OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
19. Barang Bukti


__ADS_3

Malam ini, Cinta sedang tidak bisa tidur. Entah mengapa, ia tidak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja. Karena beberapa saat yang lalu, Cinta tidak sengaja menemukan barang barang lama milik Ayahnya yang berada di bawah tempat tidurnya. Memang sejak sibuk bekerja paruh waktu di toko bunga, dan sekolah, Cinta tidak pernah membenahi kamarnya. Karena biasanya memang rapi, dan tidak berantakan jadi Cinta berpikir tidak harus membersihkan nya sekarang. Tapi tadi ketika ia tidak sengaja menjatuhkan cincin nya yang lalu masuk ke dalam kolong kasur, Cinta malah menemukan kotak berwarna hitam di sana.


Dengan cepat Cinta membawanya keluar dan menatap kotak itu dengan bingung. Cinta tidak pernah memiliki kotak seperti ini. Kotak itu tidak terlihat berdebu, seperti baru disimpan di sana.


Kotak itu tidak terkunci oleh apa pun, Cinta membukanya dengan perlahan karena ia sedikit takut tentang apa isi kotak ini. Setelah Cinta memberanikan diri untuk membukanya, ia dibuat terkejut dengan isi yang berada di dalam kotak tersebut.


Di dalam nya terdapat seragam tentara milik Ayahnya yang langsung membuat Cinta meneteskan air mata dan memeluk seragam tentara tersebut dengan erat. Ia merindukan sosok Ayahnya yang setiap pagi ketika ia bangun untuk pergi ke sekolah, Ayahnya sudah siap dengan seragam tentaranya menyambut Cinta dengan pelukan hangat.


"Ayah...., Ata kangen Ayah...," ucap Cinta dengan suara lirihnya, ia terus memeluk seragam itu dengan air mata yang tak henti mengalir.


Kini semakin ia besar, semakin terasa bahwa sosok Ayah sangat ia perlukan ketika ia merasa lelah dengan semua yang ia jalani, ia butuh sosok Ayah yang bisa memberikan bahu dan pelukan nya tanpa sungkan kepada nya ketika ia sangat ingin menyerah pada keadaan. Tapi kini, sosok Ayahnya hanya sebuah bayangan fana yang tidak bisa gapai apalagi ia miliki. Cinta benar-benar merindukan Ayahnya. Cinta ingin melihat tatapan hangat yang selalu Ayahnya berikan ketika berbicara kepadanya, Cinta merindukan kalimat manis yang selalu Ayahnya ucapkan ketika Cinta mulai menangis. Cinta merindukan usapan tangan Ayahnya di kepalanya ketika Ayahnya merasa gemas dengan tingkahnya. Ayahnya adalah orang yang sangat baik, ramah, penyayang, dan ia adalah cinta pertama yang paling berkesan untuk Cinta. Bahkan sampai saat ini, tidak ada yang bisa membuat nya jatuh cinta, seperti ia mencintai Ayahnya.


"Kalau Ayah bisa dengar Cinta sekarang, Cinta mau bilang Cinta sayang banget sama Ayah. Cinta kangen banget sama Ayah. Ayah tau kan, Cinta udah berusaha buat kuat sampai sekarang? Ayah tau kan, Cinta nggak akan kalah sama keadaan? Semua itu Cinta lakukan karena Cinta nggak mau buat Ayah kecewa sama Cinta. Cinta mau tau apa jawaban yang selama ini disembunyikan, juga untuk Ayah. Cinta janji, Cinta akan cari jawaban nya sampai kapan pun, Cinta janji, Yah," ujarnya dengan suara yang terdengar pilu.


Ketika sudah merasa lega, Cinta mulai melihat apa isi dalam kotak itu selain seragam ayahnya. Ternyata di bawah seragam tentara milik Ayahnya terdapat sebuah surat dan foto.


Surat itu bertinta merah yang bertuliskan,


Kamu selalu menang.


Kamu selalu unggul dalam segala hal.


Kamu bahkan bisa mendapatkan hati orang yang paling aku cintai.


Kamu merebut satu-satunya orang yang aku miliki, Jess.


Kali ini, aku tidak akan membiarkan kamu menang.


Sampai jumpa, wahai sahabatku.


Begitulah isi dari surat bertinta merah itu. Dan di bawahnya terdapat deretan angka angka yang membuat Cinta mengerutkan dahinya.


