
Tiga bulan berlalu setelah musim panas berakhir sebelum memasuki musim gugur. Begitu juga dengan liburan semester yang sudah berakhir sebelum pelulusan. Bahkan semua siswa sudah mulai menyibukkan diri dengan terus belajar untuk menghadapi ujian akhir sebentar lagi, begitu juga tempat yang akan di tujuh untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.
Dan hanya Ruel yang terlihat tak memperdulikan semuanya. Masih tak ada yang berubah darinya sejak tiga bulan terakhir, sebab masih terjebak dalam luka dan kesulitan memulihkan patah hatinya, terus menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang membahayakan nyawanya sendiri, bahkan semakin liar dan tak terkendali. Melakukan hal gila dengan menghabiskan waktu secara diam-diam dan berdiri di depan pagar mansion Sea di malam hari untuk melihat gadis itu, meski sampai saat ini ia sudah tak pernah melihat Sea lagi, bahkan tak bisa menghubungi gadis itu.
Tak hanya itu, Ruel juga selalu menghabiskan waktu untuk berdiri di depan ruang kelas musik yang sudah tak terpakai sejak dua bulan lalu, setelah Anna memutuskan untuk tak menjadi guru musik di sekolah itu lagi, entah karena alasan apa. Dan hari ini pun sama, Ruel kembali terlihat berdiri di ambang pintu ruang musik yang kosong dengan pandangan tertujuh ke arah sebuah piano. Di hari biasanya, ia selalu melihat Sea yang dengan lincahnya memainkan piano di sana, sambil tersenyum padanya. Namun, sekarang ia tak melihat itu lagi. Kata Jeane, sejak hari di mana mereka terakhir bertemu. Sea sudah tak pernah datang ke sekolah lagi.
Aku merindukanmu. Apa yang sedang kau lakukan sekarang?
Ruel melangkah masuk dengan langkah pelan, mengampiri piano yang bahkan sudah terlihat berdebu. Perlahan menyentuh sebelum mengusapnya dengan perasaan yang semakin terluka. Bahkan sudah tiga bulan berlalu tapi ia masih belum bisa melupakan perasaannya terhadap Sea sedikit pun.
Sea, Sea ... Sea.
Ruel terus menggumamkan nama 'Sea' dalam hati, menatap tuts piano dengan bayangan Sea yang kembali hadir di ingatan. Mengingat betapa cantik dan anggunnya Sea ketika sedang duduk sambil memainkan pianonya, mengingat betapa hangatnya genggaman tangan Sea. Ia benar-benar merindukan gadis itu, hingga tak tahu cara untuk berhenti.
Hingga beberapa menit berlalu, ketika ponselnya bergetar. Cukup mengejutkan saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Hampir tiga bulan berlalu, mereka bahkan tak pernah bertemu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Akhirnya Sea menghubunginya terlebih dulu.
"Bagaimana kabarmu?"
Hening.
Ruel tak menjawab. Bahkan hanya terdiam, memegang kuat ponsel yang masih menempel di telinganya. Jantungnya berdenyut nyeri ketika mendengar suara di sebrang sana. Suara yang sudah sangat lama ia rindukan. Namun, entah mengapa suara itu perlahan membuatnya semakin kesakitan.
"Apa ... kau baik-baik saja?"
Ruel menarik nafas kuat dan dalam. Bagaimana bisa ia melewati hari dengan keadaan baik-baik saja sedang hatinya kini patah dengan rasa sakit yang luar biasa, bahkan ia terus menghabiskan waktu untuk merindukan Sea.
"Ruel ...."
"Aku merindukanmu."
Hening. Tak ada jawaban dari Sea, meski ia bisa mendengar pengakuan Ruel dengan sangat jelas. Suara yang terdengar bergetar jelas menahan air mata.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."
"Aku tahu."
"Lalu ... apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Lagi-lagi tak ada jawaban dari Sea yang kembali terdiam, hingga beberapa detik berlalu.
"Maaf."
__ADS_1
"Aku mohon, bukan kata itu yang ingin aku dengar."
Suara Ruel semakin bergetar. Entah mengapa ia menjadi berubah sangat cengeng ketika bersangkutan dengan Sea.
"Apa ... kau juga merindukanku?"
Tak ada jawaban dari Sea.
"Apa kau tahu apa yang terjadi denganku sejak saat itu? Bagaimana aku melewati hariku dengan terus merindukanmu. Aku rasa begitu sakit, bisakah kau merasakannya?"
"Maaf."
