OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
5. kenapa harus aku


__ADS_3

Malam telah datang menyambut Cinta yang baru saja keluar dari toko bunga sehabis bekerja. Cukup untuk hari ini, lelah sekali rasanya. Cinta menyusuri jalanan malam ini dengan sepeda nya yang berwarna kuning. Ia sempatkan mampir ke mini market untuk membeli beberapa cup mie instan dan minuman, ia hanya ingin menikmati akhir waktu hari ini dengan makanan. Tubuhnya terasa butuh banyak energi untuk memulai hari esok.


"Ini saja, Kak, belanjaan nya?," tanya kasir itu. Cinta mengangguk dengan senyum manis nya.


"Total nya jadi tiga puluh ribu, Kak," ujar kasir itu seraya menyerahkan barang yang Cinta beli.


"Terima kasih, selamat datang kembali," Cinta segera berlalu keluar dari mini market itu dan membawa sepeda nya untuk melanjutkan perjalanan pulang yang sebentar lagi sampai.


"Aku nggak akan sakit kan? Bukan-bukan, aku nggak boleh sakit, itu yang benar," ucap nya bermonolog pelan. Kepala nya terasa berat dan badan nya hampir saja jatuh ke bawah kalau kalau tidak sebuah tangan menahan lengan nya. Cinta memejamkan mata nya karena pusing yang menyerang kepala nya begitu menyakitkan. Sampai akhirnya Cinta membuka mata nya perlahan lahan, awal nya semua terlihat buram dan tidak jelas. Namun setelah semua penglihatan nya membaik, sosok laki laki bertubuh jangkung berdiri di hadapan nya dengan wajah tak berekspresi.


"Luka?," panggil Cinta yang masih berdiri dengan lengan yang di genggam oleh Luka sebagai penyanggah. Mata keduanya saling bertemu. Cinta tenggelam dalam hitam nya mata Luka yang sangat dalam. Bola mata hitam indah yang sangat menarik untuk dilihat, dan Cinta menyukai bola mata indah itu.


"Lo sakit," jawab Luka dengan wajah datar nya.


"Enggak, aku nggak sakit," ujar Cinta yang melepaskan tangan Luka yang menggenggam lengan nya. Lalu berdiri tegak seolah tidak terjadi apa apa.


"Lo sakit," ucap Luka. Cinta menatap Luka dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku mau pulang, makasih udah tolongin aku," Cinta segera berlalu dengan sepeda yang ia giring berjalan bersama meninggalkan Luka yang masih berdiri di tempat nya. Lalu perlahan kepala Luka menoleh menatap punggung Cinta yang sudah berjalan di depan nya.


"Kenapa harus aku yang merasakan perasaan menunggu yang tidak enak ini, Cinta?," tanya Luka dengan suara nya yang terdengar pasrah.


-------


Hari sudah berganti menjadi pagi. Cinta bangun dengan tubuh yang terasa sangat lemas dan Cinta merasa kalau suhu tubuhnya sangat panas sekarang. Tapi ia harus tetap bersekolah dan bekerja hari ini. Dengan memaksakan tubuh nya untuk bangun, Cinta berdiri dengan tubuh yang hampir terhuyung ke belakang kalau ia tidak menguatkan kaki nya untuk tetap berdiri di tempat. Helaan nafas berat terdengar begitu melelahkan. Langkah kaki nya bergerak perlahan keluar kamar untuk mandi.


Saat keluar kamar, seseorang juga keluar dari kamar di sebelahnya. Itu adalah Kakak Cinta, Tyra. Cinta dan Tyra berbeda satu tahun. Tapi Tyra sudah tidak bersekolah karena dikeluarkan satu tahun yang lalu. Sifat mereka berdua sangat berbeda. Cinta yang lemah lembut dan penurut, sedangkan Tyra yang keras kepala dan pembangkang. Cinta tidak lagi mengenal Kakaknya sejak lima tahun yang lalu, sejak kejadian itu menimpa kedua nya.


Kejadian yang menewaskan sosok paling berharga untuknya Cinta dan Tyra. Dan kini Tyra sangat berbeda dari Tyra yang Cinta kenal dahulu. Tyra kini suka mabuk mabuk kan, ke club malam, dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan merokok di sekolah dan terus menerus membolos, dan selalu pulang larut malam dengan keadaan yang berantak kan. Sungguh Cinta sangat tersakiti melihat keadaan Kakaknya seperti ini.


"Kakak baru bangun?," tanya Cinta dengan senyum hangat nya. Sebaliknya, Tyra malah membuang muka dan berlalu meninggalkan Cinta ke kamar mandi.


"Aku ambilkan susu ya, Kak," ujar Cinta seraya menyodorkan segelas susu yang baru saja ia tuangkan dari dalam kulkas. Tyra berbalik lalu menatap Cinta dengan tatapan tak suka nya yang terlihat jelas dari bagaimana Tyra menatap Cinta.

__ADS_1


"Enggak usah sok peduli sama gue. Eneg gue liat nya!," balas Tyra.


"Aku cuman mau kasih susu ini buat Kakak, nggak papa kan?," tanya Cinta yang menunduk takut.


"Gue nggak sudi minum minuman yang di kasih sama lo! Pergi sana, gue muak liat muka lo!," ujar Tyra menohok hati.


"Kak, aku mohon. Maafin aku," lirih Cinta yang kini sudah berdiri di hadapan Tyra.


"GUE BILANG PERGI!," suara pecahan beling terdengar sangat nyaring memenuhi seisi rumah. Tyra melempar gelas yang ada di genggaman Cinta sampai pecah berkeping keping ke lantai. Cinta terguncang karena terkejut atas apa yang Tyra lakukan.


