
Suasana kelas Cinta sedang ramai karena adanya pengambilan nilai memasak. Cinta bersama kelompoknya sudah siap dengan bahan bahan yang diperlukan.
"Zem, aku ke kantin dulu, ya. Mau ambil es batu yang aku titip tadi pagi," ujar Cinta pada Zemira yang sedang sibuk memotong sayuran di atas meja.
"Lo mau dibantu nggak? Biar Gega atau si Es gitu?," tanya Zemira menunjuk ke arah Gega dan Felix yang sedang menyalakan kompor.
"Enggak usah, Zem. Aku sendiri aja, aku pergi, ya!," Cinta segera berlalu meninggalkan kelas. Sesampai nya di kantin ia segera meminta izin kepada Ibu penjaga kantin untuk mengambil es batu miliknya. Setelah mendapatkan nya, Cinta segera membawa dua buah es batu dengan tangan kosong yang membuatnya meringis kedinginan.
"Aw... dingin banget," ujar Cinta setelah sampai di kelas nya. Perhatian Gega, Felix, dan Zemira langsung mengarah pada Cinta.
"Lo sih, kan gue udah bilang minta bantuan aja sama yang lain. Tuh kan tangan lo sampe merah gitu kedinginan," balas Zemira dengan kesal karena Cinta tidak mendengarkan omongan nya. Lalu melihat keadaan tangan Cinta yang memerah dan sangat dingin.
"Sini gue liat," Gega dengan segera mengambil alih tangan Cinta yang ada di genggaman Zemira.
"Aku nggak papa, Ge," ucap Cinta yang ingin menarik tangan nya dari genggaman Gega. Namun dengan gesit Gega menarik kembali tangan Cinta lapu meniup nya agar tangan Cinta tidak terlalu dingin. Gega menggenggam erat tangan Cinta menghantarkan hangat tubuhnya kepada Cinta. Cinta sendiri dibuat terdiam oleh perlakuan Gega yang tiba tiba. Sama hal nya dengan Zemira, dan teman teman nya yang lain. Suasana tambah ricuh karena kejadian itu. Tapi Felix tetap tak berekspresi lalu melanjutkan pekerjaan nya memotong daging yang mereka butuhkan untuk memasak.
"Udah, Ge. Udah nggak dingin kok. Makasih banyak, ya," ujar Cinta dengan senyum tulus nya. Gega melepaskan tangan Cinta, lalu beralih menatap mata nya.
"Makanya, kalau di kasih tau tuh dengarin, Cinta. Kan gue bisa bantuin lo buat bawa es batu ini, kenapa coba harus sendirian. Sok kuat banget, ya, Bu Ketua," jawab Gega dengan gemas. Ia bergerak lebih dekat kepada Cinta lalu berbisik pelan, "Jangan sampai terluka, ya,".
Cinta yang bingung harus merespon apa hanya mengangguk nurut. Sedangkan Zemira dan yang lain nya tetap diam memperhatikan bagaimana Gega begitu dekat dengan Cinta. Gega dan Cinta mulai sadar akan situasi dan mulai menyibukkan diri dengan tugas nya.
"O.M.G. Cinta, tolong banget tadi kenapa sih Gega bisa segitu nya sama lo?," tanya Zemira yang kini sedang membantu Cinta untuk membuat jus buah.
"Segitunya kayak gimana? Kamu aja yang melihat nya dengan berlebihan," jawab Cinta dengan santai.
"Lo mah, gue serius. Jangan jangan, lo sama Gega pacaran?," ucap Zemira membelakan matanya tak percaya dengan asumsi nya sendiri.
"Mana Mungkin, Zemi. Kamu mah ada ada aja," ujar Cinta. Setelah itu Cinta meninggalkan Zemira untuk menyusun gelas dan menyajikan jus buah buatan nya.
Dibalik pintu kelas Cinta, terdapat Luka yang sedari tadi melihat semua yang terjadi di dalam sana. Tadi Luka tak sengaja melewati kelas Cinta, lalu ia memilih untuk melihat sebentar apa yang sedang Cinta lakukan sekarang. Tapi ia malah melihat kejadian yang tidak ia harapkan sama sekali. Yaitu ia melihat Gega yang sedang meniup tangan Cinta dengan romantisnya. Luka menjadi dongkol dan kesal sendiri.
"Dasar cowok ke gatelan," ujar Luka yang segera saja berlenggang pergi dari tempat persembunyian nya.
Langkah kaki nya menyusuri koridor sekolah yang sangat sepi karena semua murid berada dalam kelas nya masing masing. Perpustakaan menjadi tujuan nya sekarang. Ia sudah tidak berniat untuk pergi ke kelas. Luka membuka pintu perpustakaan dan masuk ke dalam.
