OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
7. Si dingin


__ADS_3

Kelas Cinta sedang ramai karena pembagian kelompok untuk tugas praktek yang diminta oleh guru mata pelajaran. Cinta, Gega, dan Zemira sudah memiliki kelompok, tapi mereka kekurangan satu orang lagi untuk pas menjadi satu kelompok berisikan empat orang. Mata Cinta bergerak melihat sekeliling kelas, semua orang sudah memiliki kelompok masing masing. Sampai akhir nya, bola mata indah Cinta berhenti bergerak pada sosok laki laki ber-hoddy putih yang duduk di pojok belakang kelas sambil menunduk membaca buku. Laki laki yang sering di sapa Es itu memang tidak pernah berbicara kecuali diminta presentasi atau hanya izin ke toilet. Sama sekali tidak berinteraksi dengan teman teman yang lain, hanya duduk diam sambil membaca buku komik.


"Hm... kalau kita ajak Felix ke kelompok kita, gimana?," tanya Cinta pada Gega dan Zemira. Sontak kedua orang itu menatap Cinta dengan kerutan dahi yang dengan otomatis muncul ketika mendengar pertanyaan Cinta.


"Aduh Cinta, sayang. Engga deh, gue nggak mau ada manekin di kelompok kita," jawab Zemira bergidik ngeri.


"Iya, Ta. Cari yang lain aja gimana?," tanya Gega yang menyetujui perkataan Zemira.


"Yang lain udah punya kelompok, gak apa apa, ya?," tanya Cinta dengan wajah memohon.


"Hmm, tapi kalau dia nggak mau jangan lo paksa, ya!," ujar Zemira mengingatkan.


"Ya udah, aku ke sana dulu, ya," ucap Cinta seraya bangkit dari duduk nya.


"Hati-hati, Cinta," bisik Gega pelan. Seolah Cinta akan menghadapi monster jahat padahal itu hanya anak kelewat pendiam yang jarang berbicara, Gega memang suka berlebihan terkadang. Cinta mengangguk dan segera berlalu pelan menghampiri Felix yang sama sekali tidak terganggu dengan bising nya suara kelas.


"Felix, aku mau ajak kamu ke kelompok aku, kamu mau nggak?," tanya Cinta dengan kedua tangan saling bertautan karena gelisah.


Felix tidak menjawab, tapi ia mengangkat kepala nya dan bola mata hitam nan tajam miliknya bergerak ke penjuru kelas sampai akhirnya ia menatap Cinta yang berdiri di hadapan nya. Tatapan tajam itu membuat nyali Cinta hampir hilang dalam sekejap mata kalau kalau Felix tidak menunduk kan kembali kepala nya.


Di balik tubuh Cinta, kedua orang yang sedang memperhatikan gerak gerik Cinta berbisik pelan.


"Gue yakin banget kalau Es nggak akan mau terima ajakan kelompok kita, iya kan, Ge?," tanya Zemira pada Gega yang kini sibuk mengunyah permen karet yang baru ia ambil dari saku celana nya.


"Semoga aja, tapi kalau Es terima, tamat lah riwayat kita, Zem," jawab Gega memutar matanya jengah. Bukan nya ia pilih pilih teman, tapi apa kalian mau tahu. Sekelompok dengan manusia yang tidak jauh berbeda dengan es itu tidak sama sekali menguntungkan, ia tidak akan bisa diajak berkomunikasi ketika yang lain saling bertukar pikiran, ia hanya akan mengerjakan tugas yang diberikan, dan setelah selesai menyelesaikan tugas nya ia akan berlalu begitu saja meninggalkan teman teman yang masih sibuk menyelesaikan tugas.


Cinta kembali ke tempat duduk nya dengan wajah tak mengenakkan, membuat Gega dan Zemira tersenyum senang karena tebakan mereka pasti benar kalau Es tidak akan menerima ajakan mereka.


"Gimana, Cinta? Di tolak kan?," tanya Zemira tak sabaran.


"Hm..., DIA MAU DI KELOMPOK KITA ZEMI, GEGA!," jerit Cinta membuat seisi kelas menatap nya aneh lalu tertawa kecil melihat kelakuan ketua kelas nya yang terkadang seperti anak anak. Tapi tidak dengan Felix, ia tidak menunjukkan reaksi apapun ketika melihat Cinta bereaksi begitu senang saat ia menerima ajakan nya untuk bergabung dengan kelompok nya.

__ADS_1


"Yah, Cinta. Kok lo malah senang, sih?," ucap Zemira cemberut sebal.