00100000 01100001 01101011 01100001 01101110 00100000 01101101 01100001 01110100 01101001 00001010 00001010


Cinta terdiam beberapa saat dan mulai berpikir. Apa kepergian Ayahnya memang lah sebuah rencana pembunuhan?. Dan ini adalah surat yang pembunuh itu berikan sesaat sebelum kepergian Ayah. Cinta langsung meraih foto yang tadi ia temukan di dalam kotak. Foto itu sudah sangat usang, sudah sangat lecek pula. Yang bisa Cinta lihat difoto itu adalah, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang berdiri di tengah. Tapi yang bisa ia kenali hanya sosok Ayahnya. Dua sosok lainnya tidak terlihat jelas. Pembunuhnya pasti salah satu dari dua sosok ini, pikir Cinta.


Apa kah sosok yang perempuan? Tapi apa mungkin? Jelas-jelas di surat itu yang menulis seperti seorang laki-laki yang merasa iri dengan apa yang Ayahnya miliki. Mana mungkin seorang perempuan. Kini, setitik cahaya mulai terlihat menerangi jalan setapak yang selama ini Cinta lalui dengan gelap gulita. Akhirnya, ia punya titik terang yang dapat membantunya untuk mencari jawaban atas kematian Ayahnya yang Cinta yakin ini adalah sebuah pembunuhan berencana.


Karena hal itu lah, Cinta tidak bisa memejamkan matanya padahal kini jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, dan tiga jam dari sekarang ia sudah harus berangkat ke sekolah dan bekerja setelah pulang sekolah. Tapi Cinta tidak peduli, ia sibuk berpikir langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.


Om Detektif masih berada di luar kota sekarang, mereka memang masih sering berkabar beberapa kali dalam seminggu. Tapi rasanya, sudah lama mereka tidak pergi ke panti asuhan untuk bermain bersama anak-anak panti. Sudah lama juga mereka tidak berjumpa langsung, Cinta merindukan sosok nya yang sangat hangat seperti Ayahnya. Cinta berharap Om Detektif bisa segera pulang.


Cinta kini lebih sering bertemu dengan Om Chandra, sesekali Om Chandra suka mengirimkan nya makanan ke rumah. Dan juga bertemu di tempat kerja Cinta yang tidak jauh dari kantor polisi tempat Om Chandra bekerja. Cinta sangat senang, ia berada di sekitar orang orang yang sangat baik kepadanya.


Cinta baru ingat, apakah ia harus memberitahukan hal ini kepada Om Chandra? Sepertinya ia harus. Ia tidak akan bisa menyimpan ini sendirian, ia butuh Om Chandra atau Om Detektif. Karena hanya mereka berdua yang tahu akan masalah nya.


Besok Cinta akan meminta waktu Om Chandra sebentar untuk memberitahukan hal ini.


...----------------...


Setelah pulang sekolah, Cinta, Gega, Zemira, Luka, berjalan keluar dari kelas bersamaan. Ya, mereka kini menjadi teman sekelas di kelas dua belas IPA-3.


Mungkin banyak yang bertanya di mana keberadaan Felix sekarang. Sekarang Felix sudah tidak lagi sekelas dengan mereka. Felix berada di kelas dua belas IPA 1, yang kelasnya berada cukup jauh dari kelas mereka. Tapi walaupun seperti itu, mereka sesekali suka berkumpul bersama di kelas. Biarpun tidak sekelas, mereka masih tetap berteman.


"Lo langsung ke tempat kerja, Ta?," tanya Gega pada Cinta yang berdiri di sebelah Luka.


"Enggak, Ge. Ada hal yang harus aku urus setelah ini," balas Cinta yang sedari pagi terlihat tidak tenang. Bahkan hari ini tidak ada senyum manis yang biasanya selalu terlihat di wajah cantiknya.


"Urusan apa? Guee dan yang lain bisa bantu nggak?," saut Zemira.


"Bukan urusan penting, kok. Jadi aku bisa urus sendiri," ucap Cinta dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Biar gue yang antar," ujar Luka dengan suara datar.


"Kali ini, aku mau pergi sendiri. Aku janji, aku akan baik baik aja," jawab Cinta dengan suara yang halus.

__ADS_1


"Enggak bisa, Cinta. Gue antar atau Luka yang antar lo, kita nggak akan ikut campur. Kita cuman akan antar lo, dan pastiin lo baik-baik aja," balas Gega dengan tegas.


"Kalau gitu aku mau diantar Gega, kamu bisa istirahat di rumah, Luka. Aku tau kamu lagi nggak sehat, kamu harus banyak-banyak istirahat, ya," ujar Cinta pada Luka yang ada di sebelahnya.


"Gue nggak sakit," jawab Luka dengan wajah datarnya.


