
Sejak perbincangan di kantin waktu itu, Gega dan Luka, juga Zemira tidak pernah membiarkan Cinta sendirian. Sampai sudah satu tahun berlalu mereka melakukannya, dan Cinta tidak sama sekali menerima ancaman apa pun. Kini mereka sudah menjadi siswa/i akhir tahun yang sebentar lagi akan lulus dan memulai jenjang yang baru. Sore ini, mereka akan berkumpul untuk merayakan ulang tahun Gega bersama.
"Ta, gue ke toko kue nya dulu, ya," ujar Zemira yang berada di sambungan telefon.
"Ya udah, aku sama Luka mau beli kado untuk Gega," balas Cinta yang sedang bersiap dengan dress berwarna kuning cerah yang terlihat sederhana.
"Oke, jangan malah pacaran di mall ya!," ucap Zemira yang meledek Cinta.
"Siapa yang pacaran sih, Zem? Aku sama Luka cuman teman," jawab Cinta.
"Yah, kasian ya Luka. Dia anggap nya kalian pacaran, tapi lo anggap nya cuman teman,"
"Kamu sok tau, udah aku mau keluar, Luka udah nunggu di depan," ujar Cinta yang membuat Zemira menjerit gemas.
"Aa!!! Tuh kan, Luka itu udah cocok banget jadi pacar lo. Cepat-cepat jadian deh, jangan buat anak orang kelamaan nunggu," setelah mengatakan nya, Zemira segera memutuskan hubungan nya karena tidak mau lagi mendengar balasan Cinta yang sudah sejak tiga tahun terakhir selalu ia katakan setiap Zemira meminta nya untuk cepat-cepat memiliki pacar. 'Aku nggak mau pacaran dulu, Zem. Ada hal yang harus aku selesaikan dulu. Lagian, aku lebih milih buat cari kerja dari pada pacar, kan kamu tau sendiri. Yang aku butuh itu pekerjaan, bukan pacar'. Ya, itu adalah balasan yang selalu Cinta katakan setiap diminta untuk mencari pacar.
"Zemira nggak berubah, selalu minta aku buat cari pacar," gumam Cinta dengan senyum nya. Ia sudah kenal betul kelakuan sahabatnya yang tidak pernah berubah. Seolah Zemira tidak pernah bosan meminta nya untuk mencari pacar. Padahal Zemira sendiri tahu, ia tidak pernah memikirkan hal seperti itu sekali pun.
Tanpa membuat Luka menunggu lebih lama, Cinta segera berlalu keluar ke arah Luka yang masih duduk di motornya dengan tenang. Cinta tersenyum dan berjalan dengan perlahan ke arah Luka. Tangan Cinta menutupi sinar matahari yang menyorot ke arah Luka membuat Luka terkejut dan menatap Cinta.
"Kamu kenapa nggak turun dan masuk?," tanya Cinta dengan posisi tangan yang masih menutupi panas sinar matahari. Luka tidak menjawab pertanyaan Cinta tapi malah sibuk menatap mata Cinta dalam dalam. Mereka berdua larut dalam tatapan mata masing-masing. Memang sejak satu tahun yang lalu, mereka menjadi begitu dekat bahkan banyak berpikiran kalau mereka berdua sudah berpacaran. Tapi kenyataan nya, mereka masih tetap sama seperti satu tahun yang lalu. Hanya seorang teman dekat, begitu pun Cinta dengan Gega.
"Mau jalan sekarang aja nggak?," ucap Cinta yang memutuskan kontak mata keduanya.
"Naik," ucap Luka dengan nada datarnya seperti biasa. Dan juga, Luka tidak berubah walaupun satu tahun sudah berlalu. Luka tetap menjadi sosok yang dingin dan datar, tetapi Luka bisa menjadi sosok yang sangat perhatian ketika Cinta sedang membutuhkan nya. Cinta ingat ketika ia bertengkar kembali dengan Tyra, Cinta memilih untuk tidak pulang ke rumah semalaman dan tidak sengaja ia bertemu Luka di pertengahan jalan. Luka menghampiri nya dan merangkul pundak Cinta untuk duduk di sebuah mini market dan membelikan Cinta air minum.
Saat itu Luka hanya duduk dan menemani Cinta sampai Cinta merasa tenang. Dan Luka berkata satu hal yang membuat Cinta merasa hidupnya lebih berarti.
