
Cinta sedang duduk sambil memandangi hujan yang turun di tengah hari ini. Dengan tangan yang menumpang dagu, Cinta memejamkan mata nya sambil menghirup bau hujan yang begitu khas. Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama ketika sekelebat kenangan tentang hujan muncul dipikiran nya. Kenangan yang merenggut seseorang yang ia sayangi.
Malam itu, sekitar pukul delapan malam. Cinta, Tyra, Ayahnya, dan satu laki laki sedang duduk di taman menunggu Mama nya datang menjemput setelah pergi meninggalkan mereka berempat di taman untuk pergi ke butik.
"Cinta, kamu mau pakai jaket Kakak nggak?," tanya Tyra yang saat itu berusia tiga belas tahun kepada Cinta yang lebih muda satu tahun dari nya.
"Enggak, Kak. Untuk Kakak aja jaket nya," jawab Cinta dengan jemari tangan yang saling bertautan karena dingin nya angin malam itu yang berhembus menampar wajah dan tubuh nya yang memakai kaos oblong dan rok selutut.
"Cinta pakai punya Ayah aja, ya?," kini Ayah nya ikut menawarkan jaket nya kepada Cinta.
"Enggak, Ayah. Cinta nggak kedinginan, kok, buat Ayah aja, ya," ucap Cinta dengan senyum meyakinkan.
"Cinta jangan gitu, nanti kalau Cinta sakit kita sedih tau," ujar laki laki itu yang duduk di sebelah Cinta.
"Kak Cala, Cinta udah bilang Cinta nggak akan sakit. Cinta kan kuat," balas Cinta dengan senyum cerah nya.
"Yaudah, kalau Cinta nggak mau pakai jaket, biar Ayah belikan susu hangat di seberang jalan sana, mau?," tanya Ayah nya kepada Cinta. Anggukan cepat Cinta berikan sebagai balasan. Ia tidak bisa menolak tawaran Ayah nya karena Cinta tidak mau membuat Ayah nya khawatir lagi.
"Cinta, Tyra, sama Kak Cala dulu, ya. Ayah ke seberang sana dulu buat beli susu hangat untuk Cinta," ujar Ayah nya dan segera berlalu untuk pergi membeli susu hangat. Selama menunggu Ayah nya datang, Cinta dan kedua Kakak nya berbincang bincang hangat tentang apa saja yang mereka lakukan di sekolah hari ini.
__ADS_1
"Kakak tau nggak, tadi teman Tyra ada yang nangis gara gara di marahin Ibu guru, kasian banget tapi kan dia salah ya, Kak," ucap Tyra.
"Iya, makanya Tyra jangan nakal biar nggak dimarahin Ibu guru," jawab Cala dengan tangan yang mengelus puncak kepala Tyra yang duduk di sebelah kiri nya. Sedangkan di sebelah kanan nya ada Cinta yang tatapan nya tak lepas dari gerak gerik Ayah nya yang sedang membeli susu hangat.
"Kalau Cinta di sekolah gimana hari ini?," tanya Cala kepada Cinta.
"Cinta hari ini olahrag- Aaaa! Ayah!!!," jerit Cinta ketika melihat tubuh Ayah nya tergeletak setelah sebuah peluru menghantam tubuhnya diiringi suara tembakkan yang terdengar sangat nyaring. Seluruh perhatian semua orang yang ada di sana langsung tertuju kepada tubuh Ayah nya yang sudah tak sadarkan diri. Cala langsung bergerak cepat menarik kedua adiknya menyebrang jalan. Cala berlari mengejar seseorang berbaju hitam yang berlari dengan cepat. Dengan sekuat tenaga ia menyusul langkah kaki orang itu yang berada jauh di depan nya. Sampai sampai saat akan menyebrangi jalan di tengah raya, sebuah truk besar menghantam tubuh Cala sampai terpental jauh. Tak sampai satu detik, tubuhnya sudah tak sadarkan diri. Sedangkan kedua adiknya sedang menangisi bagaimana keadaan Ayahnya saat itu.
"AYAH!," jerit Cinta seraya memeluk tubuh Ayah nya yang berlumuran darah dari perut nya.
"AYAH BANGUN AYAH!," ujar Tyra dengan berteriak kencang.
"Tolong!!! Tolong Ayahku!," ucap Tyra pada orang orang yang ada di sekeliling nya. Seorang pria berjas abu abu datang dan menggendong tubuh Ayahnya. Ia memasukkan tubuh Ayah nya ke dalam mobil.
"Cinta, kamu ikut Ayah ya. Kakak akan cari Kak Cala sebentar!," ujar Tyra terburu buru.
