."
Ruel kembali terdiam hingga beberapa detik.
"Kak Sea."
"Ya. Apa masih terasa sakit?"
"Aku berbohong tentang satu hal padamu."
"Apa?"
"Aku bohong jika mengatakan sangat senang jika kau mengkhawatirkanku. Sejujurnya aku tak ingin kau menghawatirkan dan perduli padaku."
"Kenapa?"
"Karena itu akan membuatku jadi salah paham padamu."
"Apa?"
Semua perhatian dan rasa perdulimu membuatku jadi berfikir jika kau juga merasakan hal yang sama denganku.
"T-tidak apa-apa," geleng Ruel dengan cepat. Merasa kesulitan mengontrol perasaannya sendiri hingga nyaris mengungkapkan isi hati yang ia rasa belum waktunya.
"Sebaiknya kita mulai belajar sekarang."
"Baiklah," angguk Ruel terlihat antusias. Hingga melupakam perih di lukanya.
"Kau tak perlu menghafal semua rumus, cukup pahami dengan seksama. Karena jika kau menerapkan metode menghafal rumus, bisa jadi akan menguap begitu saja. Tak akan bertahan lama dalam ingatan, karena ada puluhan bahkan ratusan rumus matematika."
"Ah, sungguh rumit. Kepalaku mulai pening," keluh Ruel saat melihat banyak rumus yang di berikan oleh Sea yang hanya tersenyum sebelum mulai menjelaskannya dengan perlahan.
"Kita bisa mulai dengan rumus kecepatan, jarak dan waktu. Rumus matematika yang sering di gunakan dan sebagai contoh ketika kita mengendarai sepeda motor dari suatu tempat ke tempat lain, kita harus memperhitungkan berapa kecepatan sepeda motor yang kita kendarai agar tidak terlambat. Contoh, V sama dengan S per T. V adalah kecepatan atau km per jam, dan S adalah jarak atau km, sedang T adalah waktu atau jam," jelas Sea dengan serius.
Ruel menopang kepala di atas meja sambil terus menatap Sea tak berkedip, tak mendengar apa yang di jelaskan Sea, melainkan menikmati wajah Sea yang terlihat jauh lebih cantik ketika sedang serius.
"Apa kau mendengarku, Ruel?" tanya Sea saat dapati Ruel yang terus menatapnya.
"Hah?!"
"Fokuslah."
"Ah, aku sudah mencobanya."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku merasa kesulitan, karena fokusku terbagi. Aku gugup karenamu."
Sea menyentil dahi Ruel.
"Berusahalah untuk fokus, bukankah sebentar lagi kau akan mengadapi ujian? Bagaimana jika kau tak bisa mengerjakan soal ujianmu dengan benar?"
"Aku hanya menyerah di pelajaran matematika, tapi cukup pandai di pelajaran lainnya."
"Begitukah?"
"Hmm, kau bisa melihatnya sendiri."
"Senang mendengarnya. Kau pria yang luar biasa," puji Sea mengusap kepala Ruel lembut dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Bersamaan dengan kenangan masalalu yang hadir secara tiba-tiba di ingatan Ruel, di mana mendiang sang Ibu selalu melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Sea sekarang. Mengusap kepalanya dengan senyum dan penuh kasih sayang. Bakan hanya itu yang tertinggal di ingatan Ruel tentang mendiang ibunya.
"Apa itu satu pujian untukku?"
"Anggap saja demikian."
"Maka usap kepalaku sekali lagi," pinta Ruel yang bahkan sudah memasang kepalanya.
Sea tertawa ringan.
"Baiklah, kau sudah bekerja keras, berusalah di ujian kelulusanmu kali ini," ucap Sea kembali mengusap kepala Ruel.
"Kau mengingatkanku pada ibuku."
"Benarkah?"
"Hmm, Ibu juga selalu melakukan hal yang sama, mengusap kepalaku jika aku melakukan sesuatu hal yang terpuji."
"Seperti ini?" tanya Sea kembali mengusap kepala Ruel lembut.
"Hmm, kau memiliki tangan yang hangat sepertinya."
"Sungguh? Aku jadi penasaran, sangat ingin bertemu dengan wanita yang bisa membuat kedua matamu bersinar seperti bintang saat membicarakannya."
"Ibu sudah tak ada, begitu juga dengan Ayah. Mereka meninggalkanku sejak aku masih berusia tujuh tahun. Sayang sekali, kau tak bisa bertemu dengan mereka."
