
Gega, Cinta, dan Zemira sedang duduk bersama di salah satu bangku kantin seraya menikmati makan siang mereka. Cinta dengan nasi goreng nya, Gega dengan bakso, dan Zemira dengan mie ayam. Ketiga nya sibuk dengan makanan mereka masing masing. Suasana kantin yang ramai tidak sama sekali mengusik mereka.
"Ta, nanti jadi ke rumah gue kan?," tanya Gega setelah selesai menghabiskan makanan nya.
"Jadi kok, kebetulan aku sudah izin sama Kak Jovita. Kamu ikut kan, Zem?,"
"Gue nggak bisa, Ta. Sorry banget, opung gue mau ke rumah hari ini," jawab Zemira.
"Yah, yaudah biar aku sama Gega aja yang ngerjain tugas nya. Enggak apa apa kan, Ge?," ucap Cinta seraya membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Ya gue mah nggak papa, tapi dia nggak dapat tugas apa apa?," tanya Gega.
"Zemira biar kerjain yang Bahasa Inggris, kamu sama aku kerjain yang Matematika sama Bahasa Indonesia," ujar Cinta.
"Oke, tapi nanti ke supermarket dulu, Ta. Bunda minta beliin bahan masakan buat minggu ini, mau kan?,"
"Mau, aku suka masak juga kebetulan. Jadi udah sering beli beli bahan makanan,"
"Zem, gue denger lo lagi deket sama adik kelas, ya?," tanya Gega pada Zemira.
"Tau dari mana lo?," balas Zemira dengan tenang. Siapa yang tidak mengetahui kabar ini coba? Mungkin hanya Cinta yang tidak mengetahui secara ia anak yang malas mencari informasi.
"Dari Tito, dia kan anak futsal dan setim sama Tito. Pinter juga lo cari cowo kaya dia,"
"Iyalah, Zemira gitu loh," Cinta hanya tertawa renyah mengingat bahwa Zemira memang cantik dan terkenal di sekolah. Jadi tidak heran kalau ia memiliki banyak kenalan dan koneksi di sekolah.
__ADS_1
"Kalau lo, Ta? Lo lagi dekat sama siapa?," tanya Gega pada Cinta.
"Yakin kamu tanya itu sama aku? Udah jelas kamu sendiri tau jawaban nya apa," balas Cinta dengan senyum riang nya. Ini adalah pertanyaan yang paling sering ia jumpai akhir akhir ini. Karena hampir semua teman teman nya di kelas sudah memiliki pacar, kecuali dirinya dan Gega.
"Lo nggak mau cari cowok?," tanya Zemira yang sangat ingin Cinta memiliki pacar.
"Mendingan aku cari uang dari pada cari cowok. Cari uang bisa berguna banyak, sedangkan cari pacar cuman bisa dapat sakit hati, benar kan?," Zemira di buat diam tak berkutik. Sedangkan Gega tersenyum kemenangan, karena ia dan Cinta sama sama tidak mau mencari pacar dan memilih menjomblo.
"Bagus, Ta. Nah, Zem, dengar tuh kata Ibu negara kita," ledek Gega pada Zemira. Zemira merenggut sebal menatap Gega.
"Udah yuk, ke kelas," ajak Cinta seraya bangkit dari duduk nya diikuti Gega dan Zemira. Mereka bertiga berjalan berlalu dari kantin. Saat melewati tangga yang menghubungkan ke kelas dua belas, Cinta bertemu dengan Mizka dan Luka yang baru saja turun dari sana. Cinta tersenyum hangat menyapa mereka.
"Hai, Cinta," sapa Mizka seraya memberhentikan langkah kaki nya untuk sekedar menyapa Cinta.
"Hem...," balas Luka bergumam.
"Sorry, Ta, adik gue lagi sariawan jadi males ngomong," ujar Mizka.
"Ohh gitu, cepat sembuh, Luka. Aku sama teman teman naik dulu ya, Kak," ujar Cinta pamit. Mizka mengangguk lalu melambaikan tangan nya ke arah Cinta yang sudah berbalik untuk melanjutkan perjalanan nya ke kelas.
"Heh, lo bukan nya jawab sapaan nya malah ehem ehem doang. Bisulan bibir lo?," tanya Mizka pada Luka yang memasang wajah datar.
"Apaan sih, ribut sendiri lo, dia aja biasa. Cepat, gue lapar," lalu Luka berjalan cepat meninggalkan Mizka yang menatap nya kesal.
"Muna banget sih, adik gue. Padahal dia senang, tapi sok-sok an nggak peduli," Mizka kembali mengikuti langkah kaki Luka yang menjauh. Terkadang ia bingung, sebenarnya siapa yang lebih tua diantara mereka, dirinya atau Luka. Karena mengapa malah ia yang terus mengikuti adiknya, seolah olah Luka adalah kakak nya. Membingungkan.
__ADS_1
"Ka, dua minggu lagi kita bakal pergi ke tempat Mama kan? Gue kangen banget sumpah," tanya Mizka seraya menikmati makanan di hadapan nya.
"Lo aja deh, gue sibuk," balas Luka dengan malas. Ia tidak suka membahas soal Mama nya, ia sangat sensitif jika ada yang membahas nya.
"Lo masih sama, Ka. Atau emang nggak akan pernah berubah. Kenapa lo masih nggak bisa buat lepasin semua tentang masa lalu yang mengikat lo? Kalau kaya gini terus, sampai kapan kita akan jauh dari-,"
"Gue cuman belum siap buat ketemu sama dia. Lo tau alasan nya, dan stop bahas masalah ini ketika kita lagi makan. Lo bisa pergi sendiri buat temuin dia, gue nggak bisa," jawab Luka dengan cepat menyela omongan Mizka.
