OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
21. Semua akan terjawab pada akhirnya


__ADS_3

Cinta sudah menceritakan semua tentang kasus Ayahnya kepada Luka dan Zemira. Tentu saja respon mereka terkejut dan menjadi khawatir tentang keamanan Cinta saat ini. Tapi Cinta berkata pada mereka kalau ia akan baik-baik saja. Sekarang Cinta masih berada di toko bunga, tidak begitu banyak pembeli yang datang hari ini. Dan itu membuatnya Cinta tidak merasa baik, karena ia sangat senang merangkai buket bunga untuk para pembelinya. Tapi tiba-tiba pintu toko terbuka dan menampilkan sosok yang membuat Cinta berteriak.


"Om Detektif!!!," jerit Cinta yang langsung berlari berhamburan ke pelukan Om Detektif.


"Cinta apa kabar?," tanya Om Detektif yang masih memeluk Cinta.


"Seperti biasanya, Cinta baik-baik aja, Om!," jawab Cinta dengan semangat. Ia melepaskan pelukan nya dan beralih menatap ke arah Om Detektif.


"Om pulang dari kapan? Kenapa nggak bilang Cinta dulu? Biar Cinta bisa jemput, Om," tanya Cinta.


"Dari seminggu yang lalu, Om cuman nggak mau ganggu kamu yang lagi sibuk. Yang paling penting sekarang Om udah ada sini. Dan kita, akan benar-benar memulai semuanya, oke?!," jawab Om Detektif.


"Oke!," balas Cinta dengan semangat nya.


Cinta dan Om Detektif membahas semua yang terjadi selama satu tahun belakangan. Dari ketemunya kotak hitam itu, sampai tentang sahabat sahabatnya yang sudah mengetahui tentang kasus kematian Ayahnya. Om Detektif terlihat terkejut ketika mendengar cerita tentang meja kelas mereka yang penuh darah. Cerita itu membuatnya terdiam dan berpikir. Hanya ada satu jawaban dari semua ini. Orang terdekat Cinta adalah kunci dari kasus ini. Tapi siapa orang itu? Sampai sekarang Chandra belum juga memberikan kabar soal sidik jari yang ada di kotak hitam itu.


"Om Chandra juga pernah nemuin penyadap suara di tas sekolah aku pas kita lagi mau bahas soal kasus ini. Itu benar-benar bikin aku takut dan ngerasa kayak diikutin, Om. Kata Gega, orang nya pasti sudah tau kalau aku akan angkat kasus itu kembali," ujar Cinta dengan ekspresi khawatirnya.


"Kamu tenang aja, karena sekarang yang tau kasus ini banyak. Sahabat kamu, Om Chandra, dan Om sendiri juga akan melindungi kamu. Tugas kamu sekarang, selalu teliti kalau melakukan sesuatu. Kalau kamu ngeliat sesuatu yang aneh, atau benda nggak biasa. Langsung buang ke tempat sampah. Penyadap suara, cctv kecil, atau benda yang sulit di lihat dengan sekali lihat harus banget kamu perhatikan. Orang itu bisa tau rencana kita kalau kamu nggak teliti," jelas Om Detektif yang membuat Cinta mengangguk mengerti.


"Semuanya akan baik-baik aja kan, Om?. Cinta nggak salah kan kalau angkat kasus ini kembali? Cinta takut, apa yang Cinta lakukan salah," tanya Cinta.


"Ini semua hak kamu buat tau kebenaran nya. Jadi nggak ada yang salah, karena nggak ada yang salah sama keadilan. Kamu dan keluarga kamu nggak akan hidup dengan tenang selamanya, kalau belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Kita tau ini emang nggak akan mudah buat kita selesaikan, tapi kamu percaya kan? Kalau kita akan lewatin ini sama-sama. Om akan selalu bantu kamu, begitu pun sama yang lain," jawab Om Detektif.


"Kalau Om dan yang lainnya nggak ada, mungkin Cinta nggak akan bisa melakukan ini sendirian," Cinta menundukkan kepalanya karena bersyukur sekali memiliki mereka yang sangat baik kepadanya.


"Seperti kamu yang tidak sungkan membantu orang lain, kita juga nggak akan sungkan buat bantu kamu. Jangan merasa sendirian, ya," balas Om Detektif dengan tangan yang mengelus puncak kepala Cinta.


