OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
15. Hari Jadi Kepergian Ayah


__ADS_3

Hari sudah hampir larut malam namun Cinta masih enggan untuk bangkit dari duduknya di kursi toko bunga. Toko sudah tutup sejak tiga puluh menit yang lalu tapi ia masih ingin duduk barang sebentar saja. Saat sedang hanyut dalam pikiran nya, suara panggilan telefon dari Om Detektif membuat Cinta terkejut dan mengangkatnya dengan cepat.


"Cinta, Kamu lagi dimana sekarang?," tanya Om Detektif yang kini berada di dalam ruangan kamarnya yang gelap.


"A-aku lagi toko, Om," jawab Cinta yang terdengar bergetar.


"Cinta, kamu baik-baik aja kan?," suara Om Detektif terdengar sangat khawatir.


"Cinta nggak papa, Om," ucap Cinta dengan isak tangis yang sangat bertolak belakang dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Om ke sana sekarang, ya, Cinta!. Kamu jangan kemana-mana," ujar Om Detektif.


"Hari ini, hari jadi ke lima tahun meninggalnya Ayah, Om," lirih Cinta dengan tangisan yang kini semakin jelas terdengar.


"Kamu pulang, ya, kamu nggak boleh melakukan apa pun sekarang selain pulang. Cinta paham kan?," tanya Om Detektif dengan suara yang tegas. Ia meminta Cinta untuk pulang karena ia khawatir Cinta akan melakukan hal yang setiap tahun nya Cinta lakukan ketika memperingati hari jadi kepergian Ayahnya, yaitu pergi ke tempat dimana Ayahnya ditembak dan akan tetap di sana sampai fajar tiba.


"Aku mau ketemu Ayah," ucap Cinta dengan suara seraknya.


"Enggak, Cinta. Kamu pulang sekarang, atau Om ke sana?," ancam Om Detektif.


"Aku kangen Ayah, hiks.... Aku mau ketemu Ayah, Om, hiks...," tangis Cinta kembali pecah membuat bahu nya berguncang keras.


"Cinta, Om ke sana, jangan dimatikan telefon nya," setelah itu Om Detektif langsung berlalu menggunakan mobilnya dengan suara tangis Cinta yang mengisi sambungan telefon mereka. Om Detektif sampai dengan cepat dan segera menghampiri Cinta yang masih sesegukkan.


"Kita pulang, ya," ajak Om Detektif yang merangkul bahu Cinta untuk bangun dan masuk ke dalam mobil. Diperjalanan Cinta hanya diam memandang ke arah luar. Setiap tahun, Om Detektif yang mengantarkan Cinta pulang ke rumah. Karena, hanya Om Detektif yang mengingat hari jadi kepergian Ayahnya selain Cinta. Cinta yang periang dan murah senyum akan berubah setiap tanggal 30 Juli menjadi sosok Cinta yang penuh luka, lemah, dan rapuh seperti malam ini.


"Cinta, udah makan?," tanya Om Detektif.


"Belum, Om," jawab Cinta dengan suara yang serak.


"Mau makan apa malam ini?," ucap Om Detektif dengan tangan yang mengusap puncak kepala gadis di sebelahnya.


"Aku cuman mau ketemu Ayah," kata Cinta seraya menatap Om Detektif dengan tatapan sendu.


"Cinta, kamu nggak boleh kayak gini, ya. Ingat tugas kita sekarang bukan lagi menangisi kepergian Ayah, tapi mencari jawaban atas kepergian Ayah. Kamu nggak lupa kan sama tujuan kita?," tanya Om Detektif.


"Aku ingat, Om. Tapi sampai kapan kita mencari jawaban tanpa petunjuk kayak gini?," jawab Cinta dengan helaan nafas berat.


"Memang sudah seberapa besar hal yang kita lakukan selama ini? Om rasa kita belum melakukan hal yang besar, iya kan?," balas Om Detektif dengan senyum hangatnya.


"Om benar. Kita belum melakukan hal yang besar," gumam Cinta pelan.


"Tapi, Cinta, untuk dua tahun ke depan Om akan dipindahkan di kota lain. Cinta harus fokus belajar selama di sini, jadi nanti ketika Om kembali ke sini. Kita bisa melakukan hal yang besar, untuk mencari jawaban nya," ujar Om Detektif.


