
Cinta menangis di sebelah Ibunya yang kini sedang tidak sadarkan diri setelah disuntik penenang oleh dokter. Setelah kejadian itu, Meta jadi sering berteriak ketakutan dan menangis setelahnya. Pemerkosaan kejam yang dilakukan oleh Bram membuat Meta menjadi ketakutan. Ibunya kini tidak bisa diajak berbicara seperti dulu, karena Ibunya hanya bisa berteriak dan menangis ketakutan. Cinta tidak bisa melihat Ibunya seperti ini, Cinta merasa semakin menyesal ketika menyadari bahwa penyebab Ibunya seperti ini adalah dirinya.
"Cinta cuman bisa minta maaf sama Ibu, karena Cinta Ibu jadi seperti ini. Cinta minta maaf, Bu," Cinta mencium tangan Meta yang sedari tadi digenggamnya. Cinta semakin merasa menyesal telah memulai semua ini. Cinta ingin berhenti, hanya itu yang ada dipikiran nya saat ini. Ketika itu, Om Detektif masuk menghampirinya.
"Cinta, kita ngobrol yuk. Biarin Ibu istirahat dulu sekarang," ujar Om Detektif seraya mengusap kepala Cinta dengan lembut.
"Cinta takut Ibu kenapa-kenapa kalau Cinta pergi. Biarin Cinta temani Ibu di sini aja, Om," jawab Cinta.
"Diluar ada dua orang polisi yang jagain Ibu, kamu juga perlu istirahat sebentar. Habis itu, kita jaga Ibu lagi, yuk?," Cinta mengangguk pada akhirnya dan mereka berlalu pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang.
"Kamu bisa cerita sama Om, apa yang lagi kamu pikirin sekarang?," tanya Om Detektif pada Cinta yang hanya menatap sepiring nasi goreng di hadapan nya.
"Cinta mau berhenti sampai di sini aja, Om. Cinta nggak mau lanjutin semua ini, karena Cinta nggak mau ada orang lain yang terluka karena Cinta," ucap Cinta dengan suara parau nya.
"Hei, Cinta dengarin Om ya. Kalau ada orang yang terluka nanti nya, itu bukan salah kamu. Karena soal takdir, itu bukan kendali kamu. Itu memang sudah waktu nya, karena setiap orang punya waktu nya masing-masing," jawab Om Detektif.
"Tapi kenyataan nya kayak gitu, Om. Ayah, Kak Cala, dan sekarang Ibu jadi kayak gini juga karena Cinta. Benar kata Kak Tyra, Cinta adalah pembunuh dibalik kata-kata manis," balas Cinta dengan putus asa.
"Kalau kamu membenarkan apa yang Kak Tyra katakan, artinya kamu membenarkan apa yang tidak kamu lakukan. Kamu nggak kenal sama diri kamu sendiri, sampai-sampai percaya sama orang lain. Kamu nggak boleh kayak gitu, ingat Cinta, kamu itu orang baik, orang baik selalu dapat masalah yang paling berat, karena semesta percaya kalau kamu bisa melewatinya," ujar Om Detektif dengan tatapan hangatnya.
"Cinta nggak mau, Om, atau yang lain nya jadi korban juga. Cinta nggak mau, Om," Cinta menangis pada akhirnya. Sejak tadi ia menahan tangisan nya karena tidak mau menangis di hadapan Ibunya.
"Enggak akan ada korban lain, Cinta. Kita cuman perlu bertahan sebentar lagi. Dan kita pasti dapat jawaban nya," ucap Om Detektif.
"Keputusan Cinta udah bulat, Om. Cinta nggak akan lanjutin kasus ini lagi. Terima kasih untuk makan siang nya, Cinta mau jaga Ibu aja," Cinta segera bangun dan menunduk sopan kepada Om Detektif sebelum pergi kembali ke ruangan Ibunya. Dalam perjalan ke kamar, Cinta mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk dirinya dan orang lain. Cinta tidak mau ada korban lagi setelah Ibunya.
