OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
20. Kemana hilang nya?.


__ADS_3

Luka baru saja keluar dari kelasnya karena bel istirahat berbunyi satu menit yang lalu. Ia sedang tidak berminat untuk pergi ke kantin dan menikmati makan siang. Alhasil Luka memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku yang belum sempat ia selesaikan karena Luvin.


Ketika masuk ke dalam perpustakaan, udara dingin dari air conditioner langsung menyambutnya. Perpustakaan tidak terlalu ramai karena kebanyakan anak anak pergi ke kantin untuk menikmati waktu makan siang mereka. Dengan cepat Luka mencari buku yang ia baca terakhir kali di rak yang sama.


Tapi buku itu tidak ada, Luka mencari lagi di rak lain yang mungkin terselip. Lagi lagi buku itu tidak ada. Kemana hilang nya buku itu, pikir Luka. Luka terdiam di tempat nya sebentar. Ia baru sadar bahwa buku tersebut tidak memiliki label perpustakaan, bahkan pengarang dari buku tersebut tidak dicantumkan. Jadi, apa buku itu adalah milik seseorang yang tidak sengaja di simpan oleh pemiliknya sementara di perpustakaan?. Entah lah, Luka memilih untuk kembali ke kelas karena ia tidak berhasil menemukan buku yang ingin ia baca.


"Abis ngapain lo di perpustakaan?," tanya Gega yang bertemu dengan Luka yang baru saja keluar dari perpustakaan.


"Baca buku lah pake nanya," balas Luka yang terlihat kesal karena buku yang ingin ia baca tidak ada, padahal ia sudah merelakan waktu makan siang nya untuk membaca buku tapi ternyata buku nya tidak ada.


"Yeh, orang nanya baik-baik juga. Lo di cariin Cinta tuh di kelas," ujar Gega yang memasang wajah sebal menatap Luka. Karena Luka menganggu makan siang nya bersama Cinta dan Zemira, Cinta memintanya untuk mencari Luka agar mereka bisa makan bersama di kelas.


"Oke," balas Luka dan segera berlalu ke kelas menemui Cinta. Diikuti Gega yang berjalan dibelakangnya.


"Kamu dari mana Luka?," tanya Cinta yang menyambut kedatangan Luka.


"Dari perpustakaan," jawab Luka seraya mendudukkan diri di kursi yang ada di hadapan Cinta.


"Ohh, ini aku bawain kamu bekal. Kamu belum sarapan dan makan siang kan?," ucap Cinta seraya menyodorkan sekotak bekal makanan ke hadapan Luka.


"Belum, makasih ya," ujar Luka yang langsung menyantap makanan yang Cinta berikan. Ini bukan pertama kalinya Cinta membawakan nya bekal, karena Cinta sangat sering membawakan nya. Bukan cuman Luka, terkadang Gega dan Zemira juga dibawakan. Seperti hari ini, semua mendapatkan bekal makanan dari Cinta. Rasanya sangat enak karena Cinta memang pandai memasak.


"Kamu juga makan, Ge, Zemi," ucap Cinta pada Gega dan Zemira.


"Makasih makan siang nya, Cinta!," balas Zemira yang ikut menikmati makanan nya.


"Enak banget, masakan lo, Ta," saut Gega dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Syukur deh kalau kalian suka, soalnya aku masaknya buru buru," jawab Cinta yang ikut menikmati bekal makanan nya.


"Aku juga bawain bekal buat Felix, aku ke kelas Felix dulu, ya. Kalian lanjutin makan nya," ujar Cinta seraya bangkit dari duduknya. Baru saja Gega akan menahan Cinta supaya ia bisa pergi menemani nya. Tapi Cinta bergerak terlalu cepat sampai ia tidak bisa menahan nya.


"Entah kenapa gue takut kalau Cinta ketemu atau ngobrol sama Felix. Firasat gue nggak enak aja kalau ninggalin mereka berdua, apa gue susul aja ya," kata Gega pada Luka dan Zemira.


"Bener, kita susul aja. Gue takut Cinta kenapa kenapa," saut Zemira. Setelah itu ketiganya berlalu meninggalkan kelas yang kosong untuk menyusul Cinta.


Cinta mengetuk pintu kelas Felix untuk bertanya apakah Felix ada di dalam kelasnya.


"Fina, Felix ada di kelas nggak," tanya Cinta pada salah satu teman kelas Felix.


"Yah, baru aja Felix keluar. Enggak tau dia pergi kemana," jawab Fina yang juga terlihat bingung. Karena Fina tidak pernah berbicara dengan Felix. Aura Felix yang gelap benar benar membuatnya takut untuk sekedar menatapnya.


"Oh, gitu, ya. Ya udah makasih banyak, ya, Fin," ujar Cinta dengan senyum manisnya. Ketika ia akan berbalik untuk kembali ke kelasnya. Ia berhadapan dengan Felix yang menatap ke bawah, dimana Cinta berada karena tinggi mereka yang berbeda begitu jauh.


"Kamu ngagetin aja," kata Cinta seraya memegangi dadanya yang terkejut.

