
"Aku rasa ada sesuatu di sana," balas Vincent menyingkirkan beberapa balok dengan kakinya.
Ruel memejam erat, menahan nafas. Merasa jika tamatlah riwayatnya kali ini. Begitu juga dengan sang gadis yang semakin erat mencengkram ujung jaket Ruel. Memberanikan diri untuk membuka mata dan menatap wajah pria asing yang kini memeluknya erat. Memberikan isyarat agar ia tetap diam, dengan alias mengernyit yang terlihat tebal natural di bawah naungan mata galaksi yang terlihat begitu indah.
Sang gadis kembali memejam, merasa jika tatapan mata pria asing di hadapannya bisa menusuk jantungnya. Ia bahkan lebih memilih untuk sandarkan kepala di dada bidang itu, cukup rapat hingga ia bisa mendengarkan debaran jantung sang pria yang berpacu cukup kencang.
Suara yang indah.
"Tak ada siapa pun di sana, selain tumpukan balok dan drom kosong," ucap Eden kembali amati sekeliling.
Sedang Vincent masih berdiri di sana, dengan tatapan tajam amati gang sempit di hadapannya, merasa ada yang janggal.
"Tapi, aku rasa ...."
"Ayolah. Ada banyak brandal lainnya yang masih berkeliaran di sana. Mereka ketinggalan kendaraan masing-masing."
"Ahk sial! Si brengsek itu. Lagi-lagi bisa meloloskan diri."
"Kau akan mendapatkannya, Vincent," balas Eden berjalan meninggalkan tempat tersebut, menyusul Vincent.
Hufh.
Ruel menarik nafas dalam, sebelum mengeluarkannya dengan perlahan, saat langkah kaki kedua petugas itu terdengar meninggalkan tempat tersebut.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya sang gadis yang masih dengan posisinya.
Ruel menatap wajah sang gadis di dalam pelukannya. Wajah dengan ciri khas oriental berpadu dengan mata almond berwarna hijau kecoklatan bak puteri dongeng, terlihat begitu menawan dengan pandangan tajam sisipkan kesan anggun. Lengkap dengan lekukan feminin proposional yang gadis itu miliki.
"Ya." angguk Ruel masih menatap.
"Ah, syukurlah."
Sang gadis mendorong tubuh Ruel hingga kembali membentur tembok di hadapan mereka.
"Akh," erang Ruel mengusap bahunya yang terbentur tembok.
"Seharusnya kau tak menyeretku dalam masalahmu, bocah," decak gadis itu pegangi dadanya yang masih terasa sesak.
"Bocah?"
"Setidaknya lepaskan dulu seragam sekolahmu jika ingin berbuat onar."
Ruel ikut menatap seragam sekolah dari balik hoodie yang masih di pakainya.
Oh sial!
"Maafkan aku."
Sang gadis hanya terdiam, dengan satu tarikan nafas panjang sebelum mengeluarknnya dengan perlahan. Ia benar-benar kewalahan saat ini, butuh menenangkan diri dengan beristirahat sebentar.
"Kau marah?"
"Sungguh pertanyaan bodoh."
"Maaf."
"Seharusnya aku sudah di rumah sejak satu jam lalu, ini sudah cukup larut. Semoga kau beruntung dan tak di temukan lagi oleh mereka," balas sang gadis yang langsung beranjak pergi.
"Tunggu!"
Ruel melangkah hendak mengejar. Namun, di urungkan saat kembali melihat mobil petugas yang di kendarai Vincent melintasi jalan di sana. Hingga ia hanya mengamati sang gadis yang terus berjalan menyebrangi jalan bersamaan dengan taksi yang berhenti di sana, dan si gadis yang menghilang dari hadapannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Akh sialan! Kau mengejutkanku, brengsek!" umpat Ruel tersentak, pegangi dadanya yang berdebar kencang karena terkejut saat Gray pegangi bahunya secara tiba-tiba.
"Aku mencarimu kemana-mana, kenapa bisa sampai ke sini?"
Gray sandarkan tubuh di tembok, berikan sebungkus rokok kepada Ruel yang tengah duduk berjongkok, sambil mengatur perasaannya. Mengambil sebatang rokok juga pemantik untuk di sulutnya sebelum mengisap rokok itu dalam, bersamaan dengan asap yang mengepul keluar dari mulut dan hidungnya.
"Aku nyaris saja tertangkap."
__ADS_1
"Lalu?"
"Sepertinya aku sedang beruntung malam ini."
Karena gadis itu, mungkin.
Ruel kembali menghisap rokoknya.
"Anggap saja begitu."
"Si Vincent sialan itu. Mengapa begitu membenciku. Ia terlihat sangat ingin menguliti dan menelanku hidup-hidup."
"Apa kau pikir semua petugas dan opsir di kota ini akan merasa baik-baik saja melihat ulah kita? Mereka sudah cukup geram, aku rasa."
"Akan sangat menyenangkan jika bisa mengerjai mereka."
"Baiklah, lakukan sesukamu."
Ruel beranjak dari duduknya, membuang puntung rokok dan menginjaknya sebelum melangkah pergi setelah ia rasa sudah cukup aman.
"Kau akan pulang sekarang."
Gray mengikuti langkah kaki Ruel penuh was-was. Sambil amati sekeliling.
"Hmm."
