
Siang itu Meta sedang menyapu halaman rumah dengan tenang sampai seseorang berpakaian serba hitam datang menghampirinya. Meta mengenal orang itu, jadi ia segera berjalan mundur dengan perlahan.
"Mau apa kamu ke sini, Bram?," tanya Meta dengan nada suara yang bergetar takut.
"Hai, kita ketemu lagi!," sapa Bram dengan suara beratnya seraya berjalan mendekat ke arah Meta.
"Jangan mendekat, Bram," ucap Meta pada Bram.
"Saya ke sini hanya mau mengajak kamu makan siang bareng, mau kan?," tanya Bram.
"Saya nggak akan mau makan bareng sama pembunuh," jawab Meta yang membuat Bram menatapnya dengan marah.
"Siapa yang kamu sebut pembunuh?," balas Bram dengan senyum smirk nya.
"Kamu, kamu yang sudah membunuh suami saya. Sahabat kamu sendiri, Bram!," Meta berteriak kesal kepada Bram. Ia benci sekali dengan bram, karena Bram keluarganya menderita.
"Itu semua karena kamu, Meta. Kamu yang membuat saya membunuh suami kamu," jawab Bram dengan tangan yang bergerak meraih tangan Meta.
"Jangan berani pegang pegang saya!," Meta menghentak kasar tangan Bram yang ingin meraih tangan nya.
"Kamu sudah berani sama saya sekarang, seperti yang saya katakan terakhir kali. Kalau anak kamu masih berusaha mencari bukti soal kematian Jess, kamu dan anak kamu nggak akan pernah aman. Tapi nyata nya, dia masih berusaha mencarinya. Jadi sekarang, saya tidak akan bermain-main lagi," ucap Bram seraya memeluk Meta dan menyuntikan obat bius di lengan nya membuat Meta mengerang sakit sebelum akhirnya pingsan di dalam pelukan Bram.
"Saya tidak akan membiarkan kamu membuka suara, Meta," bisik Bram pada telinga Meta. Setelah ia menuliskan surat untuk Cinta dengan cairan darah, Bram membawa Meta ke dalam mobilnya dan segera berlalu pergi dari sana.
...----------------...
Cinta masih berdiri dengan gelisah karena Ibunya menghilang, kini Cinta sedang berada di kantor polisi bersama Om Detektif dan Om Chandra. Sedangkan teman-teman nya yang lain, sedang bertanya pada tetangga disekitar rumah nya dan juga mengecek cctv sekitar rumah di kantor polisi terdekat.
"Cinta tenang, ya. Ibu kamu akan baik-baik saja," ujar Chandra yang membuat Cinta terdiam di tempatnya. Bagaimana bisa ia percaya kalau Ibunya akan baik-baik aja, kalau pada kenyataan nya Ibunya sedang diculik dan tidak ada yang bisa menjamin Ibunya akan baik-baik saja.
"Saya dapat rekaman cctv yang dikirim sama Gega," Om Detektif tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menunjukkan rekaman cctv yang Gega dapatkan dari kantor polisi di sekitar rumahnya.
Didalam rekaman tersebut, terlihat sosok laki-laki berbaju serba hitam datang ke rumah Cinta. Terlihat jelas ketika itu Ibu terkejut dan keduanya terlihat beradu pendapat sampai akhirnya laki-laki itu membawa Ibu dalam gendongan nya dan memasukkan nya ke dalam mobil. Tapi sebelum laki-laki itu masuk ke dalam mobil, matanya sempat bertatapan dengan kamera cctv. Mata laki-laki itu terlihat jelas setelah kamera cctv di zoom.
"Cinta pernah lihat mata orang itu Om," perkataan Cinta barusan membuat Chandra dan Om Detektif menatap ke arahnya.
"Kamu lihat dimana Cinta?," tanya Ok Detektif.
"Di dekat rumah, tiga minggu yang lalu. Malam malam, waktu Cinta diantar pulang sama Luka habis dari rumah Gega. Cinta nggak sengaja nabrak orang itu, dan mata kita saling lihat beberapa saat. Cinta ingat karena orang itu punya luka di dekat mata sebelah kanan dan alis sebelah kiri," jawab Cinta seraya menunjuk ke arah mata kanan dan alis kiri orang tersebut yang ada di cctv.
__ADS_1
"Itu artinya, orang ini sudah lama mengincar kamu dan keluarga kamu karena dia sudah tahu kalau kamu akan mengangkat kasus ini kembali," ujar Chandra yang membuat Cinta dan Om Detektif mengangguk setuju.
"Ini bisa memperkuat bahwa Ibu Cinta menyimpan suatu rahasia penting dimana bisa jadi jawaban untuk kita menemukan pelakunya. Tapi karena pelakunya tahu, dia langsung bergerak buat culik Ibu Cinta biar nggak buka suara tentang kasus ini," saut Om Detektif.
