OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
8. Tanpa judul


__ADS_3

Hari ini Cinta dan Ibu nya akan pergi ke makam Ayah nya dan Cala. Setiap satu bulan sekali, Cinta dan Meta berkunjung ke sana. Dengan wajah yang dibuat secerah mungkin, Cinta menyiramkan air yang ia beli bersama bunga di depan sana. Senyum cerah yang terpaksa Cinta tunjukkan membuat hati Meta teriris. Ia tahu betul bahwa buah hati nya pasti merasa bersalah atas kematian suami dan anak laki laki nya. Tapi Meta tidak henti henti nya berkata bahwa ini bukanlah salah nya.


"Assalamualaikum, Ayah, Kak Cala. Cinta datang bersama Ibu hari ini. Tapi Kak Tyra nggak bisa ikut, maaf, ya," ujar Cinta seraya mengusap kedua nisan yang ada di hadapan nya.


"Kakak sekarang Cinta udah bisa hidup mandiri bersama Ibu dan Kak Tyra. Cinta kerja setiap pulang sekolah di toko bunga. Semua Cinta jalani dengan senang hati, demi Kakak dan Ayah di sana. Supaya kalian tenang di sana karena di sini kita baik baik saja. Andai waktu itu tidak terjadi, ya, kita pasti bisa bahagia bersama sama di sini. Cinta kangen sama Kakak dan Ayah," Cinta tersenyum sendu, ia menahan diri untuk tidak menjadi gadis yang lemah. Karena Cinta harus kuat, setidaknya untuk diri nya sendiri ia harus bertahan.


"Cinta, Ibu sudah sering bilang kan sama kamu. Semua yang sudah terjadi, itu bukan salahmu. Ini memang takdir nya, Cinta. Nanti kamu juga akan mendapatkan jawaban nya, atas apa yang terjadi," saut Meta seraya mengelus puncak kepala anak nya yang kini sudah tertunduk dengan bahu bergetar menangis.


"Cinta minta maaf, Bu. Andai waktu itu Cinta menolak tawaran Ayah hikss... Kak Cala, Cinta minta maaf hikss... Cinta benar benar menyesal, Bu...," isak tangis Cinta membuat Meta memeluk tubuhnya erat. Mengusap pundak Cinta dengan halus berusaha menguatkan Cinta.


"Sudah, ya, Cinta. Ayah dan Kak Cala pasti marah kalau lihat Cinta nangis seperti ini. Tugas Cinta sekarang adalah, mencari jawaban atas alasan apa dan siapa yang melakukan ini, Cinta paham kan maksud Ibu?," ujar Meta dengan senyum menenangkan nya.


"Iya... Bu,"


Hari sudah menjelang siang, tapi Luka masih tak bergerak dari kasur nya. Ia masih betah bermain rubik di kasur nya sejak empat jam yang lalu. Padahal Mizka sudah lima kali datang dan mengajak Luka untuk sarapan, bahkan sampai waktu makan siang tiba Luka masih enggan bergerak untuk makan.


"Luka! Gue udah lima kali bolak balik ke sini, tapi lo masih duduk diam muter muter rubik, astaga, Luka!," ujar Mizka yang baru saja masuk dan berdiri di depan pintu menatap adik nya yang sama sekali tidak menatap ke arah nya.


"Ntar," jawab Luka singkat. Mata nya masih mengarah pada rubik yang terus ia acak acak dengan tangan nya.


"Ck, lo tuh lagi kenapa sih? Cerita kalau ada masalah, jangan diam-diam aja!," Mizka masuk dan mendudukkan diri di sebelah Luka.


"Gue lagi malas makan aja, Kak," balas Luka dengan singkat.


"Sok malas makan lagi, lo! Biasanya yang makan paling banyak kan lo," ucap Mizka dengan sengit. Luka tak menjawab perkataan Mizka yang meledeknya tapi malah menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat Mizka mengerutkan kening nya bingung.

__ADS_1


"Kalau gue udah usaha tapi kita emang nggak ditakdirkan bersama, gue harus apa?," tanya Luka dengan tangan yang kini sudah berhenti memainkan rubik.


"Kenapa lo tanya kayak gitu?,"


"Gue sayang sama Cinta, gue mau usaha buat kita bersama. Tapi kalau ternyata Cinta takdir nya bukan sama gue, gue harus gimana, Kak?," tanya Luka lagi.


"Luka, dengerin gue ya. Cerita cinta setiap orang berbeda beda, ada yang harus putus setelah bertahun tahun bersama. Ada yang harus merelakan hati nya patah untuk merelakan orang yang dia cintai buat orang lain. Ada yang bahagia bersama orang yang sudah berjuang bersama. Ada juga yang harus mengalah sama takdir karena ternyata orang yang sudah ia ajak berjuang bersama bukan lah jodoh nya. Tapi itu indahnya perjalanan mencari cinta. Penuh sama hal hal yang nggak pernah kita duga, tapi begitu mengesankan entah itu rasa sakit nya atau rasa bahagia nya,"


"Kadang juga lo harus patah hati karena cinta, dan bangkit kembali karena cinta. Karena cinta, dan luka itu nggak akan bisa dipisahkan. Ibarat oksigen dan karbon dioksida mereka udah terikat. Yang satu menguntungkan yang satu merugikan. Tapi ketika salah satu nya hilang, yang satu lagi tidak bisa bekerja dengan baik. Iya, kan?," ujar Mizka dengan tenang. Ia mengerti bahwa Luka meragukan takdir karena kedua orang tua nya yang sudah lama bersama tetap harus berpisah karena takdir mereka memang bukan untuk bersama.