Sore hari itu, langit tampak sangat gelap membuat Luka lebih memilih beristirahat di kamarnya dengan ponsel yang sedari tadi ada di genggaman nya. Memainkan game, menonton film, atau bahkan sekedar melihat sosial media miliknya hanya itu yang Luka lakukan sejak tadi. Sampai akhirnya Mizka pulang ke rumah setelah ke kampus.


"Kak, gue nggak tau sampai kapan lo mau bohong sama gue?. Gue tau, lo udah tau alasan kenapa Mamah dan Papah ninggalin kita. Tapi kapan lo bakal kasih tau gue?. Apa gue harus cari tau sendiri?," tanya Luka yang langsung membuat Mizka terdiam. Sejak beberapa hari terakhir hubungan keduanya memang sedang tidak baik. Karena Luka tau kalau Mizka menyembunyikan alasan tentang Mamah dan Papah nya yang berpisah. Tapi Mizka selalu menghindari nya setiap kali Luka meminta nya untuk memberi tahu kan alasan nya. Luka sekarang sudah lebih siap untuk mengetahui semua tentang masa lalunya.


"Gue capek, kita bahas nanti," jawab Mizka yang sudah siap untuk berlalu meninggalkan Luka.


"Kalah lo terus menghindar kayak gini, gue semakin yakin kalau alasan nya benar-benar berat buat gue terima. Tapi gue udah gede, Kak. Gue harus tau, apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang, ketika gue udah siap buat tahu semua alasan nya. Lo malah nggak mau kasih tau gue," ujar Luka.


"Gue cuman nggak mau lo hidup dengan bayang-bayang masa lalu, Luka. Sekarang alasan itu udah nggak ada untungnya buat kita. Lo fokus aja buat belajar, dan sembuh in mental lo yang masih trauma sama masa lalu. Gue cuman mau lo hidup dengan baik, karena alasan itu nggak akan bisa lo terima. Bahkan nggak cuman buat lo, tapi gue, Mamah, dan Papah pun nggak bisa terima ini," jawab Mizka yang membuat Luka tersenyum miring.


"Gimana caranya gue bisa sembuh kalau masih ada yang belum terjawab. Lo terlalu egois memikirkan kesehatan mental gue, sedangkan diri lo sendiri juga nggak baik-baik aja. Kita bisa sama sama saling mengobati, Kak. Gue harus tau, apa alasan nya walaupun itu nggak bisa diterima dengan mudah," ucap Luka.


"Oke, kalau lo maksa. Sekarang kita duduk dan gue akan kasih tau alasan nya," setelah itu keduanya duduk di ruang tamu. Atmosfernya diantara keduanya sangat tidak nyaman.


"Waktu Mamah datang ke sini, gue juga maksa buat dia kasih tau gue apa alasan nya sama kayak lo tadi. Mamah bilang kalau ini berat banget buat dia buka cerita yang lama nya lagi. Ada banyak alasan kenapa mereka berpisah. Tapi yang Mamah bilang, mereka berdua sama sama memakai narkoba ketika kita berdua masih kecil. Mereka nggak mau kita malu karena punya orang tua pemakai narkoba, mereka nggak mau kita jadi pemakai juga. Makanya mereka memutuskan untuk meninggalkan kita. Setelah itu, mereka berdua ke tangkap dan direhabilitasi. Mamah bisa keluar dari rehabilitasi setelah hampir sepuluh tahun di sana. Tapi Papah, karena dia pengedar dia harus di penjara. Tapi, satu tahun yang lalu, Papah ditemukan meninggal karena bunuh diri," ujar Mizka yang membuat Luka menatapnya tak percaya. Bukankah ini terlalu dramatis untuk hidupnya?.


"Dan satu alasan lagi yang buat gue nggak mau lo tahu ini. Gue takut lo marah, gue takut lo kecewa, dan gue takut lo semakin benci sama mereka. Papah jadi pengedar karena sejak lo kecil, lo sering sakit dan harus bulak balik ke rumah sakit dan butuh banyak biaya. Sampai akhirnya Papah ketemu sama teman nya dan Papah minta bantuan sama dia. Tapi dia cuman bisa kasih Papah narkoba untuk diedarkan dan duitnya buat lo berobat," lanjut Mizka yang menunduk sedih menceritakan hal ini. Ia yakin setelah ini, Luka akan membenci diri nya sendiri.