Sesampainya di ruang inap milik Ibunya, Cinta terkejut karena melihat Luka sedang menenangkan Ibunya yang ternyata sudah sadar dari tidurnya.
"Pergi!!! Jangan sentuh saya, pergi!!!," teriak Meta pada Luka yang berusaha menenangkan nya.
"Tante tenang, dulu. Saya nggak akan macam-macam sama Tante," jawab Luka dengan tenang.
"BOHONG! PERGI DARI SINI SEKARANG!," Luka tetap berdiri di sebelah ranjang Meta tanpa memperdulikan teriakan Meta yang begitu kencang.
"Diminum airnya dulu, Tante, biar tenang," Luka menyerahkan segelas air minum yang ia ambil dari nakas. Meta mengambil segelas air itu. Tapi bukannya diminum, Meta malah menyiramkan airnya ke Luka hingga pakaian yang Luka pakai basah kuyup. Cinta yang melihat itu langsung berlari ke arah Luka.
"Aduh, maaf ya, Luka. Maafin Ibu, baju kamu jadi basah kayak gini," ucap Cinta pada Luka yang baru menyadari kedatangan Cinta.
"Enggak masalah," jawab Luka yang tetap memusatkan perhatian nya pada Meta. Sungguh, wajah Meta sangat mengingatkan nya dengan wajah Mamahnya. Itu membuatnya sangat menghormati Meta, dan Luka sangat marah ketika tau laki-laki berpakaian serba hitam itu memperkosa Meta sampai Meta frustasi dan trauma seperti ini.
"Ibu, Ibu tenang dulu, ya. Ini Luka, teman Cinta. Bukan orang jahat, Ibu nggak perlu takut sama Luka," Cinta berusaha menjelaskan nya kepada Meta.
"Pergi kalian berdua! Saya nggak mau lihat kalian!," usir Meta yang membuat Cinta menghela napas berat. Ia segera mengajak Luka untuk pergi dari sana dari pada membuat Ibunya semakin tertekan dan stress karena keberadaan nya. Biar dokter yang mengurus Ibunya, karena Cinta tidak tau harus apa selain menyesali semuanya.
"Aku ada jaket, kalau kamu mau pinjam," ucap Cinta pada Luka tanpa berani menatap matanya.
"Kenapa nggak berani tatap mata gue, ada yang lagi lo sembunyikan?," bukan nya menjawab soal pakaian, Luka malah bertanya tentang salah satu kebiasaan nya yang tidak berani menatap mata Luka setiap kali ia sedang banyak pikiran atau sedang menyembunyikan sesuatu hal pada Luka.
"Enggak, kok," jawab Cinta.
"Dan sekarang lo lagi bohong. Ada apa?," pertanyaan 'ada apa?' dari Luka membuat pertahanan Cinta hancur.
"Aku mau berhenti mencari tentang kasus itu," kata Cinta yang membuat Luka menatapnya tak percaya.
"Yakin? Gue sih terserah lo aja. Kalau pun lo berhenti, gue nggak akan berhenti mencarinya," jawab Luka.
"Jangan, Luka. Aku nggak mau kamu kenapa-napa," ujar Cinta yang kini beralih menatap mata Luka.
"Perhatian banget," saut Luka dengan senyum kecilnya.
"Aku serius, kamu nggak boleh cari-cari tentang kasus itu lagi,"
"Gue akan tetap mencarinya, kalau pun lo nggak mau," jawab Luka dengan kekeh dengan keinginan nya.
"Ya udah kalau gitu, jangan pernah ke sini lagi. Aku nggak mau ikut-ikutan soal kasus itu lagi," Cinta segera bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Luka.
"Kenapa Cinta jadi kayak gini? Ini bukan Cinta yang gue kenal," gumam Luka dengan wajah datarnya.
Tapi tidak lama kemudian, Cinta datang kembali menghampirinya dan memberikan jaket miliknya yang tadi ia katakan.
