OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
17. Jaga Diri, ya, Cinta


__ADS_3

Mizka sedang duduk di balkon kamarnya dengan angin malam yang berhembus dengan dingin. Pertemuan dengan Mama nya pagi tadi berhasil merenggut senyumnya selama seharian. Pikirannya sibuk berpikir dan berpikir. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus memberi tahu Luka sekarang juga? Mizka takut, Luka semakin marah. Tapi Luka kini sudah dewasa, ia harus tahu semua ini.


Mizka berjalan keluar kamar untuk ke kamar Luka yang berada di sebelah kamarnya. Pintu Luka terbuka lebar menampilkan dirinya sedang berkaca di dalam sana.


"Mau kemana lo?," tanya Mizka seraya masuk ke dalam dan mendudukkan diri di ranjang Luka.


"Mau keluar," jawab Luka yang kini sudah siap dengan pakaian yang rapi.


"Sendirian?," ucap Mizka.


"Sama Luvin. Dia lagi galau," kata Luka yang kini beralih menatap Mizka.


"Puas ketemu sama tamu nya?," kini giliran Luka yang bertanya.


"Puas, dong. Akhirnya gue bisa ketemu sama Mama, walaupun gue belum bisa ketemu sama Papa. Lo nyesel banget nggak ikut gue ketemu sama Mama," balas Mizka yang dibuat seolah ia sangat senang bisa bertemu dengan Mama nya padahal kenyataan nya, tidak sama sekali.


"Mata lo bohong, Kak. Pasti ada yang nggak beres, dan lo datang ke sini buat kasih tau gue apa itu kan?," tebak Luka yang membuat Mizka tersenyum miring. Adiknya memang sudah mengenalnya dengan baik, bahkan saat ia berbohong pun Luka tahu.


"Iya sih, ntar ntar lah aja gue ceritanya. Sono gih kasian Luvin lagi galau nanti kalau dia bunuh diri gawat," ujar Mizka yang memilih mengurungkan niatnya untuk menceritakan semuanya kepada Luka. Mungkin ini memang bukan waktu yang tepat.


"Lo emang paling bisa ganti topik ya, kak. Gue nggak pingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Gue cuman pingin tahu, apa yang bikin lo resah sampai mau cerita sama gue," Luka segera meninggalkan Mizka dan pergi dari rumah. Ia sudah tinggal bersama Mizka selama hidupnya, ia mengenal betul apa yang tidak biasa nya Mizka lakukan. Mizka sangat jarang bercerita kepadanya, Mizka adalah seorang pemikir yang tidak bisa membagikan apa yang sedang ia pikirkan. Tapi malam ini, Mizka terlihat gelisah dan seperti ada yang ingin ia ceritakan kepadanya. Dan pertama kalinya, Luka ingin mengetahui apa yang Mizka pikirkan.


Mizka keluar dari kamar Luka dan segera berlalu masuk kembali ke kamarnya. Ia akan menceritakan semuanya kepada Luka, esok atau mungkin lusa ketika waktunya sudah tepat.


...----------------...


Luka sampai di depan sebuah kafe yang Luvin janjikan. Tapi ketika ia masuk, Luka melihat Cinta sedang duduk bersama Gega. Cinta masih berpakaian kerja, itu artinya Cinta baru saja pulang bekerja. Baru saja Luka akan melangkahkan kakinya ke arah keduanya, tapi Luvin lebih dulu memanggil namanya membuat banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Sial, pikir Luka karena tingkah Luvin membuatnya malu. Tapi karena tingkah Luvin barusan, mata Luka dan Cinta bertemu. Cinta cukup terkejut ketika melihat keberadaan Luka di sana.


"Liatin apa sih, Ta?," tanya Gega yang menyadari bahwa tatapan Cinta tertuju ke arah lain.


"Ah enggak, kok. Oh iya, Ge, aku ke kamar mandi sebentar, ya," Cinta segera bangkit dari duduknya dan berlalu ke arah kamar mandi dengan kepala yang ditundukkan dan berjalan melewati Luka yang masih berdiri di tempatnya.