"Lo boleh ngerasa cape, lo boleh buat ngeluh kalau lo lelah. Kenapa masih berusaha keras buat jadi robot kalau jelas-jelas lo diciptakan jadi manusia?," tanya Luka yang membuat Cinta tersenyum sendu.
"Apa yang salah jadi robot? Bukan nya jadi robot itu enak? Enak karena nggak perlu merasa nggak enakan, enak karena nggak perlu merasa bersalah, dan enak karena nggak merasakan sulitnya hidup, iya kan?," balas Cinta dengan senyum pahitnya.
"Kata siapa enak? Jadi robot itu nggak enak, hidup diatur-atur, nggak bisa bebas atas hidupnya sendiri," ucap Luka.
"Apa bedanya sama manusia yang hidupnya diatur sama omongan orang lain? Yang membuat mereka hidup tidak menjadi diri sendiri dan tidak punya kuasa atas diri sendiri," ujar Cinta setelah menegak air mineralnya.
"Jadi, sama aja kan? Mau lo jadi robot atau manusia sekali pun, hidup lo akan tetap penuh aturan. Kalau lo mau hidup dengan aturan yang lo buat sendiri, ya udah jadi diri lo sendiri aja. Lo bisa hidup sesuai keinginan lo tanpa peduli sama omongan orang, tanpa diatur atur oleh siapa pun. Lo bisa bebas mengungkap perasaan yang lo rasakan, karena nggak ada perasaan yang salah. Tapi pikiran lo yang salah, lo selalu berpikir kalau lo nangis artinya lo cengeng. Kalau lo cape, artinya lo lemah. Semua perasaan yang lo rasain itu normal, yang nggak normal itu kalau perasaan lo dicerna nya di otak, bukan di hati," jawab Luka berhasil membuat Cinta terdiam mencerna semua yang Luka katakan.
"Udah kesekian kalinya gue nemenin lo yang lagi kayak gini, yang sedih tapi nggak pernah nangis. Tapi sampai sekarang, gue masih nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Lo juga nggak pernah cerita apa pun sama gue, sama Gega, atau bahkan sama Zemira. Terus, gimana caranya gue bisa tau apa yang lagi lo pikirin, gimana cara nya gue bisa tau apa yang lagi lo rasain kalau lo cerita aja nggak," lanjut Luka.
"Aku cuman nggak bisa mengekspresikan apa yang aku rasa, Luka. Aku tau rasanya sakit, aku tau rasanya kecewa, aku juga tau rasanya marah, dan lelah, tapi aku nggak bisa nangis. Rasanya udah terlalu campur aduk sampai aku nggak tau gimana cara mengekspresikan nya," ucap Cinta.
"Tapi lo bisa buat cerita apa yang lo rasain, tanpa harus mengekspresikan apa yang lo rasa. Lo terlalu jahat sama diri lo sendiri, Ta. Lo terlalu memaksa diri buat selalu baik-baik aja, dengan alibi nggak mau buat orang lain khawatir karena orang lain juga punya masalah. Lo nggak bisa kayak gini terus, orang lain juga nggak akan marah kalau lo cerita apa yang lo rasain. Sekalipun mereka nggak benar-benar peduli sama cerita lo, tapi mereka nggak akan ngelarang lo buat cerita," kali ini Cinta menatap mata Luka dalam-dalam. Apa yang selama ini ia pikirkan terjawab sudah. Cinta selalu berpikir kalau tidak semua orang akan mengerti apa yang ia rasakan, tidak semua orang akan memperdulikan cerita nya. Tapi Luka benar, sekalipun orang lain tidak benar-benar peduli dengan ceritanya, setidaknya mereka tidak akan melarang nya untuk bercerita. Dan sejak malam itu, Cinta menjadi lebih terbuka kepada Luka, Gega, dan Zemira. Mungkin hanya ada satu cerita yang tidak mereka ketahui, cerita tentang kepergian Ayahnya.
"Kamu hari ini wangi banget, ganti parfum ya?," tanya Cinta di sela-sela perjalanan mereka.
"Punya Mizka," balas Luka dari balik helm nya.
