OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
1. Cinta dan Luka


__ADS_3

Seorang perempuan berkepang satu sedang duduk manis sambil menatap sebuah pot bunga matahari yang ada di hadapan nya.


"Indah banget, ya," ucap nya bermonolog. Perempuan itu tersenyum manis dengan tatapan yang tidak lepas dari bunga matahari itu.


"Ata? Lo ngapain bengong di sini?," tanya seorang wanita berpakaian rapih berdiri di sebelah nya dengan tatapan bingung. Cinta yang sedang asik memperhatikan bunga matahari di depan nya menoleh terkejut.


"Ini, Kak. Lagi liatin bunga matahari, belum ada pesanan, kok. Aku juga habis bersih bersih makanya mau duduk sebentar," jawab perempuan itu dengan tenang.


"Gue kira lo bengong mikirin apa. Gue ke sini mau ambil daftar belanjaan bulan ini, Tika dimana?," tanya wanita itu. Namanya Jovita, pemilik toko bunga dimana Cinta bekerja paruh waktu.


"Tika lagi keluar beli makan, Kak. Biar aku aja yang ambil daftar nya, sebentar," Cinta segera berlalu menuju kasir untuk mencari daftar pembelanjaan bulan ini.


"Ini, Kak," ujar Cinta menyerahkan selembar bon kepada Jovita.


"Hmm, kayanya ada satu bunga yang belum dibeli? Bunga Anyelir, Tika nggak pesan itu?,"


"Aku kurang tau, Kak. Sepertinya, memang tidak beli . Atau Pak Junedi lagi nggak bertanam bunga nya," ujar Cinta.


"Mungkin. Yaudah, Ta. Gue pergi dulu, semangat kerja nya!," Cinta mengangguk dan melambaikan tangan nya ke arah Jovita yang berlalu menggunakan mobil nya. Jovita adalah bisnis women yang sukses, dia sangat hebat seperti kedua orang tua nya yang memiliki perusahaan terkenal di Indonesia. Di usia dua puluh tiga tahun, Jovita sudah memiliki banyak toko bunga dan beberapa butik butik terkenal.


Tapi tak lama kemudian, pintu toko kembali terbuka. Menampilkan sosok perempuan yang menenteng beberapa makanan di tangan nya.


"Kamu di cariin, Kak Jovi," kata Cinta ketika teman sekerja nya, Tika datang menghampiri nya.


"Hah? Kenapa?," tanya Tika panik.


"Bukan apa apa, kok. Cuman minta daftar belanjaan bulan ini aja," ucap Cinta menenangkan jantung Tika yang berdegup kencang.


"Kamu beli apa?," tanya Cinta.


"Beli nasi bakar dekat sini. Gue beli dua, satu buat lo," Tika menyodorkan sekotak nasi untuk Cinta.


"Bukan nya aku nggak mau, tapi aku janji sama ibu buat makan di rumah nanti. Jadi, ini buat kamu makan nanti malam aja, ya," tolak

__ADS_1


Cinta dengan halus.


"Tapi ini masih siang, Ata. Lo kan pulang nanti malam, masa iya lo nggak makan sampai malam," ujar Tika geram.


"Aku nggak lapar, Tika. Sudah kamu makan saja,"


"Lo emang keras kepala banget ya, Ta. Awas kalau lo sampai sakit! Gue omelin habis habis an lo!,"


"Aku kuat, tenang saja. Sana sana kamu makan, aku mau angkat telfon dulu," ujar Cinta ketika mendengar suara panggilan telfon dari telepon toko.


"Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?,"


"Saya mau pesan buket bunga mawar putih size medium, hari ini bisa diantar?,"


"Bisa, Kak. Total nya, seratus ribu. Boleh minta alamat nya?,"


"Perumahan green look blok d, no 16,"


Sambungan pun di putus. Cinta dengan lincah membuat buket bunga mawar putih sesuai dengan keinginan sang pembeli.


"Ah, indah nya bunga mawar putih,"


Tidak butuh waktu lama, sebuket bunga mawar putih sudah siap di antar.