"Cinta ngerti kok, Om. Om fokus aja sama pekerjaan, Om. Cinta bakal bantu cari informasi lagi di sini," balas Cinta dengan senyum yang dipaksakan.


"Cinta tahu kan, kita semua sayang sama Cinta. Teman-teman Cinta, Ibu, Om, bahkan Om Chandra juga sayang sama Cinta. Cinta nggak boleh merasa sendirian, Cinta bisa hubungi Om kapan pun Cinta butuh Om," ucap Om Detektif ketika mobil nya ia berhentikan di depan Gang rumah Cinta.


"Iya, Om. Cinta mau bilang makasih banyak banget buat Om, untuk semua yang udah Om lakukan untuk Cinta dan Ayah. Om kayak malaikat yang dikirimkan untuk Cinta ketika Cinta lagi butuh banget bantuan saat itu bahkan sampai sekarang. Terima kasih banyak, Om. Sampai bertemu dua tahun lagi," ujar Cinta dengan gerakan cepat ia memeluk tubuh kekar milik Om Detektif yang sudah seperti Ayahnya.


"Jaga diri baik-baik, ya, Cinta," Cinta mengangguk sebagai balasan nya dalam pelukan Om Detektif.


"Cinta masuk ya, Om. Makasih banyak udah antar Cinta pulang," ujar Cinta seraya melambaikan tangan nya kepada Om Detektif.


Cinta berjalan masuk ke dalam gang rumahnya dengan langkah kaki yang berat untuk di langkahkan. Sekarang, ia yang harus berjuang sendiri untuk melanjutkan kasus Ayahnya. Dan Cinta akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan jawaban nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara kicauan burung yang terdengar nyaring membuat Luka membuka matanya dan merenggangkan tubuhnya. Ia segera bangkit dari tidurnya dan mulai merapihkan kamar tidurnya. Ketika ia melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, suara berisik terdengar dari lantai bawah membuat Luka segera menuju ke sumber suara. Dilihatnya Cetta dan Mizka yang sibuk berkemas diri di dalam kamar Cetta.

__ADS_1


"Mau kemana?," tanya Luka yang membuat keduanya menoleh terkejut lalu menjawab pertanyaan Luka dengan tenang.


"Mas Cetta mau pergi ke luar kota, dinas kayak biasanya," balas Mizka yang sedang membantu Cetta memasukkan beberapa pasang sepatu ke dalam koper.


"Kali ini berapa lama?," ujar Luka yang mendudukkan diri di kursi yang berada di sebelah Cetta yang sedang mengemasi pakaian.


"Dua tahun, Luka," balas Cetta.


"Kenapa kali ini lama banget? Biasanya cuman 7 bulan," kata Luka dengan wajah datarnya.


"Mas cuman ikutin aturan nya aja. Lagian kalian udah besar, bisa jaga diri sendiri. Buktinya kalian baik-baik aja selama ini setiap Mas tinggal pergi," ucap Cetta dengan senyum khasnya.


"Tapi kali ini terlalu lama, dan tiba-tiba," jawab Luka.


"Mas yang sengaja kasih tau nya tiba-tiba, soalnya Mas nggak mau lihat kamu ngambek seharian nggak mau ngomong sama Mas," ledek Cetta membuat Mizka tertawa ringan ketika mengingat setiap momen dimana Cetta harus pergi dinas ke kota lain selama beberapa bulan. Luka pasti akan mengurung diri dan tidak mau berbicara sama sekali dengan Cetta maupun Mizka. Karena biasanya Cetta memberi tahu Mizka terlebih dahulu sebelum Luka. Dan itu membuat Luka merasa seolah ia masih dianggap anak kecil, padahal kenyataan nya Luka memang masih seperti anak kecil lihat saja bagaimana ia marah pada Cetta dan Mizka. Diam-diam an tanpa berbicara sedikit pun, persis seperti anak perempuan yang sedang marah dengan pacarnya.


"Aku bukan anak kecil lagi, Mas," balas Luka.


"Emang nya kapan Mas bilang kamu kayak anak kecil?," tanya Cetta yang membuat Luka membuang mukanya kesal.