"Pakai ini, baju kamu tembus pandang. Aku nggak mau ada orang lain yang liat," ujar Cinta dan setelah itu Cinta kembali pergi.
Luka tersenyum setelah kepergian Cinta, ia baru sadar kalau Cinta cemburu jika ada orang lain yang melihat tubuh atletisnya.
__ADS_1
"Beruntung lo hari ini," ucap Luka seraya menepuk otot otot diperutnya. Luka segera memakai jaket yang Cinta berikan kepadanya. Tanpa melihat lebih jelas, Luka langsung memakainya. Alhasil ia tidak mengetahui kalau di belakang jaket itu terdapat gambar barbie yang merupakan karakter kesukaan Cinta. Disepanjang jalan rumah sakit, banyak yang menertawakan jaket yang Luka pakai. Mereka terheran-heran karena laki-laki berwajah datar dan dingin itu memakai jaket bergambar barbie yang sangat cantik. Tapi sang empu tetap berjalan santai masuk ke dalam mobilnya untuk bertemu dengan Luvin.
Luvin memintanya datang ke kantor polisi karena laki-laki itu ditilang oleh polisi dan lupa membawa dompet untuk membayar denda nya.
Cinta duduk di sofa yang berada di ruang inap Meta. Cinta sedang berpikir ia harus bagaimana sekarang. Kenapa rasanya semua makin rumit dan sulit. Tidak seperti bayangan nya yang akan mudah untuk menyelesaikan kasus ini. Ibunya menjadi trauma dan takut untuk bertemu orang lain, bahkan bertemu dengan dirinya saja Ibunya bisa histeris ketakutan. Cinta sangat sedih melihat Ibunya harus disuntik penenang setiap mulai kehilangan kendali.
Ketika sibuk dengan pikiran nya yang sedang kacau, panggil telefon dari Om Chandra membuat Cinta terkejut dan langsung mengangkatnya.
"Halo, Cinta?,"
"Halo, Om. Ada apa, Om telefon Cinta?," tanya Cinta dengan wajah bingung.
"Om mau kasih tau kamu, kalau Gega lagi dirawat di rumah sakit karena tipes. Kamu bisa datang jenguk nggak? Dia kayak nggak semangat gitu dari tadi pagi," Chandra sengaja berbohong karena Gega yang memintanya untuk tidak memberitahu Cinta tentang kejadian malam itu.
"Bisa, Om. Cinta ke sana sekarang, Om share location aja. Terima kasih, Om informasinya. Cinta tutup telefon nya," Cinta langsung bergegas membereskan barang nya. Cinta menatap ke arah Ibunya sebelum benar-benar pergi dari sana. Diluar ada dua polisi yang diutus oleh Om Detektif dan Om Chandra untuk menjaga Ibunya.
"Pak, saya titip Ibu, ya. Saya pergi sebentar keluar ada perlu," ucap Cinta pada salah satu polisi di sana.
"Siap, kami akan menjaga korban dengan baik," jawab Pak Polisi itu.
"Terima kasih banyak, Pak. Saya pamit dulu," Cinta langsung berlenggang pergi karena taksi pesanan nya sudah menunggunya.
Cinta terkejut karena tiba-tiba mendapat kabar kalau Gega sakit. Karena sehari sebelumnya, Gega mentelfon nya dan menanyakan kabarnya. Tapi hari ini ia mendapatkan kabar kalau Gega masuk rumah sakit. Semoga Gega baik-baik aja, pikir Cinta.
Setelah kejadian malam itu, Gega dioperasi karena luka dari tusukan itu cukup dalam. Membuatnya tidak bisa bergerak selama beberapa hari. Papahnya selalu mengingatkan Gega untuk memberitahu Cinta tentang keadaan nya. Tapi Gega berkata kalau Cinta tidak perlu tau soal ini. Masalah perempuan itu sudah sangat besar, jika di tambah dengan masalahnya. Cinta akan menanggung terlalu banyak masalah dalam pikiran nya, jadi Gega meminta Chandra untuk tidak memberitahu Cinta tentang keadaan nya yang sebenarnya.
