OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
25. Hidup itu kayak main stucko


__ADS_3

Cinta datang ke sekolah dengan wajah lelah dan tidak bersemangat. Kemarin, ia harus sekolah sampai sore karena ada pelajaran tambahan untuk kelas tingkat akhir. Setelah itu ia harus bekerja di toko bunga sampai pukul sembilan malam. Dan sesampainya di rumah sakit, Cinta harus menjaga Ibunya sepanjang malam sehingga ia tidak tidur sampai akhirnya pagi tiba dan Ia harus pergi ke sekolah. Alhasil Cinta merasa sangat lelah sekali.


"Semoga hari ini berjalan dengan baik," ucap Cinta seraya menggenggam erat tali tas nya.


Tiba-tiba sosok Luka datang dan berjalan di sebelahnya. Tapi Cinta tidak menyapanya hanya melirik ke arah Luka sekilas dan melanjutkan perjalanan nya. Luka terkejut karena Cinta tidak menyapa nya. Biasanya perempuan itu akan membuatnya tersenyum di pagi hari dengan tingkah manisnya. Tapi sejak beberapa hari lalu, Cinta terlihat seperti orang yang sama dengan kepribadian yang berbeda.


"Ibu gimana kabarnya?" tanya Luka ketika keduanya menaiki tangga untuk sampai di kelas.


"Baik," balas Cinta tanpa menoleh ke arah Luka, melainkan menatap ke arah bawah.


"Bagus kalau gitu, lo tinggal tunggu sampai gue ketemu jawaban nya," ujar Luka.


"Bisa nggak kamu menghargai keputusan aku?. Berhenti sekarang atau menyesal nanti," jawab Cinta yang kini mengangkat kepalanya dan berhenti berjalan. Matanya sangat menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan dan Luka tahu itu.


"Kenapa harus menyesal kalau kita tahu semua yang terjadi pasti ada alasan nya?,"


"Karena penyesalan datang tanpa permisi dan mengganggu tanpa kata-kata," balas Cinta yang melanjutkan jalan nya dan meninggalkan Luka.


"Datang tanpa permisi dan mengganggu tanpa kata," gumam Luka pelan.


Felix yang sedang terburu-buru tidak sengaja menabrak Cinta membuat barang-barang yang Felix bawa di tangan nya terjatuh. Ia diminta oleh guru piket untuk membawa alat praktik dari kelas mereka ke lab IPA. Cinta membantu membereskan barang-barang yang berantakan dan menyerahkan nya kembali kepada Felix.


"Thanks," ucap Felix. Cinta mengangguk singkat sebagai balasan nya.


"Tangan lo berdarah," Felix menatap ke arah telapak tangan Cinta yang mengeluarkan darah dari luka gores. Luka gores itu ia dapatkan karena jatuh dari sepeda pagi tadi, ia hanya membersihkan luka nya tanpa berniat untuk mengobati nya sedikit pun.


"Nggak papa, aku duluan," Cinta berdiri dan berjalan lebih dulu masuk ke kelasnya. Membuat Felix hanya menatap punggung gadis itu. Cinta masuk ke kelas dan segera mendudukkan diri di kursi nya. Zemira yang menyadari kedatangan Cinta langsung menoleh dan menyambutnya dengan manis.


"Selamat pagi, orang kuat!," sapa Zemira yang berusaha menguatkan Cinta. Namun sayang nya, yang di sapa hanya diam dan menatap kosong ke arah depan.


"Cinta, are you okey?," tanya Zemira dengan hati-hati.


"Gue nggak papa," jawab Cinta dengan senyum kecil.


"Gue tau kok lo bohong, tapi kalau lo ngerasa lebih baik setelah itu, gue ngerti. Lo itu terlalu kuat, sampai lupa buat istirahat," Zemira mengelus pundak Cinta beberapa kali sebelum Luka datang menyodorkan kotak P3K ke arah Cinta.


"Tangan lo bisa infeksi kalau nggak di obati," ucap Luka yang langsung beralih ke kursinya yang ada di sebelah meja Cinta dan Zemira.


"Nggak perlu, cuman luka kecil," Cinta mengembalikan kotak P3K yang Luka berikan.