"Aku takut, Kak!," jawab Cinta dengan tangis yang tak berhenti.
"Kamu kuat, Kakak pergi ya," setelah itu Tyra pergi mencari keberadaan Cala yang entah dimana. Sedangkan Cinta ikut bersama pria berjas itu untuk ke rumah sakit mengantar Ayah nya. Di dalam mobil Cinta masih tak bisa berhenti menangisi apa yang terjadi kepada Ayah nya. Sesaat kemudian hujan ikut turun seiring dengan air mata Cinta yang turun ke pipi nya. Pria berjas itu terus memandangi Cinta dari kaca tanpa suara. Ia tahu bagaimana hancur nya perasaan gadis itu menyaksikan kematian Ayah dengan mata kepala nya sendiri.
__ADS_1
"Ayah...," lirih Cinta disela sela tangis nya.
Di tempat nya Tyra berlarian menyusuri jalan yang ramai dengan baju yang basah karena hujan. Matanya berkeliaran mencari dimana keberadaan Cala. Namun saat ia akan menyebrangi jalan, Tyra melihat kerumunan yang ramai. Perlahan lahan langkah kaki nya menyelinap ke arah kerumunan itu. Dan seolah menjadi patung seketika, tubuh Tyra berhenti bernafas dan bergerak saat melihat tubuh Cala sudah berlumuran darah seperti kondisi Ayah nya yang beberapa saat lalu baru ia lihat. Air mata keluar dan menetes deras terus menerus seiring kaki nya bergerak mendekat dan merengkuh tubuh Cala ke dalam pelukan nya yang dingin karena baju nya yang basah.
"Kakak!," panggil Tyra pada Cala yang memejamkan matanya.
"KAKAK BANGUN JANGAN TINGGALIN IRA!," jerit Tyra dengan kencang. Badan nya seseguk kan tanpa henti.
"Kakak.... Tyra mohon bangun, Kak!," lirih Tyra dengan tangis yang pecah setelah nya.
"Kak Cala!!!,"
Dan setelah kejadian itu, Cinta tak lagi berhubungan dengan Tyra. Tyra membenci nya dengan alasan karena Cinta lah ia kehilangan kedua orang yang ia sayangi, Cala dan Ayah nya. Padahal Cinta tak tahu kalau keinginan nya untuk menerima tawaran meminum susu hangat akan membuatnya kehilangan Cala dan Ayah nya. Kalau Cinta tahu, ia pasti akan menolak dan melarang Ayah nya untuk pergi membelikan nya susu hangat.
Air mata menetes begitu saja setiap Cinta mengingat kembali kenangan bagai mimpi buruk untuknya itu. Sampai sekarang, perasaan bersalah yang entah salah atau tidak ia rasakan terus menghantui nya setiap melihat hujan. Hatinya bagai teriris karena apa yang telah ia lakukan saat itu menghancurkan semua nya. Menghancurkan keluarga nya yang harmoni, menghancurkan masa kecil nya, dan menghancurkan masa depan Kakak nya, Tyra. Hanya Ibu nya yang memaafkan apa yang Cinta lakukan, karena menurutnya ini bukan salah Cinta. Pasti ada orang yang memang berniat membunuh suaminya tapi sangat pas ketika Cinta menerima tawaran nya untuk dibelikan susu hangat.
Pria berjas yang menolong nya adalah orang yang sangat berjasa untuk Cinta. Walaupun kasus ini sudah lima tahun yang lalu, pria itu masih bersedia mencari tahu motif pembunuhan Ayah nya. Mereka masih sering berkabar, melalui aplikasi mereka saling mengirim pesan. Terkadang pria itu bertanya beberapa hal untuk mencari tahu hal yang mungkin perlu ia ketahui.
Pria itu sangat baik. Layak nya penolong yang tak sungkan mengulurkan tangan kepada siapapun. Cinta terkadang ikut ke acara bakti sosial yang diadakan nya setiap beberapa bulan sekali di berbagai penjuru kota yang terdapat panti asuhan.
__ADS_1
Dari mengikuti berbagai macam acara sosial itu Cinta mendapat banyak pembelajaran yang membuat nya sangat bersyukur akan hidup nya. Dimana ia belajar untuk mensyukuri hidup nya, walaupun ia harus merelakan masa muda nya untuk bekerja paruh waktu. Saat melihat bagaimana anak anak di panti asuhan itu masih bisa tersenyum padahal mereka tahu, kalau mereka tidak punya orang tua ataupun saudara. Tapi tawa mereka tak pernah luntur barang sedetikpun.