Cinta sampai rumah sakit dengan sebungkus bubur ayam kesukaan Gega yang tadi ia sempatkan untuk membelinya. Cinta mencari-cari dimana ruangan Gega berada. Sesampainya ia dilantai tiga, Cinta melihat sosok Chandra yang berdiri di depan pintu.
"Hai, Cinta. Silahkan masuk, Gega udah nunggu dari tadi," sapa Chandra ketika melihat Cinta jalan mendekat ke arahnya.
"Maaf lama, Om. Cinta beli bubur dulu buat Gega," balas Cinta dengan senyuman nya.
"Oh, gitu. Ya udah, masuk gih," Chandra membuka kan pintu ruangan Gega dan Cinta segera masuk ke dalam. Dilihatnya Gega sedang berbaring santai sambil memainkan ponselnya.
"Kamu udah baikan?," ujar Cinta yang membuat Gega terkejut karena ia pikir yang masuk ke dalam ruangan nya adalah Chandra tetapi ternyata itu adalah Cinta.
"Kok lo bisa di sini?," tanya Gega dengan wajah terkejutnya.
"Om Chandra telefon aku barusan, jadi aku langsung ke sini. Kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau kamu sakit?," tanya Cinta seraya mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sebelah nakas.
"Kalau nggak parah, pasti nggak di rawat di rumah sakit, Gega. Kamu udah makan belum?,"
"Belum, makanan rumah sakit nggak enak. Enakan makanan warteg," balas Gega.
"Aku bawa bubur...,"
"Bubur? Aduh gue di sini juga makan bubur terus. Mual banget tiap hari makan bubur, Ta," potong Gega dengan wajah frustasinya.
"Bubur Mang Ujang, yakin nggak mau?," tanya Cinta seraya mengeluarkan bubur yang tadi ia bawa dan menunjukkan nya ke pada Gega.
"Hehehe, kecuali bubur Mang Ujang," Gega langsung mengambil alih bubur yang Cinta berikan dan memakan nya dengan lahap.
"Dasar," gumam Cinta dan kini ia hanya memperhatikan Gega yang sedang memakan makanan nya.
"Bubur Mang Ujang nggak pernah mengecewakan. Makasih, Ta, udah beliin gue bubur Mang Ujang," ujar Gega setelah menghabiskan satu porsi penuh bubur ayah kesukaannya.
"Sama-sama, kamu duduk dulu terus minum air putih. Habis makan harus minum," balas Cinta. Tapi ketika Gega ingin duduk, ia lupa kalau perutnya habis dioperasi dan tidak boleh banyak gerak. Alhasil ia mengerang kesakitan yang membuat Cinta terkejut.
"Aw!," Gega merintih kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Kenapa? Perut kamu sakit?," Cinta terkejut yang membuat ia tidak sengaja menaruh tangan nya di perut Gega tepat di bekas jahitan operasi nya.
"Enggak-enggak, nggak papa," Gega meraih tangan Cinta yang menyentuh lukanya.
"Tapi kamu kesakitan, masa iya nggak papa," jawab Cinta yang terlihat bingung dengan mata yang melirik tangan nya yang digenggam Gega secara tiba-tiba.
"Lambung gue sakit karena telat makan, nggak papa santai aja," ujar Gega.
Lalu kedua saling diam karena Cinta tidak tau harus bereaksi seperti apa dengan tangan nya yang digenggam oleh Gega. Sedangkan Gega seperti tidak terjadi apa-apa. Gega tidak sadar bahwa tangan nya masih menggenggam tangan Cinta karena dalam hati ia sedang meringis kesakitan.
"Ge, tangan aku," ucap Cinta dengan tatapan yang mengarah ke tangan nya dan tangan Gega.