"Jangan terlalu keras sama diri sendiri," ujar Luka yang membuat Cinta menatap nya.


"Lo boleh keras sama orang lain, tapi nggak sama diri lo sendiri. Karena lo butuh dia buat tetap bertahan, seenggaknya kalau nggak bisa buat bahagia, ya jangan nyakitin," lanjut Luka.


"Aku bisa obati luka ku sendiri," Cinta bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kelas. Zemira dan Luka hanya bisa menghela napas melihat perubahan Cinta. Sejak kejadian itu Cinta jadi berbeda. Ia jadi tidak ingin dipedulikan oleh orang lain dan selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia jadi dingin dan tidak tergapai oleh Luka, Zemira, dan Gega.


"Cinta lagi kenapa ya, akhir-akhir ini dia jadi susah banget diajak ngobrol," tanya Zemira pada Luka.


"Dia lagi perang sama dirinya sendiri. Sebagian dirinya mau tetap cari jawaban nya, tapi sebagiannya yang lain mau menyerah. Kita lihat aja, siapa yang bakal menang," jawab Luka.


Cinta berlari ke arah atap sekolah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Sesungguhnya Cinta tidak bisa bersikap dingin kepada sahabat sahabatnya. Cinta sangat menyayangi mereka, tapi Cinta berpikir kalau ia semakin dekat dengan mereka. Ia hanya akan membahayakan sahabat-sahabatnya. Dan lebih baik, ia menjauh dari mereka sebelum terlambat.


"Akh!!!," teriak Cinta meluapkan segala beban di hatinya.


"Ayah, Cinta capek Yah!,"

__ADS_1


"Cinta mau sama Ayah dan Kak Cala aja,"


"Apa nggak bisa Cinta ikut sama Ayah?," tangisan Cinta semakin menjadi-jadi.


"Hiks...hiks...hiks...,"


"Kenapa rasanya semesta nggak pernah berbaik hati sama Cinta? Apa Cinta melakukan banyak kesalahan sampai-sampai semesta selalu berusaha menghancurkan Cinta?,"


Cinta jatuh terduduk dengan bahu yang bergetar dan napas yang terasa sesak sekali. Semua kenangan buruk berputar bagai film di otaknya. Namun sebuah ingatan manis tentang Ayahnya muncul tiba-tiba.


Sore itu Cinta dan Cala sedang bermain bulu tangkis di halaman rumah bersama. Saat itu, cuacanya sangat bagus sehingga mereka berdua bermain dengan nyaman tanpa takut dengan sinar matahari yang akan membakar kulit mereka. Lalu Ayahnya datang dengan dua gelas ice lemon tea untuk Cala dan Cinta.


"Cala, udah mainnya. Kasian adiknya nanti kecapean," ujar Jess seraya mendudukkan dirinya di kursi taman.


"Iya, Yah. Yuk, Ta, kita istirahat dulu," ajak Cala. Cinta mengangguk dan meraih tangan Cala untuk digenggamnya sambil berjalan menghampiri Jess.


"Ayah, Kak Tyra dan Ibu lagi pergi kemana? Cinta tadi cari di dapur nggak ada siapa-siapa?,"


"Ibu sama Kak Tyra lagi ke supermarket, belanja bulanan. Cinta ada apa cari Ibu sama Kak Tyra," balas Jess dengan tangan yang sibuk membelai puncak kepala anak perempuan nya.


"Tadi Cinta cerita kalau dia gagal bawa piala untuk sekolahnya dilomba mewarnai antar sekolah. Makanya Cinta takut dimarahin sama Ibu," saut Cala.


"Kenapa takut? Ibu nggak akan marah, kok, kalau Cinta kalah. Kan Ayah sering bilang, kalah bukan berarti kamu tidak layak menang. Kamu cuman perlu belajar lagi biar bisa bawa piala yang lebih besar dilomba yang lain," jawab Jess.


"Cinta, cuman takut Ibu kecewa sama Cinta. Karena Ibu udah capek ajarin Cinta mewarnai semalaman. Tapi, Cinta kalah...," ujar Cinta dengan kepala yang menunduk.


"Ibu tahu, Cinta sudah mencoba dengan keras. Walaupun kalah, Ibu nggak akan marah," balas Jess yang membuat Cinta sedikit tenang.


