OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
14. Bulu Tangkis


__ADS_3

Pagi ini Cinta datang lebih awal karena ia harus melakukan piket kelas. Suasana kelas saat itu sepi sekali, hanya ada dirinya di dalam kelas. Dengan tenang Cinta mulai membersihkan seluruh penjuru kelas tanpa ada yang terlewatkan.


Sampai perlahan-lahan teman-teman nya datang dan mengisi kursi di kelas. Setelah selesai melakukan tugasnya, Cinta mendudukkan diri di kursi nya dengan helaan nafas lelah. Ia menggapai botol minumnya yang berada di atas meja dan meneguknya. Tapi tiba-tiba Zemira masuk ke dalam kelas dengan mata merah dan tangis nya langsung pecah ketika mata mereka berdua bertemu. Cinta langsung berdiri dan memeluk Zemira dengan lembut. Tangis Zemira semakin menjadi ketika Cinta memeluknya dan mengelus pundaknya.


Cinta melepaskan pelukan nya dan menatap mata Zemira dengan tatapan menenangkan.


"Kamu kenapa, Zemi?," tanya Cinta dengan tangan yang mengelus pipi Zemira dengan lembut.


"Hiks... hiks... hiks... Cinta...," tangis Zemira semakin kencang membuat Cinta menatapnya khawatir.


"Enggak papa, nangis aja. Aku akan tunggu sampai kamu siap cerita," Cinta kembali memeluk tubuh Zemira yang lebih tinggi dari nya. Zemira menangis lagi di pelukan Cinta yang hangat. Gega datang dan melihat kedua sahabatnya sedang berpelukan, sedangkan teman-teman nya yang lain menatap keduanya dengan bingung.


"Wah, ada apa nih? Kenapa pada pelukan kayak gini?," tanya Gega seraya berjalan menghampiri keduanya. Tapi keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaan Gega. Malahan keduanya tetap saling berpelukan dengan isak tangis Zemira yang masih terdengar.


"Cinta, Zemi, kalian kenapa pelukan lama banget sih? Enggak nyesek apa?," tanya Gega lagi.


"Gega, kamu bisa tolongin aku beliin air mineral buat Zemi nggak? Aku minta tolong, ya?," pinta Cinta dengan tetap memeluk Zemira. Tanpa bertanya lebih lanjut lagi, Gega segera berlalu meninggalkan kelas untuk membeli air mineral untuk Zemira.


Cinta mendudukkan Zemira di kursi nya dan ia duduk di kursi seberang nya. Cinta mengelus telapak tangan Zemira agar Zemira merasa lebih tenang. Lalu sosok Gega dan Felix datang bersamaan memasuki kelas. Tatapan sengit keduanya membuat Cinta langsung memanggil Gega agar tidak terjadi keributan.


"Ini Cinta airnya," ujar Gega seraya menyerahkan sebotol air mineral kepada Cinta.


"Makasih banyak, ya, Gega," balas Cinta dengan senyuman lalu ia membuka tutup botol nya dan memberikan nya kepada Zemira.


"Minum dulu, Zem. Biar kamu lebih tenang ya," ucap Cinta yang menatap Zemira dengan sendu.


"Hiks... Cinta..., gue putus sama Dito," ujar Zemira dengan isak tangis.


"Kamu bisa cerita sama aku kenapa kamu putus," jawab Cinta dengan raut wajah yang ikut sedih.


"Dito selingkuh Cinta, hiks... Dito jahat banget sama gue...,"


"Mungkin itu cara semesta buat buktiin ke kamu kalau Dito nggak baik buat kamu," ucap Cinta dengan tangan yang menggenggam tangan Zemira berusaha menguatkan sahabatnya.


"Iya, Zem, tenang aja. Cowok brengsek kayak gitu nggak pantes buat lo, biar gue hajar tuh bocah! Berani-berani nya selingkuhi sahabat gue!," saut Gega yang ikut terbawa emosi ketika mendengar apa yang Zemira ceritakan.


"Tapi gue sayang banget sama Dito... Gue harus gimana sekarang?...," tanya Zemira yang terlihat putus asa karena putus cinta.


"Kamu nggak harus gimana-gimana sekarang. Istirahat yang cukup, dan belajar buat ikhlas melepaskan orang yang emang nggak ditakdirkan untuk kamu. Aku tahu kamu kuat, Zemi. Aku dan Gega juga akan selalu ada buat kamu, kamu yang tenang, ya. Jangan sampai sakit," ujar Cinta yang menyungging senyum manis untuk sahabatnya.