"Ingat, kamu bukan robot. Kamu manusia yang bisa sakit. Ink kan yang selalu kamu bilang sama aku, dan sekarang aku yang akan bilang ini sama kamu," balas Cinta dengan senyum hangatnya.


"Oke," ucap Luka pada akhirnya. Karena memang sejak beberapa hari yang lalu, ia merasa kurang enak badan. Kepala nya sering sakit dan tubuhnya kurang berenergi tidak seperti biasanya.


"Yaudah, aku sama Gega duluan, ya. Zemi kamu pulang sama siapa?," tanya Cinta pada Zemira.


"Pak Memet udah jemput di luar," balas Zemira. Pak Memet adalah supir keluarga Zemira.


"Bagus deh kalau begitu, kalian hati-hati ya, pulang nya," ujar Cinta seraya berlalu bersama Gega menuju parkiran mobil Gega.


"Kasian deh lo, Cinta lebih milih Gega," ledek Zemira setelah Cinta berlalu dari pandangan mereka. Luka hanya memasang wajah datar, lalu menepuk kepala Zemira dengan pelan.


"Berisik," setelah mengatakan itu, Luka berlalu pergi meninggalkan Zemira karena Mizka sudah menjemputnya untuk pergi. Hari ini, Mas Cetta akan pulang. Jadi Luka dan Mizka akan menjemputnya di bandara siang hari ini. Cetta mendapatkan tiga bulan untuk pulang lebih awal dari jadwal seharusnya. Dan itu merupakan hal baik karena sudah sangat lama rumah begitu sunyi tidak seramai jika ada Cetta di sana.


Cinta dan Gega berlalu meninggalkan parkiran sekolah dan segera menuju ke alamat yang Cinta berikan. Sejujurnya Cinta ragu untuk bertemu Om Chandra karena Gega yang mengantarnya. Gega dan Luka sebenarnya sama saja, over protektif. Siapa pun yang berbicara dengan Cinta pasti tidak akan lepas dari pandangan mereka. Dan Cinta takut, Gega juga akan curiga dengan Om Chandra yang tidak ia kenal sebelumnya.


"Habis antar aku, kamu mau langsung pulang atau mau tunggu aku? Kalau kamu mau pulang, aku bisa pulang sendiri, kok," tanya Cinta saat mereka sudah hampir sampai di tujuan.


"Hari ini gue kosong, jadi gue bisa tungguin lo sampai selesai," balas Gega. Cinta mengangguk sebagai balasannya. Sebenarnya ia berharap kalau Gega ada keperluan setelah mengantar nya agar ia bisa bebas bercerita dengan Om Chandra. Ia tidak mau banyak orang yang tahu akan masalahnya ini. Tapi sepertinya Gega akan segera tahu akan masalah nya.


Mereka sampai di salah satu restoran yang biasanya hanya bisa di pesan secara privat. Karena restoran ini biasa digunakan untuk meeting rahasia atau sebagainya. Cinta juga tidak tahu mengapa Om Chandra meminta nya ke sini. Mungkin karena Om Chandra takut ada yang mendengar obrolan penting mereka.


"Lo yakin ini tempat ketemuan nya? Ini kan restoran privat," tanya Gega ketika mereka berdua sudah turun dari mobil dan siap melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.


"Iya, aku juga nggak tau kenapa kita ketemuan di sini. Kita coba masuk aja," ajak Cinta seraya melangkah kakinya untuk masuk ke dalam. Ketika ia akan masuk, seorang pelayan perempuan datang menghampirinya.


"Selamat datang, apa benar ini Cinta?," tanya nya dengan sopan.


"Baiklah, mari saya antar ke meja yang sudah di siapkan," ujar pelayan tersebut seraya berjalan lebih dulu diikuti Cinta dan Gega di belakangnya.


Cinta melambaikan tangan nya ke arah Chandra yang sudah berada di sana. Tapi berbeda dengan Gega yang terlihat sangat terkejut dengan keberadaan Chandra di sana.


"Terima kasih banyak, Mba," kata Cinta kepada pelayan tersebut setelah mereka sudah berdiri di hadapan Chandra.


"Selamat menikmati," pelayan itu langsung berlenggang pergi meninggalkan ketiga nya.


Cinta masih dengan senyum nya menatap ke arah Chandra dan Gega yang saling tatap bingung.


"Papah," ucap Gega yang membuat Cinta menoleh ke arahnya dengan dahi yang berkerut bingung.


"Papah kenapa ada di sini?," tanya Gega pada Chandra yang masih terdiam di tempatnya.