"Jadi, gue harus tetap berjuang walaupun gue nggak akan tahu bagaimana takdir nya?," jawab Luka menatap ke arah Mizka.


"Lo harus lihat ke depan sana, Luka. Jalan lurus ke depan, nikmati semua yang datang dan pergi dalam perjalanan ke depan sana. Karena siapa tahu, dari datang dan pergi lo dapat hal yang nggak pernah lo duga sebelumnya," balas Mizka menepuk pundak adiknya dengan pelan.


"Ayo ah, makan! Gue lapar banget tahu nggak nungguin lo!," ucap Mizka seraya merangkul pundak adiknya. Mizka dan Luka bangun dari duduk mereka dan keluar bersama dari kamar Luka.


"Oh iya, udah lama banget kita nggak ketemu Mas Cetta, gimana kalau kita video call?," Luka mengangguk setuju sebagai jawaban atas ajakan Mizka. Dengan gesit Mizka memainkan ponsel nya mencari nama kontak Cetta dan menekan ikon telefon.


"Halo, Mizka. Ada apa?,"


"Hai, Mas! Aku sama Luka lagi makan siang, kita mau ajak Mas makan bareng nih. Bisa nggak?,"


"Kamu dadakan banget sih, Mas lagi di TKP jadi nggak bisa ninggalin tempat sekarang. Tapi gimana kalau makan malam nya aja kita dinner di restoran, gimana mau nggak?,"


"Oke, Mas. Oh iya, Mas makasih banyak, ya. Buat kiriman uang bulan ini, aku sama Luka pasti bakal balas semua yang udah Mas kasih, iya kan Luka?," Mizka mengarahkan kamera ponsel nya ke arah Luka yang sedang sibuk menikmati makanan nya.

__ADS_1


"Iya, Kak," jawab Luka sekedarnya.


"Hai, Luka. Gimana kabar Cinta? Mas tebak, kamu udah lama nggak ketemu sama Cinta, ya?," pertanyaan Cetta membuat Luka menatap nya tanpa ekspresi. Tebakan itu mendarat tepat sasaran, karena sudah hampir seminggu ini Luka tidak berjumpa dengan Cinta.


"Apa sih, Mas. Lagian, aku mana tau kabar dia. Orang aku juga nggak dekat sama dia,"


"Cie yang mau dekat tapi takut ditolak. Masa Luka jadi takut sih buat cari cari kabar tentang Cinta, biasanya juga kamu yang paling semangat buat minta Mas cariin kabar dia,"


"Aku lagi bingung, Mas. Nanti kalau Mas di sini aja aku cerita nya," Luka kembali melanjutkan acara makan nya.


"Dasar anak muda, cuman disuruh dekat aja bingung nya kayak mau diajak nikah. Kamu jangan kayak Luka, ya Mizka. Labil!,"


"Yeh, Mas kayak nggak pernah muda aja. Ya udah, Mas. Aku matiin ya telefon nya, sampai ketemu nanti malam!," Di layar ponsel terlihat Cetta yang melambaikan tangan nya. Pekerjaan nya sebagai Detektif membuat banyak waktu Cetta tersita untuk pekerjaan nya. Tapi Luka dan Mizka sangat bersyukur, karena mereka bisa bertemu dengan orang sebaik Cetta. Sosok yang bisa menjadi Kakak sekaligus Ayah untuk mereka.


Di toko bunga tidak sedang ramai, alhasil Cinta hanya duduk seraya memandangi beberapa pajangan bunga yang ada di tembok. Menyenangkan sekali ketika ia bisa melihat begitu banyak bunga yang sangat indah dipandang mata. Tiba tiba pintu toko terbuka menampilkan sosok Gega yang berjalan masuk ke arah nya.


"Eh, Gega. Kamu ada apa ke sini?," tanya Cinta dengan senyum ramah yang menyapa Gega.


"Ini Cinta, gue kau kasih tugas yang udah gue, Es, dan Zemi kerjakan. Tinggal tugas lo biar langsung bisa dikumpulin. Habis itu, kita kan harus belanja buat beli bahan bahan untuk praktek nya lusa," ujar Gega yang langsung menjelaskan apa keperluan nya ke sini Karena sebenarnya ia alergi terhadap serbuk bunga maupun aroma bunga.


"Tugas ku sudah selesai kok, nanti biar aku aja yang kumpulin. Untuk belanja nya, kita berempat pergi besok aja, ya? Aku bisa ikut kok," jawab Cinta.


"Ya udah ini tugas nya, gue balik duluan, ya. Udah nggak kuat lama lama di sini, Hachim!...," ucap Gega seraya menyerahkan map berisi beberapa kertas kepada Cinta. Lalu berlari keluar dari toko bunga. Cinta terkejut lalu ikut menyusul Gega ke luar toko.


"Kamu nggak papa, Ge? Maaf, ya, aku nggak tahu kalau kamu alergi," tanya Cinta khawatir. Gega yang baru saja selesai bersin bersin menatap mata Cinta dalam dalam. Cinta pun ikut menatap bola mata coklat milik Gega. Beberapa saat mereka bertatapan sampai akhirnya Gega yang bersin membuat acara tatap tatapan itu terputus.

__ADS_1


"Gue nggak papa, Cinta. Gue pamit, ya. Masih ada yang harus gue kerjain. Bye, Cinta! Semangat kerja nya, ya!," Gega mengelus puncak kepala Cinta dengan lembut dan segera berlalu dari sana meninggalkan Cinta yang menahan senyum nya.


"Gega baik banget ya, aku jadi kangen sama Kak Cala, dan Om detektif," ujar Cinta menghela nafas berat sebelum kembali masuk ke dalam toko bunga.


__ADS_2