
Setelah melihat kejadian di ruang kelas Cinta waktu itu, membuat Luka mulai sadar kalau ia harus melangkah untuk dekat dengan Cinta sebelum Gega sampai lebih dulu. Maka dari itu, siang ini setelah pulang sekolah ia ingin pergi ke toko bunga tempat Cinta bekerja. Ia akan berbasa-basi untuk membeli bunga, lalu ia akan mengajak Cinta untuk pergi ke kafe dekat toko bunga. Semoga saja rencana yang sudah ia siapkan tidak akan kalah dengan gengsi nya yang tinggi.
"Mau kemana lo rapih banget?," tanya Mizka yang melihat Luka menuruni tangga dengan pakaian rapih seperti akan pergi.
"Ketemu Cinta," jawab Luka dengan datar. Ia mengambil kunci motor nya dan melangkah keluar tanpa mempedulikan Mizka yang menatapnya tak percaya.
"Lo nggak pamit sama Mas Cetta dulu?," tanya Mizka pada Luka yang baru saja akan melangkahkan kaki keluar dari rumah.
"Mas ada di rumah?," tanya Luka dengan alis yang mengerut bingung.
"Baru pulang barusan banget, lagi di kamar main ponsel," balas Mizka dengan posisi nya yang bersantai ria di sofa. Tanpa menjawab lagi, Luka segera berlalu ke arah kamar Cetta untuk berpamitan. Luka mengetuk pintu kamar Cetta dengan sopan. Pintu kamar itu terbuka menampilkan sosok Cetta dengan pakaian rumah yang terlihat sangat berbeda dengan pakaian yang biasanya Cetta pakai yaitu setelan jas.
"Kenapa Luka?," tanya Cetta dengan ponsel yang baru saja ia matikan lalu menatap Luka.
"Mau pamit Mas," jawab Luka dengan wajah tak berekspresi nya.
"Mau kemana siang siang gini?," ujar Cetta.
"Mau ketemu Cinta," ucap Luka dengan sedikit grogi.
"Wah... Udah berani ya kamu sekarang, bagus deh. Mas dukung banget, good luck, ya, Luka!," jawab Cetta dengan wajah yang sumringah.
"Iya, Mas. Luka jalan," Luka menyalami tangan Cetta seperti orang tua nya sendiri.
"Hati hati!," ujar Cetta mengingatkan ketika Luka sudah berbalik untuk pergi. Setelah Luka pergi Cetta menghampiri Mizka yang sedang duduk di sofa. Senyum kedua nya muncul bersamaan setelah saling bertatapan.
"Akhirnya, dia sadar ya, Mas. Mizka kira Luka bakal selama nya diam diam an nunggu waktu yang menjawab," ucap Mizka.
"Mas mah yakin dari awal, kalau Luka nggak akan biarin Cinta diambil sama orang lain," jawab Cetta.
"Kamu pantau terus ya, Mizka. Jangan sampai ada apa apa sama Luka maupun Cinta. Mas percayain semua sama kamu, kalau ada apa apa jangan ragu buat bilang sama Mas," Cetta menepuk pundak Mizka sebelum berlalu pergi kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Luka menyusuri jalanan yang ramai untuk pergi ke tempat Cinta. Dalam hati Luka memanjatkan do'a semoga niat dan usaha pertama nya berhasil. Luka sudah sampai di depan toko bunga dan segera masuk ke dalam setelah memarkir motor nya.
"Selamat datang!," sapa Tika yang berdiri di kasir menyambut datang nya Luka. Luka berjalan masuk dan melihat lihat bunga apa yang akan ia beli sambil sesekali mencuri pandangan ke arah Cinta yang sedang sibuk melayani pembeli.
"Mau cari bunga apa, Kak?," tanya Cinta dengan ramah. Lalu saat Luka membalikkan tubuhnya Cinta dibuat terkejut karena ia kira itu adalah orang lain bukan Luka.
"Oh, Luka. Hai, kamu mau cari bunga apa?," tanya Cinta dengan senyum manis nya.