Air mata Ruel akhirnya menetes ketika mendengar suara Sea yang terdengar bergetar di ujung panggilan. Merasa semakin sakit karena mendengar Sea yang terus meminta maaf padanya, seolah gadis itu akan pergi jauh dan benar-benar meninggalkannya.
"Bisakah kau tak meninggalkanku?"
Hening.
"Bisakah ... kau tetap berada di sisiku?"
Masih tak ada jawaban dari Sea, hingga membuat air mata Ruel kembali menitik karena merasa putus asa.
"Aku mohon ... aku rasa hampir gila karena terus memikirkanmu, meskipun kau bukan milikku, tapi aku benar-benar tak bisa melupakanmu, meski aku sudah mencobanya, aku bahkan tak bisa menyukai orang lain karena dirimu."
Prank!
Kaca jendela pecah berhanburan hanya dalam selang detik saja, sisahkan luka di punggung tangan Ruel karena terkena serpihannya. Ia bahkan tak bisa mengendalikan dirinya lagi hingga refleks menghantam kaca jendela di hadapannya untuk meluapkan kemarahan pada dirinya sendiri.
"Berhenti melukai dirimu sendiri."
"Kau masih mengkhawatirkanku?"
"Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu?"
"Maka ijinkan aku melihatmu, meski hanya sekali. Aku berdarah, tubuhku di penuhi luka, aku merasa sakit, sangat sakit ... aku merasa sangat sakit sekarang. Jika kau memang khawatir dan masih memperdulikanku, lihat aku sekarang."
"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau sampai terluka? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membuatku khawatir? Kau berjanji padaku untuk tidak membiarkan tubuhmu terluka lagi."
Ruel terdiam, dengan darah yang terus menitik dari tangannya hingga penuhi separuh lantai tepat ia berdiri saat ini.
"Ruel."
__ADS_1
"Aku hanya tidak tahu bagaimana harus melupakanmu. Aku pikir, rasa sakit di tubuhku akan menyamarkan rasa sakit di hatiku. Ternyata aku salah. Aku bahkan tidak bisa merasakan sakit, separah apa pun luka di tubuhku."
"Aku mohon ... jangan seperti ini."
"Maka jangan abaikan aku seperti ini, itu terlalu menyakitkan untukku."
"Ruel. Maafkan aku, sungguh. Aku benar-benar minta maaf padamu."
Untuk yang kesekian kalinya air mata Ruel kembali menitik, menggigit bibirnya yang bergetar sambil memijat pangkal hidungnya untuk menahan butiran bening yang terus saja menetes.
"Pernakah ... kau menyukaiku meski hanya sedikit saja?"
"Aku selalu merasakan itu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu. Kau bisa membuat jantungku berdebar kencang saat memikirkanmu, kau membuat hari-hariku berwarna, melakukan banyak hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, kau selalu membuatku tersenyum. Bagaimana bisa aku tak menyukaimu. Tapi, keadaanku sekarang tak membiarkan diriku untuk menyukai siapa pun, tak ada yang bisa aku lakukan."
Dan untuk yang pertama kalinya, Sea berbicara banyak kepada Ruel, bahkan sampai mengungkapkan isi hati, jika selama ini ia juga memiliki rasa yang sama. Namun, tak berdaya oleh keadaan yang tak mengijinkan mereka untuk bersatu, dan hal itu semakin membuat perasaan Ruel terluka.
"Kak Sea ... aku mohon ...."
"Bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
"Tidak, tidak, Kak Sea ...."
"Berjanjilah untuk tidak terluka lagi. Dan, mari kita saling melupakan satu sama lain, agar tak ada yang tersakiti di antara kita."
"Tidak, Kak Sea. Jangan tinggalkan aku, Kak Sea ... Kak ...."
"Selamat tinggal, Ruel. Senang bisa mengenalmu."
Panggilan telfon terputus. Sisahkan Ruel dengan air mata yang kembali menitik. Tubuhnya luruh di atas lantai, memeluk kedua lutut dan benamkan kepala di sana bersamaan dengan suara isakkan tangis yang terdengar.
Bahkan Ruel terus di sana, duduk di sudut ruang kosong dengan posisi yang masih sama di temani bayangan Sea dan segala kenanagan singkat yang pernah terjadi di antara mereka.
"Selain hujan apa lagi yang kau sukai?"
"Awal musim panas di malam hari."
"Aku juga menyukainya."
"Apa pelangi akan terlihat jika hujannya mereda?"
"Mungkin saja, kita bisa menunggunya bersama."
__ADS_1
Ruel mengepalkan kedua tangan erat saat kenangan demi kenangan kembali penuhi kepalanya.
***