"Gue nggak bisa terima gitu aja, Cinta. Gue mau Dito tahu kalau gue nggak akan diam aja diselingkuhi," ucap Zemira dengan kesal.


"Kamu yakin? Lebih baik kamu jangan berurusan lagi sama dia, aku nggak mau kamu terluka lagi karena dia," jawab Cinta.


"Tapi Cinta," Zemira terlihat tidak setuju dengan pendapat Cinta karena Zemira ingin Dito tahu kalau ia tidak akan diam saja setelah diselingkuhi.


"Bener kata Cinta, Zem. Kalau lo bales dia, nanti kelihatan banget kalau lo cinta mati sama dia dan itu malah bikin dia jadi besar kepala. Mending nanti pulang sekolah kita jalan jalan, gimana?," ajak Gega dengan wajah riang nya.


"Aku setuju banget," balas Cinta tidak kalah semangat dengan Gega.


"Gue ikut aja deh," saut Zemira dengan pasrah. Benar juga, buat apa ia memikirkan laki laki tidak berperasaan itu pikir Zemira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang sekolah Cinta, Gega, dan Zemira akan pergi ke lapangan bulu tangkis yang berada di belakang rumah Gega. Karena Ayah Gega adalah pemain bulu tangkis yang hebat maka dari itu Gega menuruni kegemaran dan keahlian dari Ayah nya itu.


Tapi baru saja Cinta akan naik ke atas motor Gega, suara seseorang yang memanggil nama Cinta membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Sosok Luka berjalan santai dengan tas yang ada di pundaknya ke arah Cinta.


"Mau kemana?," tanya Luka tanpa basa basi.


"Aku mau ke rumah Gega, ada apa?," jawab Cinta dengan wajah bingung.


"Nanti malam temuin gue di kafe dekat toko bunga," ujar Luka.


"Cinta nggak bisa, kita mau main sampai malam," saut Gega yang ikut masuk ke tengah tengah Cinta dan Luka yang berdiri berhadapan.


"Jangan ikut campur," balas Luka yang memasang wajah datar.


"Dih! Lo tuh yang ikut campur acara kita hari ini," ucap Gega menatap Luka dengan sengit.


"Gega, yuk kita jalan aja, Zemira udah nunggu," ajak Cinta.


"Nanti aku kabarin kamu ya, Luka. Aku bisa jam berapa ketemu sama kamu. Hari ini aku udah buat janji sama teman-teman aku, maaf, ya," ujar Cinta tidak enak. Luka mengangguk singkat sebagai balasan. Matanya mengikuti Cinta sampai akhirnya Cinta melesat pergi dengan cepat bersama Gega.


Tiba-tiba Luvin datang bersama Mizka dan berdiri di sebelah Luka dengan wajah bingung karena tatapan Luka terus mengarah ke arah pagar sekolah yang tidak ada siapa siapa di sana.


"Luka, jangan bengong di sini, kata Bi Emy kan di sini banyak penghuni nya," ujar Luvin yang berbicara pelan takut takut kalau penghuni yang ada di sini mendengarnya.


"Iya, lagian ngapain sih berdiri di sini sendirian?," tanya Mizka seraya menepuk pundak adiknya.


"Ketemu Cinta," balas Luka singkat tanpa menatap Mizka maupun Luvin.


"Terus Cinta nya mana sekarang?," tanya Luvin.


"Pergi," jawab Luka.


"Yah, padahal gue mau ketemu juga sama Cinta," ujar Mizka dan Luvin bersamaan membuat Luka menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya.


"Maksudnya?," tanya Luka tak suka.


"Ya, emang kenapa kalau gue sama Luvin mau ketemu juga sama Cinta. Emang nya cuman lo yang boleh ketemu sama Cinta?," jawab Mizka dengan alis yang diangkat sebelah.


"Iya," ujar Luka seraya berlenggang pergi meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Dasar, belum juga punya status tapi udah hak milik aja," cibir Mizka dengan sebal.


"Bener tuh, Bang. Udah yuk, kita ikutin Luka aja dari pada dia keburu jauh," ajak Luvin. Keduanya segera berlari mengejar Luka yang berjalan ke arah lapangan bulu tangkis. Entah mengapa Luka mengarah ke sana padahal sekarang adalah jam pulang sekolah bukan jam pelajaran olahraga.