"Papah? Om Chandra itu Papah kamu, Ge?," tanya Cinta pada Gega.


"Iya, Ta. Ini Papah gue," jawab Gega yang berhasil membuat Cinta terkejut.


"Kalian duduk dulu," suruh Chandra. Mereka berdua menurut dan segera mendudukkan diri di kursi yang sudah disiapkan.


"Papah sejak kapan kenal sama Cinta?," tanya Gega pada Chandra.


"Belum lama. Itu juga nggak sengaja, tapi karena suatu hal Papah jadi kenal dekat dengan Cinta," balas Chandra yang menjawab rasa penasaran Gega.


"Karena suatu hal apa?," Rasanya Gega begitu ingin tahu mengapa Papahnya bisa mengenal Cinta.


"Kamu akan tau setelah ini. Jadi Cinta, apa yang ingin kamu katakan?," ucap Chandra.


Cinta membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan kotak hitam dari tasnya.


"Ini apa?," tanya Chandra.

__ADS_1


"Kemarin Cinta ketemu kotak ini di kamar. Dan isi nya ternyata barang-barang milik Ayah, Om. Cinta berpikir kalau ini bisa menjadi titik terang buat kasus ini," ujar Cinta dengan kotak hitam di tangan nya.


"Kotak ini siapa aja yang pegang sejak kamu temukan di kamar? Kamu atau ada yang lain yang pegang kotak ini?," balas Chandra yang dengan teliti melihat kotak yang ada di genggaman Cinta.


"Baru aku Om yang pegang, emang nya kenapa, Om?," tanya Cinta dengan bingung.


"Kotak ini nggak mungkin ada di sana dengan sendirinya. Pasti ada seseorang yang menyimpan kotak ini di kamar kamu. Karena itu, kita bisa cek sidik jari yang ada di kotak ini selain sidik jari kamu," kata Chandra yang membuat Cinta mengangguk mengerti, tapi tidak dengan Gega.


"Kasus? Sidik jari? Kalian ngomongin apa sih?," tanya Gega.


"Papah sedang membantu Cinta mengungkap kasus kematian Ayahnya yang sepertinya sudah direncanakan. Kamu harus jaga rahasia ini, Gega. Kamu juga harus jagain Cinta karena Papah yakin, ada orang di sekitar Cinta yang bisa membahayakan Cinta," ujar Chandra pada Gega yang sudah mulai mengerti kemana arah perbincangan mereka.


"Baik, Pah. Gega akan jagain Cinta," balas Gega dengan yakin.


"Sebentar, ini apa?," Chandra meraih benda hitam berbentuk koin yang berada di pinggiran tas sekolah milik Cinta yang terlihat mencurigakan.


"Ini alat penyadap suara," dengan cepat Chandra menginjak alat itu dengan kencang dan membuangnya ke tempat sampah.


"Penyadap suara? Kenapa bisa ada di tas aku?," tanya Cinta dengan nada takut.


"Pasti ada orang yang taro itu di tas lo saat lo lagi nggak sadar, untung aja Papah sadar duluan. Jangan sampai orang itu dengar apa yang lagi kita bicarain," ujar Gega dengan tenang.


"Mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati ya Cinta. Sepertinya, sekitar kamu bisa jadi tempat yang nggak aman untuk kamu," saut Chandra yang terlihat terkejut dengan adanya alat penyedap suara tersebut. Ia semakin yakin, pelaku nya ada di sekitar Cinta.


"Iya, Om," balas Cinta dengan suara yang pelan.


"Kita lanjut. Sekarang Cinta buka kotaknya dan simpan kotak nya ke dalam plastik ini," Chandra menyerahkan plastik yang biasa digunakan untuk menyimpan barang bukti penyelidikkan yang ia selalu bawa di saku nya. Dengan cepat Cinta membuka kotak itu dan mengeluarkan semua isi nya. Setelah itu ia memasukkan kotak itu ke dalam plastik yang Chandra berikan. Dengan begitu tidak akan ada sidik jari lain yang tercetak di kotak tersebut.


"Ini barang-barang milik Ayah, Om. Tapi surat ini bukan tulisan tangan Ayah," ujar Cinta seraya menunjukkan surat nya kepada Chandra.


"Wahai sahabatku, jelas sekali bahwa yang menulisnya adalah sahabat Ayah kamu, Cinta," jawab Chandra.