"Wangi nya manis banget, cocok sama kepribadian Kak Mizka. Kalau kamu mah cocoknya yang wangi nya cool, karena kamu sok cool," ujar Cinta yang membuat Luka memasang wajah cemberut di balik helm nya tanpa Cinta ketahui.
"Gue turunin kalau nggak bisa diam," balas Luka dengan nada suara yang terdengar kesal yang membuat Cinta semakin tertawa bahagia dibelakang nya.
"Coba aja kalau kamu berani, paling kamu yang diomelin sama Gega karena ninggalin aku di jalanan," ucap Cinta dengan wajah yang dibuat semenyebalkan mungkin.
"Ngadu terus," cibir Luka.
"Orang Gega yang bilang, katanya kalau kamu jahat sama aku, aku disuruh bilang sama dia," jawab Cinta tidak mau kalah. Semenjak mereka dekat sifat manja dan keras kepala Cinta sering kali Luka lihat ketika hanya ada mereka berdua. Sejujurnya, Luka sangat bahagia. Hari-hari yang ia jalani satu tahun terakhir penuh dengan senyum manis Cinta, dan gelak tawa renyah nya. Dan itu membuat Luka tanpa sadar selalu ikut tersenyum bersama. Bahagia rasanya bisa bersama dengan Cinta setiap harinya, menghabiskan waktu di toko bunga, atau sesekali mereka pergi ke danau untuk melihat senja. Ini adalah waktu yang sangat berharga.
"Lo menang," balas Luka tanpa mau berdebat lebih lanjut membuat senyum Cinta mengembang dengan lebar.
"Kita mau beli kado apa buat Gega?," tanya Cinta ketika mereka berdua sudah berada di dalam mall untuk membelikan kado untuk Gega.
"Nggak tau," jawab Luka dengan wajah datarnya.
"Gimana kalau kita berpencar buat cari kado nya?," usul Cinta yang langsung mendapat gelengan dari Luka.
"Jangan, lo jangan jauh-jauh dari gue," setelah mengatakan itu, tangan Luka langsung menautkan jemari tangan nya dengan jemari tangan Cinta yang membuat Cinta terkejut bukan main.
"Huh, ya udah aku mau ke toko jam tangan. Kayak nya aku mau beli jam tangan couple buat aku sama Gega, gimana menurut kamu?," tanya Cinta.
"Terserah," jawab Luka tanpa menoleh ke arahnya. Bagaimana bisa ia berkata iya untuk pertanyaan yang membuat nya cemburu. Cinta benar-benar tidak mengerti perasaan nya.
"Yuk ke sana," ajak Cinta yang berjalan lebih dulu ke arah toko jam tangan. Mata nya langsung bergerak untuk mencari jam tangan yang cocok untuknya dan Gega.
__ADS_1
"Luka kita bisa lepas genggaman tangan nya nggak? Aku nggak akan pergi kemana mana kok," ucap Cinta yang tiba-tiba berhenti membuat langkah Luka juga terhenti.
"Enggak," jawab Luka cuek.
"Aku malu diliatin orang-orang," bisik Cinta pada Luka yang membuatnya harus berjinjit sedikit.
"Lo ke ge'eran, udah cepat cari kado nya. Gue juga mau beli kado," suruh Luka membuat Cinta cemberut kesal. Dan dengan cepat Cinta menarik tangan Luka untuk mengikutinya berkeliling mencari jam tangan yang bagus untuk nya dan Gega. Ketika sibuk mencari, Cinta melihat jam tangan berwarna biru gelap yang sangat menarik perhatian nya. Ia langsung terpikirkan kalau Luka yang memakainya pasti sangat cocok. Jadi Cinta mengambil jam tangan itu dan segera mencari jam tangan untuk Gega.
"Aku beli yang ini deh, warna simple dan cocok buat aku sama Gega, iya kan Luka?," tanya Cinta pada Luka. Cinta menunjuk sepasang jam tangan berwarna cream yang sangat indah dengan bentuk hati kecil di dalam nya.
"Hm," balas Luka dengan gumaman.
"Yuk bayar," Cinta berlalu mengajak Luka ke kasir. Luka hanya melihat ke bawah karena kesal ketika melihat bentuk hati yang ada di dalam jam tangan yang Cinta belikan untuk Gega. Setelah selesai membayar, Cinta dan Luka segera keluar daru toko jam untuk mencari kado Gega yang lainnya.