"Lo mau main bulu tangkis?," tanya Luvin pada Luka yang sudah siap dengan raket di tangan nya.


"Main sama gue," ajak Luka seraya menyerahkan satu raket lagi kepada Luvin. Permainan pun berlangsung, Luka begitu cepat tanggap ketika bermain bulu tangkis karena sejak kecil Mamahnya mengajari nya bermain bulu tangkis setiap sore.


Ketika keduanya sibuk bermain bulu tangkis, Mizka memilih berjalan jalan di sekitar sekolah untuk menghirup udara segar. Lalu matanya menangkap sosok perempuan berdiri sendirian di tengah lapangan basket dengan pakaian sekolah yang sudah basah karena keringat. Mizka berjalan menghampiri perempuan itu.


"Lo dihukum?," tanya Mizka. Perempuan itu mengangkat kepala nya membuat peluh dari dahi nya menetes deras ke pipi nya.


"Iya," jawab perempuan itu dengan cepat menundukkan kembali kepala nya karena matahari siang menjelang sore itu cukup membuatnya silau.


Kanaya Putri Amelina. Mizka mengeja barisan nama itu di dalam hati nya ketika melihat badge nama perempuan itu.


"Kenapa di hukumnya sekarang? Ini kan udah jam pulang sekolah?," ujar Mizka yang ikut berdiri di sebelah perempuan itu.


"Mana gue tau, tanya aja sama Si Samsul," balas Kanaya dengan nada suara yang terdengar sangat kesal dengan pemilik nama Samsul tersebut.


"Oh di hukum sama Pak Samsul, lo pasti nggak maju presentasi kan?," tebak Mizka.


"Hmm...," gumam Kanaya sebagai balasan nya. Ia begitu menyesal dengan pembagian kelompok presentasi yang dibuat sesuka hati oleh Pak Samsul, karena ia di sekelompok kan dengan anak anak nakal yang tidak pernah mengerjakan tugas. Ia bekerja sendirian membuat presentasi yang harus dibuat sebanyak empat puluh slide power point. Alhasil Kanaya tidak bisa mengerjakan tugas presentasi itu. Dan berakhir lah ia di lapangan setelah pulang sekolah hari ini.


"Kemana teman teman lo yang lain? Bukannya mereka harus dihukum juga?," ucap Mizka.


"Cabut lah pakai nanya lagi," jawab Kanaya dengan kesal.


"Gue beliin minum mau nggak?," tanya Mizka membuat Kanaya mengangguk setuju karena tenggorokan nya sudah sangat kering sejak dua puluh menit yang lalu. Baru saja Mizka akan berlalu meninggalkan Kanaya, tapi suara Kanaya yang memanggilnya membuat Mizka menoleh ke arahnya.


"Eh, sekalian tisu nya, ya," ujar Kanaya sebelum kembali ke posisi semula nya sebelum ketahuan oleh Pak Samsul.


Mizka tertawa kecil dan segera melanjutkan perjalanan nya ke koperasi untuk membeli tisu dan air minum untuk Kanaya dan dirinya. Sesampainya ia di lapangan, Mizka langsung menyodorkan sebotol air minum kepada Kanaya yang segera di teguk habis oleh Kanaya tanpa jeda.


"Thanks," ujar Kanaya seraya menyerahkan botol kosong yang isi nya sudah ia teguk habis.


"Sama-sama. Hukuman lo masih lama?," tanya Mizka.


"Sepuluh menit lagi," jawab Kanaya setelah melihat arloji di tangan nya.


"Gue pulang duluan, ya," ucap Mizka sambil memberikan tisu kepada Kanaya.


"Oke, makasih banyak Mizka!," balas Kanaya yang langsung mengelap peluh keringat nya yang sudah begitu banyak.


"Dari mana lo tau nama gue?," tanya Mizka yang terlihat bingung ketika mendengar Kanaya memanggil namanya.


"Dari sana," Kanaya menunjuk badge nama nya yang berada di dada.


"Kok gue nggak pernah lihat Kanaya ya? Apa dia anak baru?," tanya Mizka bingung.


"Dih, datang-datang senyum-senyum sendiri, dari mana lo Bang?," tanya Luvin yang menyadari kedatangan Mizka.


"Ketemu bidadari," jawab Mizka asal.


