
Hari ini Cinta menyambut pagi dengan senyum indah nya. Ia akan memulai hari ini dengan pergi ke sekolah menggunakan sepeda dan menikmati angin serta panas matahari pagi yang sangat ia sukai. Cinta keluar dari rumahnya dengan seragam dan tas yang sudah melekat di tubuhnya. Tapi baru saja ia akan pergi menggunakan sepeda nya, suara Ibu nya yang memanggil namanya membuat Cinta menoleh dan melihat Meta berjalan menghampirinya dengan sekotak bekal makanan.
"Cinta, bekal makanan kamu ketinggalan sayang," ujar Meta dengan senyum hangat nya.
"Oh iya, Bu, aku lupa. Makasih banyak ya, Bu, udah ingatin aku buat bawa bekal," balas Cinta seraya menepuk dahi nya. Meta mengangguk dan segera memasukkan kotak bekal makanan itu ke dalam tas Cinta.
"Iya, sayang. Cinta makan yang banyak, ya, biar semangat sekolah dan kerja nya. Ibu sayang Cinta, Ata tau kan?," tanya Meta dengan tangan yang menggenggam tangan Cinta.
"Ata tau, Bu. Cinta juga sayang banget sama, Ibu," jawab Cinta dengan senyum yang sangat lebar.
Di belakang keduanya, Tyra berdiri dengan wajah memerah karena kesal. Ia menatap Cinta dengan kebencian. Cinta sudah membuat nya kehilangan Ayah, dan Cala, dan sekarang Cinta ingin mengambil Ibu? Tyra benar-benar tidak percaya. Semua miliknya kini menjadi milik Cinta. Ia sudah tidak punya apa-apa sekarang. Hidupnya sudah hancur, ia tidak punya teman yang bisa diandalkan, ia tidak punya tempat untuk pulang sekarang. Cinta mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya.
"Gue benci sama lo Cinta. Benci banget. Lo rebut semua yang gue punya. Lo ambil apa yang seharusnya jadi milik gue. Apalagi yang akan lo ambil dari gue, Cinta. Ibu? Kalau iya, gue benar-benar benci banget sama lo," gumam Tyra dengan suara yang terdengar sangat halus.
"Aku berangkat dulu ya, Bu," Pamit Cinta seraya mengayuh sepedanya. Meta mengangguk dan melambaikan tangan nya kepada Cinta. Setelah itu ia berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah. Tapi ketika ia berbalik, matanya bertemu dengan mata Tyra yang menatapnya tajam.
"Tyra, Ibu mau bicara sama kamu," panggil Meta pada Tyra yang baru saja ingin pergi menjauh darinya.
"Nggak ada yang harus dibicarain," jawab Tyra tanpa menoleh pada Ibunya yang kini sudah berdiri di belakang tubuhnya.
"Tyra, Ibu mohon. Ini sudah lima tahun sejak kejadian itu, kamu harus merelakan semuanya. Dan semua ini, bukanlah kesalahan Cinta," ujar Meta dengan suara yang parau.
"Ibu bicara kayak gini cuman mau belain anak kesayangan Ibu doang, kan?. Aku muak dengarnya. Jelas-jelas ini semua salah dia, kenapa semua selalu anggap kalau dia nggak bersalah atas semua ini? Terus kalau bukan salah dia ini salah siapa? Aku? Salah siapa, Bu jawab aku," balas Tyra yang kini menatap Meta dengan pandangan yang dingin.
"Ini kecelakaan dan tidak ada yang bisa disalahkan. Cinta juga sedih, sama seperti kamu. Kamu nggak bisa menyalahkan dia atas apa yang tidak dia lakukan," ucap Meta yang berusaha untuk meraih tangan Tyra namun Tyra malah menghempas tangan Meta dengan kencang.
"Ini semua salah Cinta, Bu. Kalau aja dia nggak minta yang macam-macam malam itu, kita nggak akan kehilangan Ayah dan Kak Cala. Kalau aja dia nggak manja, aku nggak akan benci sama dia kayak gini. Ibu emang cuman sayang sama Cinta. Ibu nggak pernah sayang sama aku, Ibu cuman kasian aja sama aku. Jangan bicara sama aku kalau Ibu cuman mau membenarkan apa yang udah Cinta lakukan," Tyra segera berlalu meninggalkan Meta yang kini menatap Tyra dengan sedih. Ia sayang dengan Cinta dan Tyra. Ia sayang keduanya. Tapi Tyra terlalu menutup mata dengan apa yang sudah ia dan Cinta lakukan untuk nya. Tyra sudah terlalu benci dengan dirinya dan Cinta.