"Kenapa, mereka nggak biarin gue mati sekalian?," tanya Luka dengan senyum smirk nya.


"Mana ada orang tua yang bisa biarin anaknya mati begitu aja?. Bahkan kalau mereka harus mengorbankan dirinya sendiri, mereka akan melakukan nya. Lo berharga buat mereka, makanya mereka sampai melakukan itu buat lo. Gue nggak nyalahin lo, gue juga nggak bisa menyalahkan mereka karena ini emang udah takdir kita. Tapi sekarang, Mamah udah bahagia, Ka. Dia udah nikah sama orang lain, dan dia bahagia. Sekarang tinggal kita yang buka lembaran baru dan buat cerita yang lebih baik lagi. Kita berhak bahagia, Luka," jawab Mizka seraya menepuk pundak adiknya berusaha menguatkan nya.


Tanpa mengatakan apa pun, Luka berlalu pergi meninggalkan Mizka dan pergi dari rumah menggunakan mobilnya.


Semoga Cinta bisa nenangin lo, ucap Mizka dalam hatinya. Luka membawa mobil itu tanpa arah, seraya berusaha menelfon Cinta. Karena ia membutuhkan Cinta sekarang.

__ADS_1


"Halo, Luka. Ada apa kamu telefon aku?," tanya Cinta yang kini sedang duduk di taman untuk melihat senja.


"Lo di mana?," jawab Luka.


"Aku di danau biasa, mau liat senja sore ini,"


"Gue ke sana," Luka segera mematikan telefon nya dan segera berlalu menuju tempat dimana Cinta berada sekarang. Pikiran kalut, mungkin dengan melihat senja bersama Cinta bisa membuatnya lebih tenang.


Ketika Luka sampai di sana, ia langsung memeluk Cinta yang membuat Cinta terkejut dengan apa yang Luka lakukan.


"Kamu, kenapa?," tanya Cinta dengan hati-hati.


"Ini semua salah gue, Cinta. Ini semua salah gue," gumam Luka dengan bahu yang bergetar.


"Kamu kenapa? Apa yang salah?," ucap Cinta seraya mengelus pundak Luka dengan lembut.


"Harusnya mereka biarin aja gue mati, daripada mereka menghancurkan hidup mereka sendiri. Harusnya mereka nggak melakukan itu, Cinta... hiks....hiks...hiks...," tangis Luka pecah dalam pelukan Cinta.


"Mereka berpisah karena gue, mereka hancur karena gue, semuanya salah gue, hiks...hiks...hiks...,"


"Tapi tanpa gue tahu alasan nya, gue membenci mereka. Gue marah sama mereka, padahal semua ini karena gue sendiri...., gue malu banget jadi anak nggak tau diri kayak gini, Cinta... Gue nggak seharusnya kayak gitu sama mereka.... argh!!!," teriakan Luka benar-benar menyiratkan perasaan menyesalnya. Membuat Cinta ikut meneteskan air matanya.


"Kamu nggak boleh bicara kayak gitu, Luka. Kamu tenang dulu, ya," balas Cinta yang masih setia memeluk Luka dengan tangan yang mengelus pundak Luka.


"Mereka nggak seharusnya ngelakuin itu buat gue, seharusnya mereka hidup dengan baik dengan membiarkan gue mati. Tapi mereka malah melakukan nya dan menghancurkan hidup mereka sendiri," ujar Luka dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Mereka nggak akan mungkin membiarkan kamu mati, Luka. Karena mereka sayang sama kamu dan kamu itu berharga. Sekarang, kamu harus menjaga diri kamu karena banyak orang yang sayang sama kamu. Kamu jangan kayak gini, ya, aku sedih lihat kamu nangis kayak gini," ucap Cinta seraya melepaskan pelukan mereka berdua. Cinta menghapuskan air mata Luka dengan jemari tangan nya.


"Sekarang kamu percaya kan, semua yang terjadi pasti ada alasan nya? Dan ini alasan yang selama ini kamu cari. Berat banget memang buat menerima nya, tapi aku yakin kamu pasti bisa. Aku ada di sini buat kamu, kamu nggak boleh marah sama diri kamu sendiri, ya," Cinta mengatakan itu sambil menatap mata Luka dengan senyum menghangatkan nya.