"Hah? Bidadari dimana?,".


"Di lapangan basket," ujar Mizka seraya mendudukkan diri di sebelah Luka yang sedang beristirahat setelah bermain bulu tangkis.


"Jangan percaya, dia suka bohong," saut Luka setelah menegak air minumnya.


"Yah gue kirain beneran ada bidadari. Udah yuk, pulang!," ajak Luvin. Mereka bertiga segera pergi meninggalkan lapangan bulu tangkis dan pergi ke parkiran untuk mengambil kendaraan mereka dan pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cinta, Zemira, dan Gega sudah berkumpul di ruang makan untuk makan siang bersama. Rumah Gega hari ini kosong, hanya ada Bibi yang menjaga rumah dan merawat rumah. Ayah Gega bekerja, dan Bunda nya juga sedang ada urusan katanya. Alhasil hanya mereka bertiga yang mengisi kursi di meja makan.


"Habis makan kita mau ngapain nih?," tanya Gega yang baru saja datang dari dapur membantu Bibi membawa makanan kepada Cinta dan Zemira yang sibuk memberi makan Huni, kucing milik Gega, dan Hune, kelinci berwarna putih bersih milik Bunda Gega. Gega memang meminta mereka berdua untuk memberi makan Huni dan Hune sedangkan ia menyiapkan makanan bersama Bibi.


"Gega, Huni lucu banget sih," ujar Cinta yang terlihat sangat menyukai Huni.


"Lucuan Hune Cinta, liat deh matanya cantik banget," saut Zemira yang sedang menggendong Hune.


"Iya aku tahu, tapi Huni tuh lebih pendiam dan penurut banget, kalau Hune kan aktif banget," jawab Cinta seraya mengelus bulu Huni.


"Mereka cocok banget sama kalian berdua. Huni yang pendiam kayak Cinta, dan Hune yang pecicilan kayak Zemi," ucap Gega yang ikut bergabung dengan mereka.


"Iya juga ya," balas Zemira.


"Ayo, Mas Gega ajak teman-teman nya makan dulu, nanti habis itu baru main lagi," ujar Bi Mimin dengan wajah ramah.


"Iya, Bi. Ayo cuci tangan dulu terus makan!," ajak Gega. Mereka menikmati masakan Bi Mimin dengan santai diselingi beberapa obrolan.


"Makasih banyak Bi Mimin, makanan nya enak banget," ucap Cinta yang kini sedang membantu Bi Mimin mencuci piring.


"Aduh, Neng, bisa aja. Syukur deh Neng suka masakan Bibi yang ala kadarnya," jawab Bi Mimin yang terlihat malu-malu.


"Ala kadarnya gimana sih, Bi? Orang enak banget kayak gitu," kata Zemira yang ikut menyahut ketika ia datang ke dapur setelah membersihkan meja makan.


"Ah, Bibi jadi malu dengarnya hihihi," Gelak tawa mengisi dapur membuat pekerjaan mereka selesai tanpa terasa.


"Makasih banyak atuh, Neng, udah bantu Bibi beres beres," ujar Bi Mimin.


"Sama-sama, Bi," jawab Cinta dan Zemira, setelah itu mereka berpamitan untuk pergi ke lapangan bulu tangkis dimana Gega sudah menunggu mereka bersama Huni dan Hune.

__ADS_1


"Kamu mau main bulu tangkis, Ge?," tanya Cinta ketika melihat Gega berdiri dengan dua raket di tangan kanan dan kiri nya.


"Iya, gue dengar lo jago main bulu tangkis, makanya gue ajak ke sini," jawab Gega seraya menyerahkan satu raket nya kepada Cinta. Cinta menggapainya dan tersenyum senang.


"Aku udah lama nggak main bulu tangkis, aku nggak yakin masih bisa main," jawab Cinta.


"Kita latihan aja dulu. Setahu gue juga, minggu depan ada acara OSIS yang biasanya ada lomba bulu tangkis antar kelas. Siapa tahu kan kita bisa jadi partner," ujar Gega dengan wajah bersemangat.


"Udah sana kalian main, gue mau main sama Huni dan Hune aja," ucap Zemira yang sudah sibuk bermain bersama kedua hewan peliharaan Gega.