"Tika, aku pergi antar pesanan dulu, ya!," pamit Cinta seraya menyalakan mesin motor yang akan ia pakai. Motor yang penuh akan hiasan bunga matahari dan bunga bunga lain nya membuat nya terlihat paling mencolok diantara motor motor yang lain nya.


"Iya, take care, Ta!," balas Tika.


Cinta menikmati setiap perjalanan nya mengantar buket bunga. Sambil sesekali melihat ke layar ponsel kemana arah jalan nya. Semilir angin menerpa wajah nya yang tak tertutup helm berwarna kuning yang ia pakai di kepala nya.


"Sedikit lagi aku sampai!," ujar nya semangat.


Akhirnya ia sampai di sebuah perumahan. Bola matanya menelusuri dimana rumah yang ia cari. Sebuah rumah bernomer 16 sudah terlihat. Rumah minimalis berwarna biru muda terlihat sangat manis.

__ADS_1


"Permisi, paket buket bunga mawar putih nya!," Cinta memencet bel yang ada di depan rumah itu. Lalu tidak lama, keluar sesosok laki laki bertubuh jangkung.


"Makasih, ini uang nya," ujar lelaki itu dengan datar.


"Baik, terima kasih sudah mempercayai kami untuk membuat buket bunga spesial untuk seseorang yang spesial. Semoga menyukai nya," ucap Cinta dengan sopan. Lalu menerima uang yang lelaki itu berikan.


"Saya permisi, Kak," Cinta sudah siap berlalu kembali ke toko. Namun perhatian laki laki itu tidak lepas dari sosok Cinta sampai sosok itu hilang dari pandangan nya.


"Dia nggak berubah, bahkan masih sama seperti dulu. Aku kangen kamu, Ata," ujar nya bermonolog. Lelaki itu adalah Luka Alaska Paraduta. 


"Gimana? Udah puas ketemu sama dia dari dekat setelah lama nggak ketemu?," tanya Mizka Paraduta, abang lelaki Luka.


"Lumayan," jawab Luka datar.


"Gue paham banget, lo pasti pingin peluk dia. Tapi sayang, dia kayanya nggak ingat sama lo," ucap Mizka menohok hati.


"Belum waktu nya," balas Luka tanpa ekspresi.


"Atau mungkin emang nggak akan pernah ada waktu untuk itu," perkataan Mizka membuat Luka menatap ke arah nya dengan serius.


"Maksud nya?," tanya Luka.


"Kita nggak akan tau akan seperti apa besok, lusa, dan hari hari selanjutnya. Harusnya, lo bisa gunain waktu yang lo miliki saat ini, untuk bisa bikin dia ingat lagi sama lo. Kalau lo cuma diam dan nunggu waktu yang bertindak. Takdir juga malas buat bikin kalian saling mengingat," ujar Mizka.


"I'll remember what you said," setelah itu Luka berlalu meninggalkan Mizka yang tersenyum miring melihat tingkah adik nya yang terlalu dingin.


"Dia masih keras, mungkin emang cuman Cinta yang bisa bikin luka itu sembuh kembali," ujar Mizka bermonolog.


Luka berlalu masuk ke kamar nya dengan buket bunga mawar putih di genggaman nya. ia meletakkan buket bunga itu di atas meja belajar dan mendudukkan diri di kursi meja belajar. Ia menatap buket bunga itu dengan wajah tanpa ekspresi namun hati nya lah yang berbicara.


Ia begitu merindukan sosok gadis itu. Gadis pertama yang membuatnya selalu mencari keberadaan nya, dan membuat Luka ingin selalu ada di dekat nya. Namun Luka sadar, gadis itu sudah lupa dengan nya. Ia butuh waktu untuk memulihkan kembali ingatan gadis itu tentang mereka, dan tentang nya.


Andai ia bisa langsung menghampiri nya dan berkata kepadanya kalau ia sangat merindukan nya. Tapi lagi lagi Luka tidak mampu melakukan hal itu, ia terlalu takut kecewa karena gadis itu tidak mengingatnya.

__ADS_1


__ADS_2