"Maafkan, Ibu, Tyra, Cinta. Ibu buat hidup kalian jadi seperti ini," ujar Meta dengan suara yang lemah.
Cinta dengan senyuman nya yang terus mengembang berjalan memasuki sekolah dan segera pergi ke kelasnya. Saat akan berbelok ke arah tangga, ia bertemu dengan Mizka yang baru saja turun dari tangga.
"Eh Cinta, baru datang nih?," tanya Mizka dengan senyum ramahnya.
"Iya, Kak, baru banget sampai," balas Cinta dengan sopan.
"Lo udah sarapan belum? Gue mau ke kantin, siapa tahu lo pingin sarapan bareng," ajak Mizka membuat Cinta menggeleng dengan pelan.
"Aku bawa bekal untuk sarapan, Kak. Aku duluan ke kelas, ya," pamit Cinta karena ia merasa tidak enak dilihat oleh banyak orang yang berlalu lalang di tangga.
"Oh gitu, kalau gitu gue boleh titip ini nggak buat Luka. Hari ini dia pergi nggak bareng gue, jadi gue belum ketemu sama dia. Dia juga belum sarapan pastinya," ujar Mizka seraya menyodorkan sekotak susu taro dan sebungkus roti keju kepada Cinta.
"Boleh, Kak. Nanti aku antar ke kelas Luka," jawab Cinta dengan tangan yang menerima susu dan roti untuk Luka.
"Tapi jangan bilang dari gue, ya. Bilang aja dari lo, dia lagi kesel sama gue," ucap Mizka membuat Cinta bingung dan hanya mengangguk sebagai balasan.
"O-oh gitu, yaudah aku duluan ya, Kak,"
"Iya, makasih banyak, ya, Ta," Cinta segera berlalu meninggalkan Mizka dan menaiki anak tangga dengan cepat sampai-sampai Cinta terengah-engah ketika sampai di lantai tiga sekolah untuk ke kelas Luka yang berada tiga kelas dari kelasnya.
"Luka," ucap Cinta terkejut karena ketika ia ingin masuk ke dalam kelas Luka, bersamaan dengan Luka yang akan keluar dari kelas membuat Cinta hampir tertabrak tubuh Luka yang lebih tinggi dari tubuh nya.
"Ngapain ke sini?," tanya Luka dengan suara yang datar.
"Aku mau kasih ini ke kamu," Cinta menyerahkan sekotak susu, dan sebungkus roti kepada Luka.
"Dari Mizka?," tanya Luka yang membuat Cinta menatapnya tidak percaya.
"Kamu tau dari mana? Aku tadi nggak sengaja ketemu Kak Mizka, dan dia titip ini ke aku untuk di kasih ke kamu karena katanya kamu lagi ngambek sama dia," jelas Cinta.
"Karena cuman Mizka yang tau gue suka susu taro, dan sekarang lo jadi orang kedua yang tau," jawab Luka dengan tangan yang menyambut susu dan roti yang ada di tangan Cinta.
__ADS_1
"Oh, gitu. Kalau gitu, aku ke kelas, ya," ujar Cinta yang sudah siap untuk berbalik pergi ke kelasnya.
"Makasih, Cinta," ucap Luka tiba-tiba ketika Cinta sudah melangkahkan kaki menjauh dari nya membuat Cinta menoleh ke belakang dan tersenyum manis ke arah Luka.
"Selamat sarapan, Luka," balas Cinta dan setelah itu ia segera berlalu ke kelasnya.
Aku berharap, kita memang ditakdirkan untuk bersama, ujar Luka dalam hati nya.
Cinta melangkah kan kaki kecilnya ke arah kelasnya. Suasana kelas tidak terlalu ramai, mungkin masih terlalu pagi sekarang. Cinta masuk dan segera mendudukkan diri di kursinya tapi saat ia menoleh ke belakang. Ia melihat sosok Felix yang sedang merebahkan kepalanya di atas meja dengan kepala yang ditutupi tudung hoddie. Cinta melihat ke arah kotak bekal makanan nya, dan ia berpikir mengapa tidak ia membaginya dengan Felix. Dan dengan cepat Cinta berdiri dan menghampiri Felix.