"Bunga anyelir yang warna pink putih," jawab Luka setelah ia melihat sebatang bunga anyelir yang diawetkan dan dipajang di dinding begitu indah.
"Kamu mau yang ukuran berapa?," ucap Cinta yang sudah siap memetik bunga anyelir di kebun belakang toko bunga.
"Sedang," balas Luka dengan datar. Cinta mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Luka untuk memetik bunga anyelir pesanan Luka.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk menyiapkan buket bunga yang indah. Dan Cinta sudah siap dengan buket bunga anyelir di tangan nya.
"Ini buket bunga nya," ujar Cinta seraya menyerahkan buket bunga itu kepada Luka.
"Bagus," puji Luka tanpa sadar ketika memperhatikan betapa indah nya buket bunga anyelir yang ada di tangan nya.
"Kamu bisa langsung ke kasir untuk transaksi nya, ya. Aku mau lanjut kerja dulu, terima kasih sudah datang, Luka," pamit Cinta seraya berbalik untuk pergi. Tapi tangan Luka dengan cepat menahan nya membuat Cinta berhenti. Luka membalik badan nya dan menatap mata Cinta dengan sorot mata yang tajam.
"Lo punya waktu? Gue mau ajak lo ke kafe," tanya Luka dengan posisi mereka masih sama seperti sebelumnya. Tangan Luka yang menahan lengan Cinta.
"A-aku nggak bisa, aku masih harus kerja sampai sore ini," jawab Cinta dengan cepat pula ia memutuskan kontak mata nya dengan Luka.
Luka melepaskan genggaman nya pada lengan Cinta, "Gue tunggu sampai lo selesai." Luka berlalu setelah mengatakan itu dan pergi keluar. Ia akan menunggu di depan sampai Cinta selesai bekerja.
"Maksudnya, dia bakal tunggu aku sampai sore cuman untuk pergi kafe?," gumam Cinta dengan dahi berkerut bingung. Lalu tanpa memikirkan lebih lanjut, Cinta kembali bekerja . Sedangkan Luka hanya duduk di kursi di depan toko bunga dengan sebuket bunga anyelir di tangan nya. Dari tengah hari dengan panas yang menyengat, sampai sore hari dengan udara dan cuaca yang hangat, Luka tetap diam menunggu sampai Cinta akhirnya keluar dari toko bunga dengan pakaian simple nya. Yaitu jampsuit berwarna kecoklatan dengan kaos lengan panjang di dalam nya berwarna kuning.
"Kamu beneran nunggu aku dari siang? Aku kira kamu bercanda," Cinta terlihat sangat terkejut ketika melihat Luka masih setia duduk di tempat nya dengan tenang, seolah tidak terganggu dengan hari yang mulai menggelap.
__ADS_1
"Gue nggak suka bercanda sama omongan," jawab Luka seraya bangkit dari duduk nya dan menghampiri Cinta.
"Sekarang, bisa kita pergi ke kafe?," tanya Luka mengulang pertanyaan nya tadi siang.
"Bisa," balas Cinta dengan senyum hangat nya. Mereka berdua segera berangkat dengan motor Luka untuk pergi ke kafe. Diperjalanan tak ada yang berbicara, karena Cinta sudah terlalu lelah hari ini dan Luka yang tak pandai memulai obrolan.
"Kamu ada apa ajak aku ke kafe? Bahkan sampai rela nunggu aku sampai sore kayak gini?," tanya Cinta yang berada di balik punggung tegak Luka dengan sebuket bunga ditangan nya.
"Gue cuman pingin duduk berdua sama lo," ujar Luka.
"Kamu aneh, kalau cuman pingin duduk berdua. Kenapa harus sampai nunggu selama itu?," ucap Cinta yang lagi lagi dibuat tak percaya dengan apa yang sebenarnya Luka lakukan.
"Gue mau yang lama, bukan satu atau dua menit," jawab Luka seraya membelokkan motornya dan berhenti tepat di depan kafe bernuansa abu abu yang sangat terkesan sederhana tapi begitu indah.
