
Pagi ini Cinta sudah siap dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya. Dengan senyum cerah ia akan menjalani hari ini dengan baik, sebaik yang ia bisa. Menerima segala hal yang akan terjadi hari ini, baik atau pun buruk.
"Ta, kamu udah mau berangkat ke sekolah?," tanya Meta, ibu Cinta.
"Iya, Bu. Aku harus ngejar bus pagi ini, kan sepeda ku masih di bengkel Mang Yono," jawab Cinta seraya mengikat tali sepatu nya.
"Ini ibu bawakan bekal, di makan, ya. Kamu hati hati naik bis nya, jangan terlalu buru buru," ujar Meta mengelus puncak kepala putri bungsu nya.
"Iya, Ibu. Aku pergi dulu ya, dadah!," Cinta melambaikan tangan nya dan menjauh dari rumah.
"Kamu anak yang kuat, Ata. Ibu selalu berdoa yang terbaik buat kamu," lirih Meta dengan senyum miris yang tercetak jelas di bibir nya.
"Aku datang lebih cepat," ujar Cinta ketika melihat jadwal keberangkatan bus yang akan membawa nya ber-teleportasi ke sekolah masih beberapa saat lagi datang.
Lima menit menunggu akhirnya bus itu tiba. Dengan cepat Cinta masuk dan memilih kursi di bagian tengah. Pandangan nya tertuju pada keadaan jalanan di luar sana. Cuaca hari ini sangat mendukung, panas mentari yang menghangat kan dengan semilir angin yang menyejukkan berpadu menjadi satu.
Mata bulat nya tertuju pada sebuah mobil yang melesat cepat melewati bus nya. Mobil berwarna kekuningan dengan bentuk yang terkesan kecil membuat Matahari membuka mulutnya karena terkejut.
"Wah, keren banget ya, mobil nya. Kapan ,ya, aku punya mobil kayak gitu?," tanya nya bermonolog pelan.
"Pasti mahal harga nya,"
Setelah itu Cinta kembali diam. Cinta sudah sampai di sekolah nya, bus itu berhenti tepat di depan halte sekolah. Cinta mengucapkan terima kasih, lalu turun dan berjalan ke sekolah.
"Tin!...," suara klakson nyaring membuat Cinta terkejut.
"Kalau jalan di sebelah kiri, bukan di tengah jalan," suara seorang lelaki mengisi pendengaran Cinta yang sibuk membersihkan sepatu nya yang terciprat sedikit air hujan yang tersisa.
"Maaf, ya," jawab nya pelan.
"Lo ganggu jalan orang!," ucap lelaki itu dengan sengit. Cinta mengangkat kepala nya pelan, lalu menatap lelaki yang ada di hadapan nya dengan gugup.
"K-kamu, mas mas yang kemarin pesan bunga mawar putih kan?," tanya Cinta ketika melihat siapa lelaki yang ada di hadapan nya.
Tanpa menjawab laki laki itu pergi meninggalkan Cinta dengan mobil nya.
__ADS_1
"Itu kan mobil yang tadi aku lihat di bus," ucap Cinta ketika menyadari warna mobil laki laki itu yang mencolok dan sama persis seperti yang ia lihat di bus tadi.
"Ternyata punya mas mas itu, eh bukan mas mas deh. Dia kan masih SMA sama kaya aku," ujar nya meralat. Lalu kembali melanjutkan perjalanan nya untuk pergi ke sekolah.
Koridor sekolah yang ramai dan suasana pagi yang hangat menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Cinta. Sesampai nya ia di kelas. Sudah ada teman sebangku nya di sana. Zemira Praja.
"Ta, lo di cariin Pak Dodo," ujar Zemira ketika Cinta baru menduduk kan diri di samping nya.
"Ada apa pagi pagi gini, ya?. Yasudah, aku ke ruangan Pak Dodo dulu," jawab Cinta.