"Kalau pun mereka melakukan ini karena kamu, itu pilihan mereka bukan karena permintaan kamu. Mana mungkin mereka membiarkan kamu mati, Luka? Kamu itu anak hebat, dan baik. Mereka nggak mungkin siap kehilangan anak kayak kamu, jadi mereka melakukan segala hal untuk kamu," balas Cinta.


"Gue bukan anak yang baik, Cinta. Mana ada anak baik yang membenci orang tuanya sendiri?," tanya Luka.


"Kamu membenci karena kamu nggak tau kebenaran nya. Kan aku pernah bilang, kamu berhak memilih membenci mereka atau tidak, setelah tau kebenaran nya. Dan ini saatnya kamu milih, tetap membenci mereka atau memaafkan mereka," ujar Cinta dengan senyum menenangkan nya.


"Gimana bisa gue membenci mereka setelah tau alasan mereka pergi karena gue?," jawab Luka.


"Aku senang, akhirnya kamu tahu jawaban yang selama ini kamu cari. Terima kasih, ya, karena sudah kuat selama ini," ucap Cinta.


"Cerita sama lo jadi hal yang paling tepat yang gue pilih. Makasih banyak, Cinta," balas Luka.


"Bukan apa-apa, kok, jadi jangan berlebihan. Tapi, tadi pas kamu nangis lucu loh, ini pertama kalinya aku lihat manusia es nangis hahahahaha," ledek Cinta yang membuat Luka memasang kembali wajah datarnya.


"Aku lebih suka kalau kamu dingin kayak gini, karena aku takut kalau lihat kamu nangis. Aku takut aku nggak bisa buat bikin kamu ngerasa lebih baik," lanjut Cinta dengan senyuman nya.


"Bahkan tanpa lo berkata apa-apa, gue bisa ngerasa lebih baik. Lihat mata, dan senyum lo, udah cukup buat bikin gue tenang," jawab Luka yang membuat Cinta tersenyum semakin lebar. Tapi tiba-tiba Cinta tersadar sesuatu yang membuatnya memasang wajah marah kepada Luka.


"Luka, karena kamu aku ketinggalan lihat matahari terbenam nya hari ini. Huh, aku harus balik lagi besok karena kamu," ujar Cinta seraya memukul pelan lengan Luka.


Perkataan Cinta membuat Luka mengingat pertemuan pertama mereka di taman waktu itu.


Di balik pohon rindang yang tidak jauh dari tempat keduanya berada, sosok Gega berdiri dengan perasaan cemburu. Tadi ia berniat menyaksikan matahari terbenam bersama Cinta, tapi ternyata Luka datang terlebih dahulu dan mengambil tempat nya.

__ADS_1


"Huh, niatnya jadi pangeran. Tapi malah jadi penonton bayaran gue. Kalau tau bakal kayak gini, gue mending tidur aja di rumah," ujar Gega seraya membuang buket bunga matahari yang tadi ia bawa untuk Cinta ke tempat sampah. Gega melangkah kan kaki nya untuk kembali ke parkiran, tapi matanya menangkap sosok berpakaian serba hitam berdiri di sekitar mobil mobil dan menatap ke arah danau dengan serius. Gega teringat tentang kasus yang sedang Cinta hadapi.


"Kok dia mencurigakan banget, ya?," tanya Gega seraya memperhatikan orang tersebut yang belum sadar kalau Gega melihatnya.


Tiba-tiba orang tersebut berlari kencang setelah matanya bertemu dengan mata Gega yang memperhatikan nya. Gega ikut berlari menyusul orang tersebut. Larinya sangat cepat dan dengan lincah melewati mobil-mobil yang ada di parkiran.


"WOY, JANGAN LARI!," ujar Gega dengan cepat berlari menyusul orang tersebut. Tapi ketika sudah hampir dekat orang tersebut masuk ke dalam mobil yang tiba-tiba berhenti di hadapan nya. Mobil itu dengan cepat meninggalkan Gega yang terdiam dengan deru nafas yang tidak teratur.


"Wah... wah, makin nggak aman nih," gumam nya. Getaran dari ponselnya membuat Gega tersadar. Panggilan telefon dari Cinta terlihat di layar ponselnya.


"Halo, Ta?," panggil Gega pada Cinta.


"Ge, kita ketemuan di kafe chocolat sekarang, ya!. Om Chandra udah berhasil cari tau sidik jari orang yang taro kotak hitam itu di kamar ku," ucapan Cinta membuat Gega menghela nafas.


