ONE SUMMER NIGHT

ONE SUMMER NIGHT
Meski itu sangatlah menakutkan


__ADS_3

"Ruel ...."


"Aku mendengarmu, Kak."


Eden menarik nafas kuat dan melepaskannya dengan perlahan, masih berdiri di ambang pintu. Menatap Ruel yang sejak semalam terus duduk di pinggiran tempat tidurnya dan tak melakukan apa pun selain diam, terus melamun dengan tatapan kosong,mengarah keluar jendela.


"Aku akan pergi ke kediaman Theodoric."


"Ya. Aku tahu."


"Apa kau baik-baik saja dengan ini."


"Tidak," balas Ruel alihkan pandangan ke arah Eden. "Aku dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang," sambungnya.


Hari ini adalah hari yang spesial bagi keluarga besar Theodoric dan Petrucci, mengingat akan ada acara pernikahan antara Sea Theodoric dan Dex Petrucci yang akan berlangsung malam nanti. Bahkan kedua keluarga besar dan yang lainnya sudah sangat menantikan dan menyambut acara sakral tersebut. Itu terlihat jelas ketika banyak pihak yang antusias dan ikut mempersiapkan agar acara tersebut berjalan dengan lancar dan meriah, termasuk Eden sebagai rekan kerja sekaligus sahabat Vincent sendiri.


"Untuk yang kesekian kalianya aku minta padamu. Lupakan persaanmu terhadapnya."


"Aku tidak yakin."


"Ruel, kau akan baik-baik saja setelah ini."


"Begitukah?"


Eden melangkah dekati Ruel, dan berdiri di hadapan sang adik yang masih tertunduk menatap lantai ubin kamarnya.


"Aku sudah memutuskannya."


Ruel mengangkat kepala, kembali menatap sang Kakak dengan alis mengernyit.


"Kita akan pergi dari sini."


"Pergi?"


"Paman Arden akan ...."


"Aku tidak akan kemana pun," potong Ruel beranjak dari duduknya hendak pergi sebelum Eden mencengkram lengannya kuat.


"Aku sudah memutuskannya. Kita akan meninggalkan kota ini, dan kau tak bisa menolaknya," balas Eden menatap Ruel yang hanya terdiam. "Setelah kelulusanmu, Paman Arden akan menjemputmu."


"Kak!"


"Paman Arden juga sudah menyiapkan semuanya, termasuk sekolah perguruan tinggi yang akan kau ...."


"Tapi aku tidak bisa!"


"Kenapa?!" tanya Eden menarik tubuh Ruel agar berbalik padanya. "Katakan satu alasan yang masuk akal padaku, kenapa kau menolaknya?"


Ruel masih bungkam, menatap Eden dengan nafas naik turun karena menahan rasa marah di dalam hatinya. Ia bahkan tak bisa melakukan apa pun meski sedang merasa sangat marah kepada sang Kakak.


"Jangan bilang jika kau masih mengharapkan Nona Sea."


Ruel bahkan masih terdiam hingga membuat Eden geram atas sikap keras kepala Ruel. Ia sudah cukup di pusingkan oleh segala kelakuan Ruel yang semakin menjadi selama tiga bulan terakhir ini, mulai putus asa karena sudah tak bisa mengatasi Ruel lagi, terlebih saat menghadapi banyak laporan yang masuk tentang beberapa kasus yang melibatkan Ruel, di tambah rasa sakit di hatinya saat tahu jika saat ini perasaan sang adik sedang terluka dan tak baik-baik saja atas pernikahan Sea, gadis yang ia tahu sangat di cintai oleh adiknya.

__ADS_1


"Apa itu benar?" tanya Eden sekali lagi, yang bahkan hanya di balas diam oleh Ruel. "Jawab aku, brengsek!" sentak Eden mendorong tubuh Ruel hingga terhuyung kebelakang, bahkan tak puas hanya dengan mendorongnya, Eden kembali menghampiri dan mencengkram kerah baju sang adik dengan kuat.


"Aku nyaris hilang kesabaran. Bukankah sudah aku peringatkan untuk berhenti membuat masalah? Namamu bahkan sudah masuk ke dalam daftar orang yang menjadi target selanjutnya. Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menyeretmu sekarang juga ke dalam sel, atau terus menyembuyikan identitasmu kepada Vincent yang sudah benar-benar menargetkanmu. Katakan apa yang harus aku lakukan untukmu?!" geram Eden dengan suara lantang, mendorong tubuh Ruel hingga menghantam tembok, bahkan Eden kembali luapkan amarahnya dengan melepaskan satu pukulan keras ke permukaan tembok hingga melukai punggung tangannya, karena ia benar-benar tak bisa melukai adiknya sendiri.