"Om Detektif pernah berbicara tentang sahabat Ayah. Katanya, satu hari sebelum kejadian itu Ayah secara resmi diangkat menjadi Brigadir Jenderal. Dan semua orang yang ada ditempat Ayah bekerja, sangat mengenal Ayah dan sahabatnya. Tapi sejak kejadian itu, sahabat Ayah itu tidak pernah lagi datang bekerja. Karena yang Om Detektif bilang ketika Ayah naik jabatan, sahabat Ayah tidak bahkan turun jabatan karena suatu hal. Om Detektif juga berpikir kalau sahabat Ayah bisa jadi orang yang patut dicurigai. Kemungkinan sahabat Ayah itu marah dan benci karena Ayah selalu menang sedangkan ia tidak. Makanya di surat ini dia menuliskan kalau dia tidak akan membiarkan Ayah menang," ujar Cinta dengan panjang lebar yang membuat semuanya makin terlihat jelas bahwa seseorang yang paling mencurigakan adalah sahabat Ayah tersebut.


"Masalahnya siapa sahabat Ayah Cinta? Clue dari surat ini nggak mengarah ke seseorang, tapi foto ini? Salah satu dari dua orang di foto ini bisa jadi pelaku nya kan?," tanya Gega seraya memperhatikan dengan teliti foto dua orang yang terlihat sangat rusak dan usang.


"Menurut Papah juga gitu, untuk sekarang biar Papah yang melanjutkan kasus ini. Tugas Gega sekarang adalah jaga Cinta karena sepertinya pelaku nya sudah tau kalau Cinta akan mengangkat kasus ini kembali. Cinta jangan khawatir, ya. Om akan kabarin Om Detektif juga soal perkembangan kasus ini. Jadi Cinta fokus belajar dan jaga diri ya," ujar Chandra pada Gega dan Cinta. Setelah itu, semua barang bukti Chandra simpan untuk penyelidikkan lebih lanjut. Gega dan Cinta segera berpamitan untuk pulang, dan Chandra kembali bekerja.


"Gue nggak tau kalau selama ini lo lagi berusaha buat pecahin kasus serumit ini," ucap Gega ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil kembali.


"Aku juga nggak tau kalau kasus itu akan serumit ini," jawab Cinta dengan senyum kecil.


"Luka udah tau soal ini?," tanya Gega setelah menjalankan mobilnya.


"Belum, cuman aku, Om Detektif, dan Om Chandra. Tapi hari ini, kamu juga tau soal ini," balas Cinta.


"Om Detektif siapa sih? Dari tadi lo sama Papah ngomongin dia, tapi nggak nyebut nama nya siapa," ujar Gega yang terlihat fokus pada jalanan.


"Aku juga nggak tau nama Om Detektif yang asli siapa, dari awal aku ketemu, dia bilang panggil dia Om Detektif aja, dan sampai sekarang pun aku nggak tau siapa nama nya," jawab Cinta seraya menghela nafasnya, ia merindukan Om Detektifnya.


"Dia kemana sekarang? Kenapa nggak datang pertemuan hari ini?," tanya Gega yang sepertinya masih sangat penasaran dengan semua hal terkait kasus kematian Ayahnya.


"Sejak satu setengah tahun terakhir, Om Detektif dapat tugas bekerja diluar kota. Jadi, nggak bisa ikut pertemuan ini. Aku tau Om Detektif juga punya banyak pekerjaan, aku nggak pernah maksa dia buat bantuin aku. Tapi Om Detektif selalu bilang kalau dia selalu siap buat bantuin aku. Selalu semangatin aku, selalu kasih aku kata kata yang bijak banget, dan dia juga selalu bisa bikin aku bersyukur karena kehadiran nya aku bisa sedikit merasakan kehadiran Ayah walaupun rasanya nggak sama," kata Cinta dengan senyum hangatnya.


"Gue senang banget, lo punya banyak orang baik disekitar lo. Janji jangan sampai terluka, ya, Ta?," kini Gega menatap Cinta dengan serius.


"Aku janji, aku nggak akan buat kalian khawatir. Makasih banyak, Ge, udah jadi salah satu dari orang baik yang selalu ada buat aku," balas Cinta dengan tangan yang menggenggam tangan Gega dengan erat.


Gue tau perasaan ini salah, Ta. Tapi apa gue boleh menyimpan nya lebih lama lagi?. Ucap Gega dalam hati.


...****************...


"Sial, ketahuan!," ujar nya dengan geram seraya membanting ponselnya. Ia berlalu ke arah kaca dan menatap pantulan dirinya sendiri.


"Sekarang gue nggak bisa diam aja. Sebelum semuanya makin terlihat jelas, gue harus melakukan sesuatu," katanya dengan tangan yang terkepal kencang.

__ADS_1


__ADS_2