Sea terdiam dengan perasaan sedih. Tak pernah tahu jika Ruel ternyata tumbuh dewasa tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Apa itu penyebab Ruel tumbuh menjadi anak yang cukup liar, pembuat masalah, bertingkah sesuka hati dan tak perduli dengan sekitarnya.
"Tapi aku baik-baik saja. Aku memiliki seorang Kakak yang bisa memberiku kasih sayang sama seperti mereka."
"Dia pasti seorang yang luar biasa," angguk Sea yang kembali mengusap kepala Ruel.
"Ini sangat nyaman," balas Ruel sandarkan kepala di atas meja, sambil memejam.
"Apa kau menyukainya?"
"Hmm, sangat menyukainya."
"Maka aku akan terus melakukannya untukmu."
"Tentu, selama kau mau berjanji padaku. Akan menjadi anak yang baik dan tak membiarkan tubuhmu terluka lagi seperti ini," balas Sea menyentuh pelipis Ruel yang terbungkus plester, dan mengusapnya dengan perlahan. "Ini pasti menyakitkan."
"Aku berjanji," angguk Ruel, meraih telapak tangan Sea dengan perlahan untuk di genggamnya erat.
"Kak Sea."
"Ya?"
"Aku merasa jika sudah jatuh cinta padamu."
Sea terdiam untuk sesaat, menatap Ruel dalam.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan perasaanmu dengan begitu cepat?"
"Rasa ini tak datang tiba-tiba, sudah cukup lama sejak aku melihatmu pertama kali."
"Rasa ketertarikan dan suka, apa kau benar-benar yakin jika itu yang kau rasakan sekarang?"
"Kau membuatku jatuh cinta pada kehangatanmu. Aku tidak tahu apa itu cinta, aku hanya tahu bahwa ketika aku bersamamu aku bisa merasakan kebahagiaan," balas Ruel yang semakin mempererat genggaman tangannya. "Aku ingin terus menggenggam tanganmu seperti ini dan tidak ingin melepaskannya. Sesederhana itu."
Sea terdiam dengan kebahagiaan yang membuat jantungnya berdebar dua kali lipat dari biasanya.
"Mendengarmu berbicara membuatku sangat tersentuh. Tapi aku tidak tahu apakah persaanku untukmu adalah cinta atau kelemahan hati. Ruel ...."
"Selama kau memberiku kesempatan untuk mengejarmu. Aku pasti akan membuatmu mencintaiku."
"Kau memiliki begitu banyak kepercayaan pada diri sendiri."
"Karena aku adalah pilihan terbaikmu."
Lagi-lagi Sea hanya terdiam. Tak pernah menyangkah jika seorang anak remaja urakan dengan segala kenakalan mampu memporak-porandakan hatinya. Ini adalah pengakuan kedua yang ia dengar dari pria yang berbeda. Mengapa ia tak sebahagia ini saat Dex mengungkapkan perasaan padanya.
"Apa kita bisa melanjutkan belajarnya?"
"Emm, bagaimana jika makan siang dulu."
"Makan? Kau lapar?"
"Hmm, aku cukup lapar," angguk Ruel mengusap perut sambil tersenyum dengan lebar.
Hingga membuat Sea benar-benar yakin jika Ruel memanglah seorang anak remaja dengan sikap manja layaknya anak remaja pada umumnya. Meski ada sisi lain dari Ruel yang menujukkan kebengisan yang cukup menakutkan yang tak di ketahui banyak orang termasuk Sea.
"Baiklah, sebaiknya kita makan dulu," balas Sea beranjak dari duduknya saat Ruel merapikan beberapa buku di atas meja sebelum menjejeri langkahnya.
Berjalan mundur di hadapan Sea yang hanya tersenyum, entah sudah berapa banyak ia tersenyum karena tingkah Ruel.
"Perhatikan langkahmu."
"Hmm," angguk Ruel kembali melangkah di sisi Sea yang berjalan pelan dengan kedua tangan di balik punggungnya.
__ADS_1
"Apa kau ingin memakan sesuatu?"
"Bagaimana dengan hotdog?"
"Tidak buruk."
"Kau menyukainya?"
"Hmm, itu cukup lezat," angguk Sea.
Hingga langkah kaki mereka terhenti tepat di depan pintu perpustakaan ketika hujan tiba-tiba turun.
"Ah, aku pikir hujan tidak akan turun hari ini."
"Apa kau tak melihat prakiraan cuaca hari ini?"