"Apa foto yang yang ada di kotak hitam itu adalah Ayah Cinta, Ibu Cinta, dan pelakunya atau sahabat Ayah Cinta?. Ini masuk akal, iya kan?," tanya Chandra pada Om Detektif.
"Iya. Cinta ingatkan, cerita tentang para tentara yang pernah bekerja dengan Ayah kamu dan juga sahabatnya?," ucap Om Detektif.
"Ingat, Om. Apa maksud Om, inti dari semua ini adalah kecemburuan?," tebakan Cinta begitu tepat membuat Om Detektif tersenyum.
"Benar sekali, alasan pertama karena Ayah kamu mendapatkan kenaikan jabatan, sedangkan sahabat Ayah kamu malah turun jabatan dan menghilang setelahnya. Alasan kedua, kalau dari foto ini, perempuan satu dan dua laki-laki. Seperti kebanyakan cerita yang kita tahu di masyarakat, ini bisa jadi cinta segitiga. Ayah kamu yang mendapatkan Ibu kamu, tapi sahabat Ayah kamu juga suka sama Ibu kamu. Karena di cctv tadi, mereka berdua terlihat beradu pendapat. Kalau mereka tidak saling mengenal, dia tidak akan berbasa-basi seperti itu," ujar Om Detektif yang membuat semuanya semakin terlihat jelas.
"Jadi motif nya adalah kecemburuan?," tanya Chandra memastikan yang dibalas anggukan oleh Om Detektif.
"Sekarang, kita harus cari cara buat selamatkan Ibu cinta biar kita bisa segera mendapatkan clue tentang pelakunya. Kita butuh ciri-ciri fisik nya, karena foto itu terlalu buram untuk melihat jelas seperti apa wajahnya," ucap Om Detektif.
"Kita bisa minta bantuan polisi juga biar lebih banyak yang mencari keberadaan Ibu Cinta. Cinta dan yang lain harus lebih hati-hati mulai sekarang. Om, dan Om Chandra akan bantu cari clue lagi," ujar Om Detektif pada Cinta.
"Iya, Om," balas Cinta seadanya. Sungguh, ia sangat khawatir dengan keberadaan Ibunya sekarang.
......................
Ini sudah lima hari sejak hilang nya Ibu, tapi mereka belum juga menemukan nya. Cinta sudah hampir gila karena tidak bisa menemukan keberadaan Ibunya. Ia takut pelakunya melakukan sesuatu yang menyakiti Ibunya. Kini Cinta sedang berada di dalam kelasnya. Ada Gega, Luka, dan juga Zemira di sana. Keempat nya juga ikut diam karena tidak mau mengganggu Cinta yang sedang banyak pikiran.
"Gimana aku bisa makan kalau aku aja nggak tau Ibu udah makan atau belum, aku takut Ibu kenapa-kenapa Ge," jawab Cinta.
"Gimana juga caranya kita bisa cari Ibu lo, kalau lo nya sakit?," tanya Luka dengan wajah datarnya. Ia juga mengkhawatirkan kesehatan Cinta karena gadis itu belum makan sejak dua hari yang lalu.
"Bener kata Luka, kesehatan lo paling penting," saut Zemira seraya menyodorkan sekotak bekal makanan ke hadapan Cinta.
Lalu tanpa membantah lagi, Cinta segera menyuapkan makanan nya dengan perlahan. Pikirannya sibuk bertanya-tanya, apakah Ibunya baik-baik saja sekarang? Apakah Ibunya sudah makan? Apa pelaku nya memperlakukan Ibu dengan layak?. Ibunya pasti sedang ketakutan sekarang.
"Ini udah lima hari, tapi kita belum juga dapat petunjuk dimana Ibunya Cinta berada," ucap Gega dengan nada suara yang rendah.
"Dan gue punya satu cerita yang dari kemarin pingin gue kasih tau ke kalian. Jadi beberapa hari yang lalu, gue lagi ada di danau tempat biasanya Cinta lihat matahari terbenam. Pas gue diparkiran gue ngeliat ada orang berpakaian serba hitam berdiri di antara mobil-mobil. Gue curiga kalau orang itu ngikutin gue, sampai akhirnya dia ngeliat gue lagi merhatiin dia dan dia lari kabur dari gue. Gue kejar, tapi tiba-tiba ada mobil yang datang dan dia langsung masuk ke sana. Itu benar-benar buat gue yakin kalau pelakunya ngawasin masing-masing dari kita," lanjut Gega yang membuat ketiganya menoleh kearahnya.
"Karena dia tahu, kalau kita tahu soal kasus itu," saut Luka.
"Zem, mulai sekarang lo harus diantar sama supir, ya. Gue takut pelakunya juga bakal ganggu lo," ujar Gega pada Zemira.
__ADS_1
"Itu pasti, tapi jangan lupa juga kalau gue bisa bela diri. Tenang aja," jawab Zemira dengan wajah menyebalkan.
"Tapi kamu juga harus hati-hati, ya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Zem," balas Cinta dengan nada khawatirnya.