"Oke, gue ke sana sekarang," balas Gega yang segera mematikan telefon nya dan berlalu kembali ke arah mobilnya. Dengan hati yang terus bergumam, semoga ini jadi awal yang baik buat Cinta.


Mereka semua berkumpul di kafe Chocolat. Ada Om Chandra, Gega, Luka, Zemira, dan Cinta. Mereka akan membahas kasus ini dengan serius. Tentu saja setelah memastikan tidak ada benda-benda mencurigakan yang bisa saja menjadi perantara untuk pelaku. Tapi sayangnya Om Detektif tidak bisa datang karena sesuatu hal yang harus ia urus saat ini.


"Om baru saja mendapatkan hasil dari sidik jadi yang ditemukan di kotak hitam selain sidik jari Cinta. Dan sidik jari itu, adalah milik Ibu nya Cinta," perkataan Chandra membuat semuanya terkejut dan menatapnya bingung.


"Ibu?," tanya Cinta.


"Papah salah kali, masa iya Ibu nya Cinta," saut Gega dengan wajah bingung nya.


"Awalnya Om juga bingung, tapi ini udah ketiga kalinya om cek dan hasilnya tetap sama, itu sidik jari milik Ibu kamu, Cinta," jawab Chandra seraya menunjukkan kertas yang berisi hasil tes sidik jari.


"Kalau ternyata Ibu Cinta yang tahu jawaban dari semua ini, artinya kita nggak akan sesulit itu buat menemukan jawaban nya," ucap Luka.


"Luka benar, sekarang kalian berempat bisa jemput Ibu Cinta dan kita ketemu lagi di sini," ujar Om Chandra yang membuat keempatnya segera bergerak untuk pergi ke rumah Cinta. Di dalam mobil, keempatnya terdiam dengan pikiran nya masing masing.


"Gue nggak nyangka sih, kalau ternyata Ibu nya Cinta yang tahu jawaban semua ini. Kalau itu emang Ibu, kenapa nggak dari dulu aja Ibu buka suara dan kasus ini akan selesai, iya kan?," Zemira membuka suara setelah mereka terdiam sangat lama.


"Bahkan kalau Ibu Cinta kunci dari masalah ini, kita nggak bisa dengan mudah menyelesaikan masalah ini. Barang bukti yang kita punya, lebih berpengaruh dari pada cuman ingatan Ibu nya Cinta," jawab Luka.


"Gue setuju, tapi Ibu Cinta bisa bantu kita buat cari pelakunya karena kemungkinan dia tahu banyak hal soal masa lalu Ayah Cinta dan sahabatnya itu," balas Gega. Sedangkan Cinta hanya terdiam karena ia takut kalau akan ada banyak hal buruk yang akan datang kepada mereka. Dan Cinta takut orang-orang yang ia sayangi dalam bahaya karena nya.


"Kita sampai, lo aja, Ta yang turun kita tunggu di sini," ucap Zemira pada Cinta yang langsung berlalu turun dari mobil.


"Bu, Ibu?!," panggil Cinta. Ketika ia masuk, rumahnya kosong tanpa ada satu orang pun di sana. Cinta mencari ke setiap sudut ruangan rumahnya tapi hasilnya nihil, ia tidak menemukan Ibunya di sana.


Ketika Cinta masuk ke dalam kamarnya, Cinta menemukan surat bertinta darah di atas meja belajarnya. Bau darah yang amis membuat Cinta dengan gemetar meraih surat itu.


PERINGATAN SAYA DIABAIKAN. KAMU AKAN MENYESAL KARENA SUDAH MEMULAI SEMUA INI. HAHAHAHAHA.


Seperti itu isi surat yang ada di kamarnya. Cinta terduduk lemah ketika menyadari satu hal, bahwa Ibunya diculik. Ia harus bagaimana sekarang.


"IBU! Ibu dimana? Maafin Cinta, Bu...," jerit Cinta membuat Gega, Luka, dan Zemira terkejut.


"Cinta kenapa? Ayo samperin," Gega segera turun dari mobil diikuti oleh Luka dan Zemira.


"Cinta, ada apa?," tanya Gega pada Cinta yang sedang menangis di kamarnya.


"Ibu, Ge...., Ibu diculik hiks hiks hiks...." jawab Cinta dengan isak tangisnya.

__ADS_1


"Diculik?," tanya ketiga nya dengan kompak.


__ADS_2