__ADS_1


"Ngapain," tanya Felix dengan suara yang datar.


"Aku mau kasih ini. Buat kamu makan siang," jawab Cinta seraya menyodorkan kotak bekal makanan nya ke arah Felix.


"Makasih," tangan Felix meraih kotak makan yang Cinta berikan. Baru saja Cinta akan membuka suara untuk menanyakan dari mana pergi nya Felix tadi. Tapi tiba-tiba Gega, Luka, dan Zemira datang yang membuat Cinta menatap mereka bingung.


"Kalian kenapa ikut ke sini juga?," tanya Cinta dengan wajah bingung.


"Pingin ikut lo aja," balas Zemira yang kini berdiri di sebelah Felix.


"Hai, Es. Udah lama ya kita nggak ketemu," sapa Zemira yang membuat Cinta menahan senyum nya, padahal baru kemarin mereka bertemu tapi Zemira selalu menyapa Felix seperti ini.


Felix hanya diam tanpa membalas sapaan Zemira, "Aku udah selesai kok kasih bekal nya ke Felix. Mau ke kelas lagi atau mau ngobrol dulu sama Felix?," tanya Cinta pada ketiga sahabatnya.


"Kita kali yang ngobrol, dia mah cuman nyimak doang," jawab Gega.


"Ke kelas aja, makanan gue belum abis," saut Luka yang masih terlihat tidak ikhlas meninggalkan makannya.


"Oh ya udah, kita ke kelas lagi aja. Aku dan yang lain duluan ya, Felix. Di makan ya, jangan lupa minum air putih yang banyak biar nggak lemes," ujar Cinta dengan senyuman nya. Setelah itu keempat nya berlalu meninggalkan Felix yang hanya diam di tempatnya.


Gue harus gimana? Gue nggak bisa nyakitin Cinta. Tapi gue juga nggak bisa biarin Papah ketahuan. Gue bingung, gue harus gimana sekarang?. ucap Felix dalam hatinya.


Ketika keempat nya masuk ke dalam kelas, mereka terkejut karena meja tempat mereka menikmati makanan beberapa saat yang lalu kini hancur berantakan. Kotak bekal makanan mereka jatuh, begitu pun dengan isi nya. Lalu ada banyak cairan berwarna merah yang entah dari mana asalnya dan terlihat seperti darah. Mereka masih terdiam karena terkejut dengan apa yang sedang mereka lihat.


"Jangan mendekat, Cinta," bisik Luka dengan pelan. Cinta menatap Luka dengan tatapan yang takut, ia sangat gemetar karena melihat cairan seperti darah tersebut.


"Lo phobia sama darah Cinta, ingat. Diem di sini dan tutup mata lo. Biar gue dan Gega yang beresin semua ini," ujar Luka pada Cinta yang terlihat ingin menangis karena ketakutan.


"Gue panggil Pak San dulu buat bantu beresin ya," Dengan cepat Zemira berlalu meninggalkan kelas untuk memanggil Pak San yang bertugas membersihkan sekolah.


"Ini darah beneran, Ka," bisik Gega pada Luka ketika ia menyentuh cairan tersebut dan mencium bau amis khas darah.


"Kita pergi nggak lama, dan orang itu bisa ngelakuin semua ini dengan cepat? Orang nya pasti ada di sekitaran kita," lanjut Gega yang membuat Luka terdiam berpikir. Ia langsung menoleh untuk melihat kearah pojok kelas yang terdapat cctv di sana.


"Banyak cctv yang rusak dari pagi, jadi kita nggak bisa lihat siapa yang ngelakuin ini," ucap Gega yang sudah menebak pikiran Luka.


"Ada surat, Ka," Gega menemukan surat bertinta darah yang berada di meja mereka.


Berhenti atau Mati


Itu lah isi dari surat ya. Luka dan Gega memasang wajah datar dengan otak yang berpikir keras. Surat ini begitu singkat dan jelas. Luka langsung meraih surat itu dan menyimpan nya di dalam saku celana.


"Cepat kita beresin, kasian Cinta," ujar Luka yang mulai membersihkan nya. Setelah itu Zemira datang dengan Pak San yang sudah lengkap dengan alat alat kebersihan nya.


"Astagfirullah! Kerjaan siapa ini Den?," tanya Pak San yang langsung menutup hidungnya ketika mencium bau darah yang amis sekali.

__ADS_1


"Enggak tau, Pak, kita masuk ke kelas udah kayak gini keadaan nya," jawab Gega yang sibuk membersihkan makanan mereka yang berserakan. Untungnya tidak ada satupun teman teman nya di dalam kelas yang melihat kejadian ini, kalau ada pasti mereka panik dan berpikiran yang aneh aneh.


"Kita beresin sekarang, Pak. Sebelum ada yang lihat," pinta Luka yang langsung meraih kain pel untuk membersihkan darah yang mengotori meja belajar mereka.


"Iya, Den, ayo kita beresin," semua bekerja untuk membersihkan nya kecuali Cinta yang masih memejamkan mata seperti perintah Luka. Ia sangat takut melihat banyak darah di meja nya, itu benar-benar seperti mimpi buruk untuknya. Entah siapa yang melakukan nya, Cinta benar-benar terkejut dengan keadaan yang tiba tiba menyeramkan seperti ini.