"Oh iya, ada pesan yang mau Mas titip ke kalian berdua. Jaga diri kalian baik-baik, jangan bertengkar terus, dan jangan sungkan buat telefon Mas kalau ada apa-apa. Dan satu lagi, setelah dua tahun nanti Mas pergi, Mas mau dengar kabar baik dari kalian. Apa pun itu asal kabar baik, janji sama Mas ya!," ujar Cetta seraya merangkul pundak kedua anak laki-laki yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Kita usahain ada kabar baik ya, Mas. Yang paling diharapkan sih kabar baik kalau Luka berani ungkapin suka sama Cinta, iya nggak, Mas?," jawab Mizka seraya menyenggol siku Luka dengan senyum meledeknya.


"Iya dong, Mas tunggu kabar baiknya ya, Luka!."


"Entah lah," balas Luka dan setelah itu ia berlenggang pergi meninggalkan Mizka dan Cetta di kamar.


"Mizka, ada satu hal lagi yang mau Mas titip ke kamu. Mas titip Cinta di sini, ya, Mas nggak tau hal apa yang akan terjadi sama Cinta selama dua tahun ke depan. Tapi, Mas minta sama Mizka untuk pastiin Cinta aman di sini. Mas percaya sama Mizka, jaga Cinta dan Luka baik-baik, ya," ucap Cetta dengan tangan yang berada di pundak Mizka yang dan mengeratkan nya.


"Mas, Mizka akan lakukan yang terbaik buat Cinta dan Luka. Mas tenang aja, ya, mereka akan baik-baik aja di sini," balas Mizka dengan yakin.


Tiga tahun yang lalu.


"Ini adalah makam Ayahnya Cinta," ujar Cetta pada Mizka yang mengangguk mendengarkan penjelasan nya.


"Ayah Cinta meninggal dua tahun yang lalu karena tertembak oleh orang asing yang sampai saat ini belum terungkap siapa pelakunya. Mas bertemu Cinta tepat ditempat kejadian dimana Cinta dalam keadaan tidak baik-baik saja dengan air mata yang terus menerus keluar dari matanya. Mas membantu Cinta karena Mas tahu, Luka sangat menyukai gadis itu. Walaupun Mas saat itu tidak yakin kalau Cinta adalah gadis yang selama ini Luka cari-cari keberadaan nya. Mas mau, kamu jaga rahasia ini sampai nanti takdir yang mempertemukan mereka disaat bersamaan. Mas mau kamu jaga Luka dan Cinta dengan baik ketika Mas tidak bisa menjaga mereka secara langsung. Mas percaya sama kamu, Mizka," jelas Cetta.


"Mas, bagaimana nanti kalau mereka bukan ditakdirkan buat bersama walaupun kita udah berusaha buat mempersatukan mereka?," tanya Mizka dengan tatapan bingung.


"Mas yakin, cinta sejati selalu tahu arah jalan pulang nya walau sesulit apa pun untuk sampai ke tujuan nya. Mas bisa lihat dari bagaimana takdir mempertemukan mereka berdua lalu semesta mempertemukan Mas dengan Cinta pula yang membuat Mas yakin kalau, semesta pingin Mas menjadi pengantar keduanya bertemu. Ya dengan cara ini lah, Mas pingin mempertemukan mereka. Tapi nanti tidak untuk sekarang. Nanti setelah mereka sadar bahwa mereka saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain," jawab Cetta yang membuat Mizka mengangguk mengerti*.


"Kita buat akhir cerita yang bahagia untuk Luka dan Cinta, ya," ujar Cetta.


...----------------...


Cinta pulang ke rumah malam itu dengan wajah tak bersemangat, tanpa senyum manis yang biasanya selalu ia tunjukkan kepada siapa saja. Tapi malam ini ia meminta pengertian kepada bulan untuk bersedih sesuka hatinya tanpa berpura-pura baik-baik saja seperti yang biasanya ia lakukan.


"Kalau aja hari itu nggak terjadi, sekarang aku masih punya dua pahlawan yang hebat di sisi ku. Sekarang Om Detektif pergi, Ayah pergi, Kak Cala pergi, nanti siapa lagi yang akan pergi? Apa hidup ku hanya untuk menyaksikan sebuah kepergian?," gumam Cinta seraya melangkah kan kakinya berjalan ke rumah dengan air mata yang masih terus mengalir dari mata indahnya.


