
*Delapan tahun silam.
Sosok gadis kecil sedang asik duduk di taman sendirian karena kedua orang tua nya sedang tidak ada di rumah dan ia ditinggalkan sendiri begitu pun dengan Kakak perempuan nya. Ia sedang duduk sambil melihat matahari terbenam sore ini. Entah mengapa ia begitu menyukai matahari terbenam.
"Wah, kata Ibu, sedikit lagi matahari akan tenggelam," ucap gadis itu dengan riang gembira.
Awan cerah perlahan berganti menjadi semburat jingga yang sangat indah untuk di pandang mata. Namun saat detik detik puncak dimana matahari terbenam akan ia lihat dengan puas. Suara seseorang yang terjatuh membuat perhatian nya teralihkan.
"Aw...," suara desis menahan sakit itu membuat Cinta bergerak menghampiri anak laki laki itu yang terlihat meringis sakit.
"K-kamu nggak apa apa?," tanya Cinta yang menunduk untuk melihat apakah kaki anak lelaki itu terluka parah.
"Ya sakit, lah. Orang jatuh masa baik baik aja," jawab anak laki laki itu dengan ketus.
"Mau aku bantu untuk duduk di sana? Biar aku cari kan air untuk membersihkan luka kamu," ujar Cinta seraya mengulurkan jemari tangan kecil nya.
"Aku bisa sendiri, sana kamu cari air nya," balas anak itu sambil berusaha untuk berdiri sendiri. Cinta mengangguk dan segera berlalu untuk mencari air. Cinta berhenti di sebuah toko minuman di taman itu dan membeli sebotol air dengan uang nya yang tersisa sangat pas.
"Ini air nya," Cinta menyodorkan sebotol air itu kepada anak laki laki itu.
"Makasih," ungkap nya dengan tetap ketus. Lalu ia sibuk dengan membersihkan luka di dengkul nya sedangkan Cinta duduk tenang di sebelah nya. Cinta kembali tersadar bahwa hari sudah gelap, dan ia telah melewatkan matahari terbenam hari ini.
"Yah... matahari nya udah hilang...," gumam Cinta dengan sedih.
"Kamu lagi lihat sunset?," tanya anak laki laki itu setelah selesai membersihkan luka nya.
"Iya, tapi karena kamu, aku terlambat untuk melihatnya. Huh, aku harus balik lagi besok," balas Cinta.
"Ya siapa suruh tolongin aku? Salah kamu sendiri," ucap nya membuat Cinta menatap nya tak percaya.
"Kamu udah di tolongin malah bicara seperti itu, bukan nya berterima kasih," kata Cinta seraya membuang muka nya dengan kesal.
"Kenalin, aku Luka. Kamu?," tanya Luka mengganti topik pembicaraan mereka.
"Cinta," balas Cinta dengan tetap membuang muka.
"Makasih banyak, ya, Cinta. Sampai bertemu lain waktu," lalu Luka berdiri di hadapan Cinta.
"Semoga aku bisa bertemu sama kamu lagi. Dan bisa menikmati matahari terbenam bersama sama lain kali," ujar nya.
"Sampai jumpa, Luka!," Cinta melambaikan tangan nya kepada Luka yang sudah berlalu pergi meninggalkan nya*.
"Aku akan selalu mengingat kamu, Cinta. Aku akan cari kamu saat aku besar nanti, tunggu aku!," gumam Luka seraya melangkah kan kaki nya pergi.
Luka kembali mengingat momen itu, sebuah memori indah yang tidak pernah ia lupakan. Sosok Cinta kecil sampai sekarang tidak pernah berubah, ia selalu menjadi sosok yang penyayang bagai putri penolong untuk banyak orang.
Itu adalah alasan mengapa Luka masih mencari cari tentang Cinta sampai saat ini, bahkan kejadian itu sudah delapan tahun silam namun ingatan nya tentang Cinta tidak pernah bisa tergantikan.
"Melamun terus!," ucap Mizka mengejutkan Luka yang sedang asik berkutat dengan memori indah bersama Cinta.
"Ngapain lo ke kamar gue?," tanya Luka dengan jutek.
__ADS_1
"Gue mau ajak lo ke toko bunga, gue mau cari bunga buat cewek gue. Mau ikut nggak?," ajak Mizka seraya membenahi rambutnya di cermin yang berada di kamar Luka.
"Lo tau gue nggak bisa nolak, kan?," jawab Luka seraya bangkit dan berganti pakaian di kamar ganti.
"Lo emang nggak pernah bisa menolak kalau soal Cinta! Cepat jangan kelamaan nanti keburu di patok orang tuh jodoh lo," ujar Mizka dan segera berlalu pergi meninggalkan Luka yang sedang berganti pakaian.