"Yah, Zemi. Lagian Pak Teta juga pasti akan minta kita buat ajak yang belum dapat kelompok ke kelompok kita, kan Felix belum dapat kelompok juga. Jadi sama aja kan?," jawab Cinta dengan senyum senang nya. Ia senang karena akhirnya ia mendapat kesempatan untuk bisa dekat dengan Felix, karena selama setengah tahun ini, ia sangat takut untuk dekat dengan Felix karena aura nya yang begitu dingin membuat Cinta bahkan tak berani hanya untuk melirik ke arah nya.


"Ya udah lah Zem, kita harus berlapang dada sekarang. Kita akan sekelompok sama Es," ujar Gega yang merangkul pundak Zemira. Ketika kedua sahabat nya tak suka ketika mereka sekelompok dengan Felix tapi Cinta malah tersenyum senang. Karena nya, ia bisa mengenal siapa sosok Felix sebenarnya.


Ketika jam pulang sekolah tiba, Cinta dan kelompoknya berkumpul di ruang kelas untuk membagi tugas apa yang akan dikerjakan masing masing dan apa tugas yang akan dikerjakan bersama sama.


"Felix mana, ya? Kok belum datang juga, katanya cuman ke toilet sebentar," tanya Cinta yang sudah tak sabar menunggu kedatangan Felix dari toilet. Karena ia harus bergegas pergi ke toko bunga untuk bekerja.


"Duh, Cinta. Gini nih kalau kita sekelompok sama Es, udah nggak bisa dihubungin, dia nya suka hilang lagi kayak hantu," jawab Zemira yang kini sedang asik bermain game bersama Gega di ponsel nya masing masing.


"Zemi, mulut kamu nggak boleh gitu, ah," ujar Cinta mengingatkan. Sedangkan Zemira cemberut sebal lalu kembali melanjutkan game nya bersama Gega.


"Udah Cinta lo pergi kerja aja sana, biar gue sama Zemi yang tungguin tuh Es buat kasih tahu tugas nya apa. Dari pada lo terlambat kerja, kan?," ucap Gega memberikan saran kepada Cinta. Cinta berpikir keras, apa yang harus ia pilih. Menunggu Felix yang tak kunjung datang, atau pergi meninggalkan Felix dan pergi ke tempat nya bekerja.


"Ya udah, Ge. Aku titip tugas nya, ya. Sampai in kalau aku nggak bisa nunggu Felix karena harus kerja, aku duluan, ya Dah, Zemi, Dah Gega!," setelah mendapat anggukan dari kedua nya, Cinta segera keluar dari ruang kelas dan berlalu ke parkiran sepeda untuk mengambil sepeda nya. Ketika Cinta berlari kecil melewati pertigaan sebelum keluar dari gerbang, Felix melihat sosok Cinta yang berlari kecil sampai menghilang di balik pintu gerbang. Tatapan tajam itu menyorot jelas sosok Cinta dan berlalu begitu saja setelah menyaksikan bagaimana Cinta tersenyum pamit kepada satpam sekolah dengan sepeda yang dikendarai nya.


"Di tanya nggak di jawab, dasar es!," ledek Zemira dengan kesal.


"Es, Cinta tadi pamit duluan karena dia harus pergi kerja. Jadi gue yang akan kasih tahu tugas lo untuk kerja kelompok kita kamis besok apa," ujar Gega seraya menjelaskan tugas apa yang harus Felix kerjakan. Felix merekam semua apa yang Gega bicarakan dalam ingatan nya. Namun tiba tiba ingatan nya tadi siang terputar dengan sendirinya.


*Ketika Felix menatap Cinta dengan tatapan tajam, Cinta menunduk takut. Dengan keberanian yang sudah hampir habis, Cinta kembali mengulang pertanyaan nya.


"Felix, kamu mau atau enggak gabung sama kelompok aku?," tanya Cinta. Felix menutup buku nya dengan sedikit membentak.


"Oke," jawab Felix datar lalu mengambil headphone nya yang ada di meja dan memakai nya. Cinta menahan senyum nya kuat kuat. Lalu ia mendudukkan diri di kursi depan Felix.


"Jadi nanti pulang sekolah kita kumpul dulu di kelas, ya, Felix. Aku, Zemira, dan Gega akan kasih tahu kamu tugas nya apa aja," ujar Cinta dengan nada semangatnya. Sedangkan Felix yang memakai headphone tanpa lagu yang diputar mendengar jelas apa yang Cinta katakan sambil matanya yang terus menatap Cinta lekat lekat.


"Aku senang banget, karena kamu terima ajakan aku. Awalnya aku kira, kamu akan tolak ajakan aku. Makasih banyak, ya, udah mau gabung sama kita!," lanjut Cinta dengan senyum bahagia nya. Masa bodoh kalau Felix tidak bisa mendengar apa yang barusan ia katakan.