"Coba lo balikin lagi gelas itu kayak semula, bisa?! Enggak kan. Itu yang udah terjadi sama gue dan hidup gue, jadi buat apa lo ribet ribet buat balikin semua nya yang udah hancur!," Tyra berlenggang pergi meninggalkan Cinta dengan pecahan kaca di sekeliling nya. Cinta menangis dalam diam nya, bahu nya berguncang dengan keras. Mengapa rasanya begitu menyakitkan, mengapa perasaan bersalah itu semakin memenuhi diri nya dan mendesaknya untuk merasa bersalah terus menerus.


Dengan air mata yang tak henti keluar dari mata nya, Cinta membersihkan pecahan kaca itu sampai tak sadar bahwa kulit telapak tangan kanan nya tergores pecahan kaca sampai darah merah segar menetes begitu saja. Perih dalam hatinya membuat perih yang ada di tangan nya tidak terasa sama sekali, sudah seperti mati rasa.


"Kenapa harus aku yang merasakan perasaan rasa bersalah ini, Kak?," tanya Cinta pada pecahan kaca di genggaman nya. Cinta menggenggam erat pecahan kaca itu sampai melukai tangan nya, lalu ia menangis kencang dengan pecahan kaca penuh darah di tangan nya


------


Hari ini berjalan tidak begitu baik untuk Cinta. Setelah kejadian tadi pagi yang berhasil merenggut semangat nya untuk hari ini. Sekarang malah tubuhnya yang terbaring lemah di kasur UKS sendirian. Gega yang membawa nya ke sini setelah melihat luka di tangan Cinta dan suhu tubuh nya yang sangat panas. Gega berkata kalau Cinta tidak baik baik saja, Cinta sakit. Tapi Cinta tak suka dikatakan sakit, karena Cinta harus tetap sehat bagaimana pun keadaan nya. Ia tidak boleh sakit.


"Luka, kamu sakit?," tanya Cinta yang baru tersadar bahwa laki laki itu adalah Luka.


"Iyalah, masa udah biru kayak gini nggak sakit," jawab Luka dengan sinis.


"Mau aku bantu obatin?," tanya Cinta yang kini sudah duduk dari duduk nya. Luka mendudukkan diri nya di kasur yang berada di sebelah Cinta. Mereka berdua duduk berhadapan di kasurnya masing masing.


"Enggak usah, gue bisa sendiri," jawab Luka seraya meraih kotak p3k yang berada di sebelah kasur nya.


Luka mulai mengolesi alkohol pada memar di pipi dan bibir nya yang membiru. Lalu memberikan obat merah dan menutupnya dengan kapas serta plaster. Semua itu tidak lepas dari pandangan Cinta. Kejadian ini seperti pernah terjadi, ya kejadian beberapa tahun silam. Kejadian serta pertemuan pertama mereka di taman waktu itu. Tapi sayang seperti nya Cinta tidak ingat tentang hari bersejarah itu, ya, hanya Luka yang mengingatnya.


"Kamu kenapa bisa lebam gitu?," tanya Cinta.


"Berantem sama Mizka," jawab Luka tanpa menatap wajah Cinta. Tapi ia menatap lengan Cinta yang di gulung perban. Dalam diam nya ia bertanya tanya mengapa tangan Cinta terluka.

__ADS_1


"Berantem sama Kakak kamu? Kenapa?," ucap Cinta dengan nada suara yang terdengar khawatir.


"Biasa, beda pendapat," kata Luka seraya menidurkan diri di kasurnya.


"Kenapa harus sampai kayak gini? Kan bisa diomongin," ujar Cinta yang ikut menidurkan diri nya.


"Namanya laki laki," balas Luka.


Keduanya kembali diam. Cinta sibuk dengan pikiran nya yang kembali memutar kejadian tadi pagi. Mendengar cerita Luka yang bertengkar dengan Kakak nya membuat Cinta kembali teringat akan Kakak nya yang sangat ia sayangi namun sayang mereka tak bisa akur seperti Luka dan Mizka.


"Kamu senang nggak punya Kakak kayak Kak Mizka?," tanya Cinta setelah diam beberapa saat.


"Kenapa nanya gitu?," jawab Luka menolehkan kepala nya menatap Cinta yang berada di kasur sebelahnya.


"Aku mau tau aja," ucap Cinta.


"Bangga lebih tepat dari pada senang," balas Luka setelah berpikir harus menjawab apa.


"Kenapa bangga?," tanya Cinta lagi.


"Karena dia bukan hanya Kakak gue, tapi dia juga berperan layak nya orang tua buat gue," ujar Luka membuang kembali wajah nya ke arah lain.


"Terkadang aku berpikir punya Kakak kayak Kak Mizka pasti bahagia banget, ternyata selain ganteng dia juga penyayang ya," Luka langsung mengarahkan tatapan nya ketika mendengar Cinta yang memuji Kakaknya.


"Lo muji dia?," tanya Luka dengan nada sinis nya.


"Itu emang faktanya Luka," jawab Cinta.


"Lo nggak kenal dia," ucap Luka datar.


"Iya sih, tapi yang pasti dia lebih baik hati nggak kayak kamu yang galak," ujar Cinta dengan polos nya seolah tak bersalah. Luka menatap nya tajam lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Cinta.


"Hahahaha, Luka baper," ledek Cinta dengan tawa yang dibuat semenjengkelkan mungkin. Di balik pundak nya, Luka tersenyum kecil. Lalu berbisik dalam hati, Andai aku bisa terus kayak gini sama kamu Cinta.

__ADS_1


Di balik pintu UKS ada satu orang yang memperhatikan dua orang yang berada di dalam UKS sana. Dia adalah Mizka.


"Gue harap, ini awal yang baik buat kalian berdua," gumam Mizka dengan senyum penuh arti.


__ADS_2