"Gue nggak pernah ngajarin lo jadi anak yang kurang ajar kaya gini. Itu semua bukan pyur salah mereka, tapi emang takdir mau nya mereka kaya gini. Lo udah gede, bukan adik gue yang masih kecil dan harus di jelasin berkali kali baru ngerti. Buka pikiran lo, kita harusnya bersyukur kita masih punya mereka. Enggak seperti mereka yang sudah di tinggal pergi selama selama nya, dan nggak akan pernah bisa bertemu lagi. Kita masih bisa ketemu sama mereka, harusnya kita bisa manfaatin waktu itu sebelum tidak ada kesempatan lagi," ujar Mizka dengan panjang lebar. Luka tetaplah Luka, yang beku dan gelap.
"Bukan hanya kehendak takdir, tapi mereka yang memang enggak benar benar saling mencintai. Mereka yang memilih pergi ke arah berbeda dan mempertahankan ego masing masing. Tanpa memikirkan kita yang membutuhkan mereka saat itu. Tapi mereka menelantarkan kita tanpa ingin tahu bagaimana kabar kita di sini. Kita berjuang cuman berdua, Miz. Kenapa lo masih peduli sama mereka, hah?. Sedangkan mereka udah asik sama dunia mereka sendiri. Kita bisa berjuang berdua. Tanpa mereka," balas Luka dengan dingin. Ini semua karena sebuah kesalahan sepuluh tahun silam yang berakhir dengan sangat membekas dalam ingatan dan menjadi sebuah goresan hitam dalam cerita hidup mereka berdua.
Ketika kedua orang yang berkedok saling mencintai dahulu, memilih untuk berpisah dan mengambil arah yang berlawan. Luka dan Mizka hanya bisa berdiam dan mencerna keadaan itu di titik temu, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berdua berpisah dan membangun kastil mereka masing masing. Kastil berdinding besar tanpa celah untuk sekedar menyambut kedua buah hati yang mereka ciptakan dengan arti cinta yang salah di artikan. Mizka dan Luka kecewa, dan mereka memilih untuk membangun rumah kecil yang nyaman untuk berlindung dari serangan mimpi buruk yang terus menghantui tidur nya setiap malam.
Bagaimana tidak kecewa, mereka melupakan Luka dan Mizka begitu saja. Mereka berdua menikah dengan pasangan yang baru lagi. Sedangkan Luka dan Mizka hanya bisa berharap kalau semua ini hanya lah mimpi buruk yang akan selesai setelah mereka membuka kembali matanya. Tapi ternyata tidak, semua nya sudah terjadi dan hanya menyisakan sebuah bekas hitam tanpa tahu bagaimana cara menghapusnya.
Namun kini Mizka sadar, bahwa bekas hitam itu bisa hilang ketika ia mau menyelesaikan apa yang belum terselesaikan dahulu. Yaitu dengan berdamai kepada Mama dan Papa mereka. Tapi Luka tidak sama sekali menginginkan perdamaian dengan kedua orang tua nya. Atau bahkan mereka tidak sama sekali pantas untuk di sebut orang tua. Karena bagi Luka, orang tua nya adalah Mizka, orang tua nya yang sesungguhnya. Mizka yang mengurusnya sejak kecil tanpa campur tangan siapa pun. Sampai akhirnya mereka berdua bertemu dengan sesosok malaikat tanpa sayap yang hadir bagai penerang untuk hidup kelam mereka.
Namanya Alcetta Wira kusuma, seorang detektif terkenal dengan kehebatan nya untuk mengungkap sebuah misteri yang bahkan tertutup rapat rapat. Cetta sangat berarti bagi hidup dua remaja ini. Cetta dengan senang hati mengulurkan tangan nya untuk membantu Mizka dan Luka bangkit dari keterpurukkan.
"Lo ingat kita pernah janji sama Mas Cetta buat ketemu sama mereka. Kita janji buat memaafkan mereka walaupun kita nggak bisa bersama lagi. Dia pasti kecewa kalau tau lo masih sedingin ini," ucap Mizka dengan gelengan kepala.
"Gue muak sama semua nya, Miz. Buat apa juga kita cari mereka dan buang buang waktu cuman buat buka kembali masa lalu yang udah usang itu?. Sedangkan mereka kayanya udah lupa sama kita, bukti nya mereka nggak sama sekali cari kita. Udah sepuluh tahun, tapi nggak ada tanda tanda kalau mereka mencari kita. Jadi buat apa juga? Gue tetap nggak mau cari mereka, kalau lo mau. Lo bisa pergi sendiri," setelah mengatakan itu, Luka bangkit dari duduk nya dan pergi meninggalkan Mizka yang berhasil di buat diam oleh omongan Luka. Luka ada benarnya, kedua orang tua mereka tidak sama sekali mencari mereka selama sepuluh tahun lamanya. Apa mereka benar benar sudah tidak ingat dengan dua buah hati mereka.
"Tapi gue harus apa, Luka?. Gue cuman mau kita semua bisa baikan lagi, biar nggak terus terusan jadi dendam kaya gini. Aku harus apa, Mah, Pah?. Kalian dimana? Kenapa nggak pernah cari aku dan Luka? Kalian jahat, kalian jahat banget," gumam Mizka seraya menenggelamkan kepala nya di lipatan tangan. Ingin rasanya ia berteriak kencang melepaskan segala sesak di hati nya.
__ADS_1