"Cinta, hidup itu seperti main stucko. Mau berapa kali pun baloknya jatuh dan gagal, baloknya harus tetap dibangun lagi. Supaya permainan nya tetap berjalan," ucap Jess.


"Selamat Pagi! Hari ini, Ibu pingin kalian buat kelompok untuk tugas Minggu depan sebelum ujian akhir. Tugasnya membuat Pop-up book tentang teman satu kelompok kalian. Ibu yakin kelas ini punya hubungan yang baik satu sama lain. Jadi, buat Pop-up book yang bagus, ya!," ujar Bu Mira dengan senyum ramahnya.


"Oh iya, Cinta?, bisa bantu Ibu sebentar?," panggil Bu Mira pada Cinta yang terlihat melamun.


"Cinta?," panggil Bu Mira lagi. Tetapi Cinta masih tidak bergeming membuat teman-teman di kelasnya menatap ke arah Cinta dengan bingung. Ketua kelas mereka yang biasanya selalu memasang wajah bahagia dengan senyum manisnya, beberapa hari terakhir selalu memasang wajah tanpa ekspresi yang membuat mereka semua khawatir. Beberapa dari mereka sudah bertanya kepada Cinta, apakah ia baik-baik saja. Tapi Cinta mengatakan kalau ia baik-baik saja, dan tidak perlu mengkhawatirkan nya.


"Ta, dipanggil Bu Mira," bisikan Zemira membuat Cinta mendapatkan kesadarannya kembali dan langsung menatap ke arah Bu Mira.


"Iya, Bu?," jawab Cinta dengan suara yang terdengar lemah.


"Kamu nggak papa? Ibu lihat dari tadi, kamu melamun dan nggak fokus. Kamu sakit?," tanya Bu Mira seraya berjalan mendekat ke arah Cinta.


"Saya nggak papa, Bu. Ada yang bisa saya bantu?," balas Cinta dengan tenang.


"Ibu, mau minya tolong buat ambil beberapa contoh Pop-up book yang ada di perpustakaan. Bisa kamu bantu, Ibu?," ujar Bu Mira yang langsung mendapat anggukan dari Cinta.


"Bisa-,"


"Biar saya aja, Bu," potong Luka yang membuat Bu Mira menatap ke arahnya.


"Saya bisa, kok, Bu. Saya pamit keluar, ya," Cinta segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas tanpa menghiraukan Luka.


Cinta menatap tumpukkan Pop-up book di hadapan nya. Pop-up book itu cukup banyak, sehingga ia berpikir lagi apa ia bisa membawa nya ke kelas sendirian. Tanpa berpikir lagi, Cinta membawa tumpukkan Pop-up book itu sendiri. Perjalan ke kelas menjadi sangat panjang karena ia harus berjalan perlahan agar tumpukkan buku yang dibawa nya tidak jatuh. Tapi tiba-tiba sebagian buku yang di bawanya diambil alih oleh Luka yang membuatnya terkejut.


"Kalau nggak bisa sendiri, minta bantuan orang lain kan bisa," ucap Luka dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"A-aku, bisa," jawab Cinta.


"Lo selalu berlaku seolah lo itu batang pohon yang kuat tapi, nyatanya lo itu hanya ranting pohon yang mudah rapuh," ujar Luka yang membuat Cinta menatapnya tidak suka.


"Terus aku harus gimana Luka?,"


"Aku juga nggak mau kayak gini,"


"Aku ngerasa sebagian dari diri aku udah hancur,"


"Aku capek sama semua ini, aku nggak tau apa yang harus aku lakukan,"


"Aku harus gimana Luka?," tanya Cinta dengan suara bergetar. Luka terdiam menatap gadis di depannya.


"Aku menjauh karena aku nggak mau kalian terluka, aku nggak mau jadi penyebab kalian celaka," Cinta menundukkan kepalanya dengan tarikan napas menderu. Luka menjatuhkan tumpukkan Pop-up book di tangan nya dan langsung meraih Cinta ke dalam pelukan nya. Cinta mulai menangis di dalam pelukan Luka. Sudah lama, ia tidak mendapatkan pelukan hangat seperti ini.