Mereka berdua duduk setelah Luka memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Luka duduk dihadapan Cinta dengan tatapan yang tak lepas dari gerak gerik Cinta. Perilaku Luka yang seperti ini membuat Cinta dibuat risih dengan tatapan tajam Luka yang terus menatap nya.
"Kamu bisa nggak, nggak tatap aku kayak gitu? Aku takut," ungkap Cinta dengan grogi.
"Tapi gue suka tatap lo kayak gini," balas Luka tak peduli.
"Kalau kamu kayak gini, aku mau pulang aja deh. Aku takut," ujar Cinta yang sudah menunduk takut.
"Sorry," jawab Luka setelah menyadari bahwa ia tidak boleh melakukan itu. Cinta yang mendengar Luka meminta maaf menganggkat kepala nya lalu mengangguk dan tersenyum manis.
"Kamu beneran nggak ada yang mau dibicarain?," tanya Cinta setelah menyeruput minuman yang tersaji dimeja makan.
"Ada," ucap Luka dengan wajah yang datar.
"Apa?," tanya Cinta penasaran.
"Gue mau jadi teman lo," ujar Luka yang membuat Cinta menahan tawa nya.
"Luka, kamu nggak perlu izin cuman untuk jadi teman aku. Selama ini juga aku anggap kamu kayak teman kok," balas Cinta dengan tawa ringan nya.
"Oh, sahabat maksud kamu? Boleh, kok. Aku nggak pilih pilih dengan siapa harus berteman dan bersahabat," jawab Cinta dengan polosnya.
"Pacar maksud gue," ucap Luka.
"Aku nggak mau punya pacar, Luka. Ada banyak hal yang harus aku lakukan dari pada harus menghabiskan waktu untuk berpacaran," ujar Cinta dengan senyum menenangkan nya. Penolakan halus Cinta membuat senyum kecil Luka terbit, kini ia yakin kalau Cinta dan Gega tidak akan ada apa apa.
"Oke," balas Luka yang kini mulai menikmati makanan nya. Sedangkan Cinta dibuat tak percaya dengan apa yang Luka lakukan dan katakan sedari tadi. Aneh, pikir Cinta.
"Luka, aku pulang sekarang, ya? Ibu pasti udah tungguin aku," ujar Cinta ketika Luka sudah selesai menghabiskan makanan nya.
"Gue antar," tanpa berkata kata lagi, Luka segera bangkit dari duduk nya. Angin malam ini sangat dingin. Walaupun tamparan angin nya begitu dingin. Cinta tetap menyukai malam.
"Pakai," Luka menyerahkan sebuah jaket berwarna putih miliknya yang sengaja ia simpan di box motor agar ketika ia lupa membawa jaket ia bisa menggunakannya. Tapi kali ini, biar Cinta yang menggunakan nya.
"Aku pakai baju panjang, Luka. Jadi nggak perlu pakai jaket, simpan buat kamu aja," balas Cinta yang menyerahkan kembali jaket putih itu kepada Luka.
"Buat lo," Luka segera naik ke atas motor dan memasang helm nya. Cinta masih diam ditempatnya mencerna dengan baik apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Luka terlalu sulit di tebak membuat Cinta tercengang dengan perilaku nya.
"Udah malam, cepat naik," ujar Luka yang mengejutkan Cinta. Dengan grogi Cinta segera naik ke atas motor dengan jaket yang ada digenggaman nya.
"Makasih banyak, ya Luka. Untuk makan malam, dan jaket nya," ucap Cinta ketika mereka sudah sampai di depan rumah Cinta.
"Ini buat lo," Luka menyerahkan buket bunga anyelir yang tadi siang ia beli kepada Cinta.
"Buat aku?," tanya Cinta yang masih menatap Luka bertanya tanya. Luka mengangguk dan berlenggang pergi tanpa sepatah kata pun. Cinta tersenyum lalu berlenggang masuk ke dalam rumah nya.
"Ata, kenapa baru pulang sayang?," tanya Meta yang menyambut datang nya Cinta.
"Maaf, ya, Bu. Cinta nggak kabarin Ibu karena ponsel Cinta mati. Cinta tadi pergi sama teman, Bu," jawab Cinta seraya menyalami tangan Meta.