Jemari tangan dan mata nya bergerak mencari buku yang ingin ia baca. Buku berwarna kecoklatan yang seperti sudah sangat lama berada di sini tapi tak terjamah menarik perhatian nya. Di cover buku nya bertulisan Diary Sang Senja.
Luka mengambil buku itu dan membawa nya untuk duduk di pojok ruangan. Lembar pertama buku itu sudah sangat berdebu.
**Hari pertama berkawan dengan senja.
Siang ini dunia ku hancur tak bersisa. Semangat yang ku siapkan untuk hari ini entah kemana pergi nya. Kini yang tersisa hanya air mata yang tanpa henti keluar dari kelopak mataku.
__ADS_1
Langit seolah ikut campur dengan menurunkan hujan. Aku berjalan terseret seret dengan pakaian basah. Bentuk ku saat ini pasti benar benar berantak kan. Rambut yang sudah ku tata dan berpadu dengan dress putih selutut kini sudah tidak seindah sebelumnya.
Aku berhenti sejenak. Menatap sang senja yang mulai menampakkan diri. Matahari bergerak karena hendak pulang ke peradaban nya.
Menyenangkan ya menjadi matahari, setiap akan pulang ia disambut oleh senja yang begitu indah. Dan ketika akan kembali pergi ia disambut oleh hamparan langit merah muda yang begitu membuatku iri.
Andai saja aku bisa menjadi matahari, hidupku pastikan bahagia**.
Luka tak berekspresi lalu kembali membalik ke lembaran berikutnya.
**Hari kedua, aku menangis bersama senja.
Luka yang tercipta begitu menggores hatiku. Menyisakan bekas luka yang ku tahu sangat sulit untuk menyembuhkan nya. Aku berlari dari rumah untuk bertemu senja. Mungkin bercerita dengan senja bisa mengobati rasa tidak menyenangkan ini.
Langkah kaki ku dengan cepat berlari menyusuri jalan raya yang ramai lalu lalang. Sebuah taman dengan danau hijau menarik ku untuk berhenti di sana. Aku mendudukkan diri di tanah tanpa alas apapun. Dress ku yang berwarna hitam berbaur langsung dengan tanah dan rumput di pinggir danau.
Aku menundukkan kepalaku di lipatan kaki ku yang ku tekuk. Aku menangis lagi, tapi kali ini senja ikut menemaniku.
"Senja, mengapa semesta begitu jahat kepadaku?,"
"Mengapa ia begitu tega mengahancur kan ku?,"
"Aku harus apa senja, aku ingin semua nya kembali seperti dulu. Aku takut sendirian senja!...," jerit ku lalu kembali menangis sendiri.
Senja mulai berlalu setelah selesai mendengarkan ceritaku. Aku mengangkat kepala ku untuk menatap nya sebelum menghilang. Lambaian tangan yang ku gerakkan begitu lemah memberi salam perpisahan untuk senja yang sudah bersedia mendengarkan ceritaku**.
"Heh, lo ngapain di sini? Gue nyari lo kemana mana nggak ada, tahu nya duduk ngadem di sini," Luvin datang dengan keringat yang mengalir dari dahi nya. Kelihatan sekali bahwa apa yang barusan ia katakan benar ada nya. Luvin sudah pasti disuruh oleh guru yang mengajar di kelas nya untuk mencari diri nya yang bolos dari kelas.
"Ganggu lo," jawab Luka menutup kembali buku yang barusan ia baca. Lalu bangkit dan meninggalkan Luvin keluar dari perpustakaan.
"Sumpah, ya. Orang ini suka nggak mikir, gue kan baru aja sampe udah di suruh naik tangga lagi," ucap Luvin menghela nafas berat. Baru saja ia akan berlalu meninggalkan perpustakaan. Tapi buku yang baru saja Luka baca menarik perhatian nya.
"Diary Sang Senja," gumam Luvin seraya mengerutk kan dahi nya bingung.
"Aneh banget dia baca buku beginian," Tanpa memikirkan lebih lanjut, Luvin segera berlalu meninggalkan perpustakaan dan menyusul Luka.
Selepas kepergian kedua orang itu dari perpustakaan. Seorang gadis datang dan mencari sesuatu di rak buku.
"Kemana ya buku nya?. Seingat ku, aku menaruh nya di rak ini. Tapi, kok nggak ada ya?," gumam gadis itu dengan wajah gusar nya. Lalu kembali mencari dimana buku yang ia simpan di rak itu sebelumnya. Buku itu adalah karya pertama nya. Ia sengaja menyimpan nya di sana berharap orang lain dapat membaca nya juga.
"Huh," gadis itu mendudukkan diri di salah satu kursi yang terdapat di perpustakaan. Lalu mata nya menangkap buku yang tidak asing untuknya berada tiga meja dari tempat nya berada. Yang ia yakin, bahwa buku itu baru saja dibaca oleh seseorang.