"Kamu mau beli apa untuk Gega?," tanya Cinta pada Luka yang masih terlihat membuang muka tidak mau menatapnya.
"Nggak tau," balas Luka seraya mengangkat bahunya.
"Gimana kalau kita beli boneka dinosaurus, Gega pernah bilang kalau dia lagi suka banget dinosaurus. Ide aku bagus kan?," ujar Cinta pada Gega dengan senyum yang mengembang.
"Nggak bagus. Tapi karena gue juga nggak tau mau beli apa, kita beli boneka aja," ucap Luka dengan nada suara menyebalkan nya.
"Yuk, biar kita bisa langsung ke rumah Gega, kasian dia nunggu terlalu lama," balas Cinta dan mereka berdua langsung berlalu ke toko boneka. Setelah mereka mendapatkan boneka dinosaurus yang menurut Cinta Gega akan akan menyukainya, mereka segera pergi meninggalkan mall untuk pergi ke rumah Gega.
Sesampainya di rumah Gega, mereka segera turun dan masuk ke dalam. Acara ini memang hanya spesial untuk mereka berempat. Jadi di rumah Gega sepi, bahkan sepertinya Gega nya masih tidur seperti biasanya.
"Gega," panggil Cinta dari balik pintu rumahnya.
"Kayak nya dia masih tidur deh, semalam dia bilang sama aku mau nonton pertandingan bulu tangkis sampai pagi," ujar Cinta pada Luka yang berdiri sambil memeluk boneka dinosaurus yang dibungkus plastik bening.
"Kamu lucu banget kalau bawa boneka, nggak kayak manusia es tapi kayak manusia salju, dingin tapi halus," ledek Cinta dengan senyum yang manis.
"Apa bedanya," cibir Luka yang segera bergaya menjadi dingin dengan boneka dinosaurus yang ditenteng di tangan kanan nya.
Lalu tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok Zemira.
"Loh, kamu udah datang?," tanya Cinta yang terkejut karena yang membuka kan pintu nya ternyata Zemira.
"Udah dari tadi kali, nungguin lo sama Luka aja yang lama banget beli kado nya. Udah gitu Gega nya masih tidur lagi," jawab Zemira dengan wajah cemberut nya. Ia menunggu terlalu lama sendirian hanya ditemani dengan Huni dan Hune.
"Gara-gara lo nih yang kelamaan modus sama Cinta di mall," ujar Zemira.
"Zemi, kamu kebiasaan deh. Yuk kita bangunin Gega dari pada berdebat terus," Cinta berjalan lebih dulu diikuti keduanya du belakang. Kedatangan Cinta langsung disambut manis oleh Huni dan Hune. Cinta langsung meletakan barang bawaan nya sembarangan yang membuat Luka dengan sigap menangkapnya dan memindahkan nya ke sofa. Cinta suka lupa pada sekitar jika sudah bermain dengan Huni.
"Gue tadi udah pesen makanan buat kita, sekarang kita cuman harus bangunin kebo yang masih tidur di kamarnya," Kata Zemira setelah mengecek ponselnya untuk melihat pesanan makanan nya.
"Mau sekarang aja bangunin nya?," tanya Cinta.
"Sekarang aja deh, biar kita punya banyak waktu buat main dan ngobrol," balas Zemira. Setelah itu Cinta, Zemira, dan Luka segera pergi ke kamar Gega yang berada di lantai dua dengan kue ulang tahun yang di bawa oleh Cinta. Luka membuka kan pintu kamarnya untuk Cinta yang kesulitan membawa kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Gega!," ujar Cinta dan Zemira dengan semangat membuat Gega terkejut dan segera membuka matanya.
"Selamat ulang tahun kebo jelek!!!," kata Zemira seraya memeluk tubuh Gega dengan kencang yang masih terlihat kebingungan.
"Luka kamu pegang ya kue nya, aku mau peluk Gega juga," ucap Cinta pada Luka seraya menyerahkan kue ulang tahun nya ke tangan Luka.
"Selamat ulang tahun superhero!!!," Kini Cinta ikut memeluk tubuh Gega.