Permainan pun berlangsung seru, mereka tertawa bersama ketika salah satu dari mereka kalah dalam setiap ronde. Sampai tidak sadar bahwa kini sudah pukul tujuh malam. Setelah bermain bulu tangkis selama dua jam, Gega dan Cinta pun berhenti. Mereka memutuskan untuk nonton film dan menikmati cemilan. Lalu sisa waktunya mereka isi dengan membicarakan banyak hal.


"Udah jam tujuh, aku pulang ya, Ge," ujar Cinta yang baru saja datang sedari kamar mandi.


"Yaudah biar gue antar aja," jawab Gega yang ikut bangkit dari duduknya.


"Gue juga diantar kan Ge?," tanya Zemira yang sudah siap untuk pulang dengan tas di pundaknya.


"Iyalah masa iya gue biarin lo yang lagi patah hati pulang sendirian," balas Gega membuat senyum Zemira mengembang sempurna.


"Makasih, ya, kalian udah mau nemenin gue yang lagi patah hati sampai malam gini. Sorry, Ge, gue ngerepotin lo. Dan Cinta, makasih banyak buat nasihat nya, kalian emang terbaik!!!," jerit Zemira yang langsung bergerak merangkul kedua sahabatnya.


"Sama-sama, anak cerewet!," jawab Gega seraya mengusap puncak kepala Zemira.


"Aku senang banget bisa ngabisin waktu hari ini sama kalian," ucap Cinta ketika mereka bertiga sedang dalam perjalanan ke rumah Zemira.


"Gue juga, kayaknya kita harus sering-sering ngabisin waktu kayak gini lagi, sebelum kita naik ke kelas tiga yang harus ini itu ini itu, ribet," saut Zemira dengan sebal.


"Bener banget," balas Gega yang sibuk menyetir. Mereka tiba di rumah Zemira dengan cepat. Setelah berpamitan Zemira segera turun dan Gega segera menancap gas untuk pergi mengantar Cinta.


"Ge, antar aku ke kafe dekat toko bunga aja, ya. Aku kan udah janji sama Luka untuk ketemu di sana malam ini," ujar Cinta.


"Lo sedekat itu sama Luka?," tanya Gega yang tanpa sadar bertanya seperti itu.


"Aku juga nggak tahu, sejak kapan kita jadi dekat. Tapi kamu tenang aja, Luka baik kok," jawab Cinta menenangkan Gega.


"Gue tahu lo akan menerima siapa pun yang mau jadi teman lo, tapi Cinta, lo juga harus hati-hati. Enggak semua orang sebaik lo, nggak semua orang benar-benar ingin menjadi teman lo," ucap Gega yang kini beralih menatap Cinta ketika mobil mereka sedang berhenti di lampu merah.


"Gega, hidupku hanya sekali, aku ingin hidupku yang punya kesempatan hanya satu kali ini bisa membuat bahagia banyak orang," jawab Cinta.


"Tapi pada kenyataan nya lo nggak akan bisa benar-benar membahagiakan orang lain sebelum membahagiakan diri lo sendiri," kata Gega dengan tatapan serius nya.


"Kamu benar, tapi itu adalah satu satunya tujuan hidupku sekarang. Ketika diriku sudah tak tahu arah harus kemana hidupku ini," balas Cinta yang menundukkan kepala nya.


"Lo punya tujuan, cuman lo ragu apa bisa lo sampai di tujuan itu," perkataan Gega membuat Cinta mengangkat kembali kepala nya dan menatap Gega dengan tatapan sendu. Ia membenarkan apa yang Gega katakan barusan, makanya ia hanya bisa diam setelah nya.


"Kita sampai," ujar Gega mengejutkan Cinta yang sedang melamun.


"Maaf, Cinta. Mungkin perkataan gue tadi buat lo sakit hati, gue minta maaf, ya," lanjut Gega dengan suara yang merendah tidak seperti tadi.


"Aku paham maksud kamu, dan kamu nggak salah, Gega. Aku yang beruntung karena punya sahabat kayak kamu, makasih banyak untuk hari ini Gega," balas Cinta dengan senyum manisnya.


"Boleh nggak gue peluk lo sebentar?," tanya Gega yang terlihat takut untuk mengatakan nya.


"Boleh, kan kita sahabat!," jawab Cinta yang tertawa ringan melihat Gega yang terlihat malu.


"Jaga diri baik-baik, ya, Cinta. Jangan sampai terluka," bisik Gega pada telinga Cinta ketika mereka berpelukan. Cinta mengangguk sebagai balasan dan melepaskan pelukan nya.