"Bagaimana dengan motor milik Ken?"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kita tinggalkan saja dari pada harus berakhir di dalam sel? Aku mengikuti perkataanmu. Dan kita kehilangan motor sekarang."
"Maksudnya?"
"Aku rasa si Vincent sialan itu sudah mengangkut semua dan membuangnya ke laut."
"Oh ****!"
"Berhenti mengumpat dan jalan saja, sebelum kita ketinggalan bus terakhir," balas Ruel mamakai tudung hoodie untuk menutupi kepalanya sebelum berlari ke arah halte saat sebuah bus berhenti di sana untuk menurunkan penumpang.
"Memikirkan sesuatu?" tanya Gray buyarkan lamunan Ruel yang kembali menarik nafas dalam dan melepaskannya dengan perlahan, kembali menarik tudung hoodie-nya kedepan hingga nyaris menutupi seluruh wajahnya sebelum senderkan kepala di sandaran kursi.
"Bukan apa-apa."
"Kau berbohong."
Ruel masih terdiam, amati gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan cahaya yang menghiasi mereka, selalu terlihat luar biasa di matanya. Ia bahkan selalu barharap akan berada di antara gedung tinggi di sana, mungkin itu akan sangat menyenangkan.
"Aku hanya sedang memikirkan seseorang."
"Wuah, kedengarannya serius? Kau bahkan tak pernah memikirkan seseorang sebelumnya, meski itu kakakmu sekalipun."
Ruel berdecak, tak ingin ladeni Gray. Ia cukup lelah untuk bercerita. Namun, tak bisa menyimpan moment yang ia anggap sangat spesial itu seorang diri. Terlebih Gray adalah sahabat dan orang satu-satunya yang paling dekat dengannya.
"Sebenarnya aku tak sendiri, ada seseorang yang menemaniku. Bahkan menunjukanku tempat untuk bersembunyi."
"Siapa?"
"Seorang gadis."
"Sulit di percaya."
"Ya. Aku juga nyaris tak percaya. Menemukan gadis di malam selarut ini."
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah, semua terjadi begitu saja, sangat singkat. Hanya karena aku tak sengaja menabraknya," balas Ruel mulai bercerita dengan senyum menghiasi wajahnya, meski hanya sebentar. sebelum ia terlihat memejamkan mata.
"Lalu?"
"Semuanya berakhir."
"Begitu saja?"
__ADS_1
"Hmm, aku bahkan tak tahu siapa namanya. Ia pergi begitu saja, dengan wajah yang terlihat kesal."
"Sungguh cerita yang singkat," balas Gray ikut memejamkan mata. "Sudah sewajarnya dia merasa kesal, kau sudah menyeretnya dalam masalahmu. Beruntung kalian tak sampai tertangkap."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Siapa?"
"Gadis itu."
"Kau menanyakan padaku?"
Ruel menghela nafas panjang. Tiba-tiba merasa khawatir, berharap jika gadis itu baik-baik saja dan pulang ke rumah dengan selamat.
"Kau tak turun?"
"Hah?!"
Ruel amati sekeliling, ia bahkan tak menyadari jika bis sudah berhenti.
"Ckckck, lihatlah dirimu."
"Ah, aku cukup lelah."
"Kenapa tak tidur di Avolire saja?"
"Aku cukup lelah untuk mendengarkan omelan Jeane. Sampai jumpa besok," balas Ruel beranjak dari duduknya.
"Kau yakin?"
Tak menjawab, Ruel langsung melompat turun, dan kembali berjalan kaki memasuki gang sempit yang jaraknya tak cukup jauh dari jalan besar menuju sebuah rumah yang terlihat sederhana di antara jejeran rumah lainnya.
Menghentikan langkah kaki, tepat di depan pintu yang terbuka lebar, bersamaan dengan seseorang yang menyambutnya dengan wajah datar dan tatapan tajam yang seolah akan menembus jantungnya.
Ah, seharusnya aku mengikuti saran Gray untuk tidur di Avolire saja.
Ruel menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Padahal ia sudah berusaha menghindari pria itu. Sengaja tak menimbulkan suara sebab tahu jika sang Kakak sedang dalam keadaan marah padanya, atas insiden yang terjadi padanya beberapa jam lalu.
"Apa kau bersenang-senang, brandal?"
Langkah kaki Ruel terhenti di ambang pintu.
"Kakak....?!"
"Yah, ini aku. Kau terkejut?"
Eden menyilangkan kaki panjangnya di atas meja, bersidekap sambil terus mengamati Ruel yang masih berdiri di depan sana.
"Dari mana saja kau?"
"Aku ...."
Ruel mengusap tengkuk lehernya, tak bisa menjawab pertanyaan sang Kakak yang saat ini jelas tengah mengintograsinya.
"Kemari, kau!"
Eden gerakkan jari telunjuk ke arah Ruel yang bahkan langsung menurut tanpa bantahan lagi.
Plak!
"Awww ...."
Ruel mengusap belakang kepalanya yang baru saja terkena telapak tangan Eden.
"Aku rasa sudah berulang kali memperingatimu, Ruel. Bagaimana jika Vincent menemukanmu tadi?"
"Maaf."
"Ingat, Ruel. Berhenti berbuat ulah, karena aku tidak akan pernah membantumu lagi. Ini yang kesekian kalinya."
***
__ADS_1