"Gue baru ingat gue ulang tahun, makasih ya dua cewek nyebelin gue!!!!," balas Gega yang memeluk kedua sahabatnya dengan erat. Rasanya sangat menyenangkan bisa mengenal kedua perempuan ini. Hidupnya di sekolah baru benar-benar menyenangkan karena mengenal mereka berdua.
"Luka ayo ucapin ulang tahun ke Gega," pinta Cinta pada Luka yang masih berdiri dengan kue di tangan nya.
"HBD," ucap Luka singkat seraya menyodorkan kue ulang tahun nya ke hadapan Gega.
"Makasih juga manusia es," Gega segera meniup lilin kue ulang tahun nya.
"Ge, lo mandi dulu gih. Setelah gue nafas di sini gue nyium bau asem, gue cari-cari ternyata bau nya dari badan lo," ujar Zemira yang menutup hidungnya karena bau.
"Iya sih, Ge, kamu bau," saut Cinta yang ikut menutup hidung nya karena bau.
"Baru gue mau nangis terharu karena kalian, nggak jadi gara-gara ini. Ya udah gue mau mandi dulu, kalian tunggu di bawah,"
Setelah keempatnya berkumpul di meja makan, Cinta menyodorkan kotak jam tangan yang tadi ia beli kepada Gega.
__ADS_1
"Ini kado dari aku, jam tangan couple buat aku dan kamu. Bagus kan, Ge?," ucap Cinta seraya menunjukkan jam tangan nya ke arah Gega dengan senyum bahagianya.
"Bagus banget, Ta. Makasih banyak ya," Gega membalas tidak kalah semangat karena melihat antusias Cinta ketika menunjukkan kado nya.
"Sini aku pake in," Cinta mengeluarkan jam tangan nya untuk dipakai kan ke tangan Gega.
"Bagus selera lo, Ta," saut Zemira yang terlihat senang melihat kado yang Cinta berikan kepada Gega sangat pas ketika Gega pakai.
"Gue suka banget," ujar Gega yang merangkul pundak Cinta.
"Aku senang kalau kamu suka. Aku juga pilih yang ada gambar hatinya karena kamu udah baik banget sama aku. Kamu udah jagain aku, kamu udah selalu ada buat aku dan Zemira kapan pun kita butuh kamu. Kamu kayak superhero buat aku, makasih banyak, ya, Gega. Hari ini kamu ulang tahun, artinya kamu udah semakin dewasa. Dan sebentar lagi, kita juga akan lulus dan masuk ke universitas. Aku berharap aku masih bisa terus sama kamu, Zemira, dan juga Luka. Aku beruntung banget bisa ketemu dan kenal sama orang kayak kamu," balas Cinta dengan senyum yang luntur sedari tadi.
"Gue mau nangis dengarnya, lo itu yang terlalu baik. Makanya gue nggak akan biarin orang baik kayak lo terluka,"
"Aku sayang banget sama kamu Gega," Cinta menatap Gega dengan tulus. Gega mengangguk dan membalas, "Gue lebih sayang sama lo, Cinta."
"Oke sekarang kado dari gue," saut Zemira seraya menyerahkan kotak parfum yang terlihat mewah.
"Ini gue parfum biar lo nggak bau, Ge. Udah mau masuk universitas masa masih bau, percuma ganteng kalau bau asem mana mau cewek mendekat," ujar Zemira dengan cengirannya.
"Gue nggak bau, cuman emang jarang mandi aja makanya asem," balas Gega seraya mencium aroma minyak wangi yang diberikan Zemira.
"Sama aja, kebo. Intinya harapan gue buat lo, semoga lo bisa masuk jurusan hukum bareng gue dan Cinta. Udah itu aja. Karena kayaknya gue nggak bisa deh jauh-jauh dari kalian berdua, gue udah ngerasa kita tuh cocok banget. Jadi, gue mau kita bisa masuk universitas dan jurusan yang sama," ucap Zemira.
"Makasih ya, anak comel," kata Gega pada Zemira.
"Luka kado kamu mana?," tanya Cinta pada Luka yang sedari tadi hanya menikmati makanan nya sambil menunggu giliran nya.
"Nih," Luka memberikan boneka dinosaurus nya kepada Gega yang membuat Gega terkejut.
"Wah, dari mana lo tau kalau gue lagi pingin beli boneka ini?!," tanya Gega dengan antusias menerima boneka pemberian dari Gega.