"Kamu kenapa? Sakit?," tanya Cinta yang mendudukkan diri di kursi sebelah Felix. Tapi Felix tidak membalas pertanyaan Cinta dan tetap diam. Tangan Cinta pun bergerak ke arah dahi Felix untuk memeriksa bagaimana keadaan Felix.
"Badan kamu panas, Felix. Mau aku antar ke UKS nggak?," ujar Cinta yang terdengar mengkhawatirkan bagaimana keadaan teman sekelasnya itu.
"Jangan ganggu gue," balasan Felix membuat Cinta menatapnya tidak percaya.
"Kamu sakit, Felix. Aku bawa obat sakit kepala kalau kamu mau. Atau sarapan? Aku bawa bekal," jawab Cinta menyodorkan kotak bekal nya kepada Felix yang kini menatapnya tajam.
"Pergi, Cinta. Jangan ganggu, gue," ucap Felix dengan suara yang serak. Cinta menelan ludahnya dan segera meletakkan kotak bekal makanan nya di atas meja.
"Kamu makan, ya, semoga cepat sembuh," setelah itu Cinta segera berlalu menuju kursinya. Dari tempat duduknya Cinta terus menatap ke arah Felix yang masih menundukkan kepalanya.
"Heh, ngeliatin apa sih sampai kayak gitu," ucap Zemira yang baru saja datang dan menatap Cinta bingung karena sahabatnya itu terus menatap ke belakang padahal tidak ada siapa pun di sana.
"A-aa, enggak aku nggak lihat apa-apa," jawab Cinta yang juga terlihat bingung karena terkejut melihat Felix tidak ada pada tempat sebelumnya.
"Aneh banget pagi-pagi," gumam Zemira yang ikut mendudukkan diri di kursi sebelah Cinta.
...----------------...
Mizka sampai di kantin dan segera menuju penjual soto ayam yang terlihat menggiur kan pagi ini. Baru saja ia akan memesan soto ayam tersebut, matanya malah menangkap sosok Kanaya yang sedang membeli sesuatu di koperasi sekolah. Tanpa jadi memesan soto ayam nya, Mizka malah berlalu menghampiri Kanaya sebelum Kanaya pergi.
"Pagi, Kanaya. Jajan apa nih?," tanya Mizka dengan senyum ramahnya.
"Kenapa?," tanya Kanaya.
"Nanya aja. Gue mau makan soto ayam, lo mau ikut nggak?," ujar Mizka.
"Boleh, deh. Gue juga lapar," jawab Kanaya yang segera berlalu menuju penjual soto ayam.
"Mang, soto ayam nya dua," ucap Kanaya pada Mang Sali.
"Nggak pakai kol, Mang," lanjut Mizka dan Kanaya bersamaan. Keduanya saling lihat karena terkejut.
"Oke deh, di tunggu sebentar ya," balas Mang Sali dengan senyum jahilnya.
"Lo anak baru ya?," tanya Mizka yang mendudukkan diri di kursi di hadapan Kanaya.
"He'em, baru satu bulan lalu," balas Kanaya yang sedang asik meminum susu pisang nya.
"Pindahan dari mana?,".
"Dari Bali," jawab Kanaya. Tak lama setelah itu, soto pesanan keduanya datang dan langsung disantap dengan nikmat oleh mereka berdua. Tiba-tiba suara ponsel Mizka berbunyi dan menampilkan nama Luka di sana.
"Halo, kenapa?," tanya Mizka dengan mulut yang penuh makanan.
"Lo dimana?,"
"Kantin, lagi makan soto ayam," jawab Mizka.
"Ada urusan penting, pulang ke rumah sekarang. Ada yang nunggu lo," ujar Luka membuat Mizka berhenti menyuapi soto ayam ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Hah? Siapa? Dadakan banget, ya udah gue pulang sekarang. Jangan lupa izinin sama Guru Piket," balas Mizka yang segera bangkit dengan bingung. Siapa yang sedang menunggunya di rumah.
"Lo mau cabut? Belum juga masuk sekolah, udah cabut aja," tanya Kanaya yang masih menikmati soto ayam nya.
