
Cinta sudah siap dengan pakaian rapih nya. Yaitu kardigan berwarna hitam dengan kaos berwarna putih dipadukan dengan rok sebetis berwarna hitam dan flat shoes berwarna putih. Ia akan pergi menggunakan sepeda nya untuk bertemu dengan Om Detektif di taman. Setelah berpamitan dengan Ibu nya Cinta segera mengayuh sepeda nya dengan perasaan yang sedikit khawatir bercampur senang.
"Semoga, semoga, semoga," gumam Cinta seraya mengendarai sepeda nya. Sesampainya di taman, Cinta memarkirkan sepeda nya di tempat khusus penyimpanan sepeda. Ia berkeliling taman sebentar untuk mencari dimana Om Detektif berada. Ketika Cinta sedang berjalan menyusuri taman, ia melihat siluet yang tidak asing untuknya sedang berjalan di depan nya.
"Om Detektif!," panggil Cinta seraya menghampiri laki laki berjas hitam yang berada di hadapan nya. Laki laki itu membalikkan badan dan tersenyum ramah kepada Cinta.
"Pagi Cinta," sapa Om Detektif dengan senyuman.
"Pagi juga Om," balas Cinta menunduk sopan. Lalu ia kembali menatap ke arah Om Detektif.
"Om, gimana? Ada titik terang apa?," tanya Cinta yang langsung to the point ke arah perbincangan mereka.
"Cinta, kita duduk dulu, ya. Biar lebih tenang ngobrol nya," ajak Om Detektif seraya berjalan terlebih dahulu diikuti Cinta yang mengekori di belakang nya dengan kepala yang menunduk.
"Jadi gini, Cinta. Kemarin Om sempat main ke kantor tentara untuk menyelidiki suatu kasus yang lain. Kebetulan ada salah satu teman Om yang sudah sangat lama bekerja di kantor tentara yang sama dimana Ayah kamu terakhir bekerja. Yang mereka katakan kepada Om tentang Ayah kamu adalah, satu hari sebelum kejadian itu Ayah kamu resmi diangkat menjadi Brigadir Jenderal. Hebat, ya. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Ayah kamu terdengar sangat dekat dengan sahabat nya sekaligus rekan kerja nya. Yang sayang nya mereka lupa, siapa nama nya. Sahabat Ayah kamu tidak naik jabatan karena melakukan suatu kesalahan fatal, sedangkan Ayah kamu bisa naik jabatan karena melakukan hal yang hebat," ujar Om Detektif dengan tatapan yang menatap Cinta dalam dalam. Sedangkan Cinta mendengarkan semua yang Om Detektif katakan dengan seksama.
"Aku belum paham, Om," balas Cinta tersenyum kikuk.
"Kamu mau tahu, seseorang yang paling dekat dengan kita bisa jadi seseorang paling mematikan juga untuk kita. Tusukan nya tidak terlihat tapi terasa. Yang Om pikirkan adalah, sahabat Ayah kamu marah karena Ayah kamu bisa naik jabatan sedangkan ia tidak bisa. Lalu, ia melakukan hal yang diluar pikirannya karena marah. Itu mungkin saja terjadi kan, Cinta?," jelas Om Detektif membuat Cinta menatapnya tidak percaya.
"O-om, apa mungkin itu alasan nya?," tanya Cinta dengan suara bergetar nya.
"Kita belum bisa memastikan nya sekarang, Cinta. Tapi Om harap, dari sini kita bisa dapat hal yang lebih penting untuk membantu kita mendapatkan jawaban atas siapa sahabat Ayah kamu itu," ujar Om Detektif.
"Cinta bisa bantu, Om? Om minta bantuan Cinta untuk tanya sama Ibu, mungkin beliau kenal dengan sahabat Ayah," lanjut Om Detektif.
"Bisa, Om, Cinta bisa bantu Om. Apa pun itu pasti Cinta lakukan," balas Cinta mengangguk nurut.
"Kalau gitu, Om pergi dulu ya. Kalau Cinta ada hal yang pingin dibicarain, telefon Om aja, ya!," ucap Om Detektif seraya bangkit dari duduk nya dan mengelus puncak kepala Cinta.
__ADS_1
"Iya, Om Detektif. Terima kasih banyak, ya, Om. Sudah mau membantu Cinta sampai sejauh ini," Cinta menundukkan kepala nya dan menahan air mata yang sudah berada di ujung mata nya.
"Sama sama, Cinta," Om Detektif memeluk Cinta seperti anak nya sendiri. Ia tahu kalau keadaan ini begitu menyulitkan Cinta yang seharusnya hanya sibuk bersekolah tetapi ia malah sibuk menyelesaikan kasus seperti ini.
"Kamu hebat, Cinta. Kamu anak yang hebat, kamu sudah berjuang sejauh ini. Kita pasti segera mendapatkan jawaban nya," bisik Om Detektif pada telinga Cinta yang berada di pelukan nya.
"Iya, Om," Cinta melepaskan pelukan nya lalu menatap Om Detektif dengan tatapan sendu.
"Om pamit, ya. Hati hati kamu pulang nya," Om Detektif melambaikan tangan nya sebelum benar benar pergi meninggalkan Cinta.
Cinta menghela nafas berat karena dadanya terasa sangat sesak. Cinta merasa lelah, karena mengapa sulit sekali hanya untuk mendapatkan jawaban atas kematian Ayah. Cinta tidak tahu lagi, perjalanan nya untuk mendapatkan jawaban masih seberapa jauh.