Mereka berdua berlalu pergi menggunakan mobil ke toko bunga dimana Cinta bekerja. Mizka sangat sering pergi ke sana untuk membeli bunga, dan sesekali mencari informasi untuk Luka tentang Cinta. Namun ini pertama kali nya Luka pergi ke sana secara langsung.
"Lo kalau ketemu dia kenapa ketus banget sih?," tanya Mizka.
"Sama lo gue juga gitu. Nggak cuman sama dia doang," balas Luka sambil mengendarai mobil nya.
"Lo takut dia tau, atau lo emang pingin bikin dia ingat lo dengan cara seperti ini?," ujar Mizka.
"Opsi ketiga, gue nggak mau dia tau gue untuk sekarang. Gue mau menikmati dulu melihat dia dari jauh tanpa takut dia tau," ucap Luka seraya memberhentikan mobil nya di parkiran toko bunga itu. Luka turun lebih dulu diikuti oleh Mirza di belakang nya. Toko bunga itu cukup ramai karena hari ini adalah hari Sabtu malam Minggu, makanya banyak yang mencari bunga untuk diberikan kepada pasangan nya.
"Selamat datang di toko bunga matahari!," sapa Tika yang bekerja sebagai kasir.
"Boleh lihat lihat dulu kan?," tanya Mirza pada Tika.
"Silahkan, perlu di temani atau mau lihat lihat sendiri?," balas Tika dengan ramah.
"Di temani boleh, sekalian mau tanya tanya bunga yang pas,"
Tika dan Mirza berjalan lebih dulu mengelilingi kebun bunga yang berada di belakang toko bunga. Sedangkan Luka memilih untuk tetap di dalam toko dan melihat banyak contoh bunga bunga yang di pajang di dinding beserta dengan nama nya.
"Iya, Kak, ini bunga nya sangat cocok untuk pengantar acara pernikahan atau lamaran," suara perempuan yang tak asing untuk Luka membuat perhatian nya teralihkan. Itu suara Cinta. Kini gadis itu sedang sibuk menjelaskan bunga apa yang diinginkan oleh pembeli nya.
"Tiga buket aja, Mba," ucap pembeli itu. Lalu Cinta segera berlalu untuk mengemas buket bunga tulip putih dengan lihai nya. Senyum Luka terbit begitu saja tanpa ia sadari. Pesona Cinta begitu menarik untuk nya. Perempuan berkepang satu itu tidak begitu spesial, namun untuk Luka, dia lebih dari spesial. Tidak secantik artis artis atau bahkan anak SMA lain, namun kesederhanaan nya membuat Luka begitu mengagumi nya.
"Ini, Kak, buket bunga nya sudah siap. Terima kasih sudah mempercayai kami untuk membuat buket bunga spesial untuk orang yang spesial. Semoga suka!," ujar Cinta seraya menyerahkan tiga buket bunga itu kepada pembeli. Pembeli itu tersenyum begitu senang dan segera membayar pesanan nya dan pergi.
Cinta mengedarkan pandangan nya ke penjuru toko sampai ia melihat sosok laki laki yang tidak asing menurutnya sedang menatap ke arah nya dengan serius. Cinta segera menghampiri laki laki itu dan menatap nya bingung.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak?," tanya Cinta yang berhasil membuat Luka terkejut bukan main. Ia sibuk berkutat pada pikiran nya sampai tidak menyadari bahwa Cinta sudah berdiri di hadapan nya.
"Ada," jawab Luka berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Mau cari bunga apa?," tanya Cinta.
"Bunga Matahari," balas Luka.
"Oke, ayo ikut aku," ajak Cinta. Langkah kaki pendeknya berlalu ke arah kebun bunga untuk mengambil bunga yang Luka inginkan.
"Kamu mau berapa buket?,"
"Satu buket kecil," mereka berdua kembali ke dalam toko karena Cinta akan menghias buket bunga nya.
"Ini, Kak, bunga matahari nya," Cinta menyerahkan sebuket bunga matahari itu kepada Luka. Luka cukup puas dengan hasil nya, bunga matahari itu di hias sangat indah seperti penghias nya.
"Maaf sebelum nya, kamu satu sekolah sama aku kan? Kita pernah bertemu di jalan dekat sekolah waktu itu," tanya Cinta.
__ADS_1
"Iya," balas Luka dengan cuek. Ia sibuk menatap bunga matahari yang ada di genggaman nya.
"Tapi kenapa aku nggak pernah lihat kamu, ya, selama ini," ujar Cinta dengan bingung.
"Karena lo jarang keluar," jawab Luka dengan asal.
