
Luka dan Cinta berjalanan beriringan tanpa kendaraan mereka. Kedua nya dititipkan ke teman Luka yang kebetulan rumahnya berada di dekat danau. Luka ingin mengajak Cinta makan malam, karena Luka yakin perempuan itu pasti belum makan.
"Aku pulang aja, ya, Luka. Kamu nggak perlu ajak aku makan malam," ucap Cinta yang tiba tiba memberhentikan perjalanan mereka.
"Udah sampai," jawab Luka seraya menunjuk sebuah rumah makan yang berada di seberang mereka.
"Kamu bisa pergi sendiri kan, Luka?," tanya Cinta.
"Kalau bisa berdua sama lo, kenapa gue harus sendiri?," ujar Luka yang berjalan lebih dulu meninggalkan Cinta di belakang.
"Tunggu aku, Luka," dengan cepat Cinta berjalan menyusul Luka. Ia baru ingat kalau sepedanya ada di rumah teman Luka, bagaimana caranya ia mengambil sepedanya untuk pulang kalau seperti itu.
"Lo suka ikan?," tanya Luka yang sedang membaca buku menu.
"Enggak," jawab Cinta dengan gelengan kepala yang menggemaskan.
"Kenapa?," ujar Luka.
"Aku nggak tega buat makan teman-teman Elo," ucap Cinta.
"Elo siapa?," sekarang Luka terlihat seperti wartawan yang terus bertanya pada narasumber.
"Elo itu ikan mas peliharaan aku, aku sayang banget sama Elo. Makanya aku nggak tega buat makan teman-teman Elo," jelas Cinta dengan senyum manisnya.
"Aneh," gumam Luka dengan senyum kecilnya. Setelah Luka memesan makanan yang tidak ada ikan nya, mereka berdua kembali diam. Sampai akhirnya suara seseorang yang memanggil nama Luka membuat keduanya menoleh bersamaan. Sosok Luvin dengan pakaian sporty nya sehabis gym terlihat sangat menawan.
"Wih, ada yang lagi ngedate nih!," ujar Luvin dengan menaikan alisnya menatap Luka.
"Ngapain di sini?," tanya Luka dengan wajah datarnya.
"Ya mau makan lah, ganteng. Pakai di tanya lagi!," jawab Luvin yang mendudukkan diri di kursi sebelah Cinta membuat Luka menatapnya tajam.
"Jangan duduk di situ, kursi lain sana," usir Luka.
"Gue mau makan bareng dong, masa iya gue makan sendiri sedangkan lo berdua, kelihatan banget jomblo nya kalau gitu," ucap Luvin dengan wajah memelas.
"Iya, nggak papa gabung sama kita aja. Kasian Luka, kalau dia makan sendirian," saut Cinta dengan senyum hangatnya.
"Ihk bisa banget lo nyari nya, Ka, tipe lo emang yang kayak bidadari gini, ya?," tanya Luvin dengan senyum jahilnya.
__ADS_1
"Berisik. Pindah sini, jangan duduk di situ," Luka menepuk kursi disebelahnya membuat Luvin tertawa pelan melihat kelakukan teman nya yang terlalu posesif kepada perempuan ini.
"Yah, gue kan mau dekat sama bidadari, Ka. Kan gue bosen dekat nya sama manekin terus," ujar Luvin membuat Luka menatapnya datar. Sebelum melihat wajah Luka semakin datar, Luvin bergerak dengan cepat pindah ke kursi disebelah Luka.
"Nama lo Cinta kan? Gue sering banget dengar nama lo di sekolah," tanya Luvin pada Cinta.
"Iya, aku Cinta. Salam kenal, ya," balas Cinta.
"Gue Luvin," setelah itu Luvin dan Cinta sibuk berbincang berdua. Sedangkan Luka hanya menikmati makanan nya dalam diam.
"Hahaha, iya kan? Luka tuh diam-diam sering banget dengar lagu-lagu ballad, dingin-dingin mellow anak nya," ujar Luvin dengan gelak tawa begitu juga Cinta yang ikut tertawa bersama dengan nya.
"Nggak nyangka ya, emang benar Luka?," tanya Cinta pada Luka yang menatap keduanya tajam.
"Jangan percaya sama orang gila," jawab Luka dengan mulut pedasnya.
"Yeh pake ngeles lagi nih anak, mau gue kasih unjuk Cinta video nya?," balas Luvin yang sudah siap mengambil handphone nya yang berada di saku celana.
"Berisik, gue lagi makan," ujar Luka dengan tegas kepada Luvin dan Cinta. Lalu keduanya terdiam dan melanjutkan acara makan dengan suasana yang tenang. Senyum Cinta terbit tanpa ia sadari ketika menyadari bahwa Luka selalu dikelilingi oleh orang-orang yang humoris dan hangat, walaupun Luka nya sama sekali tidak menganggapnya lucu.
"Gue balik duluan, deh. Bokap gue udah nyuruh pulang dari tadi, makasih ya, Bro traktiran nya. Cinta, gue duluan, ya. Jangan kapok temenan sama gue," pamit Luvin.
"Enggak, kok, aku mau temanan sama Luvin," sergah Cinta dengan cepat membuat senyum Luvin yang meledek Luka semakin lebar.