"Jangan pulang larut malam," bisik Luka pelan ketika tubuhnya bersebelahan dengan Cinta. Tapi Cinta tetap berjalan tanpa menghiraukan Luka.


Di dalam kamar mandi, Cinta terdiam sebentar. Ia masih tidak bisa melupakan kejadian tadi siang yang membuat mereka secanggung ini.


Tadi siang tepatnya pukul satu siang lewat tiga puluh menit, Luka mendatangi nya yang sedang berada di UKS bersama Gega, dan Zemira ketika sedang menemani Felix yang sedang sakit. Sebenarnya, Gega dan Zemira terpaksa ikut karena takut ada apa-apa dengan Cinta jika berduaan dengan Felix di dalam UKS.


"Cinta," panggil Luka yang membuat empat pasang mata di sana menatapnya.


"Luka? Kenapa kamu ke sini?," tanya Cinta yang baru segera berlalu ke arah Luka yang berdiri di depan pintu.


"Lo sakit?," tanya Luka dengan nada yang sedikit buru-buru. Tadi Luvin berkata kepadanya kalau Cinta masuk ke UKS, tanpa mendengar lebih lanjut Luka langsung pergi ke UKS untuk memastikan keadaan Cinta baik-baik saja.


"Aku nggak sakit, Luka, tapi temanku yang sakit. Dari mana kamu tau aku ada di sini?," balas Cinta dengan senyum manisnya.


"Dari Luvin. Gue kira lo yang sakit," jawab Luka dengan nada suara yang kembali datar.


"Aku baik-baik aja, Luka. aku kan kuat!," ujar Cinta dengan semangat.


"Gue cuman takut lo terluka. Jangan sok kuat, lo nggak sekuat itu," ucap Luka dengan tangan yang kini memegang kedua bahu Cinta.


"Jangan terluka, apa pun yang terjadi. Jangan buat gue khawatir karena lo kenapa-kenapa. Gue takut lo sakit, gue takut lo dalam bahaya, gue takut nggak bisa jagain lo. Mulai sekarang, jaga diri lo buat diri lo sendiri, dan juga, buat gue," lanjut Luka seraya mengeratkan sedikit pegangan tangan nya pada bahu Cinta. Cinta terdiam karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini terlalu tiba-tiba, dan itu membuat Cinta terkejut karena perubahan sifat Luka yang mendadak menjadi banyak bicara seperti ini.


"Gue cabut," Luka berlalu pergi meninggalkan Cinta yang masih tetap pada posisinya. Berdiri diam dengan tatapan tak percaya.


"Apa yang barusan terjadi?," gumam Cinta dengan suara yang pelan.


Luka pergi dengan jantung yang berdetak kencang dan tangan yang dingin. Entah mengapa ia merasa kalau ia harus maju satu langkah lebih dekat kepada Cinta. Setidaknya kalau ia memang tidak bisa bersama selamanya dengan Cinta, ia bisa menjaga nya sampai Cinta menemukan seseorang yang akan menjaganya selamanya.

__ADS_1


Cinta kembali tersadar karena teriakan Zemira yang sangat kencang karena tiba-tiba Felix pingsan dan tidak sadarkan diri. Dan dengan cepat Gega membawa Felix ke rumah sakit, Zemira dan Cinta pun mengikutinya di belakang karena semua guru di sekolah sedang mengadakan rapat besar-besaran alhasil tidak ada yang bisa membantu mereka.


"Aku ngerasa deg-degan banget ketemu Luka karena kejadian di UKS, dan tadi Luka bisikin aku buat pulang jangan larut malam. Sebenarnya Luka itu kenapa sih? Aku jadi bingung sendiri deh," ucap Cinta dengan bibir yang dimajukan karena kesal sendiri dengan apa yang dirasakan.


Luka yang melihat Cinta sudah masuk ke dalam kamar mandi, segera berjalan ke arah Luvin yang sedang duduk dengan banyak makanan di meja nya.