"Kenapa rasanya sangat sakit, hidup diantara begitu banyak cerita kepergian?. Seolah tugasku adalah mengantarkan kepergian," Cinta tertawa kecil ketika mengingat takdir hidupnya yang terlalu dramatis, hanya seputar kepergian dan kehilangan.


Ketika langkah kaki Cinta ingin memasuki pekarangan rumah ia melihat sosok Tyra yang sedang duduk dengan wajah dingin yang selalu ia tunjukkan sejak lima tahun belakangan. Cinta menelan ludahnya dengan susah payah. Ingatan lima tahun yang lalu selalu berputar diingatan nya setiap ia melihat Tyra. Membuat rasa bersalah yang terus menghantui nya selama ini semakin membesar.


"Kakak nggak tidur? Sudah malam," sapa Cinta setelah memberanikan diri untuk menyapa Tyra.


"Basi lo, pergi sana," balas Tyra yang menatap Cinta penuh kebencian.


"Sampai kapan, Kak, kita perang dingin seperti ini? Aku mau kita balik kayak dulu lagi, Kak," tanya Cinta dengan wajah penuh air mata.

__ADS_1


"Kita nggak akan pernah balik kayak dulu lagi, karena lo nggak bisa mengembalikan mereka yang udah pergi lebih dulu karena lo!," jawab Tyra dengan sorot mata yang tajam.


"Apa semua ini kesalahan aku, Kak? Apa aku mau Ayah dan Kak Cala pergi? Enggak, Kak, enggak. Aku juga nggak mau semua ini terjadi," tangis Cinta kembali pecah membuat Tyra menyungging senyum miring.


"Semua ini salah lo! Salah lo!," ujar Tyra penuh penekanan.


"Kalau aja lo nggak manja dan minta Ayah buat beli apa yang lo mau, gue nggak akan kehilangan mereka. Karena lo lahir, gue kehilangan banyak perhatian Kak Cala. Karena lo gue jadi jauh sama Ayah. Karena lo, gue hidup kayak gini sekarang. SEMUA INI SALAH LO CINTA!," jerit Tyra dengan wajah yang memerah karena marah. Cinta tertunduk takut dengan bahu yang bergetar dan menangis dengan kencang.


"Maaf, Kak. Maaf..., aku merusak semua yang seharusnya jadi milik Kakak. Maaf karena aku terlahir di dunia ini dan menjadi penghancur kebahagian Kakak. Maaf, Kak, aku membuat Kakak kehilangan Ayah dan Kak Cala," ucap Cinta di sela-sela tangisan nya.


"Lo tau, gue nggak mau hidup kayak gini. Tapi bayang-bayang kepergian itu selalu menghantui gue. Gue benci banget sama lo, Cinta! Gue benci sama lo!," balas Tyra dengan tangan yang siap untuk menampar wajah Cinta tapi tepat sebelum tangan itu menyentuh pipi Cinta sebuah tangan lain menahan tangan Tyra.


"Jangan sentuh, Cinta," ujar nya dengan penuh penekanan seraya menghempas tangan Tyra dan menyembunyikan tubuh Cinta dibalik tubuhnya.


"Oh jadi ini, pahlawan lo. Enak ya, hidup lo selalu dilindungi sama banyak pahlawan kesiangan, padahal yang mereka lindungi adalah pembunuh," kata Tyra dengan tawa jahat nya membuat laki laki yang kini berdiri di hadapan nya menatap wajah Tyra dengan tajam.


"Pahlawan nggak pernah salah orang. Kita pergi dari sini, Cinta," ajak laki-laki itu seraya memapah tubuh Cinta yang masih sesegukkan menangis.


"Bahkan, dia salah tapi tetap di bela. Gimana sama gue? Hidup gue kehilangan arah tanpa tau arah jalan pulang nya. Dia hidup dengan baik setelah apa yang di lakukan, hebat ya," ucap Tyra dengan tatapan yang menuju pada Cinta dan sosok laki-laki itu yang kini sudah berada jauh dari rumah nya.


"Aku mau pulang, Luka," ucap Cinta seraya melepaskan rangkulan Luka dan mengelap matanya yang basah akan air mata.


"Jangan sekarang, Kakak lo lagi nggak sehat emosi nya," balas Luka.


