
Tok!
Tok!
Suara ketukan singkat terdengar di pintu kamar Sea. Bahkan tak harus menunggu lama, pintu kamar yang tak terkunci langsung terbuka begitu saja, bersamaan dengan seseorang yang kini berdiri di ambang pintu dengan senyum khas di wajah lelahnya, sebelum melangkah hampiri tempat tidur Sea yang sudah terbaring di atasnya dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Kau tidur?" tanya pria itu lembut sebelum duduk di pinggiran tempat tidur.
"Kakak?"
"Hmm. Maaf, aku terlambat pulang malam ini."
Sea membalikkan tubuhnya menatap sang Kakak dengan kedua mata menyipit.
"Tak masalah," ucapnya mengulas senyum.
"Apa kau sudah makan?"
"Hmm."
"Bagaimana dengan obatnya?"
"Bisakah aku tak meminumnya lagi?"
"Kenapa?"
"Aku hanya capek terus mengkonsumsinya, Kak. Untuk malam ini saja."
"Sea. Kau tahu, kan? Jika itu akan membuat kondisimu ...."
"Tapi aku merasa baik-baik saja sekarang, Kak. Aku merasa sehat dan tak sakit lagi."
"Sea ...."
"Percayalah padaku, sudah beberapa hari ini aku merasa kondisiku membaik. Meski tanpa mengkonsumsi obat sekalipun."
"Ayah tidak akan suka jika mengetahui ini."
"Aku tahu."
"Maka menurutlah, aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu."
"Kak ...."
"Sea, jangan keras kepala."
Sea terdiam sebentar, menatap sang Kakak yang jelas terlihat khawatir padanya.
"Baiklah," angguk Sea beranjak dari pembaringannya, dan senderkan tubuh di sandaran tempat tidur sambil menunggu sang Kakak yang sedang menyiapkan obat untuk di minumnya.
"Kak."
"Ya."
"Aku ... minta maaf."
"Minta maaf?"
"Hmm."
"Kesalahan apa yang sudah kau perbuat? Seingatku kau tak pernah membuat kesalahan apa pun, mengapa begitu tiba-tiba meminta maaf?"
Karena aku sudah membantu pria itu bersembunyi darimu, Kak. Membuatmu kelelahan mengejarnya.
"Aku ... hanya ingin meminta maaf," balas Sea.
"Tiba-tiba?"
"Apa itu salah?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Hanya saja, aku merasa cukup aneh."
"Oh ayolah, aku selalu membuat Kakak cemas dan khawatir, aku rasa perlu meminta maaf atas sikap keras kepalaku juga."
Sang pria yang tak lain adalah Vincent hanya tertawa ringan, sebelum memeluk tubuh adiknya. Mengusap punggung itu sebelum mengecup pucuk kepalanya lembut.
"Aku akan selalu memaafkan semua kesalahan yang kau lakukan."
"Kenapa begitu?"
"Karena kau memang tak pernah melakukan kesalahan apa pun. Apa lagi sampai melakukan kesalahan fatal."
"Bagaimana jika suatu saat aku tak sengaja membuat kesalahan?"
__ADS_1
"Apa kau benar-benar akan melakukannnya dan membuat aku dan Ayah merasa sedih?"
Sea menggeleng pelan.
"Aku akan menjadi adik yang manis dan sangat penurut."
"Aku tahu, kau tak pernah mengecewakanku dan Ayah. Baiklah, sebaiknya kau tidur sekarang. Kata Marlleta kau pulang cukup terlambat malam ini, ada apa?"
Sea seketika merasakan gugup, ia tak pernah merasa gugup di hadapan Ayahnya. Namun, berbeda dengan Vincent. Biar bagaimanapun, Vincent adalah seorang petugas kepolisian yang sudah pasti akan dengan mudah mendeteksi kebohongan yang di lakukan orang-orang, terlebih dirinya.
"Aku ...."
"Ada apa? Menemui kendala di rumah sakit, atau di studio?"
"Hmm," angguk Sea kembali berbohong.
"Sesuatu yang serius?"
"Hanya ketinggalan bus malam karena satu masalah kecil, tapi aku baik-baik saja."
"Baiklah, selama tak terjadi sesuatu padamu."
"Hmm, bagaimana jika Kakak istirahat juga, Kakak terlihat sangat kelelahan."
"Apa kau tak ingin aku menemanimu?"
"Tak perlu, Kak. Sudah aku katakan jika akhir-akhir ini aku merasa baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Ya. Sangat yakin."
"Baiklah." Vincent beranjak dari duduknya. "Selamat malam, Sea. Have nice dream."
"Terima kasih, Kak," balas Sea kembali tutupi tubuhnya menggunakan selimut tebal saat langkah kaki sang Kakak sudah tak terdengar lagi.
Sea cukup lelah hari ini, bahkan merasa jika tubuhnya sedang tak baik-baik saja. Setelah sekian lama ia tak pernah melakukan aktifitas yang berlebihan, terutama melakukan gerakan yang bisa menyebabkan jantungnya berpacu dengan kencang hingga beberapa jam lalu, ia dengan terpaksa berlari hingga membuat nafasnya nyaris berhenti, meski tahu jika hal itu akan berakibat fatal. Namun, ia sangat menikmatinya, ia bahkan menyukainya, sebab sudah sangat lama ia tak pernah melakukan hal tersebut bahkan sejak dia berusia tujuh tahun.
"Vincent."
"Ya. Ayah."
"Apa adikmu sudah tidur?"
"Ya."
"Bagaimana dengan obatnya?"
Tuan Hellton mengangguk pelan, sebelum duduk di sofa.