"Eh, sorry nggak sengaja," Gega langsung melepaskan genggaman tangan nya.
__ADS_1
"Ibu gimana keadaan nya, Ta?," tanya Gega memecahkan keheningan.
"Masih sama. Ketakutan, nangis, teriak-teriak, dan nggak mau ketemu sama orang. Aku nggak kuat, Ge. Setiap aku masuk ke ruangan Ibu, rasa penyesalan langsung menyambut kedatanganku, gimana caranya aku buat bertahan sama rasa tidak menyenangkan ini?," jawab Cinta yang terlihat sekali rasa frustasi di wajahnya.
"Caranya adalah sabar. Perasaan nggak menyenangkan ini cuman datang sementara. Setelah itu, perasaan itu nggak akan ada apa-apa nya. Sabar sebentar, biar kali ini waktu yang bekerja. Lo cukup ada di dekat Ibu dan jaga dia baik-baik, belajar ikhlas walaupun itu hal yang paling sulit diikhlaskan sekali pun," ujar Gega seraya menatap mata perempuan itu dengan tenang. Ia sangat paham dengan perasaan tidak menyenangkan apa yang sedang perempuan itu rasakan. Perasaan menyesal, takut, dan kecewa seolah datang bersamaan tanpa memberinya jeda sedikit pun untuk bernapas lega.
"Aku capek, Ge. Aku mau berhenti mencari tentang kasus itu, aku nggak mau jadi penyebab kepergian seseorang lagi. Ibu harus jadi yang terakhir yang terluka karena aku," balas Cinta yang malah menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Gega yang begitu menenangkan.
"Lo tau kan, kalau capek itu normal. Orang sehebat apapun juga pasti pernah capek, tapi orang hebat nggak pernah mau menyerah. Lo boleh capek dan berhenti sebentar, tapi jangan stuck di situ. Perjalanan yang selama ini lo usahakan udah hampir sampai di tujuan. Masa iya mau balik ke tempat semula? Lebih baik lo menyesal karena tau jawaban nya, dari pada menyesal karena kelewatan kesempatan buat tau jawaban nya. Iya, kan?," Gega berusaha meyakinkan Cinta yang hampir kehilangan harap.
"Tapi keputusan aku udah bulat, Ge. Aku akan berhenti buat mencari tentang kasus itu. Aku harap, kalian bisa menghargai keputusan aku. Dan kalian jangan lagi mencari cari tentang kasus itu, aku cuman nggak mau kalian kenapa-kenapa," ucap Cinta yang membuat Gega menggeleng kepalanya tak percaya.
"Kenapa lo jadi kayak gini, Ta?. Jadi pesimis, dan nggak percaya sama cara kerja semesta. Kalau lo takut kita kenapa-kenapa, ini bukan hal yang seharusnya lo pilih. Kita bisa saling jaga kok, kenapa harus takut kalau ada yang akan kenapa-kenapa. Kalau pun emang ada yang kenapa-kenapa, itu bukan salah lo kali. Ya, emang takdirnya aja kayak gitu. Jangan nyalahin diri lo sendiri karena hal hal yang diluar kendali lo," perkataan Gega membuat Cinta menatap nya. Ia tahu, dan ia mengerti apa maksud Gega. Tapi rasa takut dan menyesal terlalu membuatnya pesimis bahkan dengan hal hal yang diluar kendali nya.
"Makasih banyak, Ge. Aku pamit, ya. Ibu pasti kesepian di rumah sakit," Cinta bangkit dari duduknya tanpa menjawab perkataan Gega dan keluar dengan beban pikiran yang semakin membuatnya lelah. Cinta memilih melihat matahari terbenam sebelum kembali ke rumah sakit. Sudah sejak lama ia tidak melihat matahari terbenam. Mungkin melihat matahari terbenam bisa membuatnya tenang.