"Aku mau pulang, aku mau pulang, Luka," tangis Cinta kembali pecah dan hampir terjatuh kalau-kalau Luka tidak menahan tubuhnya.


"Kita makan dulu, lo pasti belum makan," Luka memapah kembali tubuh Cinta dan mereka berdua masuk ke dalam kafe yang berada tidak jauh dari sana.


Cinta terduduk dengan wajah yang menunduk ke bawah, rambutnya berantakan dengan pakaian toko bunga yang masih melekat di tubuhnya. Luka yang duduk di sebelah Cinta hanya diam membiarkan Cinta tenang dengan sendirinya.


"Gue pesan makan dulu, lo tunggu di sini," Luka perlahan bangkit dari duduknya, tapi baru saja ia akan meninggalkan Cinta, tangan nya dia tahan oleh tangan dingin milik Cinta yang membuat Luka berhenti.


"Aku nggak mau makan, Luka. Aku mau kamu disini aja," ucap Cinta dengan suara parau nya.


"Gue nggak pergi kemana-mana, lo tunggu sebentar ya," Luka melepaskan genggaman tangan Cinta dan segera berlalu untuk memesan makanan. Dan tidak lama setelahnya Luka sudah datang dengan dua kotak cokelat dan dua gelas ice choco late.


"Lo suka cokelat?," tanya Luka ketika ia sudah kembali mendudukkan diri di sebelah Cinta. Anggukan kecil Cinta membuat senyum Luka terbit.


"Kalau gitu makan cokelatnya," ujar Luka membuat Cinta mengangkat kepalanya.


"Luka, aku baik-baik aja. Kamu nggak perlu kayak gini," balas Cinta membuat Luka menggeleng singkat sebagai balasan.


"Apa susahnya sih bilang kalau lo cape? Lo bukan robot, lo manusia yang juga boleh cape dan nangis. Kenapa lo jahat banget sih sama diri lo sendiri? Diri lo juga butuh istirahat kali, lo nggak bisa sejahat ini sama diri lo sendiri," kata Luks dengan tangan yang kini dilipatkan di dada.


"Kalau lo nggak mau cerita sama gue, ya, it's okey. Tapi lo nggak bisa selalu bilang lo baik-baik aja karena kenyataan nya anak bayi pun tau kalau lo lagi nggak baik-baik aja," lanjut Luka.


"Ketika lo cape dan lo nangis bukan berarti lo lemah, itu adalah hal yang wajar sebagai manusia. Yang nggak wajar itu ketika lo maksain diri untuk nutupin semua yang lo rasakan demi orang lain. Lo peduli terlalu banyak sama orang lain sampai lupa sama diri lo sendiri yang jauh lebih butuh rasa peduli lo."


"Luka, kamu benar. Ternyata aku sejahat itu sama diriku sendiri. Dan terima kasih ya, untuk malam ini. Kamu udah ada di sini untuk aku," ujar Cinta dengan senyum yang dipaksa untuk terlihat ikhlas.


Aku nggak suka lihat kamu nangis seperti tadi, Cinta. Andai aku tahu alasan kamu menangis karena apa. Batin Luka bergumam pelan.


"Lo mau pulang sekarang? Biar gue antar,"


"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri, kok," jawab Cinta dengan senyuman nya.


"Ya udah kalau gitu," ucap Luka seraya memasukan kotak cokelat yang tidak Cinta makan ke dalam paper bag untuk Cinta bawa pulang.


"Buat makan di rumah nanti, siapa tau lo butuh yang manis-manis," Luka menyerahkan paper bag itu kepada Cinta.

__ADS_1


"Sekali lagi, makasih banyak ya, Luka," Cinta segera berlalu pulang dengan berjalan kaki. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sedikit menyeramkan namun Cinta tidak terlalu takut dengan hantu, yang Cinta takuti hanya kehilangan.


"Malam ini, aku melewati dua fase hidup secara bersamaan. Kepergian Om Detektif, dan kedatangan Luka dalam hidupku. Aku baru sadar, bahwa ternyata kedatangan memang lebih menyenangkan dari pada kehilangan. Tapi bagiku, kehilangan akan selalu menjadi cerita hidup yang tidak pernah terlupakan walaupun sangat tidak menyenangkan untuk dikenang,"


__ADS_2