"Lo pesen semua ini?," tanya Luka dengan wajah bingung.


"Iya, karena gue tau lo juga belum makan. Jadi kita akan makan banyak malam ini," jawab Luvin dengan senyum cengengesan.


"Lo kira perut gue bisa tampung makanan sebanyak ini? Udah gila beneran lo kayaknya," ujar Luka yang kini sudah duduk di hadapan Luvin.


"Ya udah sih makan aja, tinggal nyuap aja pake ribet," saut Luvin yang sudah sibuk menikmati makanan nya.


"Galau kenapa lo?," tanya Luka di sela-sela makan nya.


"Ya ini, galau pilih mau makan apa, hehehehe," jawab Luvin yang berhasil membuat Luka berhenti makan dan menatapnya tajam.


"Nggak penting banget," ucap Luka penuh penekanan.


"Ya kalau nggak gitu lo mana mau temenin gue makan malam," balas Luvin dengan santainya. Luka diam dan tanpa peduli lagi ia segera melanjutkan makan nya karena Luvin sudah terlanjur memesan banyak makanan dan akan sayang kalau dibuang.


Cinta balik kembali ke meja nya setelah dari kamar mandi. Gega sedang duduk manis sambil menikmati minumannya.


"Ge, aku mau cerita sesuatu," ucap Cinta dengan wajah yang terlihat serius.


"Cerita apa?," tanya Gega.


"Tadi pas aku mau telefon keluarganya Felix, hanya ada satu kontak yang namanya Mr. Bram. Dan nomor itu juga sering banget berkomunikasi sama Felix. Jadi ya udah aku telefon nomor itu karena aku pikir itu nomor anggota keluarganya,"


"Pas aku telefon, suara bapak-bapak yang berat banget menjawab telefon nya. Aku pertama bilang kalau aku Cinta ketua kelas Felix, terus aku langsung bilang dong kalau Felix masuk ke rumah sakit, tapi nggak ada balasan apa apa dari Bapak itu. Terus aku kasih tau alamat rumah sakitnya, tapi nggak di jawab apa apa juga. Sampai ketika aku bilang saya tutup pak telefon nya dia bilang, ternyata waktunya sudah dekat. Aneh banget kan?," ujar Cinta panjang lebar.


"Aku juga bingung, apa yang Bapak itu bilang nggak nyambung banget sama apa yang aku bilang, iya kan?," tanya Cinta yang menatap Gega dengan tatapan bingung.


"Felix itu terlalu misterius, gue yang laki-laki aja takut sama orang kayak gitu. Karena kita nggak bisa tau apa yang dia pikirin kalau dia ngomong aja jarang. Tapi lo, sok berani dekat dekat-dekat sama orang kayak dia. Jadi gini deh, gue takut semakin lo mendekat ke dia. Lo dalam bahaya, Cinta," ujar Gega yang membuat Cinta menepuk pelan tangan Gega.


"Kamu tuh, suka aneh aneh pikirannya. Felix itu sama kayak kita, anak SMA biasa. Tapi bedanya itu Felix nggak suka bergaul dan pendiam. Jangan suka mikir negatif deh," jawab Cinta yang masih berusaha berpikiran positif.


"Tapi yang gue omongin ada benarnya, Cinta. Kalau lo masih berusaha buat dekat sama dia, kita nggak tau hal apa yang akan terjadi sama lo. Dia nggak bisa ketebak, dia terlalu banyak rahasia. Untuk sekarang, jangan suka keluar sendirian. Pulang kerja, lo bisa minta gue buat jemput lo atau misalkan, hmm..., oh si Luka. Dia pasti mau jemput lo," kata Gega yang membuat Cinta teringat akan apa yang Luka katakan di UKS tadi siang. Luka mengingatkan ia untuk menjaga diri, dan sekarang Gega pun berkata demikian. Entah mengapa perasaan Cinta jadi tidak enak.


...----------------...