"Jangan lama-lama, Ta," ucap Zemira mengiringi langkah kaki Cinta keluar dari kelas nya. Kaki pendek nya berjalan dengan sedikit terburu buru ke ruangan Pak Dodo yang ada di lantai bawah.
Di tangga banyak sekali murid murid yang berdesakan untuk naik ke atas membuat Cinta yang akan pergi turun ke bawah sedikit tertahan.
Akhirnya ia sampai di depan ruangan guru itu. Perlahan tapi pasti jemari tangan nya memutar knop pintu itu dengan perlahan. Kepalanya melongok untuk melihat apakah yang di carinya ada di dalam.
"Astagfirullah, Cinta. Kenapa kamu tidak langsung masuk? Kamu buat saya kaget tau nggak," ucap Pak Dodo dengan tangan kanan nya yang bertengger di jantung.
"Hehehe, maaf, Pak. Tadi Cinta cuman mau lihat Bapak ada atau tidak di dalam," jelas Cinta dengan tubuh yang sudah berdiri dengan tegap di depan pintu.
"Baiklah, tidak apa apa. Saya ingin meminta bantuan kamu, Cinta. Kamu kan ketua kelas, bisa tidak kamu bantu saya untuk memperkenalkan murid baru di kelas kita. Tapi dia laki laki, kamu nggak keberatan kan?," tanya Pak Dodo.
"Gega, kemari, Nak," ujar Pak Dodo kepada seseorang yang berada di dalam ruangan nya. Lalu tak lama setelah itu sosok lelaki tinggi jangkung berdiri di sebelah Pak Dodo dan menatap nya dengan ramah.
"Cinta, ini Gega Anjaya. Keponakan saya yang baru saja pindah ke sini. Dia di tempatkan di kelas kita. Sekarang kamu bisa kenalan dulu sama Gega, saya tinggal ya. Jangan lupa ajak Gega pergi ke koperasi dan beli seragam sebelum masuk ke dalam kelas. Om tinggal, ya, Gega. Terima kasih banyak, Cinta," ujar Pak Dodo sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Cinta yang terdiam sebentar sebelum mengulurkan tangan nya memperkenalkan diri.
"Nama aku Cinta Novela, biasa di panggil Cinta. Aku ketua kelas yang akan kamu tempati, semoga kamu dengan lapang dada menerima segala kekurangan kelas kami," ucap nya memperkenalkan diri dengan senyum manis nya. Gega membalas uluran tangan itu.
"Nama gue Gega Anjaya, anak baru yang akan menjadi salah satu anak buah lo di kelas nanti. Dengan senang hati gue akan menerima nya, kalau lo yang jadi ketua kelas nya," goda Gega membuat Cinta tertawa renyah karena nya.
"Bisa aja, kamu. Sekarang, kita pergi ke koperasi dulu buat beli seragam. Tapi, kamu bawa uang kan? Jangan bilang enggak, karena aku nggak punya uang buat beliin kamu seragam," ujar Cinta bercanda seraya melangkah kan kaki nya menyusuri lorong koridor sekolah yang terlihat masih ramai karena bel belum di bunyikan. Banyak pasang mata yang menatap ke arah nya dan Gega. Jelas karena Gega adalah anak baru yang terlihat sangat menarik bahkan saat pertama kali melihat nya. Senyum ramah nya begitu menarik hati para perempuan.
"Gega, berhenti senyum senyum.
Kamu buat mereka jadi merhatiin kita," ucap Cinta seraya menatap Gega dengan jengkel.
__ADS_1
"Nggak papa, Cinta. Berbagi kebahagiaan sedikit sebagai salam kenal buat mereka, nggak salah kan?," jawab Gega dengan tenang. Seolah ia tidak terganggu sama sekali dengan situasi ramai ini.