"Iya, nih. Penting banget kayaknya, sorry ya gue cabut duluan. Oh iya, bayarin sekalian soto ayam gue, ya," Mizka langsung melesat pergi dari kantin setelah mengatakan hal yang membuat Kanaya menatapnya sebal.
"Sialan, gua nggak jadi beli novel hari ini. Mana Mama lagi nggak bisa dihubungin, huh," ucap Kanaya dengan mencibirkan bibirnya.
......................
Tadi tepat sekali ketika Cinta berlalu pergi dari kelasnya, Luka mendapatkan telefon dari Mamanya. Tentu saja itu membuat Luka terkejut dan mengeraskan rahang nya karena emosinya tersulut setiap bersangkutan dengan Mama. Luka menggeser ikon telefon nya dan telefon pun tersambung.
"Halo, Luka?," panggil Mama nya dengan suara yang dibuat seramah mungkin.
"Kenapa telefon saya?," tanya Luka dengan suara yang dingin.
"Luka, Mama lagi di rumah kalian. Hari ini, setelah pulang sekolah, langsung pulang ke rumah, ya. Mama masak makanan buat kamu dan Mizka," ujar Yuni.
"Dari mana anda tahu dimana kunci rumah di simpan?," jawab Luka dengan nada tak suka yang terdengar begitu jelas, dan itu menyakiti perasaan Yuni yang kini sedang duduk di teras rumah sambil meremas baju nya.
"Kamu dan Mizka selalu menyimpan kunci di antara batu-batu di halaman," balas Yuni dengan senyum sendunya ketika mengingat kebiasaan kedua anak nya.
"Jangan ganggu hidup saya dan Kak Mizka. Pergi dan jangan pernah kembali. Anda yang memulai semua ini, dan ini tidak akan ada akhirnya," Luka segera memutuskan sambungan telefon nya. Deru nafas nya terdengar menggebu karena amarah.
Luka menelefon Mizka karena hanya Mizka yang menginginkan pertemuan dengan Mama nya. Ia tidak akan pulang sampai Mama nya pergi. Luka bertemu dengan Yuni beberapa hari yang lalu. Pertemuan tidak sengaja yang membuat Luka merutuk pada takdir yang mempertemukan Luka dengan Mamanya.
Sejujurnya, Luka sangat merindukan Yuni. Tapi rasa marah dan takut akan apa yang terjadi di masa lalu, membuat rasa rindu yang selama ini Luka pendam sendirian hilang seketika. Rasa marah karena ditinggalkan begitu saja menyisakan luka batin dan emosional yang tidak akan pernah Luka lupakan.
Berbeda dengan Mizka yang selalu memikirkan bagaimana kabar Mama dan Papa mereka setiap hari nya. Pertanyaan Mizka yang seperti itu selalu membuat Luka tak senang dan marah. Luka marah, kenapa Mizka masih memikirkan bagaimana keduanya. Sedangkan keduanya tidak pernah memikirkan keadaan mereka. Itu tidak adil, pikir Luka.
Sesampainya di rumah, Mizka terkejut karena pintu terbuka dan adanya mobil asing yang tidak biasanya ada di garasi rumah mereka. Dengan wajah berkerut bingung, Mizka masuk ke dalam rumah. Ia berpikir kalau mereka kedatangan tamu. Tapi siapa? Mereka hanya tinggal bersama Mas Cetta tanpa ada yang pernah berkunjung ke sini.
"Mizka," suara itu membuat Mizka terdiam di tempatnya karena terkejut. Suara tak asing itu terus terputar dalam pikiran nya, dan dengan perlahan Mizka memutar tubuhnya menatap ke belakang untuk melihat pemilik suara itu.
"Mama, kenapa Mama ada di sini?," tanya Mizka dengan suara yang terdengar sangat halus.
"Mama kangen kamu, Mizka," ujar Yuni dengan air mata yang mengalir dari mata nya.
"Mizka juga kangen sama Mama," Mizka dengan cepat menghambur ke dalam pelukan Yuni. Bertahun-tahun ia merindukan pelukan ini, bertahun-tahun pula ia menunggu waktu mempertemukan ia dengan Mama nya.
"Maafin Mama, Mizka, maafin Mama," bisik Yuni dengan suara yang terisak.
"Mizka udah maafin Mama, tapi Luka...," Mizka tidak melanjutkan kata-katanya karena takut menyakiti perasaan Yuni.