"Aku harus gimana Luka? Hiks...hiks...hiks...," bahu Cinta itu bergetar dalam pelukan Luka. Luka menenangkan nya dengan usapan pelan di pundaknya.


"Daun yang gugur nggak pernah menyalahi angin yang berhembus terlalu kencang. Begitu pun kita, kita nggak akan menyalahi lo kalau kita celaka karena kasus ini. Karena itu bukan salah lo, Cinta. Kehilangan dan kepergian nyatanya emang nggak bisa lo kendalikan," ujar Luka.


"Kita bisa, Cinta, kita bisa selesain semua ini," Luka melepaskan pelukan mereka dan tersenyum menatap Cinta yang masih menundukkan kepalanya.


"Pemenang memang harus gagal dan jatuh dulu," Cinta mengangkat kepalanya dan menatap Luka. Lalu Cinta menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Pertanda bahwa ia setuju untuk melanjutkan kembali kasus itu.


Melihat Cinta menangis seperti ini membuat Luka teringat akan percakapan makan malam beberapa hari lalu bersama Mizka dan Cetta.


Ketika Luka sampai di rumah, meja makan sudah terisi penuh oleh makanan yang ia yakini bahwa itu merupakan makanan yang Mizka pesan online karena Mizka dan Cetta tidak memiliki banyak waktu untuk memasak makan malam.


"Mas Cetta mana?," tanya Luka pada Mizka yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya di meja makan sendirian.


"Lagi ganti baju, lo ganti baju dulu sana. Mandi sekalian, lo pasti kotor dari luar," jawab Mizka.


"Iya, calon dokter," saut Luka seraya berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Luka kembali ke meja makan. Cetta sudah duduk dengan setelan baju tidurnya.


"Gimana hari ini, Ka?," tanya Cetta seraya menyendok kan nasi ke piring nya.


"Ada masalah sedikit, Mas," jawab Luka.


"Masalah? Masalah apa?," ucap Cetta.


"Soal kasus itu, Cinta nggak mau lanjut lagi. Alasan nya cuman karena dia nggak mau ada korban selanjutnya setelah Ibunya yang sekarang jadi susah banget diajak komunikasi dan trauma karena kejadian itu," ujar Luka sambil menikmati makanan nya.


"Wajar kali, Cinta pasti ngerasa bersalah karena dia berpikir, dia selalu jadi penyebab orang-orang disekitarnya terluka," jawab Cetta yang membuat Luka menoleh kearahnya.


"Kamu perlu meyakinkan Cinta kalau itu bukan kesalahan dia, karena yang kamu tau Cinta sangat mudah stress dan perasa," lanjut Cetta yang mendapat anggukkan kepala dari Luka.


"Cinta nggak mau ketemu Luka kalau masih mencari tentang kasus itu," perkataan Luka barusan membuat Mizka dan Cetta menatapnya tak percaya.


"Kayak bukan Cinta," saut Mizka yang sedari tadi hanya menyimak sambil menikmati makanan nya karena sangat jarang ia memiliki waktu untuk menikmati makanan nya. Biasanya ia harus makan sambil belajar sehingga ia tidak benar-benar menikmati makanan nya. Apalagi ia harus menghabiskan banyak waktu di perpustakaan kampus dan kafe jika ia lapar tetapi tetap harus belajar. Waktu seperti ini sangat berharga untuknya sekarang, ia sangat senang jika memiliki waktu untuk makan malam bersama Luka dan Cetta.


"Itu artinya Cinta benar-benar lagi frustasi, dia hanya mengikuti kata hatinya yang terlalu merasa bersalah," ucap Cetta.


"Orang yang selalu memasang wajah bahagia, tidak selalu berarti bahagia. Terkadang itu cara nya untuk mencoba menikmati rasa sakit yang sedang dirasakan. Jika lukanya belum bisa diobati, dinikmati menjadi pilihan terakhir agar rasa sakitnya tidak terlalu terasa," lanjut Cetta.


Luka sadar ternyata Cinta tidak bisa mengobati rasa tidak menyenangkan yang sedang ia rasakan, tapi mencoba menikmati pun rasanya sulit sehingga Cinta hanya mengikuti sebagaimana alur bekerja.

__ADS_1


__ADS_2