Setelah semuanya bersih, mereka berterima kasih kepada Pak San yang sudah membantu mereka.


"Terima kasih banyak, ya, Pak, udah bantuin kita. Bapak jangan bilang sama siapa siapa ya, biar nggak bikin yang lain panik. Karena kita juga nggak tau siapa yang melakukan ini," Ujar Gega pada Pak San yang mengangguk dan segera berlalu pergi meninggalkan kelas.


"Lo nggak papa, Ta?," tanya Gega pada Cinta yang masih berdiri di tempatnya.


"Aku nggak papa," balas Cinta dengan wajah yang tidak berekspresi.


"Ta, gue kok ngerasa ini semua ada sangkut pautnya sama lo, ya. Lo yang jadi lebih sering diam belakangan ini buat gue jadi ngerasa kalau ini terjadi karena ada sesuatu yang nggak gue tahu soal lo," ucap Zemira pada Cinta.


"Aku nggak tau apa-apa, Zem. Aku juga syok banget sama apa yang terjadi barusan," jawab Cinta.


"Oke, mendingan sekarang kita semprot pewangi biar bau amis nya nggak terlalu ke cium," Zemira menyodorkan dua botol pengharum ruangan yang memang mereka miliki di dalam kelas ke arah Gega. Setelah memastikan bahwa bau amis dari darah tersebut tidak lagi tercium, mereka memilih untuk keluar kelas dan menghirup udara yang lebih segar.


"Ada yang lagi lo rahasia in dari gue," ujar Luka pada Cinta yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan yang kosong. Beberapa waktu belakangan Cinta memang terlihat lebih pendiam. Tidak seceria biasanya, bahkan senyum nya tidak lagi semanis biasanya ia tersenyum.


"Enggak ada, Luka. Aku udah cerita semuanya sama kamu," balas Cinta dengan suara yang lemah.


"Lo bohong. Lo pasti tau arti surat ini," Luka mengeluarkan kertas yang ia temukan di meja tadi.


Cinta membaca nya, dan ia langsung mengerti apa maksud dari surat ini. Si pemberi pesan ini meminta Cinta untuk memilih berhenti mengangkat kasus kematian Ayahnya kembali atau Cinta akan mati. Itu sungguh mengerikan.


"A-aku...," balas Cinta tertahan karena ia tidak tau harus menjawab apa dan memilih menundukkan kepalanya ke bawah.


"Jangan paksa Cinta kalau, dia belum siap buat cerita sama lo," tiba tiba Gega datang dan merangkul pundak Cinta.


"Ternyata lo juga tau soal ini," ujar Luka seraya berlalu pergi meninggalkan Cinta dan Gega.


Ternyata, Gega tahu soal masalah ini. Mengapa Cinta hanya memberi tahu Gega, tapi dirinya tidak?. Luka marah, Luka tidak suka Cinta berbohong kepadanya. Luka melakukan semua ini juga karena ingin melindungi Cinta. Tapi Cinta hanya ingin dilindungi oleh Gega, bukan dirinya.


"Apa aku harus kasih tau Luka juga?," tanya Cinta pada Gega. Cinta takut Luka marah kepadanya, ia takut kalau Luka berpikir kalau ia hanya percaya pada Gega.


"Kalau lo siap, ya harus. Tapi kalau lo belum siap, lo bisa pikirin dulu. Apa harus masalah ini Luka tau, atau bahkan Zemira juga akan tau. Karena lo nggak bisa bohong sama kita, Cinta. Beberapa waktu belakangan tanpa lo sadari, kita bertiga itu ngerasa ada yang aneh sama lo. Lo jadi jarang senyum, lo jadi lebih banyak diam di kelas. Lo beda sampai akhirnya gue tau apa masalah lo. Begitu pun sama Luka dan Zemira, mereka juga pasti ngerasain kalau ada yang nggak beres sama lo. Makanya, mereka bisa menebak kalau ini semua ada sangkut paut nya sama lo yang sering diam belakangan ini," jawab Gega yang membuat Cinta berpikir.


"Kayaknya aku harus kasih tau mereka, Ge. Tapi soal surat ini, aku jadi takut kalau pelaku nya sudah tau kalau aku mau angkat kasus ini kembali. Menurut kamu, aku harus apa?," tanya Cinta pada Gega.


"Kita nggak mungkin berhenti kan? Walaupun usaha yang udah lo lakukan selama ini belum sebesar itu, tapi lo berhak buat tau jawaban nya. Jadi, lo tenang aja, ya. Gue, Luka, Zemira, Om Detektif, dan Papah pasti bantuin lo. Lo punya kita, jadi jangan takut," ujar Gega yang membuat Cinta lebih tenang sedikit.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Felix berlalu pergi ke kamar mandi yang berada di sekolah. Ia membuka hoddie yang dipakainya. Lalu ia membuka seragam sekolahnya yang terdapat noda darah. Setelah mengganti seragamnya dengan hoddie, Felix keluar dari kamar mandi dan berlalu pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2