Felix masih terbaring lemah di ranjang kamarnya, ia tidak mau berada di rumah sakit alhasil ia meminta kepada Steven untuk membawanya pulang. Steven adalah Ayah Felix.


"Felix," panggil Bram seraya membuka pintu kamar Felix.


"Aku capek, Pah. Kita bicara nanti aja," jawab Felix dengan nada tak suka.


"Felix, semuanya akan baik-baik saja. Kamu nggak perlu khawatir," ucap Bram yang kini sudah berdiri di sebelah ranjang Felix.


"Baik-baik aja gimana, Pah?. Nanti kalau Cinta lanjutin kasusnya dan ada bukti yang mengarah ke Papah. Kita harus gimana?," tanya Felix yang membuat Bram terdiam.


"Aku selama ini udah susah payah buat jauhin semua tentang Papah dari hidup aku. Bahkan untuk mengisi data diri di sekolah aja aku nggak berani buat isi. Tapi Papah malah datang ke rumah sakit, dan jawab telefon dari Cinta," lanjut Felix yang membuang muka ke arah lain karena marah.


"Cinta tidak sepintar itu buat lanjutin kasus ini. Pihak kepolisian saja sudah angkat tangan karena tidak ada titik terang. Buat apa kamu khawatir, Felix?," balas Bram dengan senyum smirk nya.


"Papah salah, Cinta nggak sebodoh itu. Dia punya banyak orang yang akan menjaga dia disekitarnya. Kita nggak bisa anggap remeh, Pah," ujar Felix dengan nada kesalnya.


"Aku cuman nggak mau kehilangan, Papah. Aku cuman mau Papah aman, walaupun aku tahu Papah salah. Jadi tolong, tetap diam di sini dan biarin aku yang melanjutkan semuanya," setelah mengatakan itu, Felix meminta Bram untuk keluar dari kamarnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam istirahat kali ini Cinta sedang duduk bersama Gega, Zemira, dan Felix yang sudah masuk kembali ke sekolah dua hari setelah sakit di meja kantin.


"Gimana keadaan lo, Es?," tanya Zemira yang sedang menikmati salad buah kesukaannya.


"Baik," jawab Felix dengan suara yang datar.


Zemira menghela nafas kasar, "Sabar, Zemi, ingat lo lagi ngomong sama manusia Es," gumam Zemira pelan.


"Syukur, deh, gue kira orang kayak lo nggak bisa sakit," ujar Zemira yang membuat tawa renyah Gega terdengar.


"Heh, lo kira dia apaan nggak bisa sakit. Dia juga manusia kali," jawab Gega dengan tawa nya.


"Tau kamu, Zem, gimana sih?. Felix kan manusia normal yang bisa sakit juga," saut Cinta yang kini sedang menikmati bekal makanannya.


"Ya siapa tau aja kan gitu, dia nggak bisa sakit. Kita kan nggak tau," balas Zemira yang langsung memasang wajah takut ketika melihat tatapan Felix yang datar.


"Hehehehe, sorry, Es," ucap Zemira dengan senyum kikuknya.


Tiba-tiba Luka datang dengan dua botol air mineral di tangan nya. Luka duduk di hadapan Cinta tanpa berkata apa-apa dan menyodorkan sebotol air minumnya ke arah Cinta.


"Kalau makan bawa minum," ujar Luka.


"Makasih ya, Luka, aku lupa bawa minum tadi pagi. Kamu nggak makan?," tanya Cinta dengan senyum ramah yang menyambut kedatangan Luka di meja mereka.


"Nggak lapar," balas Luka dengan tatapan yang mengarah ke arah Felix yang kini berada di sebelahnya.


"Dia siapa?," tanya Luka dengan wajah datarnya.


"Ini Felix, temanku yang sakit kemarin," jawab Cinta. Luka hanya mengangguk dan kembali memusatkan perhatian nya pada Cinta yang masih asik menikmati makanan nya.


Tiba-tiba Felix bangkit dari duduknya membuat keempat pasang mata di sana menatapnya, "Mau kemana, Es?," tanya Gega yang secara reflek berkata demikian.