__ADS_1


"Kalau gitu, aku ke tempat duduk ku dulu, ya. Jangan lupa pulang sekolah nanti, ya!," ujar Cinta mengingatkan sebelum ia berlalu pergi meninggalkan Felix yang masih menatap punggung Cinta dari belakang.


"Jangan coba-coba buat dekat sama gue, Cinta, kalau lo nggak mau terluka," gumam Felix setelah menundukkan kembali kepala nya*.


Luka sedang duduk di sebuah kafe sambil menikmati hujan diluar sana. Aroma yang menyejukkan membuat Luka mengambil nafas dalam dalam menghirup udara sebanyak mungkin. Matanya terpejam, menikmati suara rintik hujan yang terdengar merdu sekali di telinga.


Ketika sedang asik menikmati waktu nya sendiri, suara decitan kursi yang di geser membuat Luka membuka mata nya. Sosok laki laki bertubuh jangkung itu mendudukkan diri di kursi depan Luka dengan wajah santai nya.


"Mikirin apa hayo?," tanya nya dengan wajah ceria. Sangat berbeda dengan Luka yang memasang wajah datar tak berekspresi.


"Lo ngapain sih ke sini?," tanya Luka seraya menyesap ice americano miliknya.


"Gue kebetulan aja ke sini, eh ketemu sama lo. Jangan jangan...., kita jodoh!," jawab Luvin dengan gelak tawa nya sendiri.


"Udah nggak beres otak lo," ujar Luka.


"Eh Luka, lo mau tahu nggak? Kemarin gue lihat Cinta, dia lagi duduk sendirian di taman. Padahal waktu itu udah malam, sekitar jam delapan malam, ngapain ya dia di taman malam malam gitu?," jelas Luvin dengan panjang lebar. Luvin memang sosok yang sangat ceria dan terbuka. Kepribadian nya yang welcome sama siapa saja, membuat Luvin dikenal banyak teman di sekolah. Apalagi wajah nya yang tampan dan berperawakan tinggi membuat Luvin di sukai oleh banyak dari sekian banyak kaum hawa di sekolah.


"Mana gue tau, kenapa nggak lo tanya sendiri aja," jawab Luka dengan santai. Padahal pikiran nya terasa penuh dengan asumsi atas apa yang Cinta lakukan di malam hari saat itu. Apa Cinta berada di sana sejak sore untuk melihat mata hari terbenam sampai tak sadar bahwa waktu sudah kelewat malam.


"Sok nggak peduli, lo. Gue yakin banget pikiran lo pasti lagi penuh sama asumsi kenapa Cinta ada di sana semalam," ucap Luvin menebak dengan tepat apa yang baru saja Luka pikirkan.


"Luka anak pintar, anak ganteng, udah deh sekarang tuh bukan lagi waktu nya buat gengsi gengsi an. Lo harus tunjukkin sama Cinta kalau lo pingin dekat dan usaha buat bikin Cinta ingat lagi tentang apa yang pernah terjadi diantara kalian. Gue yakin, Cinta nggak akan peka kalau lo cuman dingin dan diam kayak gini," ujar Luvin dengan cerewet.


"Tapi kalau gue udah usaha buat dekat, tapi kita emang nggak ditakdirkan buat bersama, buat apa?," tanya Luka dengan nada datar nya.


"Itu mah urusan belakangan, Luka. Yang paling penting lo udah usaha, kan?. Lagian kalaupun kalian emang nggak berjodoh, lo bisa belajar kok dari semua nya dan dapat yang lebih baik lagi, iya kan?," balas Luvin dengan tenang. Ia tahu mengapa Luka begitu takut memulai semua ini, dengan alasan bagaimana kalau takdir kita bukan untuk bersama tapi hanya untuk saling mengenal. Karena cerita duka tentang keluarga nya, tentang kedua orang tua nya yang saling mencintai tapi ternyata mereka bukan lah jodoh untuk kedua nya. Jadi untuk apa Luka berusaha sekeras mungkin kalau ujung ujung nya ia tidak akan berjodoh dengan Cinta.


"Gue masih ragu buat maju, bahkan satu langkah pun gue nggak berani. Lo tahu, mereka yang buat gue kayak gini, mereka yang buat gue nggak mau berharap terlalu jauh sama seseorang," ujar Luka.


"Tanpa lo sadari, sampai saat ini lo lagi berharap sama seseorang. Cinta jawaban nya. Lo terus cari informasi soal Cinta sampai pindah sekolah supaya dekat sama Cinta, artinya lo berharap sama Cinta walaupun lo nggak tahu, lo dan Cinta akan bersama atau enggak pada akhirnya, gue benar kan?," tanya Luvin dengan alis yang diangkat sebelah membuat Luka terdiam dan membenarkan dalam hati apa yang Luvin katakan.

__ADS_1


__ADS_2