"Kamu hati-hati juga pulang nya, aku masuk duluan, ya," pamit Cinta dan segera keluar daru mobil Gega, tapi baru saja ia keluar dari mobil Gega. Luka sudah berdiri tidak jauh dari sana dan melihat ke arahnya. Mobil Gega sudah berlalu meninggalkan Cinta dan Luka yang saling bertatapan dengan adanya jarak diantara mereka.


"Kamu udah nunggu lama?," tanya Cinta yang berjalan mendekat ke arah Luka yang masih berdiri di tempatnya dengan wajah datar.


"Dua jam," jawab Luka dengan suara yang serak.


"Maaf, Luka, aku buat kamu nunggu selama dua jam," ujar Cinta tidak enak.


"Masuk," Luka berjalan lebih dulu meninggalkan Cinta yang mengikuti dibelakang nya berjalan dengan perlahan.


"Luka, kamu kenapa minta aku ke sini?," tanya Cinta setelah mereka mendudukkan diri.


Luka diam saja dengan tatapan datar, "Luka, aku lagi nanya loh sama kamu," ujar Cinta yang menatap Luka bingung.


"Gue habis ketemu sama Mama," jawab Luka.


"Kamu nggak papa, Luka?," Cinta tau, luka sedang tidak baik baik saja tapi ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Luka pernah berkata kalau ia dengan Mama nya tidak berhubungan dengan baik. Jadi Cinta tahu, kalau Luka sekarang sedang butuh teman.


"Gue benci pertemuan kita, gue benci lihat wajah Mama, karena yang gue lihat di wajah nya hanya kenangan buruk masa kecil. Dan gue benci itu, Cinta," ujar Luka dengan tatapan yang memperlihatkan betapa rasa sakitnya yang ia rasakan.


"Gue nggak mau lihat wajah Mama lagi, tapi hari ini kita nggak sengaja ketemu dan itu buat gue hampir gila karena rasanya sakit banget. Lihat dia senyum setelah banyak tangisan yang gue lalui karena dia, buat gue nggak habis pikir sama jalan pikiran nya," lanjut Luka yang menenggelamkan kepala nya di dalam lipatan tangan nya sendiri.


"Luka, pasti rasanya sakit banget, ya. Aku nggak tahu dengan jelas apa yang kamu lagi rasakan, tapi kamu hebat banget bisa tahan sama rasa sakit nya," ujar Cinta seraya mengelus puncak kepala Luka dengan halus.


"Sekarang, kamu hanya perlu istirahat. Tenang in pikiran dan hati kamu, supaya kamu bisa tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Tetap membenci nya, atau memaafkan nya."


"Apa salah kalau gue benci sama orang yang udah mengahancurkan banyak moment masa kecil hidup gue?. Orang-orang selalu bilang kalau gue nggak boleh benci sama Mama karena dia adalah orang yang melahirkan gue. Tapi itu nggak membenarkan apa yang sebenarnya terjadi kan, Cinta? Dia tetap salah! Dia menghancurkan anak laki laki kecil yang dulu sangat periang dan bahagia dengan hidupnya," ucap Luka dengan banyak penekanan di setiap kata nya.


"Aku ngerti apa yang kamu maksud, Luka. Tapi, Mama kamu juga seorang manusia yang bisa khilaf dan melakukan kesalahan. Dan sepantasnya kita sebagai manusia bisa memaafkan kesalahan manusia lain," jawab Cinta dengan suara yang halus agar tidak menyakiti perasaan Luka.


"Kamu boleh marah sama apa yang terjadi di hidup kamu, kamu boleh kecewa sama Mama kamu, dan kamu juga boleh untuk nggak mau ketemu sama Mama kamu. Tapi kamu nggak boleh terus menyimpan dendam sama hal yang belum kamu ketahui kenapa alasan nya Mama kamu melakukan itu. Aku yakin kok, Mama kamu punya jawaban sendiri kenapa dia pergi meninggalkan kamu, dan Kak Mizka," Luka mengangkat kepala nya dan menatap Cinta dengan serius.


"Sorry, gue ngambil waktu istirahat lo cuman buat dengar cerita gue," ujar Luka tidak enak.


"Aku akan selalu siap buat dengar cerita kamu kapan aja kamu mau," balas Cinta dengan senyum menenangkan nya.

__ADS_1


__ADS_2