"Cinta yang pilih," jawab Luka dengan wajah datarnya.
"Makasih manusia es," ucap Gega yang dibalas anggukan oleh Luka.
"Lo mau masuk jurusan apa, Ka?," tanya Zemira di sela-sela makan mereka. Karena hanya Luka yang belum mereka ketahui ingin masuk jurusan apa setelah lulus SMA.
"Belum kepikiran," jawab Luka dengan wajah datarnya.
"Apa lo mau langsung kerja?," kata Gega yang sedang menikmati makanan nya.
"Mungkin, liat aja nanti," ucap Luka.
Setelah makan mereka mulai bermain, dari Luka dan Gega yang bermain bulu tangkis, sampai Cinta dan Zemira yang memberi makan Huni dan Hune. Tanpa sadar hari sudah hampir malam, Luka akan mengantar Cinta pulang dan Gega yang akan mengantar Zemira pulang.
"Makasih sekali lagi buat hari ini," ujar Gega setelah mereka siap untuk berlalu pulang.
"Sama-sama, aku sama Luka duluan, ya!," setelah mengatakan itu motor Luka langsung pergi meninggalkan perkarangan rumah Gega.
Cinta sampai di depan gang rumahnya dengan selamat. Sebelum ia pergi ke rumahnya, ia meminta waktu Luka sebentar karena ada yang ingin ia sampaikan.
"Luka, aku punya hadiah buat kamu," ucap Cinta seraya mengeluarkan kotak jam tangan yang tadi ia beli.
"Ini buat kamu," Cinta menyerahkan kotak jam tangan itu ke hadapan Luka yang membuat Luka kebingungan karena tiba-tiba Cinta membelikannya hadiah.
"Gue nggak ulang tahun," jawab Luka yang belum juga menerima jam tangan itu.
"Ini hadiah buat kamu. Ini ucapan terima kasih aku buat kamu. Karena, selama ini kamu udah jagain aku. Kamu udah nemenin aku setiap aku lagi sedih tanpa aku minta. Kamu yang selalu kasih aku tamparan soal hidup dengan kata-kata pedas kamu yang membuat aku sadar akan banyak hal. Aku nggak tau kita bakal sama-sama lagi atau nggak kedepannya. Jadi, aku nggak akan menyesal karena aku udah bilang makasih banyak dan kasih kamu hadiah atas semua yang udah kamu lakukan buat aku, kalau nanti kita nggak bisa sama-sama lagi di masa depan,"
"Kamu itu baik banget, kamu perhatian sama aku dengan cara yang berbeda dari cara Gega memperhatikan aku. Dan itu buat aku nyaman banget ada di dekat kamu. Makasih banyak udah jagain aku selama ini. Maaf banget aku ngerepotin kamu selama kamu jagain aku. Aku senang banget bisa kenal sama orang kayak kamu, yang nyebelin tapi selalu punya cara buat bikin aku senyum," lanjut Cinta dengan senyum manisnya.
"Lo ngomong gini kayak kita bakal pisah malam ini, lulus aja masih lama," balas Luka seraya menerima kotak jam tangan yang Cinta berikan.
"Aku cuman takut kalau aku nggak punya kesempatan buat ngomong ini sama kamu di lain waktu," jawab Cinta.
"Jangan ngomong kayak gitu," ujar Luka pada Cinta.
"Jangan suka menduga-duga hal yang sama sekali nggak bisa lo prediksi," lanjut Luka yang dibalas anggukan oleh Cinta.
"Ya udah kamu pulang, makasih udah antar aku pulang dengan selamat," kata Cinta dengan senyuman nya yang membuat Luka ikut tersenyum kecil.
"Makasih buat jam tangan nya," ujar Luka sebelum pergi. Cinta melambaikan tangan nya pada Luka dan segera berlalu untuk pulang ke rumah nya.
__ADS_1
Tapi ketika ia mau melangkah kan kaki nya memasuki gang, Cinta tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawan arah dengan nya. Cinta mendongak kan kepala nya dan melihat seseorang berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajah nya dan hanya bagian mata nya sajalah yang terlihat. Cinta menatap mata itu sebentar sebelum meminta maaf karena tidak sengaja menabraknya.
"Maaf, saya nggak sengaja," ucap Cinta dengan masih menatap mata seseorang yang berada di hadapannya.