"Ini dia bukunya, untung aja ketemu," gadis itu memeluk buku nya dengan erat. Ia segera bergegas berlalu pergi dari perpustakaan. Ia akan menyimpan buku itu di kamar nya saja, karena sudah cukup lama buku itu tersimpan disini.
__ADS_1
Kelompok Cinta menyelesaikan pengambilan nilai dengan sangat baik. Bahkan mereka mendapat juara pertama dalam pengambilan nilai memasak. Cinta dengan senyum senang nya menatap ketiga teman teman nya yang sudah bekerja keras.
"Kerja bagus, terima kasih untuk kerja sama nya, ya!," ujar Cinta dengan senyum manis nya.
"Lo juga udah kerja keras Cinta. Ternyata sekelompok sama manusia es ini nggak merugikan banget. Boleh kali kita sekelompok lagi?!," jawab Zemira seraya menyikut lengan Felix yang berdiri di sebelahnya. Sedang Felix yang merasa terganggu dengan suara dan tingkah laku Zemira memilih pindah berdiri disebelah Cinta yang berada di sebelah Gega. Alhasil Cinta berada di antara Felix dan Gega.
"Emang, ya, Cinta tuh kayak punya magnet yang bikin semua cowok mendekat," ujar Zemira seraya mencibirkan bibirnya sebal.
"Kamu terlalu suka ngarang, Zemi. Udah, ya. Aku mau pamit pergi kerja dulu," Cinta mengambil tas nya dan menggendong nya di pundak.
"Mau gue antar nggak, Ta?," tanya Gega.
"Enggak usah, Ge. Aku takut kamu alergi lagi kalau ke sana," tolak Cinta dengan senyum meyakinkan.
"Es, lo aja deh yang antar Cinta. Gimana?," ujar Gega yang baru sadar bahwa ia alergi terhadap bunga maka dari itu ia meminta Felix saja yang mengantar Cinta.
"Enggak perlu, aku bisa sendiri, kok," balas Cinta yang dengan cepat menggelengkan kepala nya menolak usulan Gega.
"Ayo," Felix segera berlalu meninggalkan teman teman nya yang menatap punggung laki laki itu tak percaya.
"Wah, nggak nyangka gue kalau dia bakal terima. Ya udah, Ta, sana buruan nyusul," suruh Zemira dengan senyum tertahan nya.
"Hati-hati, Cinta! Kalau ada apa-apa kabarin gue!," ujar Gega ketika Cinta baru saja akan membalikkan tubuhnya untuk menyusul Felix.
"Iya, Gega. Aku pergi duluan, ya!," Cinta berlalu pergi meninggalkan kelas dan menyusul Felix. Ia segera masuk ke dalam mobil Felix dengan jantung yang berdegup kencang.
Di dalam mobil suasana nya terasa sangat dingin, bukan karena AC tapi karena kedua orang yang ada di dalam nya terus berdiam diri tanpa ada suara satu kata pun.
"Mm..., makasih banyak, ya. Maaf banget aku ngerepotin kamu," ujar Cinta seraya menatap wajah Felix yang datar.
"Hm," balas Felix hanya dengan sebuah gumaman. Cinta kembali diam lalu mata nya menangkap sebuah foto yang berada di dash bord mobil Felix. Foto dirinya dengan seorang pria berbadan besar. Yang Cinta yakini bahwa itu adalah Ayah nya. Pria berbadan besar itu berpakaian tentara nasional sama hal nya dengan anak laki laki yang berusia sekitar sepuluh tahun itu.
"Ini siapa? Ayah kamu?," tanya Cinta seraya menunjuk figur foto dihadapan nya. Felix sedikit terkejut lalu dengan cepat ia mengambil figur foto itu dan menyimpan nya di kursi belakang.
"Bukan," jawab Felix dengan suara datarnya.
"Oh, aku kira itu Ayah kamu. Ayah ku dulu juga seorang tentara nasional. Dia kelihatan gagah banget kalau pakai seragam, tapi kalau di rumah dia orang yang sangat lemah lembut. Aku selalu senang kalau lihat Ayah pakai seragam tentara," ujar Cinta dengan senyum yang sedikit dipaksa kan.
"Tapi sayang nya, aku udah nggak bisa lihat pemandangan sederhana tapi begitu menyenangkan seperti dulu lagi. Karena Ayah, udah tenang di sana," Cinta menundukkan kepala nya.
"Ayah kamu masih ada?," tanya Cinta setelah menghela nafas berat.
"Ada," balas Felix.
__ADS_1
"Jaga dia baik-baik, ya. Jangan sampai kamu buat dia kecewa, aku yakin Ayah kamu orang yang baik sama kayak kamu," ucap Cinta dengan senyum yang dibuat secerah mungkin.
Sorry, Cinta...