"Aku akan tetap mencari jawaban nya, Ayah, Kakak. Tunggu, ya," gumam Cinta pelan. Lalu ia segera berlalu meninggalkan taman untuk pergi ke rumah Zemira. Cinta berniat untuk bermain sebentar, namun di tengah perjalanan ia melihat sebuah kerumunan di pinggir jalan yang terlihat dari kejauhan orang orang sibuk menelefon ambulan dan ada dua mobil yang kedua nya sudah hancur. Ia merasa kepala nya sakit, ini seperti kejadian waktu itu. Walaupun berbeda tapi melihat kerumunan orang, lalu darah yang mengalir ke ke jalanan, dan suara tangis seseorang di dalam kerumunan tersebut membuat Cinta tergeletak tak sadarkan diri.
Saat Cinta membuka mata nya, ia melihat bahwa kini ia sudah berada di rumah sakit. Kepala nya terasa sangat sakit dan pening membuat Cinta memejamkan matanya kembali erat erat.
"Aku nggak papa, Om siapa, ya?," tanya Cinta dengan berusaha untuk bangun dari tidurnya.
"Saya Chandra, polisi setempat dimana kamu pingsan di pinggir jalan tadi. Saya langsung membawa kamu ke sini karena takut ada masalah yang mengkhawatir," balas Chandra yang berpakaian rapih tidak berseragam polisi. Tapi dengan setelah jas rapi.
"Terima kasih banyak, Om. Sudah membawa aku ke sini," Cinta menundukkan kepala nya sebagai tanda terima kasih.
"Itu sudah menjadi tugas saya. Nama kamu siapa, Nak?," tanya Chandra.
"Cinta, Om," jawab Cinta tersenyum ramah.
"Oke, Cinta. Sepeda kamu ada di parkiran rumah sakit. Kalau kamu belum kuat naik sepeda, Om bisa antar kamu pulang," ajak Chandra.
"Enggak, Om, Cinta bisa pulang sendiri, kok. Cinta udah kuat buat pulang pakai sepeda," balas Cinta.
__ADS_1
"Enggak papa Cinta, kamu pasti masih lemas karena pingsan tadi," ujar Chandra yang tersenyum seperti ayah kepada anak nya.
"M-maaf ya, Om, kalau Cinta merepotkan," Cinta berusaha untuk turun dari ranjang nya sendiri. Lalu mereka berjalan bersama dengan pelan pelan karena Cinta belum bisa berjalan dengan cepat. Chandra bejalan di belakang agar kalau kalau Cinta terjatuh ia bisa menangkapnya.
"Boleh Om, tanya sesuatu sama Cinta?," tanya Chandra yang sibuk menyetir.
"Boleh, Om, ada apa?," jawab Cinta yang duduk di kursi penumpang disebelah nya.
"Tadi kamu pingsan karena apa? Ketika kamu pingsan, Om cek suhu kamu normal, dan tidak terlihat seperti orang sakit. Tapi, keadaan di sekitar kamu lagi ramai karena kecelakaan dua mobil. Apa mungkin kamu pingsan karena melihat keadaan yang ricuh itu?," Cinta terkejut bukan main ketika mendengar tebakan Chandra tepat pada sasaran.
"Om hebat banget. Dulu, sekitar lima tahun yang lalu, Cinta pernah ada di posisi seperti itu walaupun situasi keadaan nya berbeda. Bukan kecelakaan, tapi penembakkan yang terjadi pada Ayah, dan kecelakaan tabrakan pada Kakak Cinta. Melihat keadaan tadi, semua ingatan tentang hari itu membuat kepala Cinta sakit banget. Terus Cinta nggak tau lagi deh apa yang terjadi setelahnya," balas Cinta dengan senyum yang dibuat secerah mungkin.
"Tebakan Om benar ternyata. Boleh tahu kasus nya sudah terselesaikan atau belum?," tanya Chandra.
"Belum, Om. Sampai sekarang, Cinta dan Om Detektif masih berusaha buat cari jawaban atas kejadian penembakkan ini," jawab Cinta.
"Om Detektif?," ucap Chandra menatap Cinta bingung.
"Iya, Om Detektif itu orang yang bantu Cinta selama ini buat cari tahu siapa orang dibalik topeng hitam itu. Tapi Cinta nggak tahu nama nya siapa, Om Detektif mau nya dipanggil kayak gitu," ujar Cinta.
"Kalau Om Chandra bantuin Cinta gimana? Siapa tahu, Om Chandra dan Om Detektif bisa bantuin Cinta cari jawaban nya?," tawaran Chandra membuat Cinta hampir menangis lagi hari ini. Mengapa banyak sekali orang yang berbaik hati membantu nya untuk menyelesaikan kasus yang sudah lima tahun lama nya tidak terungkap.
"Boleh banget, Om. Lagi lagi Cinta bilang makasih banyak banget sama, Om, karena sudah mau berbaik hati membantu Cinta," Cinta menahan agar tidak menangis lagi.
"Itu juga salah satu tugas Om sebagai polisi. Cinta bisa kasih nomor Om Detektif nggak? Om mau kenalan," ujar Chandra seraya memberhentikan mobilnya di depan rumah Cinta.
"Bisa, Om. Ini nomor Om Detektif," Cinta menyodorkan ponselnya ke arah Chandra agar Chandra bisa mencatat nomor Om Detektif. Setelah itu Cinta turun dari mobil Chandra.
"Hati hati, Om. Makasih banyak untuk bantuan nya," Cinta menunduk sopan sampai mobil Chandra sudah melaju pergi dari rumahnya.
__ADS_1