"Turuti kata-kataku kali ini, Ruel. Kita akan meninggalkan kota ini, aku rasa hanya itu yang bisa aku lakukan untuk melindungimu," ucap Eden sebelum melangkah pergi. Namun, kembali berhenti tepat di depan pintu kamar, membalikan badan dan menatap Ruel seklai lagi.


"Sebaiknya kau tetap di sini. Jangan pernah melakukan apa pun tanpa sepengetahuanku, karena aku benar-benar akan membunuhmu jika sampai membuat satu kesalahan lagi," sambungnya sebelum benar-benar pergi. Tinggalkan Ruel yang masih terdiam. Hingga di detik kemudian, Ruel terlihat mencengkram rambutnya kuat.


"Aarrgghh ...!!"


Suara teriakan Ruel penuhi ruangan terebut, merasa putus asa sebab sudah tak tahu lagi harus melakukan apa sekarang, memikirkan Sea yang akan menikah sebentar lagi membuatnya semakin prustrasi dan nyaris gila.


Sedang di tempat yang bebeda, tepatnya di sebuah kediaman keluarga besar Theodoric yang terlihat tak seperti biasanya.


"Kau terlihat bergitu sempurnah, sangat cantik seperti ibumu," puji Tuan Theodoric yang tak pernah berhenti mengagumi kecantikan sang puteri yang terlihat menawan dengan balutan gaun pengantin yang membuatnya terlihat seperti seorang Ratu dari sebuah kerajaan.


"Terimakasih, Ayah."


Sea tersenyum menyembuyikan luka dan rasa sakitnya, berusaha sekuat mungkin menutupi semuanya dari semua orang yang kini sedang tersenyum bahagia atas pernikahannya yang akan berlangsung sebentar lagi. Begitu juga dengan sang Kakak yang ikut tersenyum di sampingnya.


"Bukankah dia terlihat seperti seorang Ratu?" sambung Vincent yang juga tak berhenti memuji adiknya sejak tadi.


"Tentu," angguk Tuan Theodoric tersenyum hangat dengan kedua mata berkaca menahan haru.


Melepaskan sang puteri yang mungkin akan meninggalkannya untuk tinggal di sisi sang suami cukup membuat Tuan Theodoric bersedih sekaligus behagia. Akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa mencintai, menerima dan menjaga puterinya dengan sangat baik. Ia bahkan sangat mempercayai Dex yang akan membahagiakan puterinya, tanpa di sadari jika hanya puterinya lah satu-satunya orang yang tak bahagia atas pernikahan itu.


"Ayah akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu, Nak. Berbahagialah," ucap Tuan Theodoric, mengecup dahi Sea sebelum beranjak dari duduknya. "Ayah akan menyapa beberapa tamu sambil menunggu," sambungnya sebelum meninggalkan kamar Sea, melangkah sambil mengusap air mata yang menitik begitu saja oleh rasa sedih dan bahagia yang bercampur aduk di dalam hatinya, terlebih saat kembali mengingat mendiang sang istri yang juga pasti akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti dirinya sekarang.


"Kau gugup?" tanya Vincent, mengenggam telapak tangan Sea.


"Ya. Sangat jelas, bahkan tak hanya terlihat gugup. Kau juga terlihat cemas."


"Ah, aku ketahuan."


Vincent menatap adiknya yang tertunduk.


"Kau butuh sesuatu?"


"Tidak, Kak. Terimakasih," geleng Sea lagi-lagi hanya bisa tersenyum.


Vincent mengusap lembut kepala adiknya yang di hiasi bando bunga dengan manik mutiara yang membuatnya terlihat semakin sempurnah. Ia bahkan masih tak bisa menghilangkan kecemasannya sejak beberapa hari lalu, saat usai berbicara dengan Dex. Merasa jika keduanya sedang tak baik-baik saja meski tak mengatakan apa pun.


"Sea."


"Ya, Kak."


"Apa, kau benar-benar bahagia sekarang?" tanya Vincent, mentap sang adik sambil mengenggam telapak tangannya erat.


"Tentu saja, semua orang terlihat bahagia. Bagaimana aku tidak bahagia."


"Bagaimana dengan pernikahanmu, apa kau bahagia karena itu?"


Sea terdiam hingga beberapa detik kemudian.

__ADS_1


"Dex pria yang sempurnah. Tentu saja, aku ... bahagia."


"Sungguh?"


"Hmm. Kakak tak perlu mencemaskanku."