Sesampainya di danau, Cinta duduk dengan tenang dengan buku yang ada di tangan nya. Buku diary miliknya yang berisi hanya tentang senja. Cinta biasa menuliskan apa yang ia rasakan ketika melihat matahari terbenam setiap sore. Berbagai macam perasaan sudah tertuang di dalam buku itu, mulai dari perasaan sedih, kecewa, bahagia, khawatir, semua perasaan bercampur aduk di dalam diary itu. Dan untuk sore ini, Cinta hanya ingin melihat senja tanpa menuliskan nya di diary. Rasa yang sedang ia rasakan sangat sulit untuk ia deskripsi kan. Alhasil ia hanya menyaksikan bagaimana sang mentari kembali ke peradaban nya dengan indah.
"Senja, hari ini aku hanya ingin melihatmu. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, tapi sepertinya tidak hari ini. Aku tidak mau kau tahu bagaimana hancurnya diriku saat ini. Aku ingin menangis bersama mu seperti biasanya. Tapi kini bukan saatnya untuk aku menangis, aku harus kuat untuk diriku sendiri, yang ku rasa semakin hari ia semakin rapuh. Semoga hari baik, dan bahagia tidak sungkan untuk datang kepadaku, ya. Aku sudah terlalu lama menunggu nya yang jarang datang kepadaku. Hanya hari hari sulit dan tidak menyenangkan yang menemaniku melangkah kan kaki setiap harinya.
Senja, sampaikan salam ku untuk bulan dan bintang, ya. Aku akan sering-sering berkunjung untuk melihatmu. Maaf, belakangan ini aku tidak punya banyak waktu untuk menemanimu pulang. Sampai jumpa lain hari, senja. Pulang lah dengan selamat, dan datang besok dengan sinar yang lebih terang. Selamat beristirahat, kamu sudah bekerja dengan keras hari ini," Cinta melambaikan tangan nya ke arah matahari yang mulai menghilang dan langsung disambut dengan langit gelap.
Cinta menghela napas berat setelah selesai menyaksikan matahari terbenam sore itu dengan tenang tanpa gangguan. Perasaan nya sedikit lega karena melihat matahari terbenam hari ini. Dan kini, ia sudah memiliki sepucuk harap yang sempat hilang untuk menjalani hari ini sampai selesai dengan baik dan menyambut hari esok dengan lebih baik lagi.
"Semangat, Cinta!," Ujar Cinta menyemangati dirinya sendiri seraya bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke rumah sakit.
Luka sedang duduk bersama Luvin di pinggir lapangan bulu tangkis. Mereka memilih menghabiskan hari dengan bermain bulu tangkis setelah selesai mengurus masalah Luvin di kantor polisi.
"Ka, gimana kabarnya Cinta? Dia nggak masuk sekolah udah beberapa hari kan?," tanya Luvin yang membuat Luka memejamkan matanya..
"Dia harus jaga Ibunya di rumah sakit. Dia juga harus kerja, yang pasti dia lagi nggak baik-baik aja sekarang," jawab Luka.
"Beban dia berat juga, ya. Untuk ngurus dirinya sendiri aja dia belum yakin benar-benar bisa, sekarang ditambah harus jaga Ibunya, kerja, dan sekolah. Gue kalau jadi dia udah stres kali, ya, Ka," ucap Luvin yang langsung mendapat balasan dari Luka.
"Lo nggak ada beban aja udah stres, apalagi punya beban," balas Luka yang membuat Luvin mengangguk setuju.
"Makanya itu. Terus kenapa lo malah di sini? Bukannya temenin dia yang lagi butuh penyemangat," tanya Luvin.
"Dia nggak mau ketemu sama gue katanya. Dia lagi berperang sama dirinya sendiri, dan cuman dia yang bisa menyelesaikan persaingan itu. Gue nggak mau maksa dia, karena dia emang lagi butuh waktu sendiri buat mencerna apa yang sebenarnya terjadi," ujar Luka seraya membuka matanya karena suara panggilan telefon dari ponselnya.
"Telefon dari Mizka," ucap Luvin.