"Apa pun itu, ayo cepat jalan nya," ajak Cinta seraya berjalan dengan cepat. Gega pun mengikuti perintah Cinta tanpa membantah. Mereka berdua meninggalkan kerumunan itu dengan cepat. Dan di balik kerumunan orang itu, ada satu orang yang menatap Cinta dan Gega dengan kesal.
"Yah, kurang gercep sih lo. Keburu di ambil orang tuh, doi lo. Kebanyakan mikir sih," ucap laki laki lain di sebelah nya yang tak lain adalah Mizka.
"Apaan sih. Lo nggak jelas banget pagi pagi. Gue cuman nggak mau salah langkah karena terburu buru. Lagian lo juga nggak tau kan, siapa cowok itu, jadi jangan menyimpulkan sendiri kalau itu adalah pacarnya," jawab Luka dengan sengit. Abang nya ini benar benar membuat hati nya semakin panas sepagi ini.
"Lo itu cemburu. Cuman gengsi aja bilang nya. Gengsi nggak bikin lo bisa dapatin dia, kalau lo nggak berani maju satu langkah lebih dekat sama dia," ujar Mizka mengingatkan. Adik nya ini memang keras kepala dengan gengsi yang sangat tinggi.
"Gua nggak mau menyesal karena salah langkah. Udah ah, lo bikin gue lapar tau nggak. Ayo kita ke kantin," ajak Luka yang dengan cepat berlalu pergi ke kantin untuk menikmati semangkuk bubur ayam. Diikuti Mizka di belakang nya dengan kepala yang menggeleng lemah.
"Ukuran baju seragam kamu berapa, Ge? Ga?. Aih, enak nya manggil 'Ge', atau 'Ga'?," tanya Cinta dengan bingung.
"Apa aja suka suka lo, ibu ketua!," balas Gega seraya mengambil seragam berukuran tujuh belas di antara ukuran lain yang pemilik koperasi itu berikan.
"Ukuran seragam kamu gede banget, seragam aku aja cuman empat belas loh," ucap Cinta dengan tatapan polos nya ketika melihat Gega mengambil seragam berukuran tiga kali lebih besar dari ukuran nya.
"Ya, itu masalah mu, ibu ketua yang pertumbuhan nya terhambat," jawab Gega seraya menyerahkan beberapa lembar setelan seragam dan membayar nya.
"Ayo, udah selesai," ajak Gega. Cinta mengangguk dan berjalan lebih dulu untuk pergi ke kelas.
"Eh Cinta, ini siapa?," tanya salah satu teman kelas nya ketika Cinta baru akan masuk ke dalam kelas.
"Ini anak baru di kelas kita. Ayo masuk, kita kenalan dulu," ajak Cinta pada Nita. Nita mengangguk dan kembali masuk ke dalam kelas.
Semua teman teman nya sudah duduk dengan rapih di tempat mereka masing masing. Walaupun ada juga yang belum terlihat kehadiran nya di sana.
"Teman teman, kita kedatangan teman baru. Ayo Gega perkenalkan diri," ucap Cinta dengan senyum ramah nya.
"Hai, gue Gega. Anak pindahan dari Bandung. Salam kenal semua nya," ujar Gega memperkenalkan diri nya. Semua teman teman di kelas pun menyambutnya dengan senang hati.
"Jadi mulai hari ini kelas kita udah full, tiga puluh enam orang. Semoga dengan kedatangan Gega di kelas ini, bisa membuat kelas kita jadi lebih baik lagi. Kiko, sebelah kamu kosong kan?," tanya Cinta pada Kiko yang sedang asik memainkan uno bersama teman teman nya.
"Iya, Ta," balas Kiko.
__ADS_1
"Ya udah, Gega kamu bisa duduk di sana, ya," kata Cinta menunjuk ke arah tempat duduk Kiko dan teman teman nya.
"Makasih banyak, Cinta," ucap Gega dengan senyum tulus. Cinta mengangguk dan segera berlalu mendudukkan diri ke kursi nya dengan Zemira.