"Yang harusnya lo khawatir in itu diri lo sendiri, Cinta. Lo kemungkinan yang paling mungkin buat kenapa-kenapa," ucap Zemira seraya mengelus tangan Cinta.
"Cinta biar gue yang jaga," jawab Luka yang membuat Cinta menatap kearah nya.
"Kamu nggak perlu berlebihan, Luka. Kamu juga harus jaga diri kamu sendiri," balas Cinta.
"Gue nggak akan kenapa-kenapa kalau lo baik-baik aja," ujar Luka yang membuat Cinta tersenyum.
"Kamu emang paling bisa buat bikin aku nggak akan bisa menolaknya," jawab Cinta dengan senyum tulusnya.
Ketika suasana sudah lebih hangat, tiba-tiba Cinta mendapatkan pesan video dari nomor tidak dikenal.
"Aku dapat pesan video dari nomor nggak dikenal," ucap Cinta yang membuat ketiganya terkejut.
"Video dari nomor nggak dikenal?," tanya Gega.
"Ibu...," lirih Cinta ketika melihat sosok Ibunya di layar ponsel dengan wajah penuh luka dan tubuh yang terikat di kursi. Tangan dan kakinya diikat juga dengan tali.
"Ibu hiks...," tangis Cinta pecah ketika mendengar suara benturan keras dari suatu benda yang berasal dari belakang layar video tersebut. Sepertinya itu suara yang dibuat oleh pelaku.
"Cinta...Ibu baik-baik aja. Kamu jangan khawatir, ya...," ujar Meta dengan suara yang terdengar lemah.
"Cinta jaga diri kamu baik-baik, ya. Ibu nggak papa," lanjut Meta. Setelah itu, muncul satu sosok laki-laki berpakaian serba hitam yang hanya terlihat bagian matanya saja.
"Hai, anak manis. Apa kamu sudah bosan punya Ibu yang cantik? Kalau tidak, kenapa kamu hanya diam saja dan tidak mencari keberadaan Ibu kamu?. Tadi malam, saya habis melakukan sesuatu hal yang sangat menyenangkan bersama Ibu kamu, karena kamu tidak juga datang menjemputnya. Kalau memang sudah bosan, saya tidak akan keberatan untuk menerima Ibu kamu. Jangan lupa juga, kalau saya tidak akan bermain-main lagi sekarang. Kamu yang memulai nya, biar saya yang akan mengakhiri permainan ini," ujar laki-laki itu dengan tawa menyebalkan diakhir katanya.
Setelah mengatakan itu, laki-laki itu bangkit dari duduknya dan memukul tubuh Meta dengan sabuk yang membuat Cinta menjerit ketakutan.
"Saya tidak akan membiarkan kamu menang, Cinta," Video itu berakhir dengan cepat setelah laki-laki itu mengatakan kalimat yang membuat Cinta menangis sejadi-jadinya.
"Luka, Ibu gimana Luka?!!! Ibu pasti kesakitan hiks...hiks...hiks....! Tolongin Ibu Luka....," Cinta menatap Luka yang ada di sebelahnya dengan mata yang berkaca kaca. Cinta tertunduk lemah dengan bahu yang bergetar karena menangis. Luka merangkul pundak gadis itu berusaha menguatkan nya, begitu juga Zemira yang membisikkan kata kata menenangkan untuk Cinta.
"Maafin Cinta, Bu.... hiks Ibu...," gumam Cinta dengan tangisan nya.
"Kirim ke gue nomor telefon nya, biar gue bantu lacak. Di zaman modern kayak sekarang, kita juga bisa lacak lokasi dari video itu," ucap Luka yang membuat Gega dengan cepat meraih ponsel Cinta dan mengirimkan video serta nomor telefon tidak dikenal tersebut kepada Luka. Luka segera melacak lokasi dari video itu dengan teknologi yang canggih di ponselnya. Sedangkan Gega tiba-tiba menjadi diam ditempatnya.
__ADS_1
Ada hal yang membuat Gega merasa cemburu kepada Luka, di ponsel Cinta nama kontak Luka disimpan dengan nama yang manis sekali. Manusia Es. Sedangkan dirinya hanya Gega. Singkat jelas dan padat. Itu membuat Gega semakin sadar diri kalau dirinya bukanlah seseorang yang Cinta sukai, melainkan hanya sebatas sahabat. Dan kenyataan itu benar-benar sulit untuk diterima dengan lapang dada. Karena sebelum berperang, ia sudah dinyatakan kalah. Ia belum menyatakan perasaan nya kepada Cinta, tapi sepertinya Cinta sudah menyatakan lebih dulu kalau Cinta menyukai Luka bukan dirinya.
Apa nggak boleh gue coba dulu nyatakan perasaan gue? Tapi Cinta lebih suka sama Luka kayaknya, ternyata gini ya rasanya jadi second lead di drama korea, batin Gega berkata dengan perasaan cemburu.