"Gue angkat telefon dulu," Luka segera bangkit dari duduknya dan mengangkat panggilan telefon dari Mizka.
"Hmm?," tanya Luka dengan gumaman.
"Ka, Mas Cetta ngajak makan malam. Lo pulang sekarang, gue lagi otw ke rumah,"
"Oke," Luka memutuskan sambungan telefon dan segera berbalik ke arah Luvin.
"Gue duluan, Mas Cetta ngajak makan malam," Luka meraih jaket milik Cinta yang tadi ia simpan di kursi. Menatapnya dengan sebal mengingat kejadian memalukan yang terjadi di kantor polisi karena jaket bergambar barbie ini.
Ketika Luka sampai di kantor polisi semuanya berjalan dengan baik, tapi ketika Luvin menyadari ada yang aneh dengan jaket yang Luka kenakan. Ia menertawakan nya dengan kencang membuat mereka berdua di marahi oleh polisi yang berjaga di sana.
"Sumpah, Ka, jaket lo gemesin banget. Gue jadi pingin beli juga," ujar Luvin dengan sisa sisa tawa mereka. Padahal mereka berdua kini sedang dijemur di bawah sinar matahari karena kesalahan Luvin yang melanggar aturan dan membuat keributan di kantor polisi.
"Berisik lo. Gara-gara lo gue jadi kena hukuman kayak gini," balas Luka yang masih mengenakan jaket barbie milik Cinta. Beberapa orang yang lewat pasti menertawakan nya dan itu membuat Luka jengkel.
"Muka datar tapi jaket barbie, itu pasti yang ada dipikiran mereka," kata Luvin seraya menunjuk dua orang yang melewati mereka sambil tertawa.
"Diam atau gue tonjok?," tanya Luka dengan wajah datarnya menatap tajam ke arah Luvin yang masih cekikikan.
"Ampun, ampun," tapi setelah mengatakan itu Luvin malah tertawa lebih kencang ketika matanya melihat kembali gambar barbie yang ada di jaket Luka. Alhasil Luka meninju perut Luvin karena kesal.
"Hati-hati, Ka. Salam ye, buat Mas Cetta sama Bang Mizka yang lagi sibuk kuliah," jawab Luvin.
"Hmm. Pulang lo, jangan nyari masalah lagi," ucap Luka mengingatkan. Karena Luvin sangat suka mencari masalah dimana pun dia berada, dan berujung ia yang harus mengurus nya.
Luvin itu setia kawan dan baik walaupun sedikit menyebalkan. Luka tidak perlu berpikir panjang untuk membantu Luvin, karena Luvin pun seperti itu. Ketika Luka sedang tidak bersemangat, Luvin akan mengajaknya melakukan hal gila dan aneh agar Luka kembali bersemangat. Seperti mematikan lampu kamar mandi yang sedang ada orangnya, atau mengetuk pintu ruang guru lalu kabur, atau sekedar bermain game online bersama dan Luvin akan keluar dari permainan agar Luka marah karena tim mereka kalah. Luvin lebih suka melihat Luka marah dari pada diam.
"Siap, Pak!," Luvin mengangkat tangan nya seperti sedang hormat. Dan setelah itu keduanya berpisah. Luka berlalu pulang dengan mobilnya. Diperjalanan pulang Luka tidak sengaja melihat Cinta melewati trotoar. Luka menatap gadis itu yang berjalan dengan kepala ditundukkan menatap ke arah jalanan.
"Pasti habis dari danau," gumam Luka dengan pandangan yang tidak lepas dari gadis itu. Sampai akhirnya Cinta menghilang dari pandangan nya Luka pun kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Aku nggak tau, kita bisa sampai akhir atau nggak, Ta. Tapi aku yakin, kalau kita tetap saling menggenggam tangan disepanjang jalan gelap ini. Kita pasti sampai di tujuan yang akan menyambut kita dengan cahaya terang," ujar Luka.