"Bagaimana kamu tau? Kamu kenal aku sebelum nya?," tanya Cinta curiga. Luka merutukih kebodohan dirinya yang terlalu asal berbicara yang kini berhasil membuat Cinta curiga kepada nya.
"Enggak, gue tau lo karena lo ketua kelas dan jadi pembawa bendera saat upacara bendera minggu lalu," jawab Luka setelah memikirkan jawaban apa yang paling tepat.
"Oh..., Kalau gitu salam kenal, ya. Aku Cinta, kamu?," Cinta mengulurkan tangan nya kepada Luka.
"Luka," balas Luka tanpa membalas uluran tangan Cinta. Sungguh, Luka terlihat sangat jahat sekarang. Cinta menarik perlahan jemari tangan nya dengan senyum kaku nya. Cinta kemudian kembali tersenyum dan menatap Luka yang sedang fokus melihat buket bunga matahari itu.
"Kamu tau nggak, filosofi tentang bunga matahari?," tanya Cinta dengan semangat.
"Enggak," balas Luka dengan singkat.
"Bunga matahari di artikan sebagai lambang kesetiaan dan kepatuhan. Karena bunga matahari selalu mengikuti arah cahaya matahari bergulir. Mulai dari terbit sampai terbenam, bunga matahari akan selalu mengarah ke arah matahari bergerak. Makanya di simbol kan sebagai lambang kesetiaan dan kepatuhan," ujar Cinta dengan lancarnya seolah ia sudah menghafal betul.
"Bagus filosofi nya. Gue suka sama-," ucap Luka yang terhenti ketika mendengar suara yang mengganggu perbincangan mereka.
"Ka, lo beli bunga nggak?!," tanya Mizka dengan suara kencang nya.
"Berisik banget sih, lo kira ini rumah nenek lo?!," balas Luka dengan sengit.
"Yaudah sih, orang tanya doang juga galak banget," ledek Mizka yang membuat Luka ingin sekali melempar nya ke jalan raya sekarang juga.
"Lo nanya tapi kayak orang ngajak ribut,"
"Oh lo beli bunga juga, buat siapa? Lo kan jomblo," lagi lagi Mizka membuat Luka naik darah karena perkataan nya.
"Buat Bibi di rumah, puas lo," ujar Luka dengan sinis. Cinta hanya terdiam bingung melihat situasi di hadapan nya. Kedua laki laki bertubuh jangkung berdiri di sebelah nya dan menghampit tubuh kecil nya.
"Eh, ini siapa? Gue lihat lo tadi sempet ngobrol sama dia," tanya Mizka.
"Aku Cinta, teman satu sekolah sama Luka," jawab Cinta dengan ramah.
"Gue Mizka, Abangnya anak biadab ini yang hanya berbeda satu tahun. Dan gue juga sekolah di sekolah yang sama kayak lo dan Luka," ucap Mizka memperkenalkan diri. Cinta tertawa renyah mendengar salam perkenalan Mizka. Kalau menurut Cinta, kedua saudara ini sangat menyenangkan. Yang satu cerewet dan jahil, yang satunya lagi cuek dan galak. Perpaduan yang sangat pas, bukan. Andai saja ia memiliki saudara seperti mereka, pasti hidup nya tidak akan semenyedihkan ini.
"Kalau gitu kita bayar sekarang aja buket bunga nya, abis itu kita pulang," mereka segera berlalu ke arah kasir untuk membayar pesanan mereka.
Cinta dengan cepat menggunakan komputer untuk melakukan pembayaran. Dan pembayaran pun selesai. Mereka berdua sangat puas dengan hasil buket dari toko bunga ini.
"Makasih banyak, ya, Cinta. See you besok di sekolah!," salam Mizka sebelum berlalu lebih dulu dari toko bunga itu.
"Makasih," ujar Luka dengan datar. Cinta mengangguk lalu melambaikan tangan nya sampai sosok Luka menghilang dari balik pintu.
Cinta menyadari satu hal yang menarik dari Luka. Laki laki bermulut pedas itu, begitu menarik. Walaupun galak, Cinta sama sekali tidak memakan semua omongan sarkas nya. Menurut Cinta, seseorang yang memiliki kepribadian dingin dan cuek seperti Luka, itu sangat kuat, itu semua merupakan bentuk perlawanan diri dari sisi diri nya yang lain yang tidak ingin orang lain ketahui.
Cinta sangat salut dengan seseorang yang seperti itu, karena sayang nya ia tidak bisa. Memiliki kepribadian yang terbuka dan tidak enakan, membuatnya sangat tidak mungkin untuk bersikap dingin kepada orang lain.
__ADS_1