"Beli minum," jawab Felix singkat dan segera berlalu dari sana.


"Nanti kerja?," tanya Luka pada Cinta.


"Iya, kayak biasa," jawab Cinta setelah meneguk air mineral yang Luka bawakan.


"Ah gue baru ingat. Ka, mulai hari ini kita harus antar jemput Cinta. Firasat gue bilang, kalau Cinta bisa aja nggak aman kalau jalan sendirian. Lo bisa kan?," ujar Gega yang membuat Luka menatapnya bingung.


"Heh, Gega, lo tuh kebanyakan nonton film detektif tau nggak. Jadi begini nih, bawaan nya takut dan curiga terus," saut Zemira.


"Bukan gitu, Zem. Jadi kemarin, Cinta lagi coba buat telefon keluarga nya Felix buat kasih kabar kalau Felix masuk ke rumah sakit. Tapi satu-satunya nomor yang ada di kontak Felix itu cuman kontak yang namanya Mr. Bram. Setelah telefon nya diangkat. Cinta langsung kenalin diri dan kasih tau kalau Felix masuk rumah sakit. Tapi, nggak ada jawaban dari orang itu. Sampai ketika Cinta mau tutup telefon nya. Orang itu ngomong, ternyata waktunya sudah dekat. Dan itu buat gue yakin kalau ada sesuatu yang nggak beres. Perasaan gue langsung nggak enak dan mulai hari ini gue nggak akan biarin Cinta sendirian di jalanan. Itu terlalu berbahaya," jelas Gega yang berhasil membuat perhatian Luka berpusat kepada apa yang sedang Gega sampaikan.


"Gega, kan aku udah bilang. Aku bisa jaga diri, kamu ataupun Luka nggak perlu jagain aku," ucap Cinta yang terlihat tidak enak kalau merepotkan Luka maupun Gega dengan mengantar jemput dirinya.


"Ta, menurut gue Gega ada benarnya juga. Kita emang nggak tahu pasti apa yang dimaksud kan sama si orang itu. Tapi yang pasti kita tau, dia ada hubungan nya sama lo. Dan kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi seenggaknya kita bisa mempersiapkan diri kan?," jawab Zemira yang terlihat serius saat ini.


"Gue setuju," saut Luka dengan nada datar dan wajah yang terlihat menahan emosi. Kini rasa takutnya semakin memuncak, ia takut terjadi sesuatu dengan Cinta. Dan Luka tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Tapi aku nggak mau buat kalian repot karena aku," Cinta terlihat menundukkan kepalanya karena merasa membebani teman-temannya.


"Cinta, kita ngelakuin ini bukan karena lo yang minta. Tapi karena kita yang mau, karena kita nggak mau ada hal yang nggak diinginkan terjadi sama lo. Lo ngerti kan, kalau kita sayang sama lo?," jawab Gega dengan tangan yang merangkul pundak Cinta yang duduk di sebelahnya.


"Aku ngerti. Aku akan jaga diri aku buat aku sendiri, dan juga buat... kalian," ujar Cinta setelah diam beberapa saat. Ia harusnya bersyukur bisa memiliki orang-orang yang sangat menyayangi dan menjaga nya dengan begitu baik.


"Kita pasti bantu dan jagain lo, Ta," ucap Zemira.

__ADS_1


Di sisi lain, Felix sedang berdiri di dalam kamar mandi dengan wajah mengeram. Tadi Felix menyeting ponselnya agar merekam semua yang mereka bicara kan dan tersambung ke earphone yang ia pakai. Ia meninggalkan ponselnya di meja kantin tanpa dicurigai. Alhasil Felix mendengar semua yang mereka bicarakan tentang nya. Ternyata, Papah nya sudah memberikan tanda kepada Cinta. Dan itu membuat Felix semakin khawatir, kalau nanti kasus ini diangkat kembali dan Cinta memiliki bukti dan mengarah kepada Papahnya. Felix tidak siap dengan semua itu jika memang benar terjadi.


__ADS_2