"Luka benci banget sama Mama ya, Mizka?," tanya Yuni dengan wajah seolah tersakiti.
"Mama tahu kan, ini nggak mudah buat Luka ataupun buat aku. Aku mohon, Ma, jangan paksa Luka buat maafin, Mama. Tolong jangan ganggu Luka, sampai dia sendiri yang datang ke Mama. Luka punya alasan kenapa dia memilih membenci Mama. Tapi Mizka tahu, Mama juga punya alasan kenapa Mama ninggalin Luka dan Mizka sendirian ketika kita lagi butuh perhatian orang tua yang lengkap. Bahkan sampai sekarang, aku dan Luka masih nggak tahu apa alasannya. Mama dan Papa nggak ada kabarnya, nggak pernah mencari dimana aku dan Luka berada, Mama dan Papa buang aku dan Luka begitu saja,"
"Aku marah, Ma. Aku marah karena Mama dan Papa buat adikku jadi orang yang dingin kayak sekarang. Mama dan Papa buat aku kehilangan sosok adikku yang lucu dan menyenangkan. Mama dan Papa menghancurkan hidup kami berdua, dan sekarang Mama dengan mudahnya datang seolah apa yang terjadi selama ini, tidak benar-benar terjadi. Setiap malam aku selalu menantikan hari ini datang, tapi di satu sisi aku takut Ma. Aku takut Mama akan pergi lagi, aku takut Mama akan ninggalin aku dan Luka kayak dulu lagi. Aku takut, Ma," lanjut Mizka yang menundukkan kepala nya karena rasanya semua yang selama ini ia pendam sendirian bisa bebas tersampaikan.
Memang benar ia sangat merindukan pertemuan dengan Mama dan Papa, tapi Luka tidak benar-benar mengerti apa yang selama ini ia pikirkan. Ia ingin bertemu dengan Mama dan Papa nya untuk memperingatkan mereka agar tidak datang dan menganggu kehidupan mereka selanjutnya. Karena Mizka tahu, Luka kesulitan secara mental setiap mengingat tentang kedua orang tuanya. Dan Mizka tidak ingin adiknya hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya. Dan setelah pertemuan ini, ia akan mengubur dan melupakan semua yang pernah terjadi di masa lalu. Mizka akan fokus untuk menjaga adiknya dan menyembuhkan Luka dari mimpi masa lalu yang terus mengganggu hidupnya.
"Mizka, Mama nggak bisa kasih tahu kamu apa alasannya. Mama nggak mau kamu dan Luka semakin jauh tergapai ketika tahu apa alasan nya," jawab Yuni.
"Ma, bukannya lebih baik kalau aku dan Luka hidup tanpa pikiran yang terus mempertanyakan apa alasan nya kalian meninggalkan kami berdua?. Rasanya benar-benar berat untuk hidup di masa depan dengan bayang-bayang masa lalu yang buruk, Ma," ucap Mizka yang kini menatap Yuni dengan tatapan datar.
"Pertemuan kita kali ini, harus menjawab semua yang belum terjawab, Ma. Karena, setelah ini, nggak akan ada pertemuan antara kita lagi. Aku dan Luka akan membuka buku cerita hidup kita yang baru tanpa adanya cerita tentang Mama dan Papa di dalamnya," lanjut Mizka yang membuat Yuni menatapnya tidak percaya. Apa anak-anaknya akan melupakan nya? Itu benar-benar menyakiti hatinya.
"Baiklah kalau kamu ingin tahu alasannya. Tapi satu hal yang Mama minta. Jangan membenci Mama dan Papa. Kalian bisa hidup dengan baik tanpa Mama dan Papa, tapi jangan membenci Mama dan Papa, ya," ucap Yuni yang berhasil membuat Mizka tertegun. Apa Mizka siap menerima semua yang akan ia dengar? Apa Mizka bisa memaafkan apa pun alasan nya? Mizka ragu untuk berkata iya, tapi ia harus mengatakannya.
"Apa itu artinya, alasan nya bisa saja membuat aku dan Luka membenci kalian?," tanya Mizka dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.
__ADS_1
"Bukan hanya untuk kamu dan Luka, bahkan untuk Mama dan Papa sendiri, itu membuat kita membenci diri kita sendiri," jawab Yuni.