Vincent mengangguk pelan, mencoba untuk mempercayai Sea, meski hatinya masih merasa ragu, terlebih ketika melihat sorot yang di penuhi kesedihan dari mata Sea. Ia bahkan nyaris tak mempercayai senyum adiknya saat ini.


"Baiklah, sebaiknya tenangkan perasaanmu dahulu. Kau masih punya waktu beberapa menit sebelum acara di mulai. Aku akan menyambut Eden, sepertinya dia sudah di sini."


Sea mengepalkan telapak tangannya kuat saat mendengar nama 'Eden' sebab tahu hubungan di antara Eden dan Ruel. Bahkan ia sudah mengetahui itu terlebih dulu di bandingkan Vincent sendiri yang jika di pikir jauh lebih dekat dengan Eden. Dan ia tahu jika Eden pasti memiliki alasannya sendiri mengapa sampai menyembunyikan identitas sang adik, bahkan ia juga akan melakukan hal sama jika berada di posisi Eden sekarang. Eden pun tak pernah menanyakan apa pun perihal hubungannya dengan Ruel, meski ia yakin jika Eden pasti mengetahui semuanya.


Bagaimana keadaanmu sekarang, apa kau baik-baik saja? Aku merindukanmu, Ruel. Sangat merindukanmu.


Sea meremat dadanya yang kembali berdenyut nyeri, saat bayangan Ruel kembali hadir di ingatan hingga membuatnya kembali tersiksa oleh rasa rindu dan rasa bersalah. Rasa yang akan selalu menyiksanya di seumur hidupnya.


"Kak Sea ...?!"


Jantung Sea berdegup kencang saat mendengar seseorang menyebutkan namanya. Terpaku di tempat duduknya tanpa membalikkan badan untuk melihat sosok yang kini sudah berdiri di balik punggungnya, meski ia sangat merindukannya. Ia hanya tak ingin kecewa, takut jika semua itu hanya halusinasinya saja. Ia sudah sangat sering mendengar suara itu menyebut dan memanggil namanya bahkan di dalam mimpi sekalipun.


"Kak Sea ... aku merindukanmu."


Air mata Sea menitik seketika saat melihat Ruel yang kini berdiri di hadapannya, bahkan langsung menyeka air mata di kedua belah pipi Sea sebelum memeluknya erat, cukup erat hingga membuat Sea kesulitan untuk bernafas.


"Ikutlah denganku."


Sea menggeleng cepat, lekas melihat sekeliling, ketakutan jika ada yang menyadari kehadiran Ruel, sebab ia tahu jika Ruel tak mungkin masuk begitu saja di kediamannya mengingat ada Vincent yang pasti akan langsung mencegahnya untuk masuk. Namun, tak ingin bertanya bagaimana Ruel bisa berada di dalam kamarnya sekarang. Pria itu adalah Ruel, seseorang yang bisa melakukan apa saja, dan menyelinap masuk di dalam kamarnya tanpa sepengetahuan siapa pun bukanlah hal yang sulit baginya.


"Kak Sea, aku kesini untuk menjemputmu."


"Tapi, Ruel ...."


"Aku mohon, aku tak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu dalam hidupku, jangan tinggalkan aku," potong Ruel kembali memeluknya erat. "Ijinkan aku menjagamu, mencintaimu, dan hidup di sisimu."


"Ruel."


"Ikutlah denganku."


Ruel menatap kedua mata Sea, bahkan ia tak perlu mencari lagi sebab sudah jelas terlihat begitu besar rasa cinta di mata Sea untuknya.


"Apa menurutmu, kita akan baik-baik saja dengan cara seperti ini?"


"Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba, apa kau takut?"


Sea terdiam tak menjawab, meski demikian Ruel cukup tahu jawaban yang ada di dalam kepala Sea saat ini, gadis itu bahkan terus mengenggam tangannya erat.


"Meski itu sangatlah menakutkan, kita tetap harus mencoba untuk mengetahuinya. Mari kita coba bersama, meski kita takut," ucap Ruel melepaskan mantelnya dan memakaikannya ketubuh Sea, melilitkan syal di leher gadis itu sebelum membawanya pergi dengan baju pengantin yang masih di kenakan.


Meninggalkan sepasang sepatu indah yang di hiasi berlian di sana, dan menggantinya dengan sepasang sepatu sederhana yang nyaman.


***


... END...

__ADS_1


...NEXT SEASONS 2...


Salam sayang dari Audrey, aku mencintai kalian semua 🥰 dan terima kasih karena sudah mengikuti ceritaku. I love you 💜


__ADS_2