"Ayah tak tidur?" tanya Vincent masih mengamati sang Ayah yang kembali melamun di kursinya, menyilangkan kaki dengan pandangan tertujuh ke arah bingkai berukuran raksasa yang terpampang di sana. Sebelum ikut duduk di samping sang Ayah.
"Ayah rasa belum mengantuk."
"Apa insomnia Ayah kumat lagi?"
"Ayah rasa begitu."
Vincent sandarkan tubuh, dengan satu tarikan nafas panjang sebelum mengeluarkannya dengan perlahan.
"Kau terlihat kelelahan."
"Ya. Mengejar para begundal di luar sana cukup menguras tenaga."
Tuan Theodoric tertawa ringan. Ini kali pertama sang putera mengeluh kelelahan karena mengejar preman dan begundal seperti apa yang di katakan. Bahkan saat mengejar atau menangkap seorang gembong narkoba atau para gangster, sang putera tak pernah mengeluh sedikit pun.
"Bagaimana jika berhenti saja dan masuk di perusahaan ...."
"Ayah," potong Vincent yang benar-benar tak ingin berdebat soal perusahaan dan profesinya untuk saat ini.
"Baiklah, kau butuh istirahat. Sepertinya kau membutuhkan itu," balas Tuan Theodoric menepuk pundak sang Putera dengan perlahan.
"Lalu bagaimana dengan Ayah? Apa Ayah akan terus melamun di sini sepanjang malam sambil menatapi foto Ibu?"
Tuan Theodoric kembali tertawa.
"Ayah membutuhkan itu, kau tahu jika senyum ibumu adalah kekuatan buat Ayah. Jadi biarkan Ayah di sini."
"Ah, terserah Ayah saja. Aku pergi," balas Vincent beranjak dari duduknya.
"Oh iya, Vincent."
"Ya?"
"Bagaimana kabar Eden?"
"Eden?"
__ADS_1
"Ya. Sudah cukup lama Ayah tak melihatnya."
"Eden baik-baik saja, ia sama sepertiku, selalu di sibukkan oleh banyak kasus. Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Ayah hanya ingin tahu kabarnya. Dia teman kamu satu-satunya. Kapan-kapan kau bisa mengajaknya makan malam bersama di rumah jika tak sibuk."
"Tentu," angguk Vincent sebelum meninggalkan sang Ayah yang kembali melamun.
Melangkah keluar menuju mobilnya yang langsung bergerak pergi. Sedang malam sudah beranjak larut, menuju ke satu tempat yang di sana terlihat Eden yang sudah menunggunya.
"Ada apa lagi sekarang? Kau tak lihat malam sudah beranjak larut?" tanya Eden saat duduk di sampingnya, ikut mendongak untuk melihat langit pekat sambil terus menghela nafas panjang.
"Lalu bagaimana denganmu? Mengapa masih di sini, kau tak pulang?"
"Tidak."
"Ada apa?"
"Aku sedang bosan berada di dalam rumah seorang diri," balas Eden meneguk bier-nya
"Kenapa tak berkencan saja agar kau tak merasa kesepian."
"Apa menurutmu itu solusi yang terbaik?"
"Ya. Aku rasa."
Eden menghela nafas panjang. "Aku tak pernah memikirkan itu."
"Sejujurnya, aku sangat ingin kau berkencang dengan Sea."
Uhuk ... uhuk ....
Eden tersedak bier saat mendengar perkataan Vincent yang ia rasa cukup konyol.
"Cukup bercanda."
"Aku serius."
"Kenapa harus aku?"
"Karena aku tahu, kau pria yang baik. Kita berteman sudah cukup lama, kau juga memiliki wajah yang tampan, Sea bahkan selalu mengatakan itu."
Eden terdiam dan hanya sersenyum sebelum kembali meneguk bier-nya, begitu juga dengan Vincent.
"Ayah ingin bertemu denganmu."
"Ada apa?"
"Aku rasa, ia hanya merasa sudah lama tak melihatmu. Mungkin ia merindukanmu."
Eden kembali tersenyum dengan pandangan yang tak luput dari langit pekat di atas sana.
"Sangat menyenangkan jika kita sedang di rindukan," balas Eden yang tiba-tiba saja mengingat mendiang kedua orang tuanya.
Sudah cukup lama sejak kepergian mereka, dan ia harus bertanggung jawab dengan terus bekerja keras agar tetap memenuhi kebutuhan adiknya, satu-satunya yang ia miliki tanpa harus berharap kepada orang lain untuk membantu menopang kehidupan mereka.
"Apa kau benar-benar tak memiliki seseorang yang merindukanmu?"
"Entahlah, aku merasa tak memiliki siapapun."
Kecuali seorang adik yang terus membuatku pening.
"Maka dari itu aku menyarankanmu untuk berkencan."
"Alih-alih terus memberiku saran, bagaimana denganmu? Kau bahkan masih sendiri sampai saat ini."
Vincent terbahak.
"Selama ini aku memang tak pernah memikirkan wanita atau berkencan."
"Why?"
"Emm, entah. Bukannya tak suka. Tapi, aku masih belum ingin melakukannya sebelum Sea mendapatkan pria sempurnah yang akan hidup bersamanya."
"Ya, aku bisa mengerti jika itu alasannya."
"Aku berharap itu kau, Eden."
"Kau tahu, jika aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri."
"Ah, aku cukup kecewa."
"Tsk,"
"Sudah hampir pagi."
"Kau tak pulang?"
__ADS_1
"Aku rasa tidak. Mungkin aku akan mengikuti kebiasaanmu untuk melihat matahari terbit sebelum kembali ke kantor," balas Vincent, kembali meneguk bier-nya.
***