__ADS_1
"Iya, nggak apa apa, Ta. Tadi Gega kesini, dia mau ajak kamu pergi katanya. Tapi Ibu bilang kamu nya belum pulang, coba kamu kabari dia dulu. Takut dia khawatir, ya," ujar Meta dengan senyuman hangat nya. Cinta mengangguk dan berpamitan untuk masuk ke kamar nya dan membersihkan tubuh.
Setelah selesai membersihkan diri, Cinta mendudukkan diri di ranjang nya dan membuka ponsel nya yang sedang diisi baterai. Ia membuka aplikasi perpesanan, dam benar saja panggilan telefon serta pesan yang berasal dari Gega membuat Cinta bertanya tanya, ada apa Gega mencari nya.
Cinta menekan nomor telefon Gega dan menekan ikon telefon. Tak lama menunggu panggilan Cinta langsung tersambung dengan Gega.
"Gega ad-,"
"Cinta!," panggil Gega yang langsung memotong omongan Cinta.
"Ada apa? Kamu kayak panik gitu," tanya Cinta.
"Lo kemana aja sih, Ta?. Gue kira lo diculik tau nggak, di chat di telefon nggak ada yang dibalas satu pun," gerutu Gega dengan nada suara yang terdengar benar benar khawatir.
"Aku habis pergi sama Luka, maaf banget karena ponselku mati jadi nya nggak bisa balas pesan kamu," jawab Cinta.
"Luka? Cowok yang bibirnya sariawan terus itu?," tanya Gega.
"Dia nggak sariawan, Gega," balas Cinta.
"Terus kenapa? Lagian dia jarang banget ngomong, makanya gue kira dia sariawan," ujar Gega diseberang sana dengan gelak tawa ringan nya.
"Ya, dia emang kayak gitu. Oh, iya, emang kamu ada apa cari aku?," tanya Cinta.
"Gue mau ajak lo pergi besok pagi, gue ada acara sama Papah di dekat rumah lo. Lo bisa nggak?," balas Gega.
"Maaf banget sekali lagi, aku udah ada janji buat besok. Maaf, ya, Gega, aku nggak bisa," ucap Cinta dengan tidak enak.
"Yah, Cinta. Kenapa lo harus ngerasa bersalah coba? Wajar aja kalau lo tolak, itu kan juga hak lo. Jadi, santai aja," balas Gega dengan suara yang terdengar sangat ramah.
"Maaf ya, Ge,"
"It's okey, Cinta. Ya udah lo pasti cape, good night, ya!," belum sempat Cinta membalas ucapan selamat malam Gega, sambungan telefon sudah lebih dulu Gega matikan. Cinta meletakkan ponsel nya di ranjang dan beralih menatap buket bunga anyelir yang berada di nakas sebelah ranjang nya. Ia mengambil buket bunga itu dan menghirup aroma bunga anyelir yang menenangkan.
"Buat apa dia beli kalau ujung ujung nya buat aku?," gumam Cinta seraya meletakkan kembali buket bunga itu di nakas. Baru saja ia akan bersiap untuk tidur. Suara notifikasi pesan masuk membuatnya Cinta meraih kembali ponselnya dan melihat nama Om Detektif muncul di layar ponsel nya.
Om Detektif
Cinta, Om ketemu titik cerah untuk kasus ini. Kamu bisa bertemu besok?.
Cinta
Yang benar, Om?.
Bisa, Om, Cinta bisa bertemu besok.
Om Detektif
Besok kita ketemuan di taman dekat rumah kamu, ya.
Cinta
Iya, Om. Terima kasih banyak untuk kabar baik ini.
Om Detektif
Sama-sama Cinta. Semoga kita bisa segera mendapatkan jawaban nya, ya.
Cinta
Semoga, Om.
Cinta tersenyum sendu setelah membaca pesan dari Om Detektif. Cinta benar benar berharap kalau ini adalah titik terang untuk kasus yang sudah terlalu lama tidak kunjung mendapatkan jawaban nya.
__ADS_1