"Aku melihatnya, tapi aku pikir hujan akan turun di malam hari," balas Ruel amati hujan yang turun cukup deras sebelum alihkan pandangannya ke arah Sea yang tengah berdiri, membiarkan air hujan penuhi telapak tangannya.
Sudah sangat lama ia ingin bermain dengan hujan sambil berlari di antara hujan. Sejak tahu jika ia mengidap kelainan jantung, ia tak pernah lagi menyentuh air hujan, tak pernah tahu bagaimana rasanya berada di antara hujan dan menghirup aroma tanah yang khas saat hujan menyiraminya.
"Kau terlihat menyukai hujan."
"Hmm, aku menyukainya."
"Benarkah?"
Sea mengangguk tanpa menjawab.
"Lalu, selain hujan apa lagi yang kau sukai?"
"Awal musim panas di malam hari."
"Aku juga menyukainya."
Sea menatap Ruel dengan senyum di wajahnya sebelum kembali alihkan pandangan ke arah langit yang masih terlihat cerah meski hujan sedang turun. Sungguh pemandangan menakjubkan yang jarang ia lihat.
"Apa pelangi akan terlihat jika hujannya mereda?"
"Mungkin saja, kita bisa menunggunya."
Sea kembali tersenyum, jika saja itu terjadi. Ia bisa melihat pelangi secara langsung.
"Ah, apa kita akan terjebak di sini? Sepertinya kali ini hujannya akan turun cukup lama," keluh Ruel.
"Kita bisa terus berjalan, tak masalah jika terkena air hujan."
"Tidak, kau bisa sakit. Tunggu sebentar, aku akan mencari sesuatu yang bisa kita gunakan agar terhindar dari air hujan," balas Ruel terlihat masuk kedalam. Dan kembali setelah beberapa menit kemudian dengan dua plastik hitam di tangannya.
"Aku menemukannya."
"Ini, untuk apa?" tanya Sea menatap dua kantung palstik di tangan Ruel.
"Untuk melindungi kepalamu agar tak terkena air hujan."
"A-apa? Apa kau tak menemukan payung, atau ...."
"Ini cukup bagus," potong Ruel melepaskan topi yang ia kenakan dan langsung memakaikannya ke kepala Sea, dan melindungi kepalanya sendiri dengan sebuah kantung pelastik. "Bagaimana? Kita bisa pergi sekarang?"
Sea yang melihat bahkan tak bisa menahan tawa. Mengapa Ruel begitu konyol, bahkan selalu memiliki ide aneh yang membuatnya tertawa.
"Ayolah, ini cukup bagus."
"Yah, yah. Itu cocok denganmu," angguk Sea yang masih tertawa.
"Bagaimana jika kau memakainya juga?"
"A-apa?"
"Pakai ini, agar kepalamu tetap kering," balas Ruel yang tanpa aba-aba langsung memakaikan kantung plastik di kepala Sea yang bahkan hanya pasrah.
"Ini tak buruk."
"Aku bilang juga apa. Ayo, kita bisa pergi sekarang," balas Ruel yang langsung menggenggam telapak tangan Sea, sedikit berlari di antara hujan sambil tertawa penuh bahagia.
Ruel benar-benar menciptakan banyak kenangan untuknya hari ini, mengabulkan keinginannya yang sederhana, dan membuatnya bisa tertawa lepas, meski mulai merasa sesak nafas karena berlari, terlebih saat air hujan yang membuat tubuhnya mulai menggigil kedinginan.
"Kita bisa duduk di halte itu untuk menunggu bus," ucap Ruel menuju halte bus.
"Kita akan naik bus?" tanya Sea yang tak pernah merasakan naik bus sekalipun.
"Hmm, Charlos tak mengantarmu, kan?"
"Tidak."
"Baguslah, kita bisa naik bus, dan aku akan mengantarmu dengan motorku untuk pulang ke rumah."
"Motor?"
"Ya."
"Tapi ... aku tak pernah naik motor sekalipun."
"Sungguh?"
"Ya."
"Wuah, itu artinya aku yang pertama kali mengajakmu naik motor?"
"Ya," angguk Sea yang jadi terlihat begitu polos hingga membuat Ruel tertawa.
"Baiklah, kita akan ...."
Kalimat Ruel menggantung saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka, bersamaan dengan seorang pria yang keluar dari sana dengan payung hitamnya. Melangkah hampiri keduanya.
"Kak Dex?"
__ADS_1
***