"Tuh dengerin, udah ah gue mau pulang. Hati-hati Cinta pulang nya!,".
"Kamu juga hati-hati," balas Cinta. Setelah itu Luvin pergi menjauh dari keduanya. Luka yang masih sibuk bermain ponsel membuat Cinta dibuat bingung harus melakukan apa sekarang. Makanan mereka sudah habis, harusnya mereka pulang sekarang, tapi Luka rasanya masih tidak mau pulang.
"Luka, kamu mau sampai kapan di sini? Restoran nya udah mau tutup," ucap Cinta yang menatap Luka.
"Gue nggak mau pulang, kita jalan jalan lagi," Luka bangkit dari duduknya dan segera berjalan meninggalkan Cinta. Cinta mengikuti Luka dengan wajah lelah. Sedari tadi Luka terus berkata kalau ia tidak mau pulang. Mereka sudah berjalan sangat jauh dari restoran tapi Luka masih terus berjalan.
"Aku cape, Luka. Kita duduk dulu, ya," ujar Cinta yang memberhentikan jalan nya.
"Tunggu sini, gue beli minum," jawab Luka yang segera berjalan menuju sebuah warung kecil yang berada tidak jauh dari sana. Cinta meraih oksigen sebanyak banyak nya, dadanya terasa sesak karena kelelahan. Sejak kecil, Cinta memang memiliki masalah dengan paru-paru nya yang lemah dan mudah lelah. Ketika Luka datang dengan dua botol air miner, Cinta mengangkat kepala nya dan mencoba berdiri dengan tegak namun tidak bisa. Dengan cepat Luka menahan tubuh Cinta yang hampir terhuyung ke depan.
Mereka berdua kini berada di sebuah taman kecil yang penuh dengan lampu-lampu. Luka menggiring tubuh Cinta untuk duduk di kursi taman yang ada di sana. Luka membuka kan botol air minum untuk Cinta dan menyodorkan nya ke arah Cinta.
"Sorry," ucap Luka dengan suara yang pelan. Karena nya, Cinta hampir saja pingsan.
__ADS_1
"Enggak papa, Luka. Aku baik-baik aja, kok," jawab Cinta dengan senyum yang dipaksakan. Lalu ia menegak setengah air di botol air mineral yang Luka berikan.
"Bohong, udah hampir pingsan masih bilang nggak papa," saut Luka dengan sengit.
"Kamu juga, kamu ada apa apa tapi selalu memilih diam, sama aja kan?," balas Cinta yang membuat Luka menatapnya.
"Beda. Gue punya alasan kenapa pilih diam," ujar Luka yang mengalihkan tatapan nya dari mata Cinta.
"Aku juga punya alasan kenapa bilang nggak papa," jawab Cinta.
"Karena?," tanya Luka.
"Karena nggak apa apa adalah jawaban sederhana yang bisa aku ucapkan ketika terlalu banyak hal yang ingin ku katakan tapi tidak bisa diucapkan," ucap Cinta. dengan senyum sendu nya.
"Kalau kamu, karena apa?," kini giliran Cinta yang bertanya pada Luka.
"Karena diam adalah bahasa tubuh yang bisa gue lakukan ketika emosi dan amarah ingin melakukan hal yang bisa melampiaskan emosi gue dengan cara yang berbahaya," jawab Luka.
"Kamu bijak juga, ya. Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu nggak mau pulang? Padahal ini udah malam loh," tanya Cinta dengan tatapan khawatir.
"Gue berantem sama Mizka," balas Luka dengan nada suara yang merendah.
"Lagi?," ucap Cinta tanpa sadar. Karena waktu itu Luka juga pernah bertengkar dengan Mizka sampai meninggalkan bekas memar. Luka mengangkat bahu nya sebagai balasan.
"Kali ini karena berbeda pendapat lagi?," tanya Cinta yabg dibalas anggukan singkat Luka.
"Gue nggak mau ketemu Mamah, tapi dia maksa banget gue buat ikut," ujar Luka.
"Kenapa kamu nggak mau, itu kan Mamah kamu," balas Cinta yang mendengarkan cerita Luka dengan baik.
"Tapi dia nggak melakukan perannya sebagai Mamah dengan benar, atau bahkan sama sekali nggak melakukan perannya?," senyum smirk yang Luka perlihatkan membuat Cinta meringis pelan.
"Kamu tahu nggak, semua yang terjadi di dunia ini pasti punya alasan nya masing-masing. Mamah kamu pasti punya alasan kenapa tidak melakukan perannya sebagai Mamah dengan baik seperti yang kamu harapkan. Kamu nggak boleh benci sama orang yang sudah melahirkan kamu,"
"Kalau gitu, gue lebih milih untuk nggak dilahirkan," jawab Luka.
"Luka, rasa marah kamu itu nggak salah. Tapi, lebih baik kamu cari alasan nya dulu sebelum memilih untuk membenci Mamah kamu. Karena kamu akan menyesal kalau tidak mencari alasan nya dulu dan membenci nya hanya karena bagi kamu dia bukan Mamah yang baik," ucap Cinta dengan tangan yang menepuk telapak tangan Luka yang ada di sebelahnya.
kamu masih sama